Home / Narasi Islam / Sejarah / Tiga Kisah Lima Sahabat

Tiga Kisah Lima Sahabat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah: 245)

Suatu ketika Rasulullah saw. membacakan ayat itu kepada para sahabat. Tiba-tiba Abu Darda r.a. berdiri, ia berkata, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.” Abu Darda kembali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.”

“Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda,” pinta Abu Darda r.a. tiba-tiba. Rasulullah saw. balik bertanya, “Untuk apa?” Lalu Abu Darda menjelaskan, “Aku memiliki kebun, dan tidak ada seorang pun yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan kepada Allah.” “Engkau pasti akan mendapatkan tujuh ratus lipat kebun yang serupa, wahai Abu Darda,” kata Rasulullah saw.

Abu Darda mengucapkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Lantas ia segera pergi ke kebunnya. Ia mendapati istri dan anaknya sedang berada di dalam kebun itu. Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma yang sedang dimakannya.

“Wahai Ummu Darda, wahai Ummu Darda! Keluarlah dari kebun itu. Cepat. Karena kita telah meminjamkan kebun itu kepada Allah!” teriak Abu Darda.

Istrinya paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang muslimah yang dididik langsung oleh Rasulullah saw. Segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma yang ada di dalam mulut anaknya. “Muntahkan, muntahkan. Karena kebun ini sudah menjadi milik Allah swt. Ladang ini sudah menjadi milik Allah swt.,” ujarnya kepada sang anak.

Subhanallah! Begitulah Ummu Darda, seorang wanita yang begitu yakin rezki datang dari Allah swt. dan bersuamikan seorang sahabat Nabi yang begitu yakin akan janji Allah swt. Kalau saja para suami zaman ini punya istri seperti Ummu Darda, pasti mereka akan mudah saja berinfak tanpa berpikir dua kali. Kalau saja para istri zaman sekarang punya suami model Abu Darda, pasti mereka akan mendapatkan kemuliaan dari Allah.

Sekarang simaklah kisah kedua ini. Suatu hari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab r.a. dikirimi harta yang banyak. Beliau memanggil salah seorang pembatu yang berada di dekatnya. “Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut,” begitu perintah Umar kepadanya.

Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya. Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubaidah, ia berkata, “Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada Anda, ‘Silakan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja yang Anda kehendaki’.”

Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah mengaruniainya keselamatan dan kasih sayang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat.” Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya. “Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini!.” Lalu mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin, sampai seluruh harta ini habis diinfakkan.

Pembantu Umar pun kembali pulang. Umar pun memberinya uang sebesar empat ratus dirham seraya berkata, “Berikan harta ini kepada Muadz bin Jabal!” Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz dengan harta itu. Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah Muadz bin Jabal dan berhenti sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Muadz terhadap harta tersebut.

Muadz memanggil hamba sahayanya. “Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!” Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga harta itu habis sama sekali di bagi-bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat dari dalam rumah, lalu berkata, “Demi Allah, aku juga miskin.” Muadz berkata, “Ambillah dua dirham saja.”

Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu dirham, lalu berkata, “Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!” Ternyata Saad pun melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya. Pulanglah sang pembantu kepada Umar. Kemudian Umar menangis dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah.”

Begitulah para sahabat ketika mendapat harta. Tidak sampai sehari harta itu diinfakkan dengan begitu ringannya.

Yang ini kisah ketiga. Munginkah kita bisa mencontohnya?

Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah r.a. pulang ke rumah dengan membawa uang sebanyak seratus ribu dirham. Istrinya mendapati raut wajah Thalhah begitu bersedih.

Sang istri bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai suamiku?” Thalhah menjawab, “Harta yang banyak ini, aku takut jika bertemu dengan Allah, lalu aku ditanya tentang dirham ini satu per satu.”

Istrinya lalu berkata, “Ini masalah yang sangat mudah. Mari kita bagi-bagikan harta ini. Bawalah harta ini dan bagikan kepada para fakir miskin yang ada di Kota Madinah.”

Thalhah pun bersama istrinya meletakkan harta itu di sebuah wadah, lalu membagi-bagikan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Setelah itu ia kembali ke rumah dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diriku bertemu dengan-Nya sedangkan aku dalam keadaan bersih dan suci.”

Subhanallah! Sungguh mereka orang-orang langit yang ringan melepas dunia.

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (87 votes, average: 9,18 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mochamad Bugi
Mochamad Bugi lahir di Jakarta, 15 Mei 1970. Setelah lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, ia pernah mengecap pendidikan di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosah Islamiyah Al-Hikmah. Sempat belajar bahasa Arab selama musim panas di Universitas Ummul Qura', Mekkah, Arab Saudi.Bapak empat orang anak ini pernah menjadi redaktur Majalah Wanita UMMI sebelum menjadi jabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Politik dan Dakwah SAKSI. Ia juga ikut membidani penerbitan Tabloid Depok Post, Pasarmuslim Free Magazine, Buletin Nida'ul Anwar, dan Majalah Profetik. Jauh sebelumnya ketika masih duduk di bangku SMA, ia menjadi redaktur Buletin Al-Ikhwan.Bugi, yang ikut membidani lahirnya grup pecinta alam Gibraltar Outbound Adventure ini, ikut mengkonsep pendirian Majelis Pesantren dan Ma'had Dakwah Indonesia (MAPADI) dan tercatat sebagai salah seorang pengurus. Ia juga Sekretaris Yayasan Rumah Tafsir Al-Husna, yayasan yang dipimpin oleh Ustadz Amir Faishol Fath.
  • sherly

    Subhanallah…
    Maha Suci Bagi Allah yang telah menciptakan semua makhluknya… Semoga kita bisa mencotoh sifat2 dari sahabat2 Rasulullah saw. amin… yang mana mereka tidak hanya memikirkan dunia semata/diri sendiri melainkan ikut memikirkan orang-orang yang kurang mampu disekitarnya.Semoga dengan cerita ini pintu hati kita akan terbuka untuk menolong saudara sesama muslim/muslimah di jalan Allah SWT.amin…

    From : sherly (KAL-TENG)

  • sherly

    Assalamualaikum wr. wb.
    Cerita ini sangat patut untuk diteladani serta diterapkan dalam kehidupan.Selain sebagai amal ibadah dijalan Allah,juga sebagai rasa kepedulian sesama muslim yang memang patut untuk dibantu.
    semoga menjadikan kita lebih mengingat akan kekuasaan Allah.. amin….Wassalam..(KAL-TENG)

  • Ass.wr.wb, sungguh keimanan para Shahabat tidak ada yang menyamai, mudah2an kita penerus Risalah Rasulullah dapat melaksanakannya, dan semoga keimanan kita semakin bertambah, amin ya Rabbal ‘alamin.

  • yani

    Ya Allah ,,, berilah aku pemahaman ini…..berilah aku pemahaman ini!!!

  • eka nurfalah

    aswb,subhanallah dakwah bkan lagi sesuatu yang asing ,skrang ia bsa di nikmati oleh kalangan manapun ,smoga dg itu panji allah akan berkibar di mana-mana,keep spirit of dakawah

  • subhanallah, subhanallah, subhanallah

  • subhanallah,subhanallah,subhanallah

  • subhanallah … boleh tahu sumber2 kisah di atas drmana ? riwayatnya ? jazakallahu khair

  • ahmad

    mengapa Allah butuh pinjaman lagi? bukankah ini terbalik karena sebenarnya semua ini milikNya yang dipinjamkan/dititipkan kepada kita umatNya? mohon penjelasan

    • Dicky Anggoro Wicaksono

      Mungkin ini maksudnya hanya istilah saja.. Allah tidak perlu apa2 lagi.. jadi apa yg kita nafkahkan di jalanNya langsung dikembalikan dengan berlipat ganda.. karena Allah sudah tidak butuh apa2 lagi.. begitu menurut saya.. mohon koreksinya!

  • Masih adakah sifat Orang-orang seperti para sahabat nabi itu di jaman sekarang ???
    Saat ini Banyak orang yg lebih mementingkan dirinya, keluarganya dan kolega-koleganya. Bahkan yg lebih parah lg banyak orang yg mengorbankan orang lain utk kepentingan pribadnya. Nauzubillah….

  • Assalamualaikum wr. wb.
    Memang indah kisah diatas apa lagi kita sebagai seorang muslim bisa mengaplikasikannya, tapi saat ini banyak hati telah ternodai oleh kenikmatan semu dunia sehingga mata hati sudah tidak bisa melihat keindahan sebenarnya dari sang pencipta Alloh SWT. Untuk Alloh kita serahkan dan dijalan Alloh kita berjalan, untuk Islam selalu ditegakkan dari kaum jahiliah yang selalu ingin menghancurkan.

  • Tiut

    Sahabat-sahabat Rasul SAW memang bagaikan bintang yang menghias kelamnya malam. Mereka bak malaikat yang tak ada hati dengan dunia. Benar-benar didikan yang luar biasa dari Rasulullah SAW. Fantastic!

  • Subhanallah………

  • cahyo

    adakah jaman skarang orang2 seperti itu ksih tau saya ya gue mau belajar ama dia

  • agus lukman muttaqiin

    subhanalloh… andai kita bisa di sekeliling mereka atau ada orang-orang yang mirip dengan mereka saat ini.. mungkin….

  • zuhri.

    allahuakbar,..
    ya allah hanya kepada mu temapat mengadu,..berikan aq istri y soleha bagaikan istri para sahabat Rosul Muhammad SAW.amin

  • singgih

    Walaupun terasa berat melakukan hal itu, semoga kita semua bisa melaksanakan minimal semampu yang kita bisa seperti para sahabat Rosulullah SAW….
    Ya Allah beri kekuatan dan keimanan pada kami…….

  • mary ann

    Subhanallah..sangat menyentuh…”muntahkan, muntahkan, ini milik Allah..”

  • muqorrobin

    jazakumullah khayran….

  • aminudin

    Saya terenyuh dengah kisah itu, saya kagum dengan mereka. Adakah pemimpin kita zaman kini yang seperti mereka ? Kunjungi : http://www.islam-waylife.blogspot.com

Lihat Juga

Ilustrasi. (dakwatuna)

Respons Ulama Sunni Terhadap Pengkafiran Sahabat Rasulullah SAW