Home / Berita / Ramadhan di Yala dan Narathiwat: antara Petai, Nasi Kerabu, Sarung, dan Askar

Ramadhan di Yala dan Narathiwat: antara Petai, Nasi Kerabu, Sarung, dan Askar

dakwatuna.com Anak-anak kecil berlarian menuju masjid. Ibu-ibu bermukena putih berjalan perlahan menuju surau terdekat. Kaum Bapak dan para pemuda tampak mengobrol sambil minum air es dan teh tarik. Beberapa diantaranya tampak asyik merokok. Mereka asyik mengobrol. Entah bicara politik, konflik, ataupun sekedar berdiskusi besok hendak makan apa. Inilah suasana setelah berbuka puasa (buke poso dalam bahasa setempat) dan menjelang shalat Isya di Raman, distrik kecil di timur kota Yala , Thailand Selatan.

Ketika adzan berkumandang (sungguh senang mendengar ada adzan berkumandang di negeri Thailand), semua kegiatan praktis terhenti. Langkah-langkah orang menuju masjid semakin banyak. Hampir semua kaum pria mengenakan kalau tidak sarung dan baju lengan panjang, ya baju gamis berwarna putih. Lengkap dengan peci haji ataupun sorban. Kaum Ibu rata-rata mengenakan mukena putih. Busana remaja putri bervariasi, dari yang mengenakan mukena putih, berjilbab dengan tangan pendek, yang berjilbab lebar, hingga yang mengenakan cadar hitam atau berwarna gelap, semua ada.

Shalat Isya-pun berjalan. Setelah Isya ada sedikit ceramah dalam bahasa Melayu setempat (Melayu Kampong atau Melayu Patani dalam istilah mereka). Agak mirip dengan bahasa Melayu di Malaysia atau Indonesia tapi pengucapannya berbeda. Misalnya, dalam bahasa setempat, `pergi` diucapkan sebagai `gi`, `beri` sebagai `wi`, `tidak` adalah `do`, `datang` adalah `mari`, `makan` disebut `make` dan lain-lain.

Berbeda halnya dengan langgam khutbah dalam shalat Jum`at. Dari dua shalat Jum`at yang kami hadiri di Patani dan di Masjid Narathiwat, khatib menyampaikan khutbah dalam bahasa Melayu ala Malaysia. Maka, untuk telinga Indonesia, versi Melayu ini lebih mudah dicerna. Sebaliknya bagi warga setempat, mereka malah tak semua akrab dengan bahasa Melayu ala Malaysia. Apa pasal? “Ini karena sebagian besar buku-buku khutbah Jum`at berasal dari Malaysia, juga ada semacam keyakinan khotib bahwa bahasa Melayu yang baik untuk khutbah adalah dalam langgam tersebut. Padahal, tidak semua jama`ah memahaminya,” cerita Zakaria, warga asli Narathiwat.

Shalat tarawih di Yala bervariasi.  Ada masjid yang memilih 23 rakaat, ada juga yang 11 rakaat. Di Masjid Jami Yala, shalat tarawih berlangsung 23 rakaat. Jamaah yang menganut 11 rakaat tertib keluar dari masjid setelah tarawih menginjak rakaat ke -8. Sementara yang menganut 23 rakaat memilih tetap melanjutkan shalat. Di lokasi yang lain, Di masjid pondok Nahdhatul Ulum tarawih berlangsung 11 rakaat. Namun, bacaan shalat-nya amat panjang. Sekitar 10 menit dihabiskan sang imam untuk rakaat pertama. Tak heran, sang Imam memang hafidz qur`an alumni Al Azhar Kairo. Maka, kendati kaki terasa bengkak namun alhamdulillah tetap bisa bertahan hingga rakaat akhir karena bacaannya begitu indah dan menyentuh.

Dan ini memang bagian mengagumkan dari muslim di Thailand Selatan. Untuk ukuran tiga propinsi kecil dengan jumlah penduduk muslim tidak lebih banyak dari DKI Jakarta, mereka memiliki cukup banyak penghafal Al Qur`an (hafidz). Banyak imam dan ulama setempat yang pernah menempuh pendidikan Islam di Mesir, Saudi Arabia, dan Pakistan, disamping Malaysia, dan juga di Indonesia. Pondok-pondok dan madrasah Al Qur`an banyak didirikan di ketiga propinsi ini. Sebagian pondok mengadopsi metode pembelajaran ala Qira`ati yang cukup populer di Indonesia.  “Saya belajar langsung ke tempat pembelajaran Qira`ati di Jawa Tengah, alhamdulillah sejak metode ini diperkenalkan, anak-anak kecil di Thailand Selatan banyak yang sudah bisa baca tulis Al Qur`an pada usia mudah,” ujar Ustadz Abdullah, pengasuh pondok qiraati di Patani.

Hal lain yang menarik dari tradisi beribadah warga muslim Thailand Selatan adalah kebiasaan mereka untuk berbusana terbaik ketika melaksanakan shalat. Busana minimal yang mereka kenakan untuk kaum pria adalah kemeja tangan panjang, baju koko/ teluk belanga dan sarung (yang kebanyakan sarung produksi Indonesia juga). Peci haji tak pernah lepas dari kepala mereka. Sebagian jamaah yang lain bahkan lebih `serius` lagi, mengenakan baju gamis putih ataupun warna lainnya lengkap dengan peci haji ataupun sorban. Amat jarang menemukan jama`ah shalat yang mengenakan t-shirt dan celana jeans. Maka, ketika kami melaksanakan shalat dengan celana camping dan kemeja lapangan, sepertinya menjadi tontonan jama`ah, karena telah `salah kostum` dan akhirnya menjadi `mati gaya.`

Situasi agak berbeda berlangsung ketika makan sahur dan itikaf.  Untuk berdiam diri di masjid sepanjang malam dalam rangka ber-itikaf sambil makan sahur bersama, adalah persoalan besar bagi sebagian muslim di Thailand Selatan. Persoalannya bukanlah karena mereka tidak ingin itikaf, namun lebih kepada masalah keamanan dan keselamatan. Bagaimanapun konflik masih terus berlangsung dan Yala, Narathiwat dan Patani masih berstatus `red alert`. “Saya khawatir apabila pulang menjelang subuh dari masjid untuk makan sahur di rumah akan ditangkap askar (tentara -pen.), kerana askar sentiasa berpatroli dan memonitor orang yang hilir mudik di sekitar masjid,” ujar Anwar, seorang mahasiswa dan aktivis LSM di Yala.

Persoalan kedua adalah keamanan masjid sendiri. Memang masjid di tiga propinsi selatan ini tidak sampai dibakar ataupun dibom (walaupun pernah juga terjadi penyerangan terhadap Masjid Krue Se di Patani pada 28 April 2004 karena dianggap dijadikan basis `pemberontak` ), namun serangan lain dalam bentuk pelemparan daging babi ke masjid kerap terjadi. “Dua hari silam masjid di Pondok Nahdhatul Ulum dilempari daging babi entah oleh siapa. Dugaan kami adalah sebagai balas dendam dari kelompok tertentu karena sebelumnya terjadi pembunuhan terhadap seorang Thai Buddhist oleh kelompok tak dikenal,” tutur Soleh Talek, pengurus pondok yang sekaligus Dekan Ilmu Sains dan Teknologi di Yala Islamic University.

Waktu berbuka puasa adalah keindahan yang lain. Gubernur Yala, Abdul Kadir, satu-satunya Gubernur muslim di Thailand, selalu menyediakan makanan setiap harinya di kediamannya, persis di pusat kota Yala. Setiap warga boleh datang dan turut menyantap makanan. Kendati mesti melewati metal detector yang dijaga tentara dan mengisi buku tamu, iftaar ini tetap berlangsung menarik. Acara berlangsung secara open air, di pelataran kediaman Sang Gubernur. Dengan memasang tenda dan melengkapinya dengan kursi-kursi dan meja yang ditata seperti di tempat resepsi, buka bersama ini terasa berbeda. Sayangnya, hari itu sang gubernur tak ikut hadir, karena hampir setiap hari ia berkeliling untuk berbuka puasa di distrik yang berbeda-beda. Namun alhamdulilah sang Ibu Gubernur turut hadir. Ibu ini, yang juga fasih berbahasa Melayu logat Malaysia, nampak sederhana. Jauh dari penampilan khas ibu-ibu pejabat.  Hanya mengenakan jilbab dengan kaos kuning tangan panjang, dan celana jeans. Turut mendampingi sang Ibu adalah Deputi Gubernur Yala, seorang Thai Buddhist namun amat pandai menempatkan dirinya sebagai pejabat di daerah mayoritas muslim. Iapun tampil sederhana, hanya mengenakan polo t-shirt berwarna pink dan celana jeans. Sama sekali tak nampak sebagai orang nomor dua di propinsi ini.

Menu buka puasa disini cukup beragam. Yang pasti adalah air es (heran juga, mengapa orang Thai sangat suka meminum air putih es di segala tempat dan segala waktu), kemudian ada agar-agar, ikan, ayam, capcay, dan tentu saja tom yam kung. Hebatnya, beberapa teman Thai yang duduk di sebelah kami enteng saja mencampur agar-agar dengan nasi dan tom yam kung untuk dimakan bersama-sama.

Setelah buka puasa, acara dilanjutkan dengan shalat maghrib berjamaah di gedung Palang Merah (Red Cross) yang berlokasi di kediaman Gubernur Yala. Uniknya, semua berlangsung tanpa komando, tanpa MC dan protokoler. Setelah datang, mencari kursi, lalu makan, dan akhirnya shalat lalu pulang ke tempat masing-masing tanpa sedikitpun aba-aba dari MC.

Buke Poso yang agak berbeda berlangsung di muka kantor Young Muslim Association of Thailand (YMAT) cabang Yala. Acara berlangsung lebih sederhana. Sekitar 200 orang anak yatim hadir dalam kesempatan ini disamping undangan dari tokoh-tokoh muslim dan aktivis YMAT setempat. Kaum pria duduk di kursi-kursi yang tertata di bawah tenda. Kaum wanita di dalam ruangan. Mereka mengenakan busana muslimah bervariasi. Dari berjilbab dengan lengan pendek, hingga jilbab lebar dan banyak pula yang bercadar.

Makanan juga nampak sederhana. Sebelum makan besar, ta`jilnya adalah berupa roti dengan bubur kacang campur daging. Sepintas aneh juga makan roti yang dioleskan dengan bubur kacang campur daging. Tapi lama kelamaan terasa enak juga, aroi mak mak

Selain roti, di meja makan turut terhidang petai mentah dan telur. Terus terang kami bingung, bagaimana memadukan antara petai mentah, telur, dan roti bubur kacang? Ternyata jawabannya lahir setelah shalat maghrib. Petai dan telur dimakan bersama nasi kerabu. Nasi kerabu adalah nasi bercampur kelapa (ulam) dan ikan kembung. Nasi ini mudah ditemukan juga di Kelantan Malaysia. Rasanya? Subhanallah, dahsyat juga. Apalagi kalau dicampur dengan petai dan telur.

Kami baru tahu bahwa Thailand Selatan punya kultur ber-petai ria juga. Sama dengan warga Sunda di Jawa Barat. Bedanya barangkali di Thai Selatan orang lebih suka memangsanya mentah-mentah, sedangkan di bumi Pasundan bervariasi apakah mentah, digoreng, ataupun dibakar. Kamipun sempat diberi oleh-oleh `asinan` petai oleh penduduk setempat. Semula sang Ibu menawarkan apabila kami ingin `petai jeruk`. Kami salah sangka dan mengartikannya sebagai `air jeruk`. Maka tanpa ragu-ragu langsung mengiyakan. Ternyata petai jeruk adalah `asinan petai` dalam jumlah besar yang dimasukkan dalam botol coca cola 1000ml dan kami yakini telah berusia cukup lama. Karena begitu tutup botol dibuka air petainya langsung muncrat dan menyebarkan aroma yang dahsyat (bisa dibayangkan kan bagaimana kalau ratusan petai berhimpun dalam satu botol yang diberi air dan tak dibuka dalam waktu lama?).

Ramadhan di Yala dan Narathiwat adalah sebagaimana Ramadhan di ranah Melayu yang lain. Sahur, buka puasa, dan tarawih mereka adalah sebagaimana di bumi Melayu yang lain juga. Menu makanan dan ta`jil memang mesti berbeda, namun di luar itu, aura-nya nyaris sama. Satu hal yang berbeda adalah, mereka mesti menjalani ibadah Ramadhan ini di tengah kegelisahan, ketakutan, dan kekalutan identitas. Akibat konflik laten yang telah memangsa saudara dan keluarga mereka bertahun-tahun lamanya.  Setiap saat bom bisa meledak, setiap waktu ada saja orang diculik dan dibunuh, setiap sudut ada askar dan polisi berpatroli dengan panzer, humvee, mobil pick-up ataupun helikopter.

Azan dan tilawatil qur`an menggema di bumi Darussalam ini bersamaan dengan desingan peluru, ledakan bom, dan tangisan kaum hawa dan anak-anak belia. Memang, tidak seseram konflik di Jalur Gaza dan Tepi Barat, namun juga tidak senyaman dan senikmat Ramadhan di negeri jirannya, Indonesia dan Malaysia…

Wallahua`lam.

23 Ramadhan 1429 H

Heru Susetyo

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Nyalakan Iman Dalam Kehidupan, Refleksi Ibadah Puasa Ramadhan