Home / Dasar-Dasar Islam / Al-Quran / Tafsir Ayat / Agar Amal Tidak Sia-Sia

Agar Amal Tidak Sia-Sia

dakwatuna.com –Hai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, juga taatlah kalian kepada RasulNya, dan janganlah kalian mensia-siakan (pahala) amal kalian“. (Muhammad: 33)

Memang Ramadhan dalam konteks waktu dan salah satu dari bulan Allah sudah berlalu meninggalkan kita. Namun semangat dan nilai Ramadhan sepatutnya tetap hadir menyertai keseharian kita. Ramadhan bukan “satu-satunya” bulan untuk beramal dan bertaqarub kepada Allah. Ramadhan hanya momentum untuk meningkatkan dan memaksimalkan kebaikan kita sebagai bekal menghadapi sebelas bulan berikutnya. Untuk itu, Ramadhan akan senantiasa hadir menyambangi kita pada setiap tahunnya. Alangkah rugi dan pelitnya seseorang yang hanya mau bersemangat beribadah dan beramal shalih hanya di bulan tertentu. Demikian juga tidaklah baik seseorang yang hanya mampu beribadah dengan baik dan maksimal di tempat tertentu yang mengandung nilai pahala lebih, seperti di Mekkah misalnya ketika menunaikan ibadah umrah atau haji, namun setelah pulang ke tanah air, kelesuan beribadah kembali terjadi di mana-mana.

Ayat ini oleh sebagian mufassir dijadikan dasar akan hilangnya pahala amal kebaikan yang berhasil dilakukan oleh seseorang jika setelah kebaikan itu ia kembali terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan, atau jika ia tidak mampu mempertahankan kebaikan tersebut di waktu berikutnya. Ayat ini juga secara korelatif memiliki hubung kait yang erat dengan ayat sebelumnya: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 32).

Kontens kedua ayat tersebut intinya berbicara tentang perilaku yang dapat menyia-nyiakan amal kebaikan, Perbedaannya, pada ayat 32 ini ancaman Allah ditujukan kepada mereka yang menghalangi manusia dari jalan Allah dan memusuhi Rasulullah saw, sehingga pada ayat 33 Allah mengingatkan orang-orang yang beriman agar tidak menyia-nyiakan amal ketaatan mereka dengan apapun bentuknya seperti yang diancamkan oleh Allah kepada golongan yang ingkar sebelum mereka. Di sini bentuk kasih sayang Allah terhadap kekasih-Nya dari orang-orang beriman sangat ketara agar mereka tetap ta’at kepad-aNya kapanpun dan di manapun, tanpa ada batasan waktu dan tempat, apalagi alasan sempat dan tidak sempat.

Ayat ketiga yang berbicara tentang perilaku yang dapat mensia-siakan amal baik seseorang adalah surah Al-Hujurat: 2 yang bermaksud:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2).

Adab kepada Rasulullah saw. dalam berbicara yang disebutkan oleh ayat ini langsung diperintahkan oleh Allah sawt. yang ditujukan secara langsung juga kepada orang yang beriman, karena pada hakikatnya taat kepada Rasulullah adalah taat kepada Allah, “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa': 80).

Justeru tidak berakhlak baik kepada Rasulullah dalam segala bentuknya dapat mengakibatkan hapusnya pahala kebaikan yang dilakukan oleh orang yang beriman.

Terdapat banyak pendapat para ulama tentang sikap dan perilaku yang mengakibatkan terhapusnya amal baik seseorang.

Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi misalnya menyebutkan bahwa mensia-siakan amal adalah dengan melakukan kaba’ir (dosa-dosa besar. Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Hasan Al-Bashri dengan berhujjah dengan surat Al-Hujurat: 2, bahwa tidak beradab kepada Rasulullah merupakan dosa besar yang dapat menghapus pahala amal shalih seseorang.

Imam Qatadah pula berpendapat bahwa amal kebaikan akan sia-sia apabila setelah itu diiringi dengan kembali melakukan dosa dan kemaksiatan. Sedangkan Ibnu Abbas berpandangan bahwa amal kebaikan itu dikhawatirkan akan hapus pahalanya jika disertai dengan riya’ dan ‘ujub (berbangga diri).

Secara umum pendapat mereka berkisar pada segala jenis kemaksiatan dan dosa, apapun bentuknya dikhawatirkan akan menghapus dan mensia-siakan amal taat yang pernah dilakukan oleh seseorang.

Pandangan para ulama di atas diperkuat oleh sebab turun ayat ini seperti yang diriwayatkan oleh Abul Aliyah. Abul Aliyah menukil riwayat tentang sebab turun ayat ini bahwa para sahabat sebelum turun ayat ini memandang tidak masalah berbuat dosa karena mereka telah beriman, seperti juga mereka menganggap bahwa tidak ada gunanya amal jika disertai dengan syirik. Maka turunlah ayat ini yang menegur mereka agar berhati-hati dengan setiap dosa karena dapat mensia-siakan amal.

Oleh karena itu, seorang muslim “yang cerdas” adalah seorang yang mampu meneruskan musim ketaatan pasca Ramadhan. Demikian pula, sejatinya orang yang telah mengukir prestasi dengan beramal dan menjalankan ketaatan yang maksimal di bulan Ramadhan, sangat disayangkan jika setelah melewatinya kembali masuk dalam kelompok pelaku maksiat. Sebagaimana orang-orang yang sudah berhasil merasakan lezatnya ketaatan, indahnya ibadah, sangat disayangkan jika harus kalah dan kembali pada kesengsaraan karena berlumuran dosa dan kemaksiatan. Padahal di antara tanda diterimanya suatu amal ibadah seseorang adalah jika dia dapat konsisten dan lebih banyak lagi melakukan amal tanpa melihat waktu atau bulan tertentu dan tempat tertentu yang memiliki keutamaan. “Jadilah hamba Rabbani, dan bukan hamba Ramadhani.” Dan itulah makna hakiki dari firman Allah swt, “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”. (Al-Hijr: 99).

So, jangan sia-siakan kebaikan ini dan jadikan “musim Ramadhan” terus mengisi waktu-waktu kita. Amin

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (23 votes, average: 8,83 out of 10)
Loading...Loading...
Dr. Attabiq Luthfi, MA
Pria kelahiran Cirebon ini berlatar belakang pendidikan dari Pondok Modern Gontor, Jawa Timur. Setelah itu melanjutkan pendidikan ke S1 di Islamic University, Madinah KSA, S2 di Universitas Kebangsaan Malaysia, dan S3 di universitas yang sama. Saat ini bekerja sebagai dosen di Pasca Sarjana STAIN Cirebon, UIJ, SEBI, dan Ma'had Nuaimy.Aktif di Sie Rohani Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) UKM Malaysia. Amanah yang diemban saat ini adalah sebagai Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia (FORKOMMI) di Malaysia, dan sebagai ketua Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) DKI Jakarta. Produktif dalam menghasilkan beberapa karya, di antaranya Al Qur'an Edisi Do'a, buku Studi Tafsir Al-Munir Karya Imam Nawawi Banten, dan buku Puncak Keberkatan Rizki Tersekat (Edisi Malaysia). Selain itu juga aktif sebagai kontributor tetap pada Kolom Tafsir di Majalah Al-Iman (bil Ghoib), dan sebagai kontributor tetap pada rubrik Tarbiyah di Majalah Tatsqif. Moto hidupnya adalah "Terus belajar, bekerja, dan berjuang untuk ummat".

Lihat Juga

Tempat ibadah di salah satu mall di Jakarta. (riset/inilah)

Jelang Ramadhan, Masih Ada Mall dan Kantor dengan Tempat Ibadah Kurang Layak

  • http://carakusehat.blogspot.com heny

    Ada 3 type manusia dalam menyikapi waktu:
    1.Progresif (kualitas hari ini lebih baik dari hari kemarin)
    2.Stagnan (kualitas hari ini sama dengan hari kemarin)
    3.Degradasi (kualitas hari ini lebih buruk dari hari kemarin)
    Ajaran Islam begitu Indah, telah memberikan guidance kepada umatnya agar dapat menjadi manusia yang produktif dalam beramal shaleh, dan terus memperbaiki diri tiada henti………..

  • azka

    assalamu’alaikum…
    ane baru pertama ini buka situs dakwatuna.com coz dikashtau temen..
    Subhanalloh ternyata artikel2 yang dimuat Ok abis..
    oya da gak artikel tentang Keep Istiqomah ???
    jzkllh…

  • wida

    alhamdulillah, jazakillah atas materi-materinya membantu ana dalam memahami Islam secara complete, pas butuh materi pas ada

  • http://www.aufaqonitat.multiply.com Meliana

    jazakallah ustadz…….
    artikel ini mengingatkan saya untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas amal. semoga kita semua menjadi pribadi yang cerdas, yaitu pribadi yang mampu meneruskan musim ketaatan pasca Ramadhaan. Amiin……

  • nova

    Ramadahan saatnya untuk berlomba,setelah berlatih beberapa bulan sebelumnya, pasca ramadhan adalah masa evaluasi dari amalan2 kita selama ramadhan kemaren dan begitu seterusnya.So persiapkan diri sebelum bulan penuh hikmah itu datang agar mendapatkan kemenangan.

  • arief budiman

    saya juga baru pertama ini buka situs dakwatuna. Isinya subahanaALLah sangat bagus. Sebagai penambah ilmu untuk lebih cinta lagi kepaNya.

  • nurul

    Semoga kumampu menjadi hamba ALLAH yang hakiki,yang mampu bernafas hanya dengan mengingatnya

  • Nasrudin

    artikel yang sarat akan ilmu. saya sangat menyambut baik hadirnya dakwatuna.com dgn berbagai artikel berkualitas di dalamnya. sepakat dengan azka,..artikel tentang menjaga keistiqomahan donk….jazakumullah khoir.

  • http://yahoo Vivan

    siiiiiiiiippppp setuju sekali dengan hadirnya dakwatuna.com………… bisa tambah ilmu secara elektronik… sukronnnnnnn

  • Latifah

    Alhamdulillah sy menemukan dakwatuna.com semoga sy mendapat ilmu dan bs memanfaatkan media ini untuk fisabilillah,smg Islam jaya dimuka bumi , smg banyak generasi muda yang cinta di jalan ALLOh SWT. Amin ya robalalamin

  • karjono

    Alhamdulillah dakwatuna.com sangat bermanfaat. kalau bisa ditambah bahasannya terkait ibadah sehari-hari dan do’a-do’a dalam bahasa arab agar kita lebih memaknai keseharian kita dengan ibadah.