Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Mengajak Dengan Bukti

Mengajak Dengan Bukti

dakwatuna.com – Mengajak kepada kebaikan kadang tak ubahnya seperti nasib penjaja minyak wangi. Orang lebih melihat aroma si penjaja dari sekadar tawaran dan bujukannya. Bagaimana mungkin minyak wangi laku terbeli, jika bau tubuh si penjaja sudah menyatakan tidak.

Bahagianya jika diri dianggap oleh orang lain. Segala ucapan tidak dinilai sebelah mata. Dan ajakan menjadi ramuan mujarab yang diperhatikan banyak orang. Sayangnya, keinginan itu kadang sulit jadi kenyataan. Tidak jarang, bagusnya ucapan dan ajakan seseorang menjadi kurang didengar lantaran tidak sejalan dengan perbuatan.

Islam merupakan agama ucapan dan perbuatan. Kebaikan yang dilakukan seorang muslim mengalir seperti air. Diawali dari niat, terucap dalam lisan, dan terbukti dalam perbuatan.

Masalahnya, bagaimana mungkin seorang muslim bisa sebatas bicara. Tapi tak mampu membuktikan dalam perbuatan. Lebih repot lagi ketika ucapan atau ajakan kepada kebaikan Islam tertuju pada orang lain. Bisa berbentuk nasihat, teguran, arahan, dan mungkin pengajaran. Hampir bisa dibilang pasti, objek bicara akan melihat, mengukur, dan selanjutnya menilai siapa yang bicara.

Kalau penilaian positif, objek akan menerima arahan, ajakan, atau nasihat dengan lapang dada. Ia mulai bercermin kepada si pembicara. “Ah, selama ini saya memang salah. Saya khilaf!” begitulah kira-kira respon yang mungkin muncul.

Tapi tidak begitu kalau penilaiannya negatif. Kemungkinan besar, objek bicara sibuk menimbang: antara bobot arahan yang diterima dengan mutu si pembicara. Tanpa sadar, si pendengar mungkin akan memberikan reaksi tersembunyi: kok bagusan ucapannya daripada perbuatannya!

Memang, akhlak Islam mengajarkan siapa pun untuk melihat isi ucapan. Bukan siapa yang berucap. Dari situ, nilai-nilai kebaikan akan selalu menyebar dari mulut siapa pun. Termasuk dari orang bodoh atau anak kecil.

Cuma masalahnya, ketika ucapan mengatasnamakan kebaikan Islam kemudian berinteraksi pada persoalan nyata, ucapan menjadi tidak bisa berdiri sendiri. Perlu ada bukti. Sangat wajar kalau kemudian pendengar mengukur dengan seksama. Dan itu didorong keingintahuan yang lebih dalam tentang apa yang diajarkan. Seperti apakah keindahan isi ucapan itu dalam perbuatan. Bagaimanakah keseharian si pembicara. Itukah cerminan asli mutu subjek bicara. Oh, ternyata begitu. Dan seterusnya.

Keingintahuan yang lebih jauh itu ternyata punya pengaruh positif. Pendengar menjadi semakin paham. Dan pemahaman itu mulai mengalir dalam bukti nyata perbuatan. Saat itulah, ia butuh keteladanan.

Allah swt. melarang Bani Israel cuma bisa omong doang. Bisanya cuma nyuruh orang lain melakukan kebaikan. Tapi, diri sendiri melakukan keburukan. “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Alkitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (Al-Baqarah: 44)

Ibnu Abbas meriwayatkan sebab turunnya ayat ini berkenaan dengan kelakuan seorang Yahudi di Madinah. Si Yahudi mengatakan kepada mantu dan kerabatnya yang telah masuk Islam, “Tetaplah kamu pada agama yang kamu anut (Islam) dan apa-apa yang diperintahkan oleh Muhammad, karena perintahnya benar.” Yahudi ini menyuruh orang lain berbuat baik, tapi dirinya sendiri tidak. Ayat ini sekaligus sebagai peringatan dan pelajaran buat umat Islam agar tidak seperti si Yahudi Madinah itu.

Pertanyaannya, kenapa bisa muncul sifat seperti itu. Bagaimana mungkin seseorang cuma bisa bicara tentang kebaikan, tapi tidak bisa membuktikan dalam perbuatan.

Pertama, si pembicara kurang memahami apa yang diucapkan. Ia cuma menyampaikan apa yang pernah ia dengar. Persis seperti anak kecil yang menghafal kata-kata ibunya: anak baik tidak boleh cengeng. Tiapkali bertemu teman, si anak mengulang-ulang kalimat itu. Tapi kenyataannya, dia sendiri masih biasa cengeng.

Kemungkinan kedua, kurangnya keikhlasan si pembicara. Ia mengajak orang lain kepada kebaikan bukan karena ingin mencari ridha Allah. Tapi, mungkin karena ada kepentingan pribadi. Misalnya, ingin dianggap sebagai orang pintar, supaya bisa terkenal baik, mengharap imbalan materi, bisa dicintai orang, dan lain-lain. Ucapannya mirip seperti bahasa iklan. Selalu baik. Pokoknya, bagaimana supaya orang mau membeli. Ucapannya tak lebih dari hiasan bibir. Terkesan indah, tapi tanpa bukti.

Sebab ketiga, adanya penyakit hati yang merembes lewat lidah. Boleh jadi, orang ini biasa membual. Ia sudah terbiasa mengolah kata-kata seindah mungkin agar orang lain tidak mengenal kebusukan si pembicara. Persis seperti topeng badut yang selalu tersenyum lucu, padahal si pemakainya sedang cemberut.

Buat yang ketiga ini, penyimpangannya begitu besar menurut Islam. Model orang seperti ini digolongkan Islam sebagai munafik. Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga tanda orang munafik; apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. Muslim)

Mungkin, ada sebab lain kenapa perbuatan tidak sejalan dengan ucapan. Yang jelas, orang yang sukses membuktikan ucapannya dalam bukti perbuatan punya kesan yang jauh lebih dalam. Begitulah teladan umat, Rasulullah saw. Ketika Rasulullah menyuruh untuk menyayangi anak yatim, beliau saw. terlebih dahulu mengasuh anak yatim di rumahnya sendiri. Ketika beliau saw. mengatakan tentang kebenaran Islam. Tak seorang pun kafir Quraisy yang membantah. Karena terbukti, Muhammad saw. tidak pernah dusta.

Indahnya hidup ketika ucapan benar-benar dianggap dan dipatuhi orang lain. Persis seperti pedagang minyak wangi yang tak perlu repot-repot berteriak, “Minyak wangi bagus, nih!” Cukup dengan memperlihatkan mutu aroma pada produk dan tentu saja diri, orang langsung tertarik.

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pria yang kerap dipanggil "Nuh" ini berlatar pendidikan dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Gunadarma. Lahir di Jakarta dan saat ini produktif sebagai seorang penulis Dirosah, Nasihat, dan Ruang Keluarga di Majalah SAKSI. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia, Mati Syahid".
  • rumaisa

    salaam. taujih yang sangat bernilai dan penting untuk seorang daie. jazakallahu khairan katheera!

  • Yoso

    Assalamu'alaikum. Subhanallah..sebuah tadzkiroh yang luar biasa untuk para da'i. Untuk sebuah perbuatan saja -bersyukur-kita mudah mengucapkan dan menganjurkan kepada orang lain. Tapi seringkali kita sendiri masih belum bersyukur kepada-Nya. Sebuah tantangan buat para da'i….

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Syarat Memesan Tiket ke Surga