07:14 - Minggu, 31 Agustus 2014
Aidil Heryana, S.Sosi

Dari Laundry Mendulang Hidayah

Rubrik: Hidayah | Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi - 12/08/08 | 13:47 | 09 Shaban 1429 H

dakwatuna.com - “Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (QS. al-Baqarah:266)

Ayat ini menerangkan, bahwa akhirat bagi seorang mukmin adalah segala-galanya. Sebagaimana dalam kehidupan dunia, masa tua adalah masa penentu kebahagiaan seseorang. Setidaknya seperti itulah –walau tidak sama persis–perjalanan menemukan Islam yang dialami seorang wanita lansia yang sehari-hari berprofesi sebagai petugas laundry pada sebuah asrama mahasiswa di Inggris.

Tidak ada sisi menarik pada wanita ini, tua renta, pegawai rendahan dan hidup sendirian. Setiap kali bertemu dia selalu membawa kantong plastik berukuran besar yang terisi penuh dengan pakaian kotor. Untuk pekerjaan kasar seperti ini penghuni rumah jompo ini terbilang cekatan di usianya yang sudah terbilang uzur. Di Inggris, masyarakat yang memiliki anggota keluarga lansia biasanya cenderung memasukkan mereka ke panti jompo. Dan tentu saja keadaan miris ini harus diterima kebanyakan para orangtua dengan besar hati agar tidak membebani anak mereka. Namun di tengah kondisi seperti itu sepertinya tidak membuat kecil hati tokoh kita ini yang justeru begitu getol mengisi hari-harinya bergelut dengan cucian kotor.

Wanita baya itu lebih suka dipanggil auntie atau bibi. Dia sudah bekerja sebagai petugas laundry hampir separuh usianya. Beruntung baginya masih ada instansi yang bersedia mempekerjakan para manula.

“Aku merasa dihargai meski sudah tua. Lagipula, orang-orang seperti aku ini sudah tidak ada yang mengurus, kalau bukan diri sendiri. Anak-anakku sudah menikah dan tinggal bersama keluarga mereka masing-masing. Suamiku sudah meninggal. Walaupun anak-anak suka menjenguk, tapi aku tetap ingin punya kegiatan sendiri untuk mengisi masa tua,” ujarnya

“Bukan untuk kerja yang berat memang, tapi setidaknya, selain menambah penghasilan juga mengisi hari tua. Mungkin itu lebih baik daripada harus tinggal diam di panti jompo.” Ujarnya lagi dengan wajah sendu.

“Sedih juga kalau harus tinggal sendirian. Seperti seorang temanku. Dia juga dulu bekerja sebagai petugas laundry bersamaku. Sampai akhirnya, anak perempuan satu-satunya menikah. Namun setelah menikah, anak perempuannya itu tidak pernah menghubunginya,” bibi berkisah.

Bagi sang Bibi profesinya sebagai petugas laundry justeru membuatnya lebih dekat dengan sepak terjang, liku-liku penghuni asrama yang rata-rata adalah mahasiswa dari luar Inggris. Sang Bibi paham betul kebiasaan para mahasiswa yang tinggal di asrama ini selain belajar sehari-hari, adalah pergi clubbing sekedar “having fun”. Banyak asrama memiliki bar, café, ruang duduk untuk menonton televisi, ruang musik dan fasilitas olahraga sendiri.

Dan salah satu sisi negatif pergaulan dengan orang Inggris adalah bila mereka sudah dekat botol miras, biasalah mereka sampai benar-benar mabuk. Dan dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi. Muntah merata di sebarang tempat, kencing dalam celana dan sebagainya. Inilah perbuatan paling bodoh yang pernah dilakukan oleh manusia sejak terciptanya minuman beralkohol. Bukan saja menghilangkan akal sehat, tetapi juga si pemabuk akan merasa kelelahan dan sakit kepala yang teramat sangat (hangover).

Saat para penghuni asrama masih dibuai mimpi karena kelelahan habis clubbing semalaman suntuk. Tinggalah sang Bibi memunguti pakaian kotor itu setiap hari. Dan terkadang harus diangkut dari kamar, jauh sebelum mereka bangun dari tidur. Kemudian disortir dengan teliti satu persatu berdasarkan jenis bahan, ukuran, warna dan yang lebih spesifik lagi dipisahkankannya pakaian dalam dari yang lain. Begitu pekerjaan rutin itu dilakukan dengan penuh dedikasi tinggi walau diujung usianya yang semakin menua.

Waktu terus berjalan, sementara sang Bibi tanpa putus asa terus bergelut dengan ‘dunia kotor’nya. Idealnya di penghujung usianya itu seharusnya masa bagi seseorang menuai hasil kerja payahnya di masa muda. Namun situasilah yang menyebabkan dia harus menanggung berbagai persoalan hidup, maka sungguh itu merupakan masa tua yang tidak membahagiakan. Di dalam kondisi yang sudah tidak mampu banyak berbuat, dia justru dituntut harus banyak berbuat. Dalam kondisi produktivitas menurun ia justru dituntut untuk berproduksi tinggi.

Entah sampai kapan dia harus melakoni pekerjaan itu. Maka sampailah suatu saat asramanya kedatangan penghuni baru yaitu beberapa mahasiswa muslim dari Timur Tengah yang mendapat tugas belajar dari negaranya. Mereka sudah terdaftar akan menempati salah satu kamar di asrama tempat sang Bibi bekerja.

Bagi kebanyakan pelajar timur tengah sangat langka memilih tinggal di asrama. Mereka biasanya membeli rumah atau flat yang sudah disesuaikan untuk menampung kelompok kecil siswa, pasangan atau keluarga. Ada juga beberapa pemilik tempat perorangan mengijinkan rumah-rumah mereka dikelola dan disewakan.

Tinggal di asrama merupakan cara terbaik untuk bertemu orang-orang baru dan menjalin persahabatan yang langgeng. Inilah salah satu pertimbangan mereka memilih tinggal di asrama. Kesadaran inilah yang menepis kekhawatiran akan terjadinya gegar budaya atau “cultural shock“.

Hidup dalam komunitas non muslimlah justeru kita dituntut untuk membuktikan nilai-nilai Islam yang tinggi ini sebagai sebuah solusi bagi manusia. Tentunya ini adalah pekerjaan dakwah yang merupakan tanggungjawab setiap muslim dimana saja berada. Dengan tetap menjaga keistimewaan kita sebagai muslim yaitu kesalehan.

Hari-hari terus berlalu, tampaknya si Bibi ini betul-betul perhatian dengan apa yang dicucinya. Sampai-sampai dia tahu ini pakaian si A, ini si B dan seterusya. Tidak terkecuali dengan pakaian kotor milik mahasiswa dari Timur Tengah tadi. Namun saat dilakukan sortir pakaian dalam, si Bibi merasa ada sesuatu yang tidak biasa, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaian muslim arab saja yang terlihat tidak kotor, tidak berbau, tidak kumuh dan tidak banyak noda dipakaiannya.

Kejadian langka ini semakin mendorong rasa penasaran si Bibi. Lagi-lagi pencuci pakaian di asrama ini selalu merasa aneh saat mencuci celana dalam mereka. Berbeda dengan yang lain, kedua pakaian dalam mereka selalu tak berbau.

Maka masih dalam keadaan penasaran, si Bibi memutuskan bertanya langsung dengan ‘pemilik celana dalam’ itu. Saat ditanya kenapa. Dua orang ini menjawab, ”Kami selalu istinja setiap kali kencing.” Pencuci baju ini bertanya lagi, ”Apakah itu diajarkan dalam agamamu?”

“Ya!” Jawab dua orang pelajar muslim tadi.

Merasa belum yakin 100% dengan jawaban itu, akhirnya si Bibi datang menemui salah seorang tokoh muslim yaitu Doktor Sholeh– Pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat ditugaskan ke Inggris– Wanita tua ini menceritakan keheranannya selama bertugas perihal adanya pakaian dalam yang ‘aneh’.

Ada beberapa pakaian dalam yang tidak berbau seperti kebanyakan mahasiswa umumnya, apa sebabnya? Maka ustadz ini menceritakan karena pemiliknya adalah muslim, agama kami mengajarkan bersuci setiap selesai buang air kecil maupun buang air besar, tidak seperti mereka yang tidak perhatian dalam masalah seperti ini.

Betapa terkesan ibu tua ini jika untuk hal yang kecil saja Islam memperhatikan apatah lagi untuk hal yang besar, pikir pencuci baju itu. Dan tidak lama kemudian ia mengikrarkan syahadat, masuk Islam dengan perantaraan pakaian dalam!

Tidak disangka ternyata diam-diam si tukang cuci masuk Islam, gemparlah para mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut, yang kebanyakan adalah non muslim. Mereka berusaha ingin tahu sebab musabab si Bibi masuk islam. Dia menjawab dengan yakin bahwa dirinya sangat kagum dengan kawan muslim Arab ini, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaiannya sajalah yang terlihat tidak macam-macam. Dan dengan hidayah Allah Swt, dirinya dapat membedakan antara pakaian seorang muslim dan non muslim.

Hidayah memang bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Selama ini mungkin kita lebih sering mendengar masuk Islamnya seorang non muslim ke dalam Islam lebih disebabkan pada hal-hal luar biasa dan penting. Tapi yang ini benar-benar tidak biasa. Mendapat hidayah di penghujung usia gara-gara pakaian dalam! Sungguh takdir Allah benar-benar telah jatuh berketepatan dengan kegigihannya selama ini mengisi hari-hari di sisa hidupnya sebagai petugas laundry. Disinilah letak rahasia nikmat Allah yang agung yang mempertemukan antara takdirNya dan ikhtiar manusia. Sungguh Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal seorang hambaNya.

Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari jalur al-Aufi dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhu beliau berkata, “Allah subhanahu wata´ala telah membuat perumpamaan yang sangat bagus, dan seluruh perumpamaan dari Allah adalah bagus. Allah subhanahu wata´ala berfirman, “Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah, Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (QS. al-Baqarah:266)

Ayat ini menjelaskan tentang perumpamaan seseorang yang tadinya kaya dan banyak melakukan amal kebaikan, lalu Allah subhanahu wata´ala mengujinya dengan melalui godaan syetan sehingga ia berbalik melakukan kemaksiatan, dan akhirnya amal-amal kebaikan tersebut lenyap tenggelam.

Jadi jelasnya ayat ini merupakan permisalan tentang amal seseorang yang tadinya senatiasa melakukan kebaikan-kebaikan, lalu di tengah perjalanan hidupnya berubah haluan menjadi melakukan keburukan-keburukan. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wata´ala dari hal itu. Akhirnya amalnya yang terkahir mengalahkan amalnya yang terdahulu yang baik-baik. Kemudian ketika ia sangat butuh terhadap amalnya yang pertama, tatkala dalam kondisi sulit dan sempit (di akhirat) ternyata dia tidak memperolah pahala amal itu sedikit pun karena telah sirna.

Jika manusia demikian khawatirnya terhadap bayangan kebangkrutan masa tua di dunia, maka seharusnya mereka lebih khawatir lagi dengan “masa tua akhirat”. Dan itulah yang terjadi pada kaum salaf, para shahabat, tabi’in, para imam dan orang-orang shalih yang menempuh jalan mereka.

Jika mereka ditaqdirkan oleh Allah subhanahu wata´ala dengan rizki yang banyak (kaya), maka mereka sangat khawatir jika harta itu kelak akan mengurangi “jatah” mereka di akhirat. Sehingga mereka buru-buru menginfaqkan harta tersebut fi sabilillah dan jalan-jalan kebaikan. Kesadaran mereka terhadap kebutuhan akhirat sedemikian besar, sehingga seluruh kemampuan mereka di dunia digunakan untuk bekal menyongsong kehidupan akhirat.

Mereka telah menjual diri dan dunia mereka kepada Allah subhanahu wata´ala demi “masa tua” di akhirat, masa ketika mereka sudah tidak mampu lagi untuk beramal dan berbuat, masa ketika mereka menikmati usaha dan jerih payah di dunia. Mereka sangat khawatir jika di masa-masa seperti ini, justru terjerumus dalam kebangkrutan dan kerugian yang besar. Bagaimana dengan kita?

Aidil Heryana, S.Sosi

Tentang Aidil Heryana, S.Sosi

"Aidil" adalah panggilan kesehariannya. Lahir di Jakarta pada tahun 1964 dan sekarang telah dikaruniai Allah 4 orang anak. Manajer SDM di Ummigroup Media ini adalah lulusan dari SMA Negeri 8… [Profil Selengkapnya]

Redaktur:

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (33 orang menilai, rata-rata: 9,70 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Santo

    Assalamu alaikum,saya sangat haru dgn kisah ini disamping itu juga saya sangat ingin hal ini berlaku pula kpd orangtua kami. Sampai hari ini ortu masih susah melakukan sembahyang lima wkt. Tp juga suka menyimpan benda2 kuno spt tombak, keris dll. Sementara anak2nya alhmdulillah sembhyang 5 wkt semua. Kami c bisa berdoa smg ayah seperti yg kami inginkan

    • Kuorin

       Berusaha dan berdoa ya Mas..

  • http://www.dakwatu.com Anita

    ass..yaa allah jdikanlah masa tuaku yg penuh dengan mampaat

    yaa allah bangunlah hati ini beton yg kuat agar tidak roboh atau tumbang diterpa angin kehidupan

    yaa allah bantulah kmi agar tetap istiqomah dijlanMu,

    ampunilah dosa2 kmi,orang tua kmi,dan dosa saudara2 kami.

    Dakwatuna jazakillah kharon kasiron atas apa yg atum muat di web ini,banyak sekali pelajaran yg petik dr artikel antum,dakwatuna apa yg antum muat web ini semua berarti dan bermampaat,,,tapi akan lebih berarti kalau antum menyediakan lis dimana dibuka porum tanya jawab…atau kalau antum tidak keberatan membalas pertanyaan para pembaca ke Email…syukron

  • Ridho

    Assalamu alaikum wr wb. Semoga dgn kisah ini, para orangtua yg masih bergelimang maksiat utk sgera bertobat. Krn belum tentu kesempatan itu akan datang!!!!

  • http://erwan.blogsome.com erwan

    subhanallah memang hidayah hanya milik Allah SWT kita sebagai manusia hanya bisa saling mengingatkan

  • bowo

    Allohu Akbar….
    "Hidup dalam komunitas non muslim justeru kita dituntut untuk membuktikan nilai-nilai Islam yang tinggi ini sebagai sebuah solusi bagi manusia…"kalimat yang pas saat ini,smoga Alloh SWT memberikan kesabaran,ketabahan pada hamba yang lemah ini…Amiin.

  • Bahar

    Tulisan ini sangat bagus. Orang non muslim saja dapat menemukan keagungan ajaran Islam. Namun sebahagian daro orang mengaku Islam masih mengabaikan ajaran agama yang benar ini.

    Semoga kita senantiasa istiqamah di jalan Allah.

  • andung

    Subhanallah…..Allah telah melimpahkan hidayah dan kenikmatannya kepada nenek petugas laundry..semoga ini menjadi telaah bagi kita semua…Amien..

  • Muis

    Allah, jika sudah membeikan petunjuk hidayahNya tak terduga dari mana asalnya, itulah tanda KebesaranNya

  • Husna

    Subhanalloh. . Petunjuk untuk siapapun yg Allah kehendaki. Alhamdulillah seperti keperihatinan kami dengan konsep thaharah yang sering teelupakan. sebuah usaha laundry dengan pencucian berdasar tingkat najis sudah dibuat.
    http://www.laundrysyariah.com
    http://pelangihatihusna.blogspot.com

Iklan negatif? Laporkan!
82 queries in 2,267 seconds.