Home / Dasar-Dasar Islam / Aqidah / Tawakkal Dengan Sebenarnya (Bag. 3)

Tawakkal Dengan Sebenarnya (Bag. 3)

dakwatuna.com Di antara Motivator untuk Bertawakkal yaitu:

1. Mengenal Allah dengan nama-namanya yang indah

Barangsiapa mengenal dan yakin bahwa Allah swt sebagai Rahman (Maha Pengasih), Rahim (Maha Penyayang), ‘Aziz (Maha Perkasa), Hakim (Maha Bijaksana), Hayy (Maha Hidup), Qayyum (Maha Berdiri Sendiri)… maka ia akan terdorong untuk bertawakkal kepada-Nya. Oleh karena itu, Al-Quran sering mengaitkan perintah tawakkal dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah di atas. Yang paling banyak adalah Ismul Jalalah الله, nama yang mengandung segala kesempurnaan, seperti dalam firman-Nya:

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imran (3): 159).

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Al-Maidah (5): 23).

“Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan Kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (Al-Maidah (5): 89).

Tawakkal juga dikaitkan dengan Ar-Rahman dimana rahmat-Nya yang maha luas tidak akan menyia-nyiakan siapapun yang bertawakkal kepada-Nya:

“Katakanlah: “Dia-lah Allah yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Mulk (67): 29).

Tawakkal juga dikaitkan dengan Al-Aziz (akan mulia dan tidak akan hina sedikitpun orang yang bergantung kepada-Nya, Ar-Rahim (rahmat Allah bagi yang bertawakkal kepada-Nya), Al-Hakim (tidak akan diabaikan siapun yang percaya dengan kesempurnaan kebijaksanaan dan perencanaan-Nya):

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Asy-Syuara (26): 217).

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfal (8): 49).

Tawakkal juga dikaitkan dengan Al-Hayy dimana orang yang bergantung kepada makhluk berarti ia bergantung kepada sesuatu yang akan mati sewaktu-waktu, dan beruntunglah orang yang hanya bergantung kepada Allah:

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (Al-Furqan (25): 58).

Percaya penuh kepada Allah swt

Tsiqah kepada Allah adalah tsamarah (buah) dari ma’rifatullah, seperti tsiqah Ummi Musa melaksanakan tuntunan Allah swt:

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah mia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Al-Qashash (28): 7).

Dalam ayat ini ibunda Musa diberi dua perintah, dua larangan dan dua janji: perintah untuk menyusui dan meletakkan bayinya di sungai Nil, larangan jangan takut dan jangan sedih, dan janji akan dikembalikan-Nya Musa kepadanya dan akan dijadikan-Nya salah seorang nabi. Semua perintah, larangan dan janji dari Allah swt ini amat diyakini oleh ibu Musa alaihimassalam dan ia taati semuanya dengan penuh tawakkal.

Seorang mujahid di masa-masa keemasan Islam pernah ditanya: Siapa yang akan mencukupi anak-anakmu sepeninggalmu?” Dengan penuh tsiqah ia menjawab:

عَلَيْنَا أَنْ نُجَاهِدَ فِي سَبِيْلِهِ كَمَا أَمَرَنَا، وَعَلَيْهِ أَنْ يَرْزُقَنَا كَمَا وَعَدَنَا!

“Tugas kita adalah berjihad di jalan-Nya seperti perintah-Nya, dan menjadi urusan-Nya memberi rizki kepada kita sesuai janji-Nya.”

Dikisahkan juga bahwa istri salah seorang mujahid dari kaum salaf pernah ditanya: “Dari mana engkau dan anak-anakmu hidup sesudah kepergian suamimu?” Dengan penuh tsiqah ia menjawab: “Sejak aku menikah dan mengenal suamiku, aku tahu ia hanyalah orang yang mengkonsumsi rizki, dan bukan pemberi rizki, bila pemakan rizki pergi maka Pemberi rizki tetap Kekal Abadi.”

Mengenal diri dan kelemahannya

Motivator ketiga untuk bertawakkal adalah pengenalan manusia terhadap kelemahan dirinya dalam banyak hal: kelemahan fisik, keterbatasan ilmu, dan dilahirkan tanpa pengetahuan apapun.

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (An-Nisa (4): 28).

Ÿ“Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?” (Maryam (19): 67)

Dari sinilah manusia beriman yakin bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali bersama Allah yang telah menciptakan dan mengajarkan, dan memenuhinya dengan semua nikmat lahir dan batin. Perasaan ini memotivasi seseorang untuk menyandarkan dirinya yang lemah, faqir, dan jahil kepada Yang Maha Kuat dan Berkuasa, Maha Kaya dan Maha Mengetahui. Seorang mu’min tidak ingin jauh dari Allah meskipun sekejap mata, ia tidak merasa tentram kalau dirinya lemah dibiarkan oleh Allah swt:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ (رواه أبو داود وأحمد وابن حبان)

“Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharap, maka janganlah engkau serahkan aku kepada diriku sendiri meski sekejap, perbaiki semua urusanku, tidak ada ilah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Hibban).

Rasulullah saw mengajarkan kepada putri tercintanya Fathimah Az-Zahra sebuah doa yang mengungkapkan kelemahan dan kebutuhan diri kepada Allah seraya bersabda:

مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوْصِيْكِ بِهِ: أَنْ تَقُولِي إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ: يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ (رواه الحاكم في المستدرك وصححه على شرط الشيخين ووافقه الذهبي)

“Tidak ada yang menghalangimu untuk mendengar pesanku kepadamu, ucapkanlah setiap pagi dan petang: “Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang berdiri sendiri, hanya dengan rahmat-Mu aku meminta dengan menghiba: Perbaikilah semua urusanku, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak, beliau mensahihkannya sesuai syarat Bukhari & Muslim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).

2. Mengetahui keutamaan tawakkal dan bagaimana keadaan orang-orang yang ahli tawakkal serta bergaul dengan mereka

Keutamaan tawakkal dan buahnya dalam kehidupan dunia maupun akhirat bila kita ketahui dan kita hayati pasti akan memotivasi kita untuk bertawakkal kepada Allah sepanjang hayat.

Dan cukuplah pencukupan dari Allah menjadi keutamaan tawakkal seperti firman-Nya:

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (At-Thalaq (65): 3).

Di samping mengetahui keutamaan tawakkal, mencintai dan berusaha meneladani para pendahulu yang bertawakkal juga dapat memotivasi kita, karena Allah mencintai mereka.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali-Imran (3): 159).

Seorang penyair berkata:

فَتَشَبَّهُوا إِنْ لَمْ تَكُْونُوْا مِثْلَهُمْ إِنَّ التَّشـبُّهَ بِالرِّجَالِ فَلاَحُ

Tirulah jika kalian tidak bisa persis seperti mereka,

Sungguh, menyerupai para tokoh besar adalah sebuah keberuntungan.

Lebih kuat lagi motivasi bertawakkal jika teladan itu masih hidup dan dapat kita saksikan dengan mata kepala kita sendiri, hal ini jauh lebih kuat dari seribu ucapan dan teori tentang tawakkal.

“Pengaruh teladan seseorang bagi seribu orang lebih besar dari pengaruh ucapan seribu orang pada diri seseorang.” Allahu a’lam (bersambung)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 5,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Sahal Hasan, Lc
Lahir di Jakarta dan saat ini dianugerahi 4 orang putra-putri. Memiliki latar belakang pendidikan dari Madrasah Tarbiyah Al-Mushlihin, SMPN 56 Jakarta, SMAN 70 Jakarta, dan LIPIA Jakarta Fakultas Syariah. Saat ini bekerja sebagai Dosen di STEI SEBI dan STIU Al-Hikmah. Aktif di berbagai organisasi, antara lain pernah di amanahkan sebagai Ketua Majelis Syura pada LKI LIPIA Jakarta, Yayasan Bina Amal Islami, dan Staf Kaderisasi pada Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Pusat. Beberapa karya ilmiah pernah dihasilkannya, antara lain "Ilmu Ushul Fiqh, metode Penulisan Para Ulama Ushul Fiqh", "Tauhid dalam Surat Al-Ikhlash", dan "Menutup Aurat dan Pandangan Fiqh Ulama Tentangnya". Hobi utamanya adalah nasyid.
  • ass..tawakkal bukan berarti sekedar ucapan semata,yang sering kali orang ucapkan banyak yg mengaku dirinya bertawakkal akantetapi dilihat dr aspek kehidupannya tidak mencirikan orang yg tawakkal,

Lihat Juga

Ilustrasi (Inet)

Belajarlah Dari Makhluk Allah Lainnya