23:43 - Kamis, 31 Juli 2014
Musyafa Ahmad Rahim, Lc

Dai Tak Mampu Berbahasa Arab

Rubrik: Konsultasi Agama | Oleh: Musyafa Ahmad Rahim, Lc - 03/05/08 | 08:43 | 27 Rabbi al-Thanni 1429 H

Ilustrasi (inet)

Ilustrasi (inet)

Assalamu’alaikum wr. wb.

dakwatuna.com – Ustadz, alhamdulillah, saya termasuk di antara para aktivis dakwah yang tetap bersemangat dalam menunaikan amanah Allah ini. Doakan ya, Ustadz, agar saya bisa istiqomah. Namun, akhir-akhir ini ada masalah yang mengganjal. Ada tetangga yang mempersoalkan kemampuan saya memberikan materi Islam. Dia menanyakan bagaimana saya bisa membina pengajian sementara saya tidak mengetahui ilmu-ilmu dasar syariat.

Misalnya, saya belum memahami ushul fiqih secara mendalam. Saya belum menghafal banyak asbabun nuzul dan belum menguasai satu kitab tafsir pun. Bahkan, yang paling mendasar yang dipersoalkan tetangga saya itu adalah ketidakmampuan saya dalam berbahasa Arab.

Ustadz, setelah merenungkan pertanyaan tetangga saya itu, saya jadi bingung. Sebenarnya sudah mampukah saya mengajarkan obyek dakwah dengan ilmu-ilmu Islam. Terus terang, saya takut dengan ucapan Rasul yang menyatakan bahwa Allah tidak menyukai orang berbicara sesuatu mengatasnamakan firman-Nya. Saya takut saya salah menafsirkan ayat Al-Qur’an atau hadits Rasul. Bagaimana menurut Ustadz?

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Syaifullah, Jakarta.

Jawaban:

Saudara Syaifullah di Jakarta dan pengunjung dakwatuna.com di mana pun Anda berada, as-salamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Semoga Allah swt. senantiasa memberikan tambahan ilmu yang bermanfaat kepada kita semua.

Masalah yang Anda hadapi adalah masalah yang juga dihadapi oleh banyak para dai, murabbi, dan bahkan termasuk para ustadz. Anda tidak perlu putus asa, lemah semangat, dan –na’udzubillah– berhenti dari berdakwah. Sebab, bila hal ini terjadi, pertama, Anda akan kehilangan kesempatan dan peluang untuk meraih keutamaan dakwah; dan yang kedua, masyarakat akan banyak kehilangan para pembimbing, pembina, murabbi, dan penegak amar ma’ruf nahi munkar. Na’udzubillah min dzalik.

Agar pembahasan terhadap masalah yang Anda hadapi menjadi jelas, saya akan membahasnya dalam empat point: adakah syarat dalam berdakwah, kewajiban menuntut ilmu, masalah penyatuan berbagai potensi dan kemampuan umat untuk sukses dakwah, dan cerita tentang pengalaman seorang dai.

Terkait dengan masalah pertama, Rasulullah saw. bersabda, “Ballighu ‘anni walaw aayah, sampaikan dariku, walaupun satu ayat.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari). Hadits ini menjelaskan bahwa walaupun yang kita miliki “hanya” atau “baru” satu ayat, maka kita telah terkena kewajiban untuk menyampaikan satu ayat itu.

Betul, memang orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar wajib dan harus memiliki ilmu: ilmu tentang ma’ruf yang akan disampaikan, ilmu tentang munkar yang akan dicegah, dan ilmu tentang orang yang menjadi obyek dan target amar ma’ruf nahi munkar serta ilmu tentang amar ma’ruf nahi munkar itu sendiri. Akan tetapi, yang dimaksud ilmu di sini, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, tidaklah seperti yang Anda gambarkan dalam pertanyaan, akantetapi seperti yang disabdakan Rasulullah saw. di atas. Yang perlu dicatat di sini adalah kita tidak boleh menyampaikan sesuatu yang tidak kita ketahui atau yang kita tidak ada ilmu terhadapnya.

Dan kita, sebagai seorang muslim atau muslimah, khususnya para dai dan daiyah, murabbi-murabbiyah, dan para aktivis dakwah lainnya, berkewajiban untuk menuntut ilmu, meningkatkan pemahaman kita, dan menambah wawasan kita dalam rangka melaksanakan sabda Rasulullah saw., “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kuli muslim, menuntut ilmu adalah sesuatu yang fardhu bagi setiap muslim.” [Ini hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Baihaqi). Dan juga dalam rangka melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Muhammad saw. (dan juga kepada kita), “Waqul Rabbi zidni ‘ilma, dan katakan -wahai Muhammad- Ya Allah Rabbku, tambahkanlah akan ilmu pada diriku.” (Thaha: 114). Dan inilah masalah kedua yang telah saya janjikan untuk saya bahas.

Oleh karena itu, wahai saudaraku Syaifullah, teruskan langkah Anda dalam membina masyarakat. Tingkatkan ilmu dan pemahaman serta perluas wawasan dengan banyak membaca dan berguru kepada para ahlinya.

Perlu kita ingat, kita sadari, dan kita ketahui bahwa Allah swt. memberikan kemampuan yang berbeda antara satu orang dengan lainnya. Ada orang yang berkemampuan mujtahid (mampu menggali secara langsung nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits). Ada yang berkemampuan menghafal Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa mampu ber-ijtihad. Ada yang berkemampuan orasi, ceramah, memberi mau’izhah walaupun ilmu dan wawasannya “terbatas”. Ada yang berkemampuan membina, mempengaruhi, dan mengajak orang lain kepada kebaikan.

Kewajiban kita adalah menyatukan berbagai potensi itu semua demi suksesnya tugas dan amanah dakwah ini. Bukan sebaliknya, membuat putus asa dan jerih (takut) orang yang terjun dalam dunia dakwah. Jika kita menemukan kekurangan pada seseorang itu, tugas kita-lah untuk melengkapi dan menutup kekurangan tersebut, sehingga seluruh potensi dan kemampuan umat bahu-membahu dalam hal ini.

Banyak sekali ayat, hadits, dan kejadian pada masa Nabi, sahabat, dan salafus-shalih yang membenarkan hal ini. Salah satunya adalah kisah seorang lelaki yang diceritakan dalam surat Yasin ayat 20. Al-Qur’an mengisahkan tentang seorang lelaki yang bukan nabi, rasul, dan bukan pula ulama, tapi hanya orang biasa (awam) yang terlibat aktif dalam mendukung dakwah. Allah swt. menyanjung dan memberikan balasan surga kepadanya.

Dan sebagai penutup jawaban ini, marilah kita simak sedikit dialog yang dialami oleh seorang dai yang sedikit memberikan gambaran tentang masalah yang Anda hadapi saat ini dan bagaimana sebaiknya seorang dai bersikap.

Ini kisah seorang dai abad 20: Hasan Al-Banna. Ia hanya seorang guru madrasah ibtidaiyah (SD). Suatu hari, selagi ia mengisi pengajian, ia “dites” oleh sebagian hadirin dengan berbagai pertanyaan, maka ia menjawab, “Wahai Saudaraku, saya ini bukan ulama. Saya hanyalah seorang guru biasa yang hafal sebagian dari ayat-ayat Al-Qur’an, sebagian hadits nabi, serta sebagian dari hukum-hukum agama yang aku baca dari beberapa kitab, lalu saya berupaya mengajarkannya kepada orang. Jika engkau membawaku keluar dari lingkup ini, berarti engkau telah membuatku mengalami kesulitan. Siapa yang menjawab, ‘tidak tahu’ sebenarnya ia telah memberikan jawabannya”

Selanjutnya ia berkata, “Namun, jika engkau menginginkan jawaban dan pengetahuan yang lebih luas, maka tanyakanlah kepada selain diriku. Tanyakan kepada para ulama yang ahli. Merekalah yang mampu memberikan fatwa kepadamu mengenai apa yang engkau inginkan itu. Adapun saya, hanya inilah kapasitas keilmuan yang saya miliki. Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sebatas kesanggupannya.” (Memoar Hasan Al-Banna, hal. 113)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua. Amin.

Musyafa Ahmad Rahim, Lc

Tentang Musyafa Ahmad Rahim, Lc

Bapak dari 6 orang anak ini adalah kelahiran dari Demak. Memiliki hobi yang sangat menarik, yaitu seputar Islamic dan Arabic Program. Saat ini bekerja sebagai dosen. Memiliki pengalaman di beberapa… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (35 orang menilai, rata-rata: 8,77 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Mockie

    saya sebagai orang awam.. tapi itu perlu di pelajari kitab2 salafi seperti nahwu,sorof,mantik dll. karna source2 da’wah dari kitab2 salafi semua. dan kalo ga ngerti nahwu sorof bisa kemungkinan salah nerjemahin.. memang ada terjemahannya beberapa tapi ga cukup… dan menghindari salah menyampaikan da’wahnya.
    kata saya sih pelajarin aja sambil terus da’wah.. **saya ga bilang suruh berenti loh.. tapi penting di pelajari**

Iklan negatif? Laporkan!
116 queries in 1,519 seconds.