Home / Suara Redaksi / Editorial / Mudik Oh Mudik…

Mudik Oh Mudik…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.comJelang lebaran atau pasca lebaran, kita menyaksikan adanya kebiasaan dari masyarakat kita untuk mudik, alias pulang kampung. Ada yang naik mobil pribadi, angkutan bis, kapal laut, pesawat dan ada juga yang pake sepeda motor. Hiruk pikuk mudik itu sangat terasa, bahkan di media massa elektronik sering menjadi sebuah acara trend dengan tajuk “mudik lebaran”. Sehingga kesannya adalah lebaran ya pulang kampung.

Adakah yang perlu dipertanyakan dari kebiasaan mudik? Jawabannya bisa beragam, bisa bermakna ibadah dan kewajiban, namun bisa juga bermakna maksiat dan larangan, lho?

Bermakna ibadah jika niatnya untuk silaturahim dan dilaksanakan dengan cara yang baik serta tidak melanggar kewajiban. Seperti tetap melaksanakan shalat wajib misalnya. Karena banyak sekali saudara-saudara kita sesama muslim yang ketika mudik, tidak melaksanakan kewajiban shalat, atau paling tidak, tidak kelihatan shalat di saat perjalanaan. ini harus kita akui, wal iyadzubillah. Mudik yang seperti inilah yang bermakna maksiat dan melanggar perintah. Padahal dalam mudik ada dispensasi untuk men-jama’ dan qashar shalat -menggabungkan dua shalat dan mengurangi jumlah rakaat shalat menjadi dua rakaat-, dan tentu tidak boleh meninggalkan kewajiban shalat, apapun kondisinya, bahkan ketika harus shalat dalam kendaraan.

Persiapan pulang kampung, luar biasa rumit. Bagi yang bawa kendaraan sendiri, jauh-jauh hari kendaraan harus diservis dan boleh jadi semua komponennya harus dicek satupersatu, tentu dengan biaya yang tidak sedikit. Bagi yang naik kendaraan umum, ternyata tarif angkutan umum naik jadi-jadian, sangat mahal. Belum lagi untuk kebutuhan makan, minum, hadiah untuk keluarga dan yang lainnya. Membutuhkan banyak biaya. Ini tidak bisa dipungkiri.

Gegap gempita mudik juga bisa kita lihat dari panjangnya para pengguna sepeda motor, yang harus dikawal oleh polisi untuk keamanan dan antisipasi macet. Sirine raider yang mengawal rombongan pengguna motor itu meraung-raung, hampir sepanjang waktu dan perjalanan, karena begitu banyaknya pengguna motor yang mudik. Gegap gempita mudik.

Lalu apa yang perlu kita maknai dari mudik ini? Ya kalau ternyata mudik saja begitu besar persiapnnya dan begitu banyak biaya yang dikorbankan, bagaimana dengan mudik yang sejati, pulang kampung yang hakiki? Ya, pulang kampung akhirat, begitu bahasa Al Qur’an menggunakannya. Kembali kepada Allah swt. pemilik hidup dan mati, penentu ujung kehidupan.

Pulang kampung akhirat mestinya lebih mendapatkan keseriusan dan kesungguhan bagi kita semua yang masih hidup, karena kita semua pasti akan mendapatkan gilirannya: “Kullu nafsi dzziqatul maut, setiap yang bernafas pasti akan merasakan kematian.”

Imam Ali karramallahu wajhah ketika ditanya tentang definisi taqwa -dan taqwa merupakan terminal Ramadhan yang telah kita lewati-, beliau menjawab lima hal, salah satunya adalah: “Isti’dad liyaumir rahil, yaitu mempersiapkan diri untuk perjalanan jauh tanpa ujung”. Negeri akhirat adalah Negeri tanpa berkesudahan, tempat kekal abadi, imma fi na’imil jannnah au fi jahimin naar, menikmati surga atau sengsara di neraka selama-lamanya. Wal iyzdzubillah.

Rasulullah saw. bersabda menggambarkan orang yang mampu menggunakan potensi akalnya dengan sebenarnya dan dialah orang yang sukses:

Al kayyisu man dana nafsahu wa ‘amila lima ma’dal maut, Orang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan bekerja atau beramal untuk masa sesudah kematian.”

Orang sukses kalau barometernya dunia sangatlah relatif, tergantung sudut pandang masing-masing. Ada yang bilang orang sukses itu ketika banyak duit, atau ketika sedang berkuasa, atau memiliki jabatan yang tinggi, titel pendidikan yang panjang, banyak pengikut dan seterusnya, tergantung siapa yang menjawabnya. Semua relatif dan sementara. Padahal itu semua akan berakhir bersamaan binasanya usia manusia, atau hancurnya dunia.

Namun sukses yang sebenarnya adalah manakala ia mampu selamat di kampung akhirat, yang abadi.

Sehingga orang yang sukses itu adalah sebagaimana yang diceritakan Allah swt. dalam firman-Nya:

Barangsiapa yang diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh ia orang yang sukses lagi beruntung.”

Apa yang perlu dipersiapkan bagi orang yang pasti menemui ajalnya?

Adalah dengan banyak-bannyak melaksanakan prestasi ibadah, berkorban jiwa dan harta untuk kepentingan agama dan menolong sesama, melaksanakan sebanyak mungkin kebajikan, kebaikan, amal sholeh dan ketaatan. Allah swt. berfirman:

Barangsiapa yang menghendaki berjumpa dengan Allah, maka hendaknya ia beramal shaleh dan tidak menyekutkan Tuhannya dalam melaksanakan peribadatannya.”

Sudah saatnya umat muslim, memaknai mudik yang sebenarnya, pulang kampung hakiki dengan penuh kesiapan dan kesungguhan. Agar kita bisa mudik tahunan dan itu bermakna ibadah, juga agar kita siap berjumpa dengan Allah swt. di kampung akhirat dengan husnul khatimah. Amin. Allahu ‘alam

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ulis Tofa, Lc
Lahir di kota Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 05 April 1975. Menyelesaikan jenjang pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah di Maahid Krapyak Kudus. Tahun 1994 melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta. Program Persiapan Bahasa Arab dan Pra Universitas. Tahun 2002 menyelesaikan program Sarjana LIPIA di bidang Syariah. Semasa di bangku sekolah menengah, sudah aktif di organisasi IRM, ketika di kampus aktif di Lembaga Dakwah Kampus LIPIA, terakhir diamanahi sebagai Sekretaris Umum LDK LIPIA tahun 2002. Menjadi salah satu Pendiri Lembaga Kajian Dakwatuna, lembaga ini yang membidangi lahirnya situs www.dakwatuna.com , sampai sekarang aktif sebagai pengelola situs dakwah ini. Sebagai Dewan Syariah Unit Pengelola Zakat Yayasan Inti Sejahtera (YIS) Jakarta, dan Konsultan Program Beasiswa Terpadu YIS. Merintis dakwah perkantoran di Elnusa di bawah Yayasan Baitul Hikmah Elnusa semenjak tahun 2000, dan sekarang sebagai tenaga ahli, terutama di bidang Pendidikan dan Dakwah. Aktif sebagai pembicara dan nara sumber di kampus, masjid perkantoran, dan umum. Berbagai pengalaman kegiatan internasional yang pernah diikuti: Peserta Pelatihan Life Skill dan Pengembangan Diri se-Asia dengan Trainer Dr. Ali Al-Hammadi, Direktur Creative Centre di Kawasan Timur Tengah, pada bulan Maret 2008. Peserta dalam kegiatan Muktamar Internasional untuk Kemanusian di Jakarta, bulan Oktober 2008. Sebagai Interpreter dalam acara The Meeting of Secretary General of International Humanitarian Conference on Assistanship for Victims of Occupation bulan April 2009. Peserta Training Asia Pasifik Curriculum Development Training di Bandung pada bulan Agustus 2009. Peserta TFT Nasional tentang Problematika Palestina di UI Depok, Juni 2010 dll. Karya-karya ilmiyah yang pernah ditulis: Fiqh Dakwah Aktifis Muslimah (terjemahan), Robbani Press Menjadi Alumni Universitas Ramadhan Yang Sukses (kumpulan artikel di situs www.dakwatuna.com), Maktaba Dakwatuna Buku Pintar Ramadhan (Kumpulan tulisan para asatidz), Maktaba Dakwatuna Artikel-artikel khusus yang siap diterbitkan, dll. Sudah berkeluarga dengan satu istri dan empat anak; Aufa Taqi Abdillah, Kayla Qisthi Adila, Hayya Nahwa Falihah dan Muhammad Ghaza Bassama. Bermanfaat bagi Sesama adalah motto hidupnya. Contak person via e-mail: ulistofa-at-gmail.com atau sms 021-92933141.
  • dewi

    Assalamu'alaikum..

    Ada beberapa firman Allah yang tidak disertai Nama Surat dan Ayat berapa ?

    Demikian juga dengan hadits, diriwayatkan oleh siapa ?

    Afwan, jazakumullahu khair

    Wassalam

  • sukocomulyo

    Hi Dakwatuna.Com

    Lebih bijak apabila dalam mengutip firman Allah swt, dilenckapi ( QS : surat …… ayat …. ) lebih afdol. Makasih

  • Assalamu'alaikum wr. wb….

    klo ane pikir nysuain juga ye mudik lebaran, bayangin aje dari persiapan ape pulangnye kaga ade nyeng ngenakin, kudu nyiapin uang nyeng buannyak kadang lupe ame berinfaq, antri tiket berdesekan-desekan,di bis, motor,atau kendaraan lain, katanye.., kaga ada nyeng ngenakin deh ! ngorbanin waktu nyeng cukup lame, kadang ape lupe ame sholat lima waktu, karena gak sempet , blom macetnya nyeng nyusain semua orang, emang penting si silaturrahim ame keluarge di kampung, tapi ape mesti dan kudu mau lebaran aje ketemu ame keluarge, yaa kaga lah…! kan masih buanyak waktu yg lain….

    Semoga saja budaya mudik lebaran bisa berubah jadi budaya siluturrahiim yang islami.

    Mohon maaf jika ade salah kate, Taqobbalallahu minna waminkum, minalaidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Kullu amin wa antum bi khoiir…

    wassalamu'alaikum wr. wb.

  • marwan ds

    Masalah mudik menjadi masalah nasional artinya seluruh potensi nasional dikerahkan yang tujuannya mempunyai variabel yang tinggi Alangkah baiknya dakwatuna memberikan solusi bagaimana mudik bermanfaat bagi kepentingan umat itu sendiri dan bagi bangsa.

  • yana

    mudik=silaturohim u saya&kluarga tp bkn agnd wajib stiap thn bg kami…

  • ali

    alhamdulillah saya malah belum merasakan yg namanya mudik, habis semua sekota,keluarga,kerjaan,mertua ya alhamdulillah

Lihat Juga

Silaturahim Akbar Wahdah Islamiyah akan Dihadiri Wapres Jusuf Kalla