10:57 - Sabtu, 28 Maret 2015
Dr. Attabiq Luthfi, MA

Khutbah Idul Adha 1429 H: Membangun Kembali Semangat Berqurban

Rubrik: Khutbah Idul Adha | Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA - 19/11/08 | 11:28 | 19 Dhul-Qadah 1429 H

dakwartuna.com - Allahu Akbar- ALLahu Akbar- Allahu Akbar – WaliLlahil Hamd.

Jama’ah Idul Adha yang senantiasa mengharapkan ridha Allah swt.

Alhamdulillah, tentu merupakan satu kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terhingga bahwa pada hari ini kita merayakan hari raya Idul Adha, hari raya terbesar bagi umat Islam yang bersifat internasional, setelah dua bulan sebelumnya kita merayakan hari raya Idul Fithri. Pada hari ini sekitar tiga juta umat Islam dari beragam suku, bangsa dan ras serta dari berbagai tingkat sosial dan penjuru dunia berkumpul dan berbaur di kota suci Makkah Al-Mukarramah untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji: “Dan serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 27)

Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Kedua-duanya disebut oleh Al-Qur’an sebagai salah satu dari syi’ar-syi’ar Allah swt yang harus dihormati dan diagungkan oleh hamba-hambaNya. Bahkan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketaqwaan seseorang seperti yang ditegaskan dalam firmanNya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (Al-Hajj: 33) Atau menjadi jaminan akan kebaikan seseorang di mata Allah seperti yang diungkapkan secara korelatif pada ayat sebelumnya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. (Al-Hajj: 30)

Kedua ibadah agung ini yaitu ibadah haji dan ibadah qurban tentu hanya mampu dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah yang merupakan makna ketiga dari hari raya ini: “Qurban” yang berasal dari kata “qaruba – qaribun” yang berarti dekat. Jika posisi seseorang jauh dari Allah, maka dia akan mengatakan lebih baik bersenang-senang keliling dunia dengan hartanya daripada pergi ke Mekah menjalankan ibadah haji. Namun bagi hamba Allah yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya dia akan mengatakan “Labbaik Allahumma Labbaik” – lebih baik aku memenuhi seruanMu ya Allah…Demikian juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu akan berat mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun mereka yang posisinya dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata memenuhi perintah Allah swt.

Mencapai posisi dekat “Al-Qurban/Al-Qurbah” dengan Allah tentu bukan merupakan bawaan sejak lahir. Melainkan sebagai hasil dari latihan (baca: mujahadah) dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah. Karena seringkali terjadi benturan antara keinginan diri (hawa nafsu) dengan keinginan Allah (ibadah). Disinilah akan nyata keberpihakan seseorang apakah kepada Allah atau kepada selainNya. Sehingga pertanyaan dalam bentuk “muhasabah: evaluasi diri ” dalam konteks ini adalah: “mampukan kita mengorbankan keinginan dan kesenangan kita karena kita sudah berpihak kepada Allah?…Sekali lagi, ibadah haji dan ibadah qurban merupakan gerbang mencapai kedekatan kita dengan Allah swt.

Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar WaliLLahil Hamd

Icon manusia yang begitu dekat dengan Allah yang karenanya diberi gelar KhaliluLlah (kekasih Allah) adalah Ibrahim. Sosok Ibrahim dengan kedekatan dan kepatuhannya secara paripurna kepada Allah tampil sekaligus dalam dua ibadah di hari raya Idul Adha, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Dalam ibadah haji, peran nabi Ibrahim tidak bisa dilepaskan. Tercatat bahwa syariat ibadah ini sesungguhnya berawal dari panggilan nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah swt dalam firmanNya: “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di Baitullah (dengan mengatakan):Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ serta sujud. Dan kemudian serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 26-27).

Ibadah ini harus diawali dengan kesiapan seseorang untuk menanggalkan seluruh atribut dan tampilan luar yang mencerminkan kedudukan dan status sosialnya dengan hanya mengenakan dua helai kain ‘ihram’ yang mencerminkan sikap tawaddu’ dan kesamaan antar seluruh manusia. Dengan pakaian sederhana ini, seseorang akan lebih mudah mengenal Allah karena dia sudah mengenal dirinya sendiri melalui ibadah wuquf di Arafah. Dengan penuh kekhusyu’an dan ketundukkan seseorang akan larut dalam dzikir, munajat dan taqarrub kepada Allah sehingga ia akan lebih siap menjalankan seluruh perintahNya setelah itu. Dalam proses bimbingan spritual yang cukup panjang ini seseorang akan diuji pada hari berikutnya dengan melontar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap syetan dan terhadap setiap yang menghalangi kedekatan dengan Rabbnya. Kemudian segala aktifitas kehidupannya akan diarahkan untuk Allah, menuju Allah dan bersama Allah dalam ibadah thawaf keliling satu titik fokus yang bernama ka’bah. Titik kesatuan ini penting untuk mengingatkan arah dan tujuan hidup manusia: “katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam”. (Al-An’am: 162)Akhirnya dengan modal keyakinan ini, seseorang akan giat berusaha dan berikhtiar untuk mencapai segala cita-cita dalam naungan ridha Allah swt dalam bentuk sa’I antara bukit shafa dan bukit marwah. Demikian ibadah haji sarat dengan pelajaran yang kembali ditampilkan oleh Ibrahim dan keluarganya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumuLlah.

Dalam ibadah qurban, kembali Nabi Ibrahim tampil sebagai manusia pertama yang mendapat ujian pengorbanan dari Allah swt. Ia harus menunjukkan ketaatannya yang totalitas dengan menyembelih putra kesayangannya yang dinanti kelahirannya sekian lama. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat: 102). Begitulah biasanya manusia akan diuji dengan apa yang paling ia cintai dalam hidupnya.

Jama’ah Shalat Idul Adha RahimakumuLlah.

Andaikan Ibrahim manusia yang dha’if, tentu akan sulit untuk menentukan pilihan. Salah satu diantara dua yang memiliki keterikatan besar dalam hidupnya; Allah atau Isma’il. Berdasarkan rasio normal, boleh jadi Ibrahim akan lebih memilih Ismail dengan menyelamatkannya dan tanpa menghiraukan perintah Allah tersebut. Namun ternyata Ibrahim adalah sosok hamba pilihan Allah yang siap memenuhi segala perintahNya, dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin cintanya kepada Allah memudar karena lebih mencintai putranya. Akhirnya ia memilih Allah dan mengorbankan Isma’il yang akhirnya menjadi syariat ibadah qurban bagi umat nabi Muhammad saw.

Dr. Ali Syariati dalam bukunya “Al-Hajj” mengatakan bahwa Isma’il adalah sekedar simbol. Simbol dari segala yang kita miliki dan cintai dalam hidup ini. Kalau Isma’ilnya nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lantas siapa Isma’il kita? Bisa jadi diri kita sendiri, keluarga kita, anak dan istri kita, harta, pangkat dan jabatan kita. Yang jelas seluruh yang kita miliki bisa menjadi Isma’il kita yang karenanya akan diuji dengan itu. Kecintaan kepada Isma’il itulah yang kerap membuat iman kita goyah atau lemah untuk mendengar dan melaksanakan perintah Allah. Kecintaan kepada Isma’il yang berlebihan juga akan membuat kita menjadi egois, mementingkan diri sendiri, dan serakah tidak mengenal batas kemanusiaan. Allah mengingatkan kenyataan ini dalam firmanNya: “Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik“. (At-Taubah: 24)

Karena itu, dengan melihat keteladanan berqurban yang telah ditunjukkan oleh seorang Ibrahim, apapun Isma’il kita, apapun yang kita cintai, qurbankanlah manakala Allah menghendaki. Janganlah kecintaan terhadap isma’il-isma’il itu membuat kita lupa kepada Allah. Tentu, negeri ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan orang banyak meskipun harus mengorbankan apa yang dicintainya.

Hadirin Jama’ah Shalat Idul Adha yang berbahagia.

Keta’atan yang tidak kalah teguhnya dalam menjalankan perintah Allah adalah keta’atan Isma’il untuk memenuhi tugas bapaknya. Pertanyaan besarnya adalah: kenapa Isma’il, seorang anak yang masih belia rela menyerahkan jiwanya?. Bagaimanakan Isma’il memiliki kepatuhan yang begitu tinggi?. Nabi Ibrahim senantiasa berdoa: “Tuhanku, anugerahkan kepadaku anak yang shalih (Ash-Shaffat: 100). Maka Allah mengkabukan doanya: “Kami beri kabar gembira kepada Ibrahim bahwa kelak dia akan mendapatkan ghulamun halim”. (Ash-Shaffat: 101). Inilah rahasia kepatuhan Isma’il yang tidak lepas dari peran serta orang tuanya dalam proses bimbingan dan pendidikan. Sosok ghulamun halim dalam arti seorang yang santun, yang memiliki kemampuan untuk mensinergikan antara rasio dengan akal budi tidak mungkin hadir begitu saja tanpa melalui proses pembinaan yang panjang. Sehingga dengan tegar Isma’il berkata kepada ayahandanya dengan satu kalimat yang indah: : “Wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah, niscaya ayah akan mendapatiku seorang yang tabah hati, insya Allah”. (Ash-Shaffat: 102)

Orang tua mana yang tak terharu dengan jawaban seorang anak yang ringan menjalankan perintah Allah yang dibebankan kepada pundak ayahandanya. Ayah mana yang tidak terharu melihat sosok anaknya yang begitu lembut hati dan perilakunya. Disinilah peri pentingnya pendidikan keagamaan bagi seorang anak semenjak mereka masih kecil lagi, jangan menunggu ketika mereka remaja apalagi dewasa. Sungguh keteladanan Ibrahim bisa dibaca dari bagaimana ia mendidik anaknya sehingga menjadi seorang yang berpredikat ‘ghulamun halim’.

Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar WaliLlahil Hamd

Setelah mencermati dua pelajaran kehidupan keberagamaan yang sangat berharga di atas, Prof. Dr. Mushthafa Siba’i pernah mengajukan pertanyaan menarik yang menggugah hati: “Akankah seorang muslim di hari raya ini menjadi sosok egois yang mencintai dirinya sendiri dan mementingkan kepentingan dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain? Ataukah ia akan menjadi pribadi yang mementingkan orang lain di bandingkan dirinya, lalu mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan dirinya tersebut?

Memang secara fithrah, manusia cenderung bersikap egois dan mementingkan diri sendiri. Ia melihat kepentingan orang lain melalui kepentingan dirinya. Namun demikian, disamping itu semua, manusia pada dasarnya adalah makhluk zoon politicon, yang cenderung untuk saling bekerjasama, memilih untuk bermasyarakat dibandingkan menyendiri, dan pada gilirannya akan mendorong dirinya untuk merelakan sebagian haknya untuk orang lain, sehingga dari kerjasama tersebut ia dapat mengambil manfaat berupa perwujudan kehormatan dan kepentingannya. Oleh karena itu, beberapa macam pengorbanan dan pendahuluan kepentingan orang lain, menjadi bagian dari keharusan dalam bangunan masyarakat yang tanpa keberadaannya, masyarakat tidak akan dapat hidup dengan bahagia.

Dalam hal ini, tentu kita sepakat bahwa kita sangat berhutang budi dalam setiap kenikmatan hidup material maupun non-material terhadap orang-orang yang telah berkorban dan mendahulukan kepentingan orang lain. Kita berhutang budi dalam bidang kelezatan ilmu pengetahuan kepada para pengarang, seperti sastrawan, ulama, muhadditsin, mufassirin dan filosof yang dengan tekun menghabiskan usia mereka untuk menulis dan memenuhi lembaran-lembaran kertas dengan hikmah dan ilmu pengetahuan. Sementara orang lain sedang nyenyak tidur atau sedang sibuk dengan syahwat mereka. Ungkapan Az Zamakhsyari berikut ini menggambarkan apa yang mereka lakukan untuk ilmu pengetahuan: “Aku begadang untuk mempelajari dan meneliti ilmu pengetahuan, lebih ni`mat bagiku dibandingkan bersenda gurau dan bersenang-senang dengan wanita yang cantik Aku bergerak kesana kemari untuk memecahkan satu masalah ilmu pengetahuan lebih enak dan lebih menarik seleraku dibandingkan hidangan yang lezat”.

Hadirin wal Hadirat RahimakumuLlah.

Kita juga sadar bahwa kita berhutang budi dalam memanfaatkan negeri ini kepada orang tua generasi pendahulu, para perintis dan mereka yang telah berjasa untuk itu. Kita juga berhutang budi dalam masalah aqidah dan agama yang kita banggakan ini, kepada generasi salaf saleh yang menanggung bermacam kesulitan dan derita dalam mempertahankan risalah ini pada masa pertamanya, dan yang telah mengorbankan harta dan jiwa mereka menghadapi musuh-musuh Islam untuk menyampaikan agama ini kepada orang-orang setelah mereka, mereka pula yang telah menghilangkan banyak rintangan yang disebarkan oleh para pencela, pengingkar dan pendusta agama ini.

Demikian sungguh pelajaran yang sangat berharga. Kita selaku generasi masa kini telah berhutang budi kepada generasi-genersai sebelumnya dalam seluruh apa yang kita ni`mati saat ini sebagai hasil dari pengorbanan, perjuangan dan sikap mereka yang mendahulukan kepentingan orang lain. Maka sepatutnyalah jika kita melanjutkan rangkaian pengorbanan mereka itu sehingga kita dapat menyampaikan keni`matan ini kepada generasi berikutnya seperti yang telah dilakukan oleh generasi sebelum kita. Akankah generasi kita saat ini mampu menghargai makna pengorbanan dan mendahulukan kepentingan orang lain? Apakah generasi kita mampu mempertahankan akhlak luhur seperti ini yang memang telah diperintahkan oleh Allah swt?. “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al Hasyr: 9)

Disini hari raya Idul Adha kembali hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukhuwwah, pengorbanan dan mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Semoga akan lahir keluarga-keluarga Ibrahim berikutnya dari bumi tercinta Indonesia ini yang layak dijadikan contoh teladan dalam setiap kebaikan untuk seluruh umat.

Dr. Attabiq Luthfi, MA

Tentang Dr. Attabiq Luthfi, MA

Pria kelahiran Cirebon ini berlatar belakang pendidikan dari Pondok Modern Gontor, Jawa Timur. Setelah itu melanjutkan pendidikan ke S1 di Islamic University, Madinah KSA, S2 di Universitas Kebangsaan Malaysia, dan… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra -

Keyword: , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (78 orang menilai, rata-rata: 8,83 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • abu ayub

    syukron antum telah memberi materi yang banyak untuk dakwah.

    jika boleh ana minta artikel " Daulah Islamiyah di Persia '

    Rahman

    DPC plupuh, Sragen, Jateng

  • ismatullah

    baguslah khutbahnya

  • ismatullah

    assalamualaikm wr.wb .

    akhi yang lagi berjuang menegakan dinullah dimuka bumi lewat situs yang berisikan tema-tema dakwah. terus berjuang akhi

    ismatullah orang sukabumi tepatnya urang palasari girang

  • Abu Aisha

    Subhaanallaah..
    Khutbah yang menggugah..

    Jazaakallah khair ustadz, semoga antum tetap istiqomah..

  • Abu Shafa

    Ustadz ana mohon izin untuk menjadikan khutbah ini sbg referensi khutbah saya…

  • Abdul Mutalib

    'Afwan, Ada Khutbah Qurban 1429 H yg agak panjang, yg cocok utk di bw kan ketika khutbah. Syukron

  • http://yahoo.com Ahmad Suhanda

    Syukron Lakum untuk Akhi / Akhwat

    yang terlibat, dengan adanya seperti ini bisa menambah wawasan, Hanya ada satu pesan kalau boleh saya minta di kirim materi untuk khutbah jum'at, setiap minggu yang singkat ( sekitar 3-4 halaman )karena kami kerjanya di tengah laut pulang ke darat 3 bulan sekali, maksudnya mau di kirim setiap minggu (4x perbulan) tapi gratis, dan di kirim ke alamat email yang saya tulis [email protected]

    Jazakallaah Khoer

    Salam

    Ahmad Suhanda

  • Jamaluddin Al Afgani

    Jazaakallah khair ustadz,semoga menjadi amal jariyah. dan mohon ijin untuk ana pakai dalam khotbah idul adha di tempat ana.

  • arief budiman

    Syukron,atas khotbahnya..biar bisa di pelajarin,mohon maaf ya kalo saya pakai nantinya untuk di sampaikan ke teman-teman saya.

  • Ashofat

    ana terkesan sekali dengan ungkapan az zamakhsyari.
    masih banyak pemuda pemudi muslim kita yang menghabiskan masa mudanya untuk kesenangan saja.semoga dakwah ini bisa merubah sikap pemuda / pemudi kita amiin…

  • Saripul Bahri

    Syukron atas khutbahnya, saya mohon izin untuk menggunakan khutbah ini sebagai referensi

  • Khaerudin

    Syukron Ustadz, mohon izin untuk kami pakai idul adha di Cirebon.

  • Rijal

    Akan lebih baik bila dilengkapi dengnan hadits maupu ayat Qur'an yang ditulis dalam bahasa arab, syukur sekalian perowinya. karena terkadang, saat saya dimita ceramah mendadak, situs dakwatuna yang menjadi salah satu referensi saya. Kurang sreg rasanya bila semua tertulis dalam bentuk bahasa indonesia. syukron

  • Ahmad Mubassyir

    stadz, boleh kan saya baca teks ini untuk idul adha besok (1429 H)?

  • http://www.e-semesta.com Moh Haris

    Ass.Wr.Wb
    Mohon ijin untuk menggynakan khutbah jumat di Idul Adha 1429 H.
    Jazakallahu khoiran kastira

  • http://pasrumaffandi.blogsport.com Pasrum Affandi

    alhamdulillah banyak masukan untuk kaum muslimin

  • http://move14.wordpress.com binven

    ana mohon ijin kutip khutbahnya ust…syukron jazakallah khair al jaza…

  • http://yahoo.co.id Ahmad Qusaeari

    syukron jazakallah, bagus sekali isi khutbahnya. Mohon izinnya jug, saya berencana menggunakan teks ini untuk khutbah idul Adha di Cimahi

  • abi mahbub

    ass.wr.wb.
    jazakallah ust. makash atas ilmunya, afwan ana ambil sebagai khutbah idul adha. syukron. wass

  • aan

    alhamdulillah..syukran katsir ustadz atas khutbah idul adhanya, ana mohon izin sebagai referensi khutbah idul adha suami ana. jazakallah khoir…

  • Ali Sobri.as

    ass..tad makasih atas teks khutbahnya.tapi mohon maaf teksnya saya ambil untuk khutbah idul adha besok gak apa-apakan?salam kenal…wassalamu'alaikum wr.wb..

  • moh safrudin

    tolong dong kami dikirimi khutbah

  • H. Abdullah Syarif

    Syukron katsiron ya akhi, insyaAllah teks Khutbah Idul Adha 1429 H : Membangun kembali semangat berqurban, akan saya jadikan refrensi Khutbah.

    Jazaakumullahi khoiron……

  • M Soleh

    jazakallah ustadz atas materi khutbahnya. Izinkan saya menggunakannya utk referensi

  • abdul xavi basit

    alhamdulilah ana dah dapat materi buat khutbah nanti … semoga bermanfaaat buat semua … amin …

  • Habibullah

    assalamu'alaikum wr. wb.
    Jazakumullah atas naskah khuthbah idul adlha-nya. ana mohon maaf sebelumnya krn naskah dari antum, ana gunakan untuk menjadi khathib ied besok. Barakallahu lakum

  • http://www.jaimudin.co.cc jaim

    Alhamdulillah saya banyak mengutip dari Khutbah antum, saya minta ijin dan ridhonya, mudah-mudahan Allah membalas amal baik antum.

  • Mohammad Imaduddin A

    Alhamdulillah, Banyak materi yang dapat memperkaya khazanah dakwah ana di pelosok desa, perkenalkan ana MOHAMMAD IMADUDDIN, pengasuh Pesantren Islam Al Ghiffari Leuwiliang Kabupaten Bogor, semoga Allah selalu memberikan kekuatan ikhlas dan menganugerahi antum kekuatan istiqomah fiddien, amin.

  • Gunawan

    Assalmualaikum.

    Semoga Allah semakin memperluas hasanah di seantero negeri. Jazakallah atas izin untk meng-copy.

    Wassalam Bengkulu.

  • yanuar

    Tolong ya!!!
    sya cma minta penutup pidato za kwok!!!!!!!!!

  • http://yahoo mursyid anwar

    Syukron Jazil ya ustadz Khutbah antum sangat menggugah dan pesan yang disampaikan penuh hikmah . tapi saya minta izin untuk mengutip sebagian besar isi khutbah antum sebagai referensi khutbah yang aka saya sampaiakn dimasjid saya. syukron katsir… jazakallah

  • dantes mulya

    asw..Khutbah ustadz bagus sekali..sangat bermamfaat bagi umat,,insya allah, ana juga dakwahkan untuk ummat. mahsiswa IAIN IB PADANG

  • m. farid

    tulisannya cukup baik, terimakasih, mohon ijin untuk dijadikan bahan khutbah. syukron!

  • JUMNASRIL

    Khutbah ustadz sangat bagus sekali untuk umat islam yang mampu saat ini yang hanya memikirkan dunia tanpa memikirkan akhirat, tapi mohon ijin untuk mengkopinya sebagai bahan khutbah saya.terima kasih.

  • harmon djusar

    materinya bagus sekali , mohon ijin untuk dijadikan bahan khotbah .

  • harmon djusar

    alhamdulillah , kajian ini bagus sekali . semoga menjadi bahan renungan bagi kita semua >

  • Abdul Rahman Niimati

    tulisannya sangat bermanfaat dan mengandung hikmah. terima kasih. mohon izin untuk dicopy sebagai teks khuthbah. syukran katsiran.

  • defendi

    khutbah ny bgs sekali, mohon izin khutbah ny saya gunakan utk khutbah id adha di payakumbuh, terimakasih

  • defendi

    khutbah ny bgs, mohon ijin utk saya gunakan sbg bahan khutbah id adha bsk, terima kasih

  • riankurniawan

    assalamu’alaikum ust…wah,materinya bagus sekali ust,,,bolehkah saya mengkopi salah satu materi khutbah ust.untuk saya sampaikan lagi pada khutbah mendatang ust?

  • http://erryk-kusbandhono.blogspot.com Erryk Kusbandhono

    Boleh copy khutbahnya, ya. Trim’s…

  • muhammad anwari abdul hakim

    assalamu’alaikum.
    ustz. izin copy ya.
    syukron

  • askari

    Asslamu alaikum,
    Ustz, anaa izin copy khutbahnya yaa.
    Syukron kabira

  • Wasi

    ijin copy ustad buat bahan tambahan penyusunan khutbah.

  • ayubi

    bagus. kita perlu menggalakkan lagi publikasi khutbah2 bagus seperti ini

  • sucipto

    ust ana Tholibukum fii ma’had utsman bin ‘affan. ana izin copy ya buat khutbah besok

  • akhid khusnan roziqi

    izin copy ustadz. insyllah ni jg saya prgunakan u khutbah. seklian mhn maaf bila nntinya ada yang saya tmbah dan saya kurangi sesuai kebutuhan. sykron ktsir

  • Abu Rifki

    Saya minta ijin untuk di copy. Insya Allah untuk didakwahkan kepada yang lain

  • adnan

    assalaamu’alaikm ustad mohon ijin copy khutbahnya

  • jazim

    ana minta izin ngopi

  • vina

    Ustadz , saya izin copy untuk tugas .
    Syukron ..

  • adam

    mohon izin copy beberapa naskahnya. terima kasih

  • Muslim s. Baralangi

    Assalamualaikum Wr.Wb.
    Ust. Mohon izin khutbahnay kami kopy. Semoga bermanfaat untuk kami dan jamaah.
    Jazakallah . Muslim S. Baralangi, Tana Toraja.

  • nasrullah

    mohon di izinkan menyalin ke e mail saya

  • wahyudin

    ass .ustad..mohon ijin copy naskah..tuk referency..terimakasih

  • arief M

    Pak Ustadz mohon izin khutbahnya di copy. moga bermanfaat

  • Shafrans Swid

    Pak Ustadz, mohon ijin untuk dicopy, InsyaAllah bermanfaat. Terima kasih.

  • irwan

    ustad, mohon izin meng-copy, insya Allah bermanfaat, terima kasih

  • farid ali

    Assalamu’alaikum kyai ,,,mohon copy naskah khutbahnya,,syukron jaziilan.

  • nazwa

    assalamualikum
    mohon izin untuk mengcopy. semoga bermanfaat

  • suyut

    ass.wr.wb. mohon izin ustadz, saya mengcopy khotbahnya. semoga bermanfaat bagi saya dan jamaah

  • ugi

    izin copy ya ust…untuk disampaikan lagi kepada umat, sukron….

  • Heru

    mohon pak ustadz.. akan saya pakai untuk khutbah idul adha nanti.

  • saleh

    ustad yang mulia sebaiknya kalau di bubuhkan dengan rukun 2 khutbah lebih sempurna tolong di buat ya…untuk generasi kita semua mereka juga ingin belajar syukran….,.///.,..,/././.

  • Nurkholis

    assalamu alaikum,
    Al Ustadz, mohon ijin saya ikut ngopy khutbahnya. semoga menjadi ilmu yang yang bermanfaat untuk umat, amin.
    wassalamu alaikum wr.wb.

  • Muhammad Saleh

    Ass. mohon izin ust. dicopy kemudian disebarkan di tengah umat wslm

  • ABDUL KHOTIB

    ustadz, ana mohon izin copi materinya buat bahan da’wah, syukron katsiiro

  • aby

    izin copas ya ustad

  • Henny Hartati

    Ustad sy mau tanya yg namanya puasa Nabi Daud itu, sehari puasa dan sehari tidak dan seterunya, trus niatnya gimana ustad……..????

  • Hanafi

    ust yth, ana izin ngopy khutbah idul adha ini. mg berbuah barakah bg antum sekeluarga. amin

  • arie

    ustad saya izin copy khutbahnya ,, ,,

Iklan negatif? Laporkan!
73 queries in 1,336 seconds.