09:08 - Senin, 21 April 2014
Ulis Tofa, Lc

Muhammad Sebagai Seorang Suami

Rubrik: Pendidikan Keluarga | Oleh: Ulis Tofa, Lc - 28/03/08 | 06:54 | 20 Rabbi al-Awwal 1429 H

dakwatuna.com – Di antara tanda kasih sayang Allah swt terhadap manusia adalah diutusnya Rasul ditengah-tengah mereka. Inilah nikmat paling besar yang Allah swt karuniakan kepada manusia. Agar para Rasul menjadi penerang bagi orang-orang yang salah jalan. Menjadi penunjuk bagi orang-orang yang tersesat.

Hal paling utama dan berharga yang dipersembahkan para Rasul kepada manusia setelah penunjukan jalan hidayah Allah swt. adalah mereka, para Rasul sebagai contoh teladan bagi yang meniti jalan menuju Allah swt, agar orang beriman mengambil apa yang mereka contohkan dalam segenap urusan dan bidang, fiddunya wal akhirah.

Allah swt berfirman tentang pribadi Nabi kita Muhammad saw.:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Al Ahzab:21

Berkata Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini: “Inilah ayat mendasar yang berisikan anjuran menjadikan Rasulullah saw sebagai suri teladan, dalam ucapan, perbuatan dan keadannya.”

Dan bukti kemurahan Allah swt terhadap umat Islam ini adalah, bahwa sirah atau perjalanan hidup Nabi saw. baik berupa ucapan, perbuatan dan keadaannya direkam dan dijaga oleh para tokoh –ahli hadits- yang mukhlis. Dan mereka menyampaikan apa yang datang dari Rasul kepada orang lain dengan sangat amanah.

Contoh sederhana adalah tentang petunjuk Nabi bagaimana beliau makan, cara minum, berpakaian, berhias, bagaimana beliau tidur dan ketika terjaga, ketika beliau mukim atau sedang safar, ketika beliau tertawa atau menangis, dalam kesungguhan atau canda, dalam suasana ibadah atau hubungan sosial, perihal urusan agama atau dunia, ketika kondisi damai atau saat perang, dalam berinteraksi dengan kerabat atau orang yang jauh, menghadapi teman atau lawan, sampai pada sisi-sisi yang menurut orang bilang “intim” dalam hubungan suami-istri. Semuanya terekam, tercatat dan diriwayatkan dengan sahih dalam sirah perjalanan hidup beliau saw.

Dalam tulisan sederhana ini kami paparkan petunjuk Nabi saw. tentang bagaimana beliau berinteraksi dengan istri-istrinya. Bagaimana beliau bermu’amalah dan menjaga mereka. serta bagaimana beliau melaksanakan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak mereka.

Muhammad Bersikap Adil

Nabi Muhammad saw. sangat memperhatikan perilaku adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal, termasuk sesuatu yang remeh dan sepele. Beliau adil terhadap istri-istrinya dalam pemberian tempat tinggal, nafkah, pembagian bermalam, dan jadwal berkunjung. Beliau ketika bertandang ke salah satu rumah istrinya, setelah itu beliau berkunjung ke rumah istri-istri beliau yang lain.

Soal cinta, beliau lebih mencintai Aisyah dibanding istri-istri beliau yang lain, namun beliau tidak pernah membedakan Aisyah dengan yang lain selamanya. Meskipun di sisi lain, beliau beristighfar kepada Allah swt karena tidak bisa berlaku adil di dalam membagi cinta atau perasaan hati kepada istri-istrinya, karena persoalan yang satu ini adalah hak preogratif Allah swt. saja. Rasulullah saw. bersabda:

(اللهم إن هذا قسمي فيما أملك، فلا تلمني فيما لا أملك)

“Ya Allah, inilah pembagianku yang saya bisa. Maka jangan cela aku atas apa yang aku tidak kuasa.”

Ketika beliau dalam kondisi sakit yang menyebabkan maut menjemput, beliau meminta kepada istrinya yang lain agar diperkenankan berada di rumah Aisyah. Bahkan ketika beliau mengadakan perjalanan atau peperangan, beliau mengundi di antara istri-istrinya. Siapa yang kebagian undian, dialah yang menyertai Rasulullah saw.

Muhammad Bermusyawarah Dengan Para Istrinya

Rasulullah saw mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan. Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka. Padahal wanita pada masa jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata, dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan urusan yang langsung dan khusus dengannya.
Islam datang mengangkat martabat wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak qawamah atau kepemimpinan keluarga, berada ditangan laki-laki. Allah swt berfirman:

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Al Baqarah:228.

Adalah pendapat dari Ummu Salamah ra pada peristiwa Hudaibiyah, membawa berkah dan keselamatan bagi umat Islam. Ummu Salamah memberi masukan kepada Nabi agar keluar menemui para sahabat tanpa berbicara dengan siapa pun, langsung menyembelih hadyu atau seekor domba dan mencukur rambutnya. Ketika beliau melaksanakan hal itu, para sahabat dengan serta-merta menjalankan perintah Nabi saw, padahal sebelumnya mereka tidak mau melaksanakan perintah Rasul, karena mereka merasa pada pihak yang kalah pada peristiwa itu. Mereka melihat bahwa syarat yang diajukan kaum kafir Quraisy tidak menguntungkan kaum muslimin.

Muhammad Lapang Dada dan Penyayang

Istri-istri Rasulullah saw memberi masukan tentang suatu hal kepada Nabi, beliau menerima dan memberlakukan mereka dengan lembut. Beliau tidak pernah memukul salah seorang dari mereka sekali pun. Belum pernah terjadi demikian sebelum datangnya Islam. Perempuan sebelum Islam tidak punya hak bertanya, mendiskusikan dan memberi masukan apalagi menuntut.
Umar ra berkata:

“Saya marah terhadap istriku, ketika ia membantah pendapatku, saya tidak terima dia meluruskanku. Maka ia berkata; “Mengapa kamu tidak mau menerima pendapatku, demi Allah, bahwa istri-istri Rasulullah memberi pendapatnya kepada beliau, bahkan salah satu dari mereka ngambek dan tidak menyapanya sehari-semalam. Umar berkata; “Saya langsung bergegas menuju rumah Hafshah dan bertanya: “Apakah kamu memberi masukan kepada Rasulullah saw? ia menjawab: Ya. Umar bertanya lagi, “Apakah salah seorang di antara kalian ada yang ngambek dan tidak menegur Rasul selama sehari-semalam? Ia menjawab: Ya. Umar berkata: “Sungguh akan rugi orang yang melakukan demikian di antara kalian.”

Cara Nabi Meluruskan Keluarganya

Rasulullah saw tidak pernah menggap sepele kesalahan yang diperbuat oleh salah satu dari istri. Beliau pasti meluruskan dengan cara yang baik. Diriwayatkan dari Aisyah:

تقول عائشة رضي الله عنها: ما رأيت صانعة طعام مثل صفية صنعت لرسول الله طعاما وهو في بيتي، فارتعدت من شدة الغيرة فكسرت الإناء ثم ندمت فقلت: يا رسول الله ما كفارة ما صنعت؟ قال: إناء مثل إناء، وطعام مثل طعام.

“Saya tidak pernah melihat orang yang lebih baik di dalam membuatkan masakan, selain Shafiyah. Ia membuatkan hidangan untuk Rasulullah saw di rumahku. Seketika saya cemburu dan membanting piring beserta isinya.” Saya menyesal, seraya berkata kepada Rasulullah saw. “Apa kafarat atas perilaku yang saya lakukan?” Rasulullah saw menjawab: “Piring diganti piring, dan makanan diganti makanan.”

Rasulullah saw. menjadi pendengar yang baik. Beliau memberi kesempatan kepada istri-istrinya kebebasan untuk berbicara. Namun beliau tidak toleransi terhadap kesalahan sekecil apa pun. Aisyah berkata kepada Nabi setelah wafatnya Khadijah ra.:
“Kenapa kamu selalu mengenang seorang janda tua, padahal Allah telah memberi ganti kepadamu dengan yang lebih baik.” Maka Rasulullah saw marah, seraya berkata: “Sunggguh, demi Allah, Allah tidak memberi ganti kepadaku yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia menolongku ketika manusia memusuhiku. Saya dikaruniai anak darinya, yang tidak Allah berikan lewat selainnya.”

Muhammad Pelayan Bagi Keluarganya

Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan khidmah atau pelayanan ketika di dalam rumah. Beliau selalu bermurah hati menolong istri-istrinya jika kondisi menuntut itu. Rasulullah saw bersabda:

وكان يقول: (خدمتك زوجتك صدقة)

“Pelayanan Anda untuk istri Anda adalah sedekah.”

Adalah Rasulullah saw mencuci pakaian, membersihkan sendal dan pekerjaan lainnya yang dibutuhkan oleh anggota keluarganya.

Muhammad Berhias Untuk Istrinya

Rasulullah saw mengetahu betul kebutuhan sorang wanita untuk berdandan di depan laki-lakinya, begitu juga laki-laki berdandan untuk istrinya. Adalah Rasulullah saw paling tampan, paling rapi di antara manusia lainnya. Beliau menyuruh sahabat-sahabatnya agar berhias untuk istri-istri mereka dan menjaga kebersihan dan kerapihan. Rasulullah saw bersabda:

وكان يقول: (اغسلوا ثيابكم وخذوا من شعوركم واستاكوا وتزينوا وتنظفوا فإن بني إسرائيل لم يكونوا يفعلون ذلك فزنت نساؤهم).

“Cucilah baju kalian. Sisirlah rambut kalian. Rapilah, berhiaslah, bersihkanlah diri kalian. Karena Bani Isra’il tidak melaksanakan hal demikian, sehingga wanita-wanita mereka berzina.”

Muhammad dan Canda-Ria

Rasulullah saw tidak tidak lupa bermain, bercanda-ria dengan istri-istri beliau, meskipun tanggungjawab dan beban berat di pundaknya. Karena rehat, canda akan menyegarkan suasan hati, menggemberakan jiwa, memperbaharui semangat dan mengembalikan fitalitas fisik.

فعن عائشة – رضي الله عنها- أنها قالت خرجنا مع رسول الله (صلى الله عليه وسلم) في سفر فنزلنا منزل فقال لها : تعالي حتى أُسابقك قالت: فسابقته فسبقته، وخرجت معه بعد ذلك في سفر آخر فنزلنا منزلا فقال: تعالي حتى أسابقك قالت: فسبقني، فضرب بين كتفي وقال : هذه بتلك).

Dari Aisyah ra berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah saw dalam suatu safar. Kami turun di suatu tempat. Beliau memanggil saya dan berkata: “Ayo adu lari” Aisyah berkata: Kami berdua adu lari dan saya pemenangnya. Pada kesempatan safar yang lain, Rasulullah saw mengajak lomba lari. Aisyah berkata: “Pada kali ini beliau mengalahkanku. Maka Rasulullah saw bersabda: “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan sebelumnya.” Allahu A’lam

Ulis Tofa, Lc

Tentang Ulis Tofa, Lc

  Lahir di kota Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 05 April 1975. Menyelesaikan jenjang pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah di Ma’ahid Krapyak Kudus. Tahun 1994 melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta. Program… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (100 orang menilai, rata-rata: 9,32 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 18753 hits
  • Email 24 email
  • ratni sari

    subhanallah…..untuk para suami,semoga bisa menteladani rasulullah..dalam memperlakukan seorang istri dan membina rumah tangga…….

    • Bangun P_iin

      hanya ALLOH yang maha sempurna,dengan menciptakan tuntunan dan imam untuk umat manusia dengan sifat-sifat beliau sebagai manusia yang paling mulia.

  • Mnsiregar

    Semua tingkah Rasulullah layak dan mesti di dakwahkan. Alangkah baiknya tulisan ini jika disertai baris pada tulisan arabnya, hingga awam bisa membacanya serta melampirkan perawinya, hingga dapat dijadikan hujjah bagi siapa yang ingin mendakwahkannya. btw, syukran !

  • Yuddin Usaty

    Subbhanallah… Ya Allah jadikan aku seorang suami yang akhlaknya mirip seperti rasulullah SAW

    • Ditha

      yg bisa mengawini wanita lain setelah aku membunuh orang tua, suami dan saudara kandungnya.. amiin

  • Mahmud Muda

    Sahih Bukhari. Vol 3, Book 47. Gifts. Hadith 755.

    Terjemahan:

    Aisyah r.a. berkata
    bahwa istri-istri Rasulullah saw. terbagi menjadi dua kelompok.
    Kelompok pertama terdiri atas Aisyah, Hafshah, dan Saudah. Sementara
    kelompok kedua terdiri atas Ummu Salamah dan istri-istri Rasulullah saw.
    yang lain. Semua kaum muslimin sudah sama-sama tahu betapa cintanya
    Rasulullah saw. kepada Aisyah. Apabila ada salah seorang sahabat yang
    mempunyai hadiah yang akan dia berikan kepada Rasulullah saw., maka
    biasanya dia akan menangguhkan pemberian tersebut, sampai Rasulullah
    saw. sedang berada di rumah Aisyah. Suatu hari ada seorang sahabat yang
    mengirimkan hadiah kepada Rasulullah saw. ketika beliau sedang berada di
    rumah Aisyah. Rupanya hal itu diketahui oleh kelompok Ummu Salamah.
    Mereka berkata kepada Ummu Salamah: “Kamu bicaralah kepada Rasulullah
    saw. supaya beliau mau menasihati para sahabatnya: ‘Barangsiapa yang
    bermaksud memberikan hadiah kepada beliau, supaya dia berikan saja di
    rumah istri mana pun beliau berada.’ Ummu Salamah menyampaikan kepada
    Rasulullah saw apa yang diusulkan oleh kelompoknya itu. Akan tetapi
    beliau tidak menanggapi apa yang disampaikan Ummu Salamah itu sedikit
    pun. Ketika hal itu disampaikan kepada mereka, mereka tidak berputus
    asa. Mereka mendesak supaya Ummu Salamah mencobanya lagi. Ummu Salamah
    menurut saja. Sekali lagi dia sampaikan usulan kelompoknya itu kepada
    Rasulullah saw. di saat beliau tengah berada di rumahnya. Namun
    Rasulullah saw. juga tidak menanggapinya sedikit pun. Kelompok Ummu
    Salamah masih juga belum berputus asa. Mereka tetap membujuk Ummu
    Salamah agar mau melakukannya sekali lagi. Dan lagi-lagi Ummu Salamah
    menuruti kehendak mereka. Untuk ketiga kalinya Ummu Salamah
    nmenyampaikan hal itu kepada Rasulullah saw. pada saat beliau berada di
    rumahnya. Dan kali ini rupanya Rasulullah saw. mau menanggapi. Beliau
    berkata kepada Ummu Salamah: ‘Jangan kamu sakiti aku tentang Aisyah.
    Sesungguhnya wahyu tidak turun kepadaku ketika aku berada dalam kain
    seorang wanita (istri) kecuali Aisyah.’ Seketika itulah Ummu Salamah
    berkata: ‘Aku bertobat kepada Allah karena telah menyakitimu, wahai
    Rasulullah.’ Kemudian anggota kelompok Ummu Salamah tersebut memanggil
    Fathimah putri Rasulullah saw. Mereka mengutus Fathimah supaya
    menyampaikan pesan kepada Rasulullah saw. yang isinya: ‘Sesungguhnya
    istri-istrimu mendambakan supaya berlaku adil khususnya menyangkut putri
    Abu Bakar.’ Mendengar pesan yang disampaikan putrinya itu Rasulullah
    saw. berkata: ‘Wahai putriku, apakah kamu tidak menyenangi akan apa yang
    aku senangi?’ Fathimah menjawab: ‘Tentu saja ayah.’ Fathimah lalu
    pulang dan menceritakan kepada mereka tanggapan Rasulullah saw.
    tersebut. Ketika mereka membujuk Fathimah supaya balik lagi menghadap
    Rasulullah saw., dia menolak. Salanjutnya mereka mendesak Zainab binti
    Jahasy. Meski dengan terpaksa, akhirnya Zainab mau juga menemui
    Rasulullah saw. dan berkata: ‘Sesungguhnya istri-istrimu mendambakanmu
    supaya berlaku adil dalam memperlakukan putri Abu Quhafah.’ Zainab
    mengucapkan kata-katanya itu dengan suara yang agak keras, sehingga
    terdengar oleh Aisyah yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat itu.
    Aisyah sempat mencaci maki dalam hati. Kemudian Rasulullah saw. sejenak
    memandang Aisyah barangkali dia akan berbicara. Akhirnya Aisyah memang
    terpaksa berbicara untuk menangkis ucapan Zainab, sehingga Zainab
    terdiam dibuatnya. Selanjutnya Rasulullah saw. kembali memandangi Aisyah
    dan berkata: ‘Sesungguhnya dia adalah putri Abu Bakar.’”

    Dan perlakuan Muhammad kepada isterinya yang kedua Sauda adalah sangat tidak adil dan sangat memojokkan Sauda.

    Sauda yang gemuk dan sudah agak tua, terpaksa harus memberikan
    “jatahnya” kepada Aisah yang bagaikan makanan yang paling lezat agar
    Muhammad senang hatinya. Kenapa Sauda sampai berbuat demikian? Apakah
    atas kehendaknya sendiri atau ada suatu hal yang memaksanya berbuat
    demikian?

    Adilkah Muhammad dalam memperlakukan para isterinya, atau Muhammad pilih kasih?

    Adilkah Allah kepada seluruh umat Nya, atau Allah pilih kasih kepada Muhammad dalam urusan isteri dan wanita?

  • Sue Lastri

    Subhannalloh. Mudah2 calon suamiku bisa meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad SWT. Allohumma Amin.

  • Sue Lastri

    Maaf Nabi Muhammad SAW.

Iklan negatif? Laporkan!
85 queries in 0,986 seconds.