Home / Dasar-Dasar Islam / Hadits / Syarah Hadits / Kayalah Lalu Masuk Surga!

Kayalah Lalu Masuk Surga!

dakwatuna.com Dari Abi ‘Abdillah Tsauban Bin Bujdad bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah.” (Muslim)

Dalam kitab Nuzhatul-Muttaqin (syarah Riyadush-Shalihin karya Imam An-Nawawi) disebutkan, hadits itu menjelaskan peringkat keutamaan pengeluaran harta (infak) bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan infak yang paling mulia. Dalam hadits lain disebutkan:

Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk (mememerdekakan) hamba sahaya, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluarga, yang paling utama di antara semua itu adalah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu.” (Muslim)

Ke manapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat berinfak jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita terlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban berjihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita berjihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja yakni ayat 111 surah At-Taubah, yang maknanya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan mendapatkan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.”

Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu. Perhatikan ayat-ayat berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian berjihad di jalan Allah denganh harta dan jiwa kalian.” (Ash-Shaf: 10-11)

Ini diperkuat dengan adanya kewajiban zakat. Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagian kaum muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: kalau punya harta, zakatlah; kalau tidak punya, tidak usah mengeluarkan zakat. Secara fiqih, pemahaman itu sangat benar. Tapi semangatnya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah zakat harusnya dipahami: carilah uang, kumpulkanlah harta agar dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat. Seharusnya kita membawa semangat shalat untuk diterapkan pada zakat. Kita selalu berpikir kita harus bisa melaksanakan shalat dengan segala perjuangan yang menjadi konsekuensinya. Dari mulai mencari penutup aurat, mencari tempat shalat, menentukan arah kiblat, mensucikan diri, dan seterusnya.

Itu semua mematahkan anggapan yang masih dianut sebagian orang bahwa kesalihan dan ketakwaan identik dengan kepapaan, kemelaratan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Seolah-olah hanya orang miskin, jelata, dan tertindaslah yang layak menghuni surga. Sebaliknya orang kaya dan orang yang punya jabatan tidak punya tempat di surga. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) yang memberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-juahnya demi mencapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau mungkin juga menyitir hadits shahih tentang zuhud dengan pemahaman yang salah.

Zuhud tidaklah identik dengan melarat. Zuhud adalah kepuasaan hati dengan apa yang diberikan Allah swt. Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada kekayaan. Bahwa sambil merasa puas dengan apa yang Allah berikan dan sambil meniadakan ikatan hati dengan harta seseorang memiliki harta dan jabatan, tidaklah menafikan sifat zuhud.

Utsman Bin ‘Affan adalah konglomerat dan kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk sorga. Demikian pula halnya dengan ‘Abdurrahman Bin ‘Auf. Beliau sukses dalam bisnis dan menjadi saudagar kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar Bin ‘Abdul-‘Aziz, khalifah yang kaya raya. Tapi justeru dia termasuk orang zuhud.

Posisi harta dalam Islam sama dengan posisi kemiskinan: sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kepapaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kepapaan pula orang bisa masuk neraka. Semuanya ujian! Allah swt. menegaskan:

Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian.” (Al-Anbiya: 35)

Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhati-hatilah dengan dunia dan berhati-hatilah dengan wanita. Karena sesungguhnya fitnah Bani Israil adalah pada wanita.” (Riwayat Muslim)

Jadi, orang yang saleh bukanlah orang memilih meninggalkan harta melainkan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu. Seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta manakala:

  • Hanya menempuh cara halal untuk memperoleh harta.

Pada hari kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya, dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah saw. bersabda:

Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik dan beramal salehlah karena sessungguhnya Aku mengetahui apa yang kamlian lakukan’. Dia juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik dari yang Kami rezekikan kepada kalian’.” Lalu Rasulullah saw. menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut masai dan berdebu. Ia mengadakahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan.” (Muslim)

  • Harta itu tidak menyebabkan sombong

Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin ‘Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah.”

  • Menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik harta yang saleh adalah yang ada pada orang saleh.” Beliau juga memerintahkan kepada kita, “Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma.”

  • Menjadi fasilitas untuk silaturahim.

Infaq adalah baik. Dan infaq kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena selain bernilai taqarrub, perbauatan itu juga merupakan upaya silaturahim. Rasulullah saw. bersabda, “Shadaqah kepada orang misikin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan).” (At-Tirmidzi)

  • Menjadi fasilitas untuk perjuangan.

Perjuangan Islam jelas tidak mungkin tanpa dukungan finansial. Kekuatan orang-orang kafir harus dihadapi dengan kekuatan optimal kaum muslimin. Dan ini tentu saja salah kekutan itu adalah kekuatan maliyyah (finansial).

Itulah sebagian ajaran Islam yang terkait dengan kekayaan. Jadi, menjadi orang kaya, siapa takut? Allahu a’lam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (54 votes, average: 8,96 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rikza Maulan, Lc. MAg.
Direktur Institut for Islamic Studies & Development Jakarta. Aktif mengisi seminar-seminar ekonomi syariah, memberikan ceramah dan kegiatan kemasyarakatan.
  • 2bagoes

    Berniat kaya, insya Allah

  • jon

    Assalami'alaikum

    Benar sekali tuh mas admin. benar sekali. Bagaimana mungkin kita bisa berZakat dan berHaji jika miskin.

    Kadang banyak pemahaman yg salah di kalangan umat Islam sendiri….dan apalagi ada Fikroh atau Jama'ah yang menganut hal ini.

    Moga kita bisa bisa menjadi Khalifah di muka bumi ini, agar bisa menSEJAHTERAkan semua umat.amin.

  • Tati .R

    Assalamu'alaikum wr.wb

    InsyaAllah, dengan kekayaan yang kita miliki, dapat pula menjadikan orang lain menjadi kaya. dan kemiskinan semakin berkurang sehingga negara ini menjadi negara yang sejahtera, aman dan damai….

  • hidtaz

    Allahumma innaa na'uudzubika minal kufri wal faqri. Ya Allah ya Rabb kami, kami berlindung dari kekafiran dan kefaqiran. ya Allah jadikanlah kami khalifah di muka bumi ini dengan sebaik-baiknya khalifah. aamiin

  • Din Lubis

    Kaya yang baik itu kalau merasa cukup ,bisa berbagi dan bersyukur. Kaya yang tidak pernah merasa cukup,tidak berbagi dan tidak pula bersyukur ,jangan .

  • ass..tidak ada satupun manusia yg terlahir kedunia ini ingin hidup susah (miskin)semua orang ingin kaya.karna banyak orang beranggapan orang yg kaya bisa memiliki semuanya dan bisa menikmati segala pasilitas yg ada didunia,siapa yg tidak mau jadi orang kaya tidak ada,menjadi orang kaya impian semua orang meskipun pada dasarnya Allah swt ciptakan kita bukan untuk menumpuk harta atau mengumpulkan harta,melainkan untuk menjadi Khalifah dimuka bumi.

    Harta bukan tujuan akhir kita hidup didunia ini akan tetapi selama kita hidup didunia membutuhkan materi(harta)bukan begitu?jadi berusahalah kita untuk jadi orang kaya tapi jgn pernah menggunakan jalan yang membuat orang lain rugi.

    seperti yg terjadi di Indonesia saat ini,banyak pejabat yg tertawa diatas penderitaan rakyat kecil,dan mereka hanya sibuk dengan kepentingan masing2.

  • Ass Saya setuju dengan pendapat Mbak Anita. Kalau ga salah tidak ada satu ayat pun yang memerintah kita untuk menjadi kaya atau miskin. Malah yang ada; Wa'mur ahlaka lishshoti washthobir laa nas'aluka rizgo, nahnu narzuquka… — perintahlah keluargamu untuk sholat dan sabar. Kami tidak memeritahkan kamu mencari rizki, Kamilah yang memberi rizki — Jadi jangan sampai kekayaan menjadi tujuan. Jadikanlah sekadar sebagai alat untuk tujuan utama penciptaan manusia… Penghambaan mutlak padaNya. Terima kasih. Wassalam

  • hueheheheh…jazakumullah khayr. Jadi penyemangat utk nyari ma'isyah yg halal dan berkah. Sy jadikan tulisan di blog sy..sy link ke artikel ini ya. insyaALLAH.
    Oya, jd inget ada sebuah doa yg artinya kurang lebih gini, "Ya ALLAH jadikanlah dunia dalam genggamanku, bukan dalam hatiku." Kalo ga salah itu ucapan Ali ya!?

  • Ditha

    Muslim yang kuat lbh disukai drpd muslim yg lemah.Kuat dlm arti ukhuwah sklgs finansialnya.klo g slh dlm suatu ayat d sebtkn yg artinya – .. ktk tlh d tunaikan sholat,mk bertebarlah km d muka bumi u/mencr ridho Allah..yuk cari rizqi dgn jln yg d ridhoi tuk mencapai ridhoNYA

  • elfaiz

    Assalamu’alaikum. Wr.Wb

    sebelumnya saya mau mita maaf dahulu,Saya mempunyai usul bagaimana kalu setiap penjelasanya ditambah dengan hadis-hadis yang berkaitan dengannya? itu saja usul saya
    Wassalam…

  • ega

    assalamu’alaikum wr.wb.
    artikel yg sangat inspiratif, ijin share ya..

  • ekusnadi

    ijin share di Fb ana yah….semooga bermanfaat tuk rekan – rekan ana

  • aing

    betul emang kaya tak di larang, namun berlebih-lebihan tanpa peduli lingkungan dan umat yang masih menderita pun mesti dikritisi….. standard tertinggi tetaplah RasuluLLAH SAW beliau tetap sederhana dan sulit dibedakan dengan sahabat sahabat lainnya walaupun beliau sebenarnya paling kaya… Wallahu’alam

  • Ahmadzamzuri6133

    kalau tidak kaya bagaimana islam bisa kuat tapi jangan menghalalka segala cara untuk bisa kaya.

  • Arjun

    dengan kerja keras dan berdo’a…jika Allah ijinkan >> Insya Allah kekayaan kami mencapai 1 Milyar thn 2011 ini >> mudah2an kami tetap menjadi org yg istiqomah !!

  • Kaya dan miskin adalah ujian, biasanya ujian kaya lebih sulit dari ujian miskin. Jika keduanya bisa lulus tentu masuk syurga. Marilah kita berjuang untuk jadi orang kaya yg masuk syurga

  • Hariyadi

    UKUWAH ISLAMIYAH

Lihat Juga

Ilustrasi (nuraurora.wordpress.com)

Pemilik Surga Terindah