07:36 - Kamis, 23 Oktober 2014

Apakah Rajab Bulan Allah?

Rubrik: Fiqih Islam | Oleh: dakwatuna.com - 11/07/08 | 00:19 | 07 Rajab 1429 H

dakwatuna.com - Tulisan ini merupakan jawaban Dr. Yusuf Al Qaradhawi yang menanyakan tentang hadits keutamaan bulan Rajab, dan bagaimana hukumnya menyebar luaskan hadits palsu?.

Berikut jawaban beliau. Tidak ada riwayat yang sahih tentang bulan Rajab, kecuali bahwa bulan Rajab merupakan bulan-bulan Haram atau mulia, sebagaimana firman Allah swt dalam surat At Taubah:36 “Di antara dua belas bulan itu, ada empat bulan mulia”, yaitu bulan Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram.

Tidak ada hadits sahih yang meriwayatkan tentang keutamaan Rajab, kecuali hadits yang derajatnya “Hasan”, bahwa Rasulullah saw. tiada lebih banyak melakukan shaum kecuali pada bulan Sya’ban. Ketika Rasulullah saw. ditanya kenapa demikian?. Beliau menjawab:

: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصوم أكثر ما يصوم في شعبان، فلما سئل عن ذلك قال: أنه شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان.

“Sya’ban adalah bulan yang dilupakan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan.”

Dari keterangan hadits ini, dipahami bahwa bulan Rajab mempunyai keutamaan.

Adapun hadits:

“رجب شهر الله، وشعبان شهري، ورمضان شهر أمتي”

“Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadhan bulan umatku.” Hadits ini adalah hadits munkar dan hadits lemah sekali, bahkan banyak dikalangan ulama yang mengatakan hadits ini ma’dhu’, alias hadits palsu yang tidak bisa diterima. Tidak ada nilai ilmiyahnya juga tidak ada nilai agamanya.

Hadits-hadits lain yang menerangkan keutamaan bulan Rajab, juga demikian. Seperti “Barangsiapa yang shalat demikian, baginya pahala sekian. Barangsiapa beristighfar sekian baginya pahala sekian”… ini semua sangat berlebihan dan semuanya tidak bisa diterima.

Di antara tanda hadits ini bohong, palsu adalah: “Sangat berlebihan dalam pahala atau ancaman.” Ulama berpendapat, “Bahwa janji mendapatkan pahala besar atas perintah yang remeh, atau ancaman dahsyat terhadap dosa kecil, adalah tanda bahwa hadits itu bohong atau makdzub.”

Contohnya, hadits yang sering diucapkan banyak orang,

“لقمة في بطن جائع خير من بناء ألف جامع”

“Sesuap nasi untuk orang yang kelaparan, lebih baik dari pada membangun seribu masjid jami’.” Hadits ini artinya sendiri sudah mengindikasikan kebohongan, karena tidak masuk akal. Bahwa sesuap nasi untuk orang yang lapar pahalanya lebih besar dari pahala orang yang membangun seribu masjid jami’.

Hadits-hadits yang menerangkan keutamaan bulan Rajab seperti dalam katagori ini…. oleh karena itu bagi setiap muballigh, pencermah, da’i dan ustadz untuk lebih hati-hati dalam menyitir hadits-hadits ma’dhu’ atau palsu dan menjelaskan kepada umatnya bahaya menggunakan hadits-hadits seperti ini… karena,

“من حدث بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين”

“Barangsiapa menyampaikan sebuah hadits padahal ia melihat hadits itu hadits bohong, maka ia bagian dari kelompok orang-orang yang pembohong.”

Namun, kadang ada orang yang tidak mengetahui bahwa hadits-hadits itu hadits maudhu’, maka ia wajib belajar dan menggali lagi hadits itu. Hendaknya ia berusaha untuk mengetahui sumbernya.

Sudah banyak kitab-kitab yang bisa dipercaya yang mengklasifikasikan derajat hadits. Ada kitab-kitab yang membahas khusus hadits-hadits dha’if atau lemah dan hadits maudhu’ atau palsu, seperti “Al Maqashid Al Hasanah” karya As Sakhawi. “Tamyizut thayyib minal khabits lima yaduru ‘ala alsinatin naas minal hadits” karya Ibnu Ad Daibi’. “Kasyful khafa wal ilbas fima isytahara minal ahadits ‘ala alsinatin naas” karya Al ‘Ajluni… banyak kitab-kitab lain yang hendaknya diketahui para khatib… mengetahui dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka tidak meriwayatkan hadits, kecuali hadits itu bisa dipercaya. Karena perilaku inilah yang menciderai pemikiran dan wawasan Islam, yaitu tersebarnya hadits-hadits palsu yang sering disampaikan dalam khutbah, di buku-buku dan dikalangan lisan banyak orang. Padahal hakikatnya hadits ini bohong dan merendahkan agama.

Oleh karena itu, hendaknya kita menjaga dan membersihkan pemikiran dan wawasan Islam dari jenis hadits seperti ini.

Dan semoga Allah swt merahmati para ulama, ustadz, da’i dan siapa saja yang mengenalkan kepada orang lain, mana yang orisinil, mana yang bisa diterima, mana yang ditolak.

Bagi kita, hendaknya mau menerima riwayat yang sahih dan menjelaskan kepada orang lain. Mau meninggalkan yang palsu, karena hakekat agama ini telah sangat sempurna. Dan cukuplah kalau kita melaksanakan hadits yang sahih. Tidak mencari-cari hadits yang palsu.

Semoga Allah swt. senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. (ut)

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Keyword: , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (38 orang menilai, rata-rata: 6,92 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 18.032 Hits
  • Email 13 email
  • Abdullah Hasny

    MULAI SEKARANG TOLONGLAH APABILA SAUDARA KITA SEDANG MELAKUKAN SESUATU AMALAN YANG JELAS2 SEPERTI ZIKIR RBUAN KALI, MELAKUKAN NAHI MUNKAR BETUL2AN BUKAN SEPERTI ANDA YANG SENANG MENYALAHKAN ORANG ISLAM, MEREKA PUASA, MEMBACA YASIN, ATAU TABARAK ATAU MEMBACA AYAT2 QURAN YANG LAIN, SELALMA ANDA TIDAK MENGERTI DAN BELUM BELAJAR BETUL, BIRKANLAH SAUDARA KITA DENGAN CARANYA SENDIRI INGIN DEKAT DENGAN TUHANNYA, ITU JUSTRU MENJADI SYIAR BUAT ISLAM, DAN ANDA TIDAK TAKUT YA KEPADA ALLAH SWT MELARANG HAMBA ALLAH SEDANG MELAKUKAN HAL2 YANG INGIN DEKAT DENGAN ALLAHG SWT, SEMENTARA ANDA APA? APAKAH ANDA TUHAN? APAKAH ANDA NABI? INSYA ALLAH ANDA SADAR, TETAPI KALO TIDAK SADAR2 JUGA ANDA AKAN MENDAPAT BALASAN DARI ALLAH SWT

    • merakyat_donk

      SELAMA SESUAI DENGAN AL QURAN DAN SUNNAH SILAHKAN, JANGAN PULA AMALAN YANG “KELIHATAN” BAIK JUSTRU MENJADI SALAH DILAKUKAN JIKA TIDAK ADA NASH YANG MENYERTAINYA….

      UNTUK ITU MARI BERSAMA KITA BELAJAR ISLAM

  • [email protected]

    Hadits Dhaif itu lebih Mulia derajatnya, ketimbang omongan org yg mempermasalahkan org lain puasa, krn puasa itu hakekatnya hanya buat Allah, jika tak ada hadits nya maka kias & ijma’ para ulama, krn ulama pewaris dr Nabi, ketimbang ulama yg hanya bisa memprotes, org ibadah, baru baca hadits donwlodan dr internet aje sdh berani menyalahkan sesama saudaranya, atau memang dia bkn saudara kita, cuma kulitnya doang, ngaji dimajelis jgn di Internet mulu, gurunya setan nantinya. afwamingkum la alla najahan Amiin

Iklan negatif? Laporkan!
60 queries in 1,390 seconds.