Home / Narasi Islam / Wanita / 5 Bekal Istri Aktivis Dakwah

5 Bekal Istri Aktivis Dakwah

dakwatuna.com – Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.

Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:

1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!

2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.

3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!

4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!

5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.

Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (104 votes, average: 8,69 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dra. Anis Byarwati, MSi.
Lahir di Surabaya tahun 1967. Menikah pada tahun 1989 dan dikaruniai delapan anak. Kuliah pertama ditempuh di Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta jurusan Financial Management. Gelar S1 diraih dari dua tempat, yaitu di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah Jakarta program Khusus berbahasa Arab dengan spesialisasi Tafsir-Hadits dan Sekolah Tinggi Agama Islam At-Taqwa Bekasi Jurusan Dakwah dan Penyiaran Islam. Gelar S2 diperoleh dari Program Pasca Sarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI) Jurusan Ekonomi dan keuangan Syariah dengan pilihan konsentrasi Perbankan Syariah.

Penulis mempunyai minat tinggi di bidang sejarah Islam dan khususnya sejarah pemikiran ekonomi Islam. Untuk minatnya ini, penulis secara serius menuangkannya dalam sebuah buku yang ditulisnya bersama Dosen Senior PSKTTI-UI Karnaen Perwataatmadja, berjudul JEJAK REKAM EKONOMI ISLAMI- Refleksi Peristiwa Ekonomi dan Pemikiran Para Ahli Sepanjang Sejarah Kekhalifahan. Buku yang diterbitkan bulan Maret 2008 ini sekarang menjadi salah satu referensi utama dalam Studi Sejarah Pemikiran Ekonomi Islami di almamaternya dan di beberapa perguruan tinggi lainnya.

Disamping itu, keseharian penulis disamping sebagai ibu rumah tangga, aktifis organisasi, juga sebagai aktifis dakwah dan pembicara diberbagai forum diskusi, seminar dan kajian Islam. Keaktifannya berdakwah merupakan manifestasi dari motto hidupnya: Isy Kariman aw Mut Syahidan (Hidup Mulia atau mati sebagai Syuhada).
  • Nina

    Jazakillah buat taushiyahnya…Dan untuk para ikhwan tentunya juga berlaku hal yang sama ya…
    soalnya kalo akhwat sering banget di doktrin begini begitu dalam berumah tangga, di liqo, buku,majalah wanita, nah mudah-mudahan untuk bapak-bapak juga se concern ini dalam menjalankan perannya sbg qowwam..amiin

  • wati

    saya setuju 100 % dengan ukhti nina.mudah-mudahan ini semua bukan hanya untuk akhwat,tetapi juga untuk ikhwannya.sebab suami istri itu adalah partner sehingga bukan hanya istri yang dituntut ini dan itu, tetapi suami pun harus mau untuk melakukan hal yang sama demi kebaikan bersama.

    sebagai contoh dari tulisan diatas adalah seorang istri harus pandai merawat diri,sehat jasmani.maka tugas suami adalah memberikan dana yang cukup agar semua keinginan itu terpenuhi.bagaimana seorang istri dapat merawat wajah dan tubuhnya jika tidak ada dana untuk ke salon atau pusat kebugaran.atau minimal untuk membeli pembersih wajah.apalagi jika memang istrinya itu memiliki kulit sensitif yang butuh perawatan khusus.

    saya rasa suami pun harus pandai merawat diri untuk menyenangkan istrinya.

    intinya saat ini baik suami maupun istri dituntut untuk bisa memberikan yang terbaik untuk pasangannya, dimana penuntutan ini menurut saya memiliki konsekuensi yang harus dipikul bersama-sama pula.

  • Under the same sun

    Buat Bu Nina dan Bu Wati, jgn khawatir. Di situs ini juga ada artikel bahasan khusus untuk para suami – yg jg perlu dibaca oleh para istri. Misalnya artikel di sini:
    http://www.dakwatuna.com/2008/muhammad-sebagai-se

    (Muhammad Sebagai Seorang Suami)

    Jadi saya juga setuju, suami dan istri perlu concern masalah ini. Karena keluarga adalah salah satu tonggak pembangunan peradaban Islami.

  • abu mushab

    Isinya oke
    Tapi fotonya kok anaknya cuman 2 ? Apa promosi KB ?

  • Didi

    To Abu Mushab: Suudzon amat sih. :) Husnuudzon atuh. Mungkin itu kan gambar keluarga yg masih muda. Jadi ya anaknya baru dua… ntar juga nambah anak lagi. :D

  • Jazakallah khair buat Akh Didi. Naudzubillah buat Akh Abu Mushab, kalo boleh dilihat dulu, jangan langsung komentar menyudut begitu, semoga bisa jadi pelajaran untuk keselanjutnya. syukron

  • fifit

    semoga tausyiah2 diatas bisa di aplikasikan…..

    for ikhwan juga jangan cuma bisa kasih komentar o.k

    betul tidak ibu..ibu…!!!

  • ABu

    Alhamdulillah…

    Indahnya jika sepasang suami istri memahami jalan dakwah adalah jalan menuju Keluarga Sakinah.
    Semoga…..

  • dina

    ya saya sangat setuju dengan artikel ini,karena seorang aktifis dakwah nmemeng harus terlebih dahulu memberikan contoh dalam kesehariannya,agar dakwahnya dapat dengan mudah diterima dimasyarakat

  • Fathur

    jazakallah ana sampaikan semoga antum selalu berada dalam lindungan Allah yang maha agung. Amien

  • nana

    jzklh taujihnya.. Subhanallah klo kluwarga, masing2 suami istri tau akan kewajiban n haknya.. trmasuk kewajibannya terhadap dakwah.. tidak mudah memang jd istri aktivis dakwah.. tp ktika seorang istri ingin menjadi istri yg sholehah tentunya akan berusaha melakukan yg terbaik buat suami termasuk untuk dakwahnya.
    buat para ikhwan jangan menganggap akhwat istri yg sempurna. cz akwat jga manusia biasa yg banyak kekurangan.. so yg sabar jd imam n dlm membimbing istri ya. percayalah para istri sholehah berusaha memberi yg terbaik untuk antum..afwan..

  • subhanalah ana setuju dengan artikel ini. karena ana sangat sedih sekali dengan banyaknya fenomena ikhwah yang cerai karena ada yang bilanga gak cocok padahal udah punya anak empat. wahai ikhwah bagaimana dakwah bisa eksis kalau suasana rumah saja sudah tidak nyaman. wss.

  • Janggut_naga83

    Bissmillaahirrahmaanirrahiim

    Syukran Tausiyahnya.

    InsyaAllaah andaikata Akhwat yang menjadi Istri saya kelak tidak memenuhi Kriteria itu ~

    Maka sayalah yang akan membentuknya.

    Semoga Allaah SWT Ridha terhadap apa-apa yang di Niatkan hamba-Nya

    Amiin

  • Ass…artikelnya bagus,good lock buat umi anis mudah2an bermampaat buat kita smua,trutama utk wanita(akhwat) yg ingin menikah dgn aktivis dakwah,tp satu hal yang patut diingat khusus utk lk2 (ikhwan) wanita bukan terbuat dr besi maupun baja.

  • eva

    Asw,saya sangat setuju sekali dgn artikel mba Anis.ternyata untuk menjadi istri seorang aktivis gak gampang ya??jadi semangaaat nich..syukron jiddan ya mba,,

  • muspita

    Assalamu'alaikum…
    syukran Tausyiahnya..
    artikel y bagus, ternyata untuk menjdi istri seorang aktivis tidak gampang..
    istri yang sholehah akan berbuat yang terbaik untuk dakwah suaminya, subhanallah..

  • jazaakumullaah khayr atas artikelnya.

  • roba'i ahmad

    syukran atas tausyiahnya

  • Salam ziarah,blog yang menarik,semoga Allah istiqomah kita dalam apa juga urusan..jemput muzakarah di blog saya..dan sila add blog saya..tq

  • Dadang

    subhanalloh..mudah2an tausiah ini menjadi motifasi untuk pasangan keluarga dakwah..Alloh maha tau apa yg tersimpan dalam hati kita..

  • bagas

    bagus, tetapi kurang lengkap penuturannya

  • usi

    asslm. terimakasih mba artikelnya. jadi bahan perenungan saya untuk meneguhkan dalam menunaikan niatan suci. Semoga ikhwan yg akan menjadi pendampingku slalu bersabar dan ikhlas mnrima saya apa adanya.

  • wulan

    aslmkm..subhanallah t’nyata tok mjdi s’org istri aktvis dakwah memg tdk mudh, nmun jgn psimis jg tok pra akhwt ktika da niatan, kyakinan plus usha yg kuat Qt pasti bs. Maha Suci Allah yg tlah m’ciptkn mnusia sling b’psangan d’iktkn dlm iktan yg suci. smoga an bs mjdi pendamping yg sholeh. amiin

  • subhanallah…. banyak pelajaran yang dapat diambil…
    berat yah jadi istri aktifis dakwah,,, yah mungkin akan sama saja menjadi suami para akhwat aktifis pula…namun semuanya akan ringan jika diemban bersama-sama

  • wike

    Seandainya semua perempuan memiliki dan mengaplikasikan ipemahaman ini, maka tidak akan ada perselingkuhan bahkan perceraian. Insya Allah.

  • siti maslia

    asssalam mualaikum wr.wb.
    saya sudah membaca artikel yang ibu buat itu adalah artikel yang bagus yaa….bagaimana kalau artikelnya lebih mengupas tentang peranan wanita karir sebagi istri aktivis dakwa. commet saya menarik tidak??! istri menurut saya sosok yang paling menonjol dalam keluarga, semuanya harus seba perfect , walaupun kita tahu tidak ada manusia yang sempurna selain gudwah hasanah kita nabi SAW . tapi bagaimana menurut ibu jika ada calon istri t seleboran??. wass…

  • Mdh2n bisa saya amalkan. Amin..

  • Muslimah Rabbani

    Subhanallah,,,
    Jazakumullah khairan katsiro umi,,,

    Smg kelak sy bs mengamalkan’a,,,
    Insya Allah, jika it memang sdh menjadi kehendak-Nya, sy akan menjadi istri seorg aktifis dakwah,
    do’akan sy, agr sy menjadi istri yg sholehah, yg qudwah hasanah…

  • Muslimah Rabbani

    Subhanallah,
    Jazakumullah khairan katsiro umi,

    Smg kelak sy bs mengamalkannya,
    Insya Allah jika hal itu memang menjadi kehendak-Nya, sy akan menjadi istri seorg aktifis dakwah,
    do’akan sy agr menjdi istri yg sholehah, qudwah hasanah bwt ank2’a…

  • Aceng suryadi

    itulah hikmahnya apabila suami istri saling memperkuat satu sama lainnya dalam dakwah

  • Nurul

    Assalamu’alaikum …
    Syukron ya uminya Nabilah atas artikelnya, InsyaAllah sangat bermanfaat dan menambah pengetahuan..
    Amin .

Lihat Juga

Suami Pelit, Bagaimana Cara Menyikapinya?