Home / Berita / 1 Syawal Ujian Kebersamaan Umat

1 Syawal Ujian Kebersamaan Umat

dakwatuna.comUmat muslim di belahan manapun, tak terkecuali di Indonesia, mengharapkan adanya kesamaan dalam menentukan 1 Syawal 1429 H, sebagaimana kesamaan dalam menentukan 1 Ramadhan yang lalu. Terutama kesamaan dalam satu negara.

Salah satu ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama sudah menyatakan komitmen untuk menuggu hasil sidang itsbat Pemerintah secara resmi. Tentu langkah ini patut diikuti oleh semua ormas Islam, terutama ulama dan tokoh Islam di nusantara ini, demi kesatuan dan persatuan umat muslim.

Dalam pernyataannya, Nahdlatul Ulama (NU) berharap Idul Fitri 1429 H dirayakan serentak bersamaan oleh seluruh umat Islam. Hal itu didasarkan karena NU memulai 1 Ramadhan lalu secara bersamaan pula dengan organisasi kemasyarakatan Islam lainnya, seperti halnya Muhammadiyah.

Harapan tersebut diungkapkan Ketua Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ghazalie Masroerie, di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (25/9).

Jika awal Ramadhan lalu dilakukan bersamaan, diharapkan penetapan 1 syawal juga bersamaan.

Karena itu, meski sudah dapat menentukan 1 Syawal 1429 H melalui metode hisab (perhitungan astronomis), NU masih akan menunggu proses sidang itsbat (penentuan) dengan pemerintah. Setelah itu, baru akan diumumkan kepastian Hari Raya Idul Fitri tahun ini.

“Untuk menciptakan ketenangan bagi umat Islam, NU tidak segera mengumumkan sikapnya tentang kepastian Idul Fitri 1429 H. Sesudah itsbat pemerintah, kemudian NU mengumumkan,” jelas Kiai Ghazalie.

Ia mengatakan, NU dan organisasi kemasyarakatan Islam lainnya bersama Departemen Agama, akan melaksanakan sidang itsbat yang diawali rukyatul hilal terlebih dahulu. Rukyatul hilal dilakukan pada 29 September 2008.

Proses tersebut diselenggarakan di 55 lokasi strategis di seluruh Indonesia. 99 pelaksana rukyat nasional bersertifikat dan para ulama ahli rukyat serta ahli hisab telah dipersiapkan. “Rukyat ini sekaligus menjadi sarana koreksi atas hitungan hisab,” tandasnya (beberapa sumber)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 3,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Assalamu alaikum,
    Dari beberapa waktu/tahun belakangan ini makin terasa/tampak jelas perbedaan demi perbedaan diantara sesama yang mengaku ber-AGAMA ISLAM baik didalam negeri maupun diluar negri.
    Salah Satu yang paling menonjol adalah tentang penentuan tgl jatuhnya awal Ramadhan dan 1 Syawal.
    Tetapi sebenarnya dari yang saya ketahui ada yang lebih penting dari daripada penentuan tanggal, yaitu penentuan waktu dalam sehari serta penentuan tentang sekarang ini hari apa.
    Dalam penentuan 1 Syawal kenapa selalu ribut ?, bagaimana dengan 1 Muharram, 10 Dzulhijjah, 12 Rabiul Awal? dan lain-lain tanggal yang mempunyai makna tersendiri bagi kita yang mengaku ber-AGAMA ISLAM.
    kalau kita sadari semua, apapun yang dipakai oleh kita yang mengaku ber-AGAMA ISLAM sekarang ini adalah produk dari BARAT, termasuk kalender yang tergantung dirumah kita,yaitu kalender MASEHI,
    terus katanya KITA ORANG ISLAM, megikuti NABI MUHAMMAD SAW, mempelajari AL QURAN & HADIST, tapi nggak mau pakai kalender HIJRIYAH yang sudah dipakai orang-orang dulu. Karena seperti yg saya sdh ketahui, bahwa banyak perbedaan antara penanggalan MASEHI dengan HIJRIYAH, antara MATAHARI dan BULAN, ada sama?
    dari Jumlah hari dalam satu minggu,
    lalu dalam satu bulan, klimaksnya dalam satu tahun.
    Dan yang paling penting sebenarnya masalah pergantian hari dalam satu hari itu, kapan ? ? tengah malam ?
    lalu jumlah hari dalam seminggu, 7 hari ??
    setelah Jumuah kembali ke Ahad, sabath?
    Jadi sekarang inilah, seharusnya para ORANG PINTAR di Indonesia bisa memberitahukan kepada UMAT ISLAM DI INDONESIA ada apa dengan musibah dan bencana ini ? musibah ? atau azab ?

    Wassallamu alaikum

  • ada unsur divide et impera kali?

  • Drs.Wawan SG

    Syukron katsiron jazakumullah khairal jaza atas perjuangan melalui dakwah islam. Materi dakwah/ceramah agar lebih berkaitan dengan kondisi zaman.

  • semar

    Allah SWT mengingatkan kita untuk selalu berfikir dengan meletakkan afalaa tatafakkarun dan afalaa ta'qiluun menempati salah satu frasa yang terbanyak dalam Quran.

    Seyogyanya kita melakukan proses berfikir menggunakan akal kita dalam setiap upaya penyelesaian masalah.

    Hijriah menggunakan perhitungan komariyah, bukan syamsiah yang mana revolusi bulan digunakan sebagai dasar perhitungan.

    Revolusi bulan bergerak mengelilingi bumi berlawanan dengan rotasi bumi. Itu kenapa akhirnya membuat bulan selalu terlihat terbit semakin terlambat setiap harinya.

    Kesimpulan pertama : Konjungsi bumi dengan bulan akan selalu berbeda jika dihitung dari masing-masing tempat di muka bumi.

    Jika di Arab, akhirnya memunculkan kalender Hijriah maka di Indonesia muncul kalender Saka. Starting kalender Hijriyah dan Saka berbeda 1 hari, karena hijriyah dimulai dari Arab yang notabene memasuki pergantian lebih dahulu, dan wilayah Indonesia belakangan.

    Wajar jika ada perbedaan perhitungan, karena selisih waktu tersebut di atas.

    Yang bijaksana adalah memahami bahwa jika berbicara soal waktu, maka setiap tempat di muka bumi tidak ada yang sama hitungan waktunya.

    Sehingga keinginan untuk menyamakan hari dan waktu peristiwa tertentu adalah sangat bertentangan dengan azas berfikir yang logis. Akhirnya yang muncul adalah pemaksaan.

    Seperti itu…..

    Terima Kasih

    SEMAR

Lihat Juga

Mayoritas Dunia Islam Rayakan Idul Fitri Hari Jumat