11:22 - Jumat, 25 April 2014
DR. Amir Faishol Fath

Sumpah Pemuda: Pemuda Dalam Lintasan Sejarah

Rubrik: Editorial | Oleh: DR. Amir Faishol Fath - 29/10/08 | 10:11 | 28 Shawwal 1429 H

dakwatuna.com – Pemuda adalah generasi yang paling menentukan. Dalam Al Qur’an Allah swt. selalu menegaskan pentingnya masa muda. Ashhabul kahfi digambarkan oleh Allah bahwa mereka adalah sekelompok anak muda. Allah berfirman: “Innahum fityatun aamanuu birabbihim wazidnaahum hudaa. Mereka adalah anak muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan hidayah untuk mereka.”Dari ayat ini nampak bahwa masalah kepemudaan oleh Allah sangat ditekankan. Ditekankan karena tidak saja masa muda adalah masa berbekal untuk hari tua, melainkan juga di masa muda itulah segala kekuatan dahsyat terlihat. Dari apa yang pernah kita alami dan kita saksikan ada beberapa keistimewaan masa muda yang penting untuk digaris bawahi di sini:

Pertama, masa muda adalah masa yang penuh keberanian. Kita temukan di sekitar kita banyak anak muda berani mati, hanya sayangnya itu dilampiaskan dalam bentuk prilaku yang kurang produktif, seperti dengan menari-nari di atas gerbong kereta, berjoget-joget di atas metromini yang sedang laju dengan kecepatan yang tinggi, atau dengan tawuran antar kelompok atau fakultas dengan saling melempar batu, bahkan tidak sedikit yang sampai saling membunuh, atau dengan trek-trekan -kebut-kebutan- naik sepeda motor, atau lain sebagainya.

Betapa indahnya jika kemudian jiwa berani mati ini disalurkan untuk kebaikan seperti dengan bekerja keras dalam usaha yang lebih produktif dan menegakkan keadilan. Genarasi sahabat Nabi saw. adalah contoh genarasi muda yang bergerak cepat untuk menyelamatkan bumi dari sabotase orang-orang dzalim. Karena itu pada zaman sahabat mereka mencapai masa keemasan yang indah penuh kedamaian dan kesejahteraan.

Kedua, masa muda adalah masa yang paling efektif untuk menabung amal untuk hari tua. Karena Nabi saw. menyebutkan dalam salah satu haditsnya: “Syabaabaka qabla haramika. Masa mudamu sebelum masa tuamu.”

Artinya jangan menunggu tua untuk beramal, sebab beramal di masa tua sudah banyak terbentur dengan keterbatasan. Di masa muda kita bisa bergerak cepat menghadiri majelis ilmu, membantu korban bencana, berdakwah menyebarkan Islam ke seluruh penjuru bumi dan lain sebagainya.

Berbeda dengan kondisi tua, amal shaleh baginya sangat sempit dan lebih bersifat ritual saja. Karena itu di hari Kiamat nanti, ketika manusia meniti di atas shirat, Nabi saw. menjelaskan bahwa akan ada pertanggungjawaban khusus untuk masa muda, untuk apa saja ia gunakan.

Ketiga, masa muda adalah masa yang paling kuat secara fisik maupun secara psikologis. Banyak anak muda tidak kenal lelah naik-turun gunug hanya sekedar hoby. Tidak sedikit anak muda yang tidak pernah capek mengendarai sepeda, terjun bebas dari ketinggian yang sangat curam dalam kondisi yang sangat mengerikan. Itu semua dilakukan sekedar hiburan. Alangkah baiknya jika kekuatan masa muda itu digunakan untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu untuk memahami ilmu Islam dan mengajarkannya.

Lihatlah bagaimana ulama terdahulu telah menggunakan masa muda mereka untuk sesuatu yang bermakna bagi umat ini. Imam Bukhari dan Iman Muslim mampu mengumpulkan hadits-hadits Nabi saw. dan menyeleksinya secara ketat sehingga menjadi karya monumental yang tidak saja menyelamatkan umat tetapi lebih dari itu menyelamatkan agama.

Keempat, masa muda adalah masa subur idealisme. Banyak peristiwa-peirstiwa besar dalam sejarah adalah karena idealisme masa muda. Semangat kemerdekaan yang telah mengantarkan negeri ini bebas dari penjajahan adalah karena gelora idealisme anak-anak muda masa itu.

Lahirnya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang kini kita kenang selalu, adalah bukti kongkrit pentingnya masa muda sebagai titik tolak idealisme menuju pembaharuan hidup yang lebih baik. Baik secara individu, sosial, politik dan negara. Karena itu, setiap kita berbicara perbaikan sebuah negara, mulailah pertama kali dari perbaikan genarasi mudanya. Jangan bermimpi memperbaiki negara, bila pemudanya hancur secara spiritual, hidup dalam gelimang dosa dan kebobrokan moral. Generasi muda hari ini adalah cerminan masa depan sebuah negara.

Oleh karena itu, sudah saatnya kini generasi muda dijaga. Jangan biarkan mereka berjalan tanpa tuntunan. Tugas generasi tua adalah memberikan bimbingan, bukan melemparkan mereka ke lubang kehancuran. Bukan orang tua yang baik, bila membiarkan anak-anak mudanya rusak iman dan idealismenya.

Ingat, bahwa hanya dengan iman kokoh anak-anak muda akan menjadi sukses. Sukses secara keduniaan, lebih dari itu sukses secara akhirat. Maka sungguh sangat mengerikan bila kurikulum pendidikan hanya fokus kepada masalah-masalah keduniaan. Di sana-sini kita masih menyaksikan banyak sekolah yang hanya bisa mengantarkan anak-anak didiknya kapada keberhasilan secara dunawi, namun secara akhlak dan agama mereka gagal. Akibatnya banyak anak muda yang terbiasa berbuat maksiat dengan tanpa merasa malu di depan siapapun.

Akhir-akhir ini, seringkali keluhan para orang tua yang baik, adalah anak-anak mereka yang semakin jauh dari Allah swt. Merebaknya lembaga pendidikan swasta dengan sistem terpadu SDIT, SMPIT dsb, adalah langkah spontanitas masyarakat yang merasa prihatian akan masa depan anak muda bagi negeri ini. Mereka lakukan itu semata untuk mengimbangi lembaga-lembaga pendidikan yang hanya memperhatikan pembinaan anak-anak muda secara skill, sementara ruhani mereka dibiarkan kosong dan meronta-ronta dalam dosa-dosa.

Karena itu, mengenang peristiwa bersejarah yang kita kenal dengan sumpah pemuda sekarang ini artinya adalah membangun tekad untuk menyelamatkan iman generasi muda sehingga mereka menjadi generasi yang handal, tidak saja dalam membangun negeri ke arah yang lebih baik, aman dan sejahtera, tetapi juga lebih bernuansa persaudaraan dan kekeluargaan yang penuh tanggungjawab. Sekaligus memberi ruang gerak yang luas terhadap pemuda di dalam memimpin bangsanya, menyelamatkan negerinya dari ragam krisis. Sebagaimana tokoh-tokoh muda yang mampu menorehkan sejarah perubahan dari waktu ke waktu sepanjang hidup ini. Wallahu a’lam bishshawab.

DR. Amir Faishol Fath

Tentang DR. Amir Faishol Fath

Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Qur’an. Pernah beberapa tahun menjadi… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Samin Barkah, Lc

Keyword: , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (17 orang menilai, rata-rata: 7,82 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.abuzahid.co.cc dwi hary prasojo

    Jazakallah khair ustadz atas artikelnya

  • kaspa

    sebagai pemuda generasi penerus bangsa saya sangat salut dengan artikel yang anda buat.teruslah berkarya untuk pembangunan umat yang lebih maju.semoga ALLAH selalu melimpahi kita dengan rahmatNYA. ALLAH HUAKBAR….

  • Adil

    Assalamualaikum WR.WB
    sebagai pemuda saya sangat malu dengan apa yang telah ustadz sampaikan, tapi ustadz kenapa bila bersikap idealis banyak orang yang mengatakan yang tidak – tidak. Dan saya yakin masa keemasan itu pasti datang lagi.menurut saya kami para pemuda hanya lupa bahwa kita memiliki suri tauladan yang sempurna dan telah ditetapkan oleh Allah. Terus semangat Para Pemuda Islam yang dirahmati Allah… Allahu Akhbar.

  • http://facebook fana

    maju terus pemuda indonesia

  • Nino

    Akhlak pemuda diciptakan lebih dominan dari lingkungan, ciptakanlah lingkungan yang mendukung demi tersalurkannya potensi pemuda yang luar biasa…

Iklan negatif? Laporkan!
92 queries in 1,047 seconds.