Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Ahkam / Fiqih Thaharah: Hukum Air dan Najis

Fiqih Thaharah: Hukum Air dan Najis

Berwudhu

dakwatuna.com – Pada dasarnya, thaharah (bersuci) tidak terlepas dari air yang digunakan untuk bersuci dan kotoran (dalam hal ini najis) yang ingin dibersihkan. Oleh karena itu, artikel ini memaparkan secara sederhana mengenai hukum air, macam-macam najis, bagaimana cara membersihkan najis, dan bagaimana adab-adab buang hajat. Semoga bermanfaat.

Hukum Air

Empat macam air itu adalah:

  1. Air Muthlaq, seperti air hujan, air sungai, air laut; hukumnya suci dan mensucikan
  2. Air Musta’mal, yaitu air yang lepas dari anggota tubuh orng yang sedang berwudhu atau mandi, dan tidak mengenai benda najis; hukumnya suci seperti yang disepakati para ulama, dan tidak mensucikan menurut jumhurul ulama
  3. Air yang bercampur benda suci, seperti sabun dan cuka, selama percampuran itu sedikit tidak mengubah nama air, maka hukumnya masih suci mensucikan, menurut Madzhab Hanafi, dan tidak mensucikan menurut Imam Syafi’i dan Malik.
  4. Air yang terkena najis, jika mengubah rasa, warna, atau aromanya, maka hukumnya najis tidak boleh dipakai bersuci, menurut ijma’. Sedang jika tidak mengubah salah satu sifatnya, maka mensucikan, menurut Imam Malik, baik air itu banyak atau sedikit; tidak mensuciakn menurut Madzhab Hanafi; mensucikan menurut Madzhab Syafi’i jika telah mencapai dua kulah, yang diperkirakan sebanyak volume tempat yang berukuran 60 cm3.

Su’r (sisa) yaitu air yang tersisa di tempat minum setelah diminum:

  1. Sisa anak Adam (manusia) hukumnya suci, meskipun ia seorang kafir, junub, atau haidh.
  2. Sisa kucing dan hewan yang halal dagingnya, hukumnya suci.
  3. Sisa keledai dan binatang buas, juga burung, hukumnya suci menurut madzhab Hanafi.
  4. Sedangkan sisa anjing dan babi, hukumnya najis menurut seluruh ulama

Najis dan Cara Membersihkannya

A. Najis

Najis adalah kotoran yang wajib dibersihkan oleh setiap muslim, dengan mencuci benda yang terkena.

Macam najis:

  1. Air kencing, tinja manusia, dan hewan yang tidak halal dagingnya, telah disepakati para ulama. Sedangkan kotoran hewan yang halal dimakan dagingnya, hukumnya najis menurut madzhab Hanafi dan Syafi’i; dan suci menurut madzhab Maliki dan Hanbali.
  2. Madzyi, yaitu air putih lengket yang keluar ketika seseorang sedang berpikir tentang seks dan sejenisnya.
  3. Wadi, yaitu air putih yang keluar setelah buang air kecil.
  4. Darah yang mengalir. Sedangkan yang sedikit di-ma’fu. Menurut madzhab Syafi’i darah nyamuk, kutu, dan sejenisnya dima’fu jika secara umum dianggap sedikit.
  5. Anjing dan babi
  6. Muntahan.
  7. Bangkai, kecuali mayat manusia, ikan dan belalang, dan hewan yang tidak berdarah mengalir.

B. Menghilangkan najis

Jika ada najis yang mengenai badan, pakaian manusia, atau lainnya, maka wajib dibersihkan. Jika tidak terlihat, maka wajib dibersihkan tempatnya sehingga dugaan kuat najis telah dibersihkan. Sedangkan pembersihan bejana yang pernah dijilat anjing, wajib dibasuh dengan tujuh kali dan salah satunya dengan debu.

Sedangkan sentuhan anjing dengan fisik manusia, tidak membutuhkan pembersihan melebihi cara pembersihan yang biasa . Sedang najis sedikit yang tidak memungkinkan dihindari, hukumnya dimaafkan. Demikianlah hukum sedikit darah dan muntahan. Diringankan pula hukum air kencing bayi yang belum makan makanan, hanya cukup dengan diperciki air.

C. Adab Buang Hajat

Jika seorang muslim hendak buang hajat, maka harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

  1. Tidak membawa apapun yang ada nama Allah, kecuali jika takut hilang.
  2. Membaca basmalah, isti’adzah ketika masuk, dan tidak berbicara ketika ada di dalamnya.
  3. Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya. Hal ini harus menjadi perhatian setiap muslim jika membangun kamar mandi.
  4. Jika sedang berada di perjalanan, tidak boleh melakukannya di jalan, atau di bawah teduhan. Harus menjauhi liang hewan.
  5. Tidak kencing berdiri, kecuali jika aman dari percikan (seperti kencing di tempat kencing yang tinggi; urinoir)
  6. Wajib membersihkan najis yang ada di organ pembuangan dengan air atau dengan benda keras lainnya, tidak dengan tangan kanan. Membersihkan tangan dengan air dan sabun jika ada.
  7. Mendahulukan kaki kiri ketika masuk dengan membaca:
    اللهمّ إني أعوذ بك من الخبث والخبائث وأعوذ بك ربي أن يحضرون “
    , dan keluar dengan kaki kanan sambil membaca: غفرانك

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (118 votes, average: 7,63 out of 10)
Loading...Loading...
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Aksi Gerakan 1000 Tanda Tangan untuk Bumi Tercinta di Car Free Day, Pekanbaru. (Titin/rz)

Peringati Hari Air Sedunia, RZ Gelar Aksi 1000 Tandatangan untuk Bumi Tercinta

  • arief

    Assalamu'alaikum wr wb

    Ana mau tanya do'a untuk membasuh farji dan syarat-syarat membersihkan denngan benda selain air (misalnya: daun, batu, kayu)

    Jazakallah khairan katsir

    Wassalam

  • ana

    saya ingin tahu lebih dalam tentang fiqh thoharoh bagi muslimah

  • putra

    Saya sangat mendukung tulisan di atas. Sebab kendatipun masalah ini sudah sering dibahas dan disajikan oleh ustad dan ustazah dalam berbagai pengajian. Akan tetapi pengecasan ilmu itu dan pengulangannya kembali bisa akan menyegar pengetahuan yang ada. Dan hal ini jika terus dikembangkan akan membuat kita terus hati dan tidak asalan melakukan ibadah.oh tadi ada teman-teman yang tahu mengenai doa menyuci farraj dan pengetahuan lebih mengenai fiqih thaharah bagi muslimah. Kalau teman2 gak keberatan saya akan coba bantu. kirim saja imail ke sini [email protected]

  • Abyan

    Asslmwrwb.Bagaimana hukum kasur yg terkena najis air kencing,apakah kalau sudah kering masih najis?wassalamwrwb

  • adi

    askum

    apakah kain atau celana yang terkena air madyi atau wadi setelah dipercikan air bisa digunakan untuk sholat

  • misbahussurur

    ass.Wr Wb.

    apakah air kencing anak di bawah 5 tahun pakainaya bisa untuk sholat.

    wass.wr wb

  • KIRA

    asslamualaikum wr.wb

    nadofah tu ap yh..?

  • irul

    kurang konferhensif materinya

    • Ai_kui

      ckup bermanfaat sya rasa,,, Klo emang anda pnya bnyak ilmu silakan diamalkan,, Jng cuma protes aja,,, Syukron

  • http://dakwatuna.com anwar

    askum….
    salam buat mas abyannya, selama kasur tersebut belum disucikan maka hukum kasur tersebut tetap najis, dan cara untuk mensucikan yaitu di keringkan terlebih dahulu artinya di jadikan najis hukmiyah. sekian dari saya.
    wassalam.

  • http://www.google.com iis

    disini apa bisa konsultasi?

  • itoh

    mau tanya…
    kan kalo terkena Madzyi dan Wadi kan hukumnya najis…
    nah bagaimana hukum mengeluarkannya??
    apakah harus mandi wajib??atau cukup disucikan seperti mensucikan naji??

    syukron…

    • http://www.armanice.wordpress.com arman

      Madzi dan Wadi tidak mewajibkan mandi. Cukup dengan mensucikan anggota tubuh yang terkena najis tersebut. Jika terkena pakaian, cucilah atau gantilah dengan pakaian yang suci untuk sholat.

  • wadud

    itu ide yang baik

  • Odi

    assalamu’alaikum,.akhi bagaimana kalau menginjak tikus yg mati,tetapi tikus itu mengeluarkan darah,.saya menginjaknya memakai sandal,tapi saya ragu takutnya celana saya terkena bangkai itu,soalnya celana saya dibawah mata kaki,.
    pertanyaan saya:
    1.apakah itu najis,?
    2.apabila terkena celana saya dan ada najis,dan tidak saya bersihkan apakah dimaafkan atau tidak,?
    syukron,…

  • hanna

    Assalamualaikum, saya mau tanya
    1. Apakah darah nyamuk itu najis?
    2. Apakah barang yang haram itu pasti najis?

    Jazakallahu khair

  • sunny

    darah nyamuk itu gak najis,,

  • erma

    bgaimana jika tetangga saya yang punya anjing bersalaman dg saya,padahal anjingnya dibiarkan berkeliaran,apakah saya wajib mandi?

  • Nia

    pembagian najis menurut cara membersihkannya ustadz?

  • endhar

    akhi …. apakah ada ulama atau buku yang membahas tentang keterjaminan air untuk thaharah selama manusia itu hidup?

  • http://www.facebook.com/nasroencute Mohammad Nasrun Setiadinata

    Ustadz… bagaimana dalil mengenai apakah setelah mandi (bukan mandi wajib) kita diperbolehkan tidak usah wudhu kembali ?

  • ardyone

    Assalamualikum
    maaf saya mau tanya bagaimana hukumnya jika suatu barang yang terkena “Madzyi” jatuh ke sebuah sumur/sumber air secara tidak sengaja dan sangat susah untuk diambil. lalu apa yang harus dilakukan orang yg tdak sengaja menjatuhkannya?

    wassalamualaikum

    • http://www.facebook.com/people/Bang-Syahrul/100002723144543 Bang Syahrul

      kalau sumur itu ada sumber ny dak akan jadi najis air nya karna selain air itu pasti air itu lebih dri dua kolla tp kalau  cuma dikit n berubah warna atau yang lain nya maka akan najis air itu

  • nana

    assalamu’allaikum wr.wb,
     saya ingin bertanya, apakah jika setelah mandi besar harus berwudhu kembali jika ingin mengerjakan sholat? padahal sebelum mandi besar sudah wudhu….
    mohon di jawab, terima kasih,,,,,
    wassalamu’allaikun.wr.wb

  • http://www.facebook.com/people/Bang-Syahrul/100002723144543 Bang Syahrul

    tentang kesucian dalam islam sangat d utamakan baik dalam hubungan hablumminalloh maupun hablumminannas
     

  • http://www.facebook.com/people/Bang-Syahrul/100002723144543 Bang Syahrul

    attohaa rotu yaadullu alal baaathin