15:20 - Selasa, 23 September 2014
DR. Amir Faishol Fath

Isra’ Mi’raj dan Hakikat Shalat

Rubrik: Editorial | Oleh: DR. Amir Faishol Fath - 28/07/08 | 15:37 | 25 Rajab 1429 H

dakwatuna.com - Allah berfirman dalam pembukaan surah Al Isra': “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Dari ayat ini bisa kita ambil beberapa pelajaran:

Pertama, bahwa yang Allah isra’kan adalah hamba-Nya (abduhu). Kata hamba maksudnya adalah Rasulullah saw. Ini merupakan deklarasi dari Allah bahwa Rasulullah saw. adalah contoh hamba-Nya. Dialah yang harus dicontoh untuk mencapai derajat kehambaan. Tidak ada yang pantas diidolakan dalam perjalanan menuju Allah kecuali Rasulullah saw. Mengapa? (a) Allah memuji akhlaknya: “Wa innaka la’alaa khuluqin adziim (Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung)” (QS. Al Qalam:4). (b) Rasulullah saw. dijamin masuk surga, maka siapa yang ingin masuk surga tidak ada pilihan keculi dengan mencontohnya. (c) Perbuatan Rasulullah adalah terjemahan hidup dari Al Qur’an. Maka tidak mungkin seseorang paham maksud Al Qur’an tanpa merujuk kepada sirahnya.

Kedua, bahwa isra’ mi’raj ini terjadi hanya semalam. Kata lailan pada ayat di atas, yang artinya “pada suatu malam” adalah penegasan terhadap makna tersebut. Dari sini nampak bahwa kejadian Ira’ mi’raj adalah mu’jizat. Sebab perjalanan sejauh itu di tambah lagi dengan naik ke langit lapis tujuh sampai ke sidratul muntaha adalah jarak yang tidak mungkin ditempuh dengan kendaraan apapun yang dimiliki manusia baik pada saat itu maupun pada zaman teknologi yang sangat canggih seperti sekarang ini. Untuk mencapai bintang terdekat saja dari bumi dengan mengendarai pesawat tercepat di dunia “Challanger” dengan kecepatan 20 ribu km perjam, para ilmuwan mengatakan itu membutuhkan 428 tahun. Sungguh luar biasa kejadian isra’ mi’raj sebagai bukti keagungan Allah sekaligus, sebagai bukti bahwa manusia bagaimana pun pencapain keilmuannya masih tetap tidak ada apa-apanya dibanding dengan kemahakuasaan Allah swt.

Ketiga, Diikatnya antara dua masjid: masjid Al haram dan masjid Al Aqsha menunjukkan beberapa hal: (a) bahwa Allah swt. sangat mencintai masjid. (b) bahwa semua bumi ini diciptakan oleh Allah untuk tempat bersujud. (c) bahwa semua masjid di manapun berada adalah sama, milik hamba-hamba Allah. (d) bahwa siapapun yang mengaku beriman ia pasti mencintai masjid dan meramaikannya. Allah berifirman: “Yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah:18). Karena dalam sejarah kita menyaksikan nabi saw. selalu membangun masjid setiap singgah di suatu tempat.

Keempat, kata masjid identik dengan ibadah shalat. Dan perjalan Isra’ mi’raj juga identik dengan penerimaan ibadah shalat, langsung dari Allah swt. Tidak ada ibadah dalam Islam yang diserahkan langsung oleh Allah kepada Rasulullah saw. kecuali shalat. Selain shalat semua ibadah diterima melalui malaikat Jibril alahissalam. Dari sini nampak betapa agungnya ibadah shalat. Dalam pembukaan surah Al Mu’minuun ketika Allah swt. menyebutkan ciri-ciri orang mu’min yang bahagia, penyebutan itu dimuali dengan shalat “alladziina hum fii shalaatihim khaasyi’uun” dan ditutup dengan shalat “walladziina hum ‘alaa shalawaatihim yuhaafidzuun”. Para ulama tafsir ketika menyingkap rahasia ayat ini mengatakan bahwa itu menunjukkan pentingnya shalat. Bahwa shalat merupakan barometer ibadah-ibadah yang lain. Bila shalat seseorang baik, maka bisa dipastikan ibadah-ibadah yang lain akan ikut baik. Sebaliknya bila shalat seseorang tidak baik, maka bisa dipastikan ibadah-ibadah yang lain tidak akan baik. Itulah makna ayat: “Innash sholaata tanhaa ‘anil fahsyaai wal mungkar (sesungguhnya shalat pasti akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar)” (QS. Al Ankabuut: 45).

Di hari Kiamat pun kelak demikian. Shalat tetap menjadi barometer ibadah-ibadah yang lain. Karena itu Nabi saw. bersabda: “Awwalu maa yuhasabu bihil ‘abdu yaumal qiyaamati ashshalaatu (yang pertama kali kelak di hisab pada hari Kiamat adalah ibadah shalat)”. Wallahu a’lam bishshawab.

DR. Amir Faishol Fath

Tentang DR. Amir Faishol Fath

Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Qur’an. Pernah beberapa tahun menjadi… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (49 orang menilai, rata-rata: 8,39 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.dakwatu.com Anita

    ass..subbahanallah begitu berartinya sholat, tp kebanyakan kita lalai akan satu hal ini…ustadz ana ingin bertanya apa yg menyebabkan kita malas untuk melakukan ibadah sholat?dan bagaimana sholat yg khusuk,kadang kesibukan urusan dunia terbawa saat kita melakukan ibadah sholat…syukron ya ustadz

    • agus

      Terima kasih Ustadz atas penjelasannya.
      Alhamdulillah malam ini adalah malam Isra’ Mi’raj. Semoga ibadah shalat kita meningkat kwalitas dan kwantitasnya.
      Syukron

  • http://agoez3.co.nr/ agus

    Terima kasih pembahasannya Ustadz. Malam ini malam isra’ mi’raj, semoga ibadah sholat kita menjadi mningkat kualitas dan kuantitasnya:)

  • Sukarno Al Farizi

    Alhamdulillah penjelasan ustad sangat bermakna untuk kita renungkan,semoga hal ini dapat menambah khazanah keilmuan kita sekaligus meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada-Nya,amin

  • DIDIN

    Penjelasannya sangat menarik, tapi kurang disentuh orang yang meninggalkannya atau lalai terhadapnya, nuhun

  • achmad yusuf al-batanji

    aslmkum, subhanallah, allah telah mengamanahkan ibadah shalat kepada kita semua.agar supaya manusia tidak tersesat dalam jurang kenistaan.dengan shalat ternyata dapat membuat saya percaya diri dan yakin dalam meniti hidup ini.terimakasih ustadz, semoga allah senantiasa memberikan nikmat dan hidayahnya pada kita semua, amien…

  • Hery

    Assalamu alaikum pak. ustad…
    saya ingin tanyakan kepada Bapak adalah bagaimana penjelasan tentang hakikat sholat dan kenapa harus di tentukan rakaatnya.. misalnya sholat subuh kenapa harus dua rakaat dan begitupun selanjutnya…. terima kasih sebelumnya
    Wassalam

  • Abdullah

    Assalamualaikum pakUstadz,
    Kalau tujuan Isra’ Mi’raj adalah menerima perintah untuk melakukan ibadah sholat, berarti sebelum itu belum ada yang sholat. Tapi mengapa sudah ada Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha? Apa sudah ada yang sholat sebelum Isra’ Mi’raj? Atas perintah siapa? Jadi apa gunanya Isra’ Mi’raj? Mohon penjelasan dan terima kasih. Wassalam.

Iklan negatif? Laporkan!
71 queries in 1,383 seconds.