Home / Dasar-Dasar Islam / Hadits / Syarah Hadits / Tiga Langkah Menjadi Manusia Terbaik

Tiga Langkah Menjadi Manusia Terbaik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Ada hadits pendek namun sarat makna dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir. Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya: sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.

Derajat hadits ini ini menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.

Adalah aksioma bahwa manusia itu makhluk sosial. Tak ada yang bisa membantah. Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling membutuhkan.

Karena saling membutuhkan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim. Adil.

Jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minim, naluri kita akan mengatakan itu tidak adil. Orang itu telah berlaku curang. Dan kita akan mengatakan seseorang berbuat jahat ketika mengambil banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan cara yang curang dan melanggar hak orang lain.

Begitulah hati sanubari kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling ridho dalam mengambil manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah. Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.

Namun yang luar biasa adalah orang lebih banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih. Tidak punya vested interes.

Orang yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah saw. menyebut seperti itu? Setidaknya ada empat alasan. Pertama, karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?

Alasan kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika spektrumnya lebih luas lagi. Amal itu bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu.

Ketiga, karena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada I;tikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.

Keempat, memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya yang baik-baik.

Pernah suatu ketika lewat orang membawa jenazah untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lewat lagi orang-orang membawa jenazah lain untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut kebaikan si mayit. Rasulullah saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah swt. Karena itu di surat At-Taubah ayat 105, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia.

Untuk bisa menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam diri kita. Pertama, tingkatkan derajat keimanan kita kepada Allah swt. Sebab, amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho kepada Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah swt. saja balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan bisa beramal ikhlas Lillahi Ta’ala.

Ketika iman kita memuncak kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki dalam keadaan sesulit apapun.

Kedua, untuk bisa memberi manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih, kita harus mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. Allah swt. memberi contoh kaum Anshor. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum Muhajirin. Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah mapan secara financial, tidak terbetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.

Yang ketiga, tanamkan dalam diri kita logika bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logika ini diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seoran sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan.

Begitulah. Yang tersisa adalah yang telah dibagikan. Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita melihat bahwa para sahabat dan salafussaleh enteng saja menginfakkan uang yang mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.

Keempat, kita akan mudah memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain jika dibenak kita ada pemahaman bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan kita dapat ketika bertamu. Ketika kita pelit ke tetangga, maka sikap seperti itu jugalah yang kita dari tetangga kita.

Kelima, untuk bisa memberi, tentu Anda harus memiliki sesuatu untuk diberi. Kumpulkan bekal apapun bentuknya, apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang harus. Jika punya ilmu, kita bisa mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sehat, kita bisa membantu beban seorang nenek yang menjinjing tak besar. Luangkan waktu untuk bersosialisasi, dengan begitu kita bisa hadir untuk orang-orang di sekitar kita.

Mudah-muhan yang sedikit ini bisa menginspirasi.

Redaktur: Samin Barkah, Lc. ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (176 votes, average: 8,98 out of 10)
Loading...Loading...
Mochamad Bugi
Mochamad Bugi lahir di Jakarta, 15 Mei 1970. Setelah lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, ia pernah mengecap pendidikan di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosah Islamiyah Al-Hikmah. Sempat belajar bahasa Arab selama musim panas di Universitas Ummul Qura', Mekkah, Arab Saudi.Bapak empat orang anak ini pernah menjadi redaktur Majalah Wanita UMMI sebelum menjadi jabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Politik dan Dakwah SAKSI. Ia juga ikut membidani penerbitan Tabloid Depok Post, Pasarmuslim Free Magazine, Buletin Nida'ul Anwar, dan Majalah Profetik. Jauh sebelumnya ketika masih duduk di bangku SMA, ia menjadi redaktur Buletin Al-Ikhwan.Bugi, yang ikut membidani lahirnya grup pecinta alam Gibraltar Outbound Adventure ini, ikut mengkonsep pendirian Majelis Pesantren dan Ma'had Dakwah Indonesia (MAPADI) dan tercatat sebagai salah seorang pengurus. Ia juga Sekretaris Yayasan Rumah Tafsir Al-Husna, yayasan yang dipimpin oleh Ustadz Amir Faishol Fath.

Lihat Juga

Ilustrasi. (poeticpoems.wordpress.com)

Siapakah yang Merugi Itu?

  • http://carakusehat.blogspot.com heny

    Orang Islam memang harus menjadi pribadi yang memiliki kualitas diri yang prima, bekerja keras agar bisa mencari dunia untuk kepentingan akhirat. Dengan memiliki kesehatan, harta dan ilmu maka kita bisa berbuat lebih banyak untuk kemaslahatan saudara-saudara kita yang lain…..

  • http://dedenrudiansyah.wordpress.com Deden R

    makanya,…

    i’mal lidunyaka ka annaka ta’isyu abadan… wa’mal li akhiratika ka annaka tamutu ghadan

  • http://www.dakwatu.com Anita

    Subbahanaallah,,,semoga kita di ringankan dalam memberi atau membagi sebagian reziki kita,mang betul bersedakah tidak mesti di lakukan oleh orang yang kaya saja,semua orang berkewajiban melakukan amal kebaikan untuk bekal di akhirat kelak…..

  • http://www.yahoo.com zoel

    Adalah jiwa-jiwa yang bersih yang dapat menggerakkan organ tubuh kita untuk senantiasa berbuat amal kebajikan. Semoga siraman penyejuk jiwa itu bisa kita dapatkan setiap saat, sehingga sedetikpun tiada ternodalah maksud dan kehendak kita dalam kebajikan itu..

  • erwin

    alhamdullilah…segalanya menjadi lebih jelas dan lbih terang sekarang…

  • ary

    Subhanallah.Thank's 4 everything..

  • prima

    Subhanallah, Ajaran Islam itu emang Mulia… Bangeet.

  • Ardi Lionheart

    Subhanallah…
    Ya Allah, jadikanlah kami sebagai manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya…

  • arief budiman

    Islam selalu mengajarkan kebaikan jadi mulailah dari diri sendiri untuk berbuat kebaikan.

  • Miskatun Nuroniah

    Assalamu'alaikum

    Afwan, sebenarnya ane belum baca secara keseluruhan artikel ini. Tetapi ane tertarik dengan judul artikel ini. Ane minta izin meng chopy untuk referensi saat ngisi kajian. Syukron

    Wassalamu'alaikum

  • http://septiyan7.wordpress.com septiyan

    Sukron atas tulisannya . . begitulah kita wajib berbagi kepada saudara-saudara kita untuk meraih kemuliaan

  • abdul jafar

    setelah membaca artikel ini, semoga kita umat islam sedunia menjadi hamba-hamba allah yang terbaik, rahmatan lil alamin.

  • http://www.ppnsi.org hendri

    Terlalu tinggi derajat manusia yg memberi faedah bagi orang lain karenanya setiap muslim mesti memberi yg terbaik bagi saudaranya

  • http://www.arinalutfia.blogspot.com arina lutfia

    Seandainya para pemimin dan elite polity dinegara ini bisa membaca dan dapat menghayati makna tulisan anda pastilah negeri kita akan makmur damai sentosa yang mampu memberi yang tidak mampu, yang kuat melindungi yang lemah,yang ada memberi yang tidak ada sehingga semua rakyat dapat saling bahu membahu mencapai cita dan tujuan bersama dengan sukses dan diridloi Allah semoga semua yang dapat membaca tulisan ini dapat bersama-sama niat kita juangkan negeri kita dari kedloliman Bismillahirrohmanirrohiim..

  • http://mtt-qeen2.blogspot.com/ almuttaqin

    manusia memang benar-benar harus mengerti dulu apa tujuan hidup… Trimaksih Ustadz wejangannya….

  • ardollynata

    Allah Akbar

    terima kasih dakwahtuna atas artikel ini jadi membuat saya semangat untuk menjadi manusia yang berguna

  • http://zahril.wordpress.com zahril

    Assalammualaikum,

    Tulisan tersebut sangat bermanfaat bagi kita.

    Ustad Mochamad Bugi, boleh gak tulisan tersebut saya sadur untuk di sharing ke teman-teman yang lain yang mungkin saja belum baca atau belum sempat mengunjungi dakwatuna.com

    Jazakallah…

  • abu yusuf

    “Maka bertanyalah pada ahlu dzikr jika kalian tidak mengetahui”. Tholabul ‘ilmi tidaklah sama dengan ‘ulama. Al-‘Ulama adalah pewaris para nabi. Tholabul ‘ilmi hanyalah bersikap dengar, hapalkan dan sampaikan.

  • http://@yahoo.com.sg jamaluddin

    thanks a lot

  • Erwin Tanjung

    Terima kasih atas berbagai artikel agama. Sungguh sangat bermanfaat

  • |Adam B sa’ban

    orang yang terbaik=org yang paling banyak manfaatnya..
    Ayo aktualisasikan segala potensi agar semakin banyak yang bisa kita berikan..

  • Zulfy eL Hanief

    AllohuAkbar!!!
    SEMANGAT!!!

  • heru

    Semoga kita diberi kemudahan menjadi manusia baik,naskahnya bagus penuh mutiara,terimakasih.

  • http://yahoo muhammad arafah

    subhanallah, Ya Aziz Berikanlah hidayah serta inayahmu kepada orang-orang yang meluangkan waktunya untuk kemaslahatan agama dan ummat manusia demi keagungan agama dan kebesaranMu Ya Allah …

  • sudaryanto

    Bismillah… Semoga kita bisa menjadi manusia terbaik. Bertakwa kepada Allah, bermanfaat bagi banyak orang. Insya Allah

  • Maksudi BC

    Ustadz… syukron libayaanissual, saya jadi teringat pesan salah satu ustadz saya dahulu begini, tentang anfa’uhum linnaas, “berilah tongkat bagi orang buta, berilah makan bagi orang yang lapar, berilah payung bagi orang yang kehujanan, bersodaqohlah kepada orang yang fakir”. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memberi. terima kasih Ustadz.

  • IPUL

    ALLAHUAKBAR

  • hafiz achmad

    SubhanAllah sangat menginspirasi

  • Asep Setiawan

    Jazakumulloh, ustadz.. semoga bisa ana amalkan

  • rianurfatiha

    Subhanallah..Maha Mulia dan Suci Engkau Yaa Rabb..

  • http://[email protected] Masrial. MR

    Subhanallah, minta Ampun kepada ALLAH Subhanahuwa Talah, dan berterima kasih kepada penulis, semoga penulis mendapat Ridho dari ALLAH Swt, Amiin.

  • Umi Salma

    setelah membaca artikel ini semoga menambah keyakinan kita bahwa Allah senantiasa menyayangi hambanya yang sabar

  • Dwi Fitria

    Subhanallah…smoga penulis mendapat Ridho Allah SWT, artikel ini mjd ilmu yg bermanfaat dan membawa keberkahan untuk penulis dan yang bisa mengamalkannya.Sy izin copy artikel ke catatan saya..klo tdk diizinkan tolong hub ,sy akan menghapusnya..Trimakasih..

  • ruta helantius

    terima kasih ustadz, semoga tulisan ini dapat memberikan pencerahan pada bangsa ini agar bangsa ini terhindar dari siksa Allah swt.

  • umu yusuf

    melatih diri untuk beramal sholih dg ikhlas adalah amal sholih(kebaikan)juga, mulailah dr sekarang. ingat2 QS.3:14.

  • yulia sumiarsih

    Assalamualaikum..allahu akbar, subhanallah..betapa indahnya menjadi kekasih Allah. ingin rasanya menjadi manusia yang bermanfaat tanpa pamrih & selalu ikhlas ..aku harus berusaha seperti itu..ya minimal terus memperbaiki diri secara konsisten…amin…

  • wahyu

    Subhanllah apa yang telah saya baca dalam artikel diatas insyaallah membuat saya menjadi lebih ikhlas lagi dalam menjalankan sesuatu . . . .semoga,amin . . .
    bantu saya ya allah untuk bisa menjalankan ini semua, amin

    • Abdul Rohman

      Assalamu’alaikum wr. wb. AlhamduliLLAH walau pun haditsnya pendek akan tetapi mendalam sekali dalam pengamalan untuk kesholehan sosial sy.Allahu Akbar…JazakaLLAH khoir Katsiro ahsanaLLAHul Jaza.

  • agam

    masyaallah, sudah kah kita mulai menapaki langkah2 itu….???????

  • Abdul Rohman

    Assalamu’alaikum wr.wb. MumtaaaaaaaaZ, alhamduliLLAH ada inspirasi dibalik hadits nabi diatas betapa hanya ALLAH lah yang menjadi jaminan Rizki qta, jadi yang menjadi milik qta hakikatnya apa yg qt infakan, karena “rizki” (harta,ilmu,waktu dll.) hanya lewat melalui qta saja sejatinya harus kita salurkan di jalan ALLAH.

  • risma malang

    boleh nambah info dikit ya, dlm buku madarijus salikin-ibn.qoyyim ada 10 macam sadaqoh yang tidak bersumber dr harta semata shg jd alasan tdk bs beramal..yuk kita baca apa saja itu…smg menambah semanat dan motivasi dlmm beramal. amin

  • Hasnur azis

    Selalu belajar untuk memperbaiki diri. Supaya bs lbh kuat.kuat finansial,kuat fisik,kuat tsaqafah. Yakin akan bs mberikan banyak manfaat kpd org lain

  • Cluster 23

    Hayo aktivis dakwah …jangan exclusive dikampung sendiri.jangan merasa sibuk teriak 2 kebaikan tetapi dilingkungan sendiri 0 besar.atau bergerak karena baju politik yang sempit .tebarkan kalimat Allah tanpa imbalan apa-apa bekerja dan bekerja biar Allah yang memberikan bonusnya.

  • sandra

    izin copas ya

  • Abdul Haris Elmi

    subhanallah, ternyata masih banyak yang harus diperbaiki pada diri ini, jazakallah ustadz.

  • Puji

    Subhanallah walhamdulillah….Semoga Allah memberi kesempatan untuk itu.amin…Mari berjuang!!!

  • Puji

    Subhanallah walhamdulillah….Semoga Allah memberi kesempatan untuk itu.amin…Mari berjuang!!!

  • Rie Rustandi

    subhanallah……..sangat dalam maknanya untuk kita pahami dan kita amalkan walau urainnya hanya 4 fase.semoga Allah memberikan kemudahan untuk melakukan kebaikan kepada kita amin…..agar menjadi manusia terbaik dan bermanfaat……..pokoknya..artikel ya top.

  • cervans

    subhanallah makasih ustadz,,,, :-)

  • Faza Rambe

    Alhamdulillah syukron ya tadz..

  • Rachmawatiibrahim

    alhamdulillah, jazakallah ustadz. jadi tambah ilmu nih.

  • Assyabab Latifah

    terimakasih pengingatannya. izin copas ya, ustadz

  • Nuraini58

    Ijin dishare….terima kasih