Home / Dasar-Dasar Islam / Hadits / Salam: Jika Kamu Melakukannya Kamu Saling Mencintai

Salam: Jika Kamu Melakukannya Kamu Saling Mencintai

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Mengucapkan dan menjawab salam adalah hak dan kewajiban antar-muslim yang dapat menguatkan tali persaudaraan dan ikatan kasih sayang. Apalagi dilakukan dengan wajah ceria, gembira, dan hangat. Karena itu tak heran jika Abdullah bin Harits bin Hazm r.a. berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyum melebihi Rasulullah saw.”

Bukan hanya senyum. Rasulullah saw. memasukkan ucapan salam sebagai salah satu dari enam hak muslim yang harus dipenuhi saudaranya. Abu Hurairah r.a. menyampaikan kepada kita bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hak muslim yang mesti dilakukan terhadap muslim lainnya itu ada enam.” Ada yang bertanya, “Apakah yang enam itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Jika kamu bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; jika ia mengundangmu, datangilah; jika ia minta nasihat, nasihatilah; jika ia bersin lalu memuji Allah, doakanlah; dan jika ia sakit, jenguklah ia; jika ia meninggal, maka antarkanlah jenazahnya.”

Abu Hurairah r.a. juga menyampaikan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman; dan kamu tidak akan beriman, kecuali jika kamu saling mencintai. Senangkah kamu jika aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kamu melakukannya kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antaramu.”

Ucapkan Kepada Siapapun

Abdullah bin Amr bin Ash r.a. bercerita bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasululah saw., (pengamalan) Islam yang bagaimanakah yang lebih baik? Nabi menjawab, “Memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang belum kamu kenal.”

Bahkan kata Asma binti Yazid r.a., Rasulullah saw. melewati kami (sejumlah wanita) dan mengucapkan salam kepada kami.

Menurut suatu riwayat, Asma berkata, suatu hari Rasulullah saw. melewati mesjid ketika kami sejumlah wanita berada di sana, Rasulullah saw. melambaikan tangannya dengan (mengucapkan) salam.

Bahkan, kata Anas bin Malik r.a., ia melewati anak-anak, lalu ia mengucapkan salam kepada mereka. Ia melakukan itu karena Rasulullah saw. melakukan hal seperti itu.

Jadi, mengucapkan salam adalah salah satu hak seorang muslim yang wajib ditunaikan oleh muslim yang lain. Sebagai sebuah hak, mengucapkan salam tidak pantas untuk ditinggalkan pelaksanaannya. Memang ada hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abdil Barr yang mengatakan bahwa mengucapkan salam itu sunnah, sedangkan menjawabnya adalah wajib (fardhu).

Makna Salam

Kata as-salaam adalah salah satu nama Allah swt. Ketika kita mengucapkan assalamu’alaikum, artinya kamu dalam lindungan Allah swt. sebagaimana ucapan Allahu ma’aka, Allah menyertai (dan melindungi) kamu, juga seperti ucapan Allahu yahfazhuka, Allah melindungi kamu. As-salaamu juga berarti as-salaamah, keselamatan. Jadi, assalaamu’alaikum bermakna keselamatan dari Allah menyertaimu.

Ucapan salam dilafalkan minimal assalaamu’alaikum. Menggunakan kum, kalian, meskipun muslim yang disapa hanya satu orang. Sebab, salam tersebut juga disampaikan kepada malaikat yang ada di sekitar diri si mulim yang disapa.

Sedangkan ucapan salam yang sempurna adalah assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh, semoga keselamatan dari Allah menyertaimu, begitu juga rahmat dan berkah-Nya. Jika yang diberi salam hanya satu orang, maka wajib orang yang diberi salam membalas salam tersebut. Jika yang disalami jama’ah (orang banyak), menjadi fardhu kifayah untuk dijawab oleh semua dan dianggap cukup jika dijawab oleh sebagian jama’ah tersebut.

Dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Dicukupkan bagi suatu kelompok (jama’ah) jika berlalu untuk mengucapkan salam salah sati di antara mereka, dan cukuplah dari jama’ah (kelompok) untuk menjawab salam (oleh) salah satu di antara mereka.”

Bentuk Salam

Bentuk salam mesti sesuai dengan yang disunnahkan Rasulullah saw. Kata Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Ketika Allah menciptakan Nabi Adam r.a. yang tingginya enam puluh dzira (dari ujung jari hingga siku), Allah berfirman, ‘Pergilah, dan ucapkanlah salam kepada mereka -sejumlah malaikat yang sedang duduk-lalu didengarkanlah apa jawaban mereka terhadap salamu itu.’ (Jawaban mereka) itu adalah ucapan salam kamu dan salam keturunanmu. Lalu ia mengucapkan, assalaam ‘alaikum. Dan mereka pun menjawab, assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi, jadi mereka, para malaikat, itu menambahkan wa rahmatullahi.”

Sedangkan Muhammad bin Amr bin ‘Atha berkata, aku pernah duduk dekat Ibn Abbas r.a. lalu ada orang Yaman yang mengucapkan salam kepadanya. Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh –semoga salam sejahtera dari Allah kepadamu beserta rahmat dan berkah-Nya– lalu ia pun masih menambahkan sesuatu setelah (kata wa barakaatuh) itu. Ibn Abbas r.a. mengatakan -ia ketika itu telah buta-“Siapa itu?” Mereka -sahabat-mengatakan, “Itu adalah orang Yaman yang datang berkunjung kepadamu.” Lalu mereka mengenalkan orang Yaman tersebut kepadanya. Lalu Ibn Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya salam itu selesai sampai al-barakah.”

Jabir bin Sulaim Al-Hujaimi bercerita bahwa ia pernah mendatangi Rasulullah saw. dan mengucapkan, “‘Alaikassalaam, ya Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Jangan mengucapkan ‘alaikassalaam, sebab kata-kata ‘alaikassalaam itu ucapan selamat (bagi) mayit. Jika engkau mengucapkan salam, maka ucapkanlah salaam ‘alaika sehingga yang menjawab akan mengatakan ‘alaikassalaam.”

Dalam Jami’ al-Ushuul fii Ahaadits ar-Rasuul, Ibnu Atsir mengatakan, sesungguhnya assalamu ‘alaika merupakan ucapan selamat (bagi) mayit. Diperkirakan bahwa yang disunahkan dalam memberikan salam kepada mayit adalah ‘alaikumussalam sebagaimana dikatakan dan dilakukan oleh banyak orang awam. Ada riwayat yang cukup kuat bahwa Nabi Muhammad saw. mendatangi kuburan seraya mengucapkan salam. Ia mengucapkan, assalaamu ‘alaikum, wahai ahli kubur dari kaum mukminin. Dalam salam yang diucapkan Rasulullah saw. tersebut kata as-salaam disebutkan sebelum menyebutkan orang yang didoakan, sebagaimana salam untuk orang-orang yang masih hidup. Mengapa Rasulullah saw. melakukan hal itu?

Hal itu menjadi isyarat darinya tentang sesuatu yang menjadi tradisi salam (ucapan selamat) untuk orang yang telah meninggal. Sebab mereka, para sahabat, pernah mendahulukan nama mayit sebelum berdoa. Menurut sunnah Nabi, tidak ada bedanya antara salam bagi yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Ini berkaitan dengan kebaikan.

Adapun yang berhubungan dengan keburukan dan kejahatan, justru tradisinya adalah mendahulukan orang yang didoakan sebelum mengucapkan “selamat”. Sehingga mereka (mesti) mengatakan, ‘alaika la’natullah -semoga kutukan Allah atasmu–, wa ‘alaihi ghadhabullah -semoga murka Allah atasnya–. Perhatikan firman Allah swt., “Dan sesungguhnya atasmu laknat-Ku sampai hari pembalasan.” (Shad: 78). Dan berkenaan dengan salam itu ada dua logat, salaamun ‘alaikum dan assalaamu ‘alaikum.

Demikian paparan Ibnul Atsir. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,36 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mochamad Bugi
Mochamad Bugi lahir di Jakarta, 15 Mei 1970. Setelah lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, ia pernah mengecap pendidikan di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosah Islamiyah Al-Hikmah. Sempat belajar bahasa Arab selama musim panas di Universitas Ummul Qura', Mekkah, Arab Saudi.Bapak empat orang anak ini pernah menjadi redaktur Majalah Wanita UMMI sebelum menjadi jabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Politik dan Dakwah SAKSI. Ia juga ikut membidani penerbitan Tabloid Depok Post, Pasarmuslim Free Magazine, Buletin Nida'ul Anwar, dan Majalah Profetik. Jauh sebelumnya ketika masih duduk di bangku SMA, ia menjadi redaktur Buletin Al-Ikhwan.Bugi, yang ikut membidani lahirnya grup pecinta alam Gibraltar Outbound Adventure ini, ikut mengkonsep pendirian Majelis Pesantren dan Ma'had Dakwah Indonesia (MAPADI) dan tercatat sebagai salah seorang pengurus. Ia juga Sekretaris Yayasan Rumah Tafsir Al-Husna, yayasan yang dipimpin oleh Ustadz Amir Faishol Fath.
  • betul juga, kadang kita suka melupakan yang kita aggap sepele, padahal itu semua do'a yang luar besar manfaat dan kandungannya,

    jadi bagaimana bisa dianggap sepele…

Lihat Juga

(Video) Seorang Anggota Parlemen Australia: Kita Dalam Bahaya Dibanjiri Muslim