Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Empat Kejahatan Orang Tua Terhadap Anak

Empat Kejahatan Orang Tua Terhadap Anak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Rasulullah saw. sangat penyayang terhadap anak-anak, baik terhadap keturunan beliau sendiri ataupun anak orang lain. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. mencium Hasan bin Ali dan didekatnya ada Al-Aqra’ bin Hayis At-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah saw. segera memandang kepadanya dan berkata, “Man laa yarham laa yurham, barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari di Kitab Adab, hadits nomor 5538).

Bahkan dalam shalat pun Rasulullah saw. tidak melarang anak-anak dekat dengan beliau. Hal ini kita dapat dari cerita Abi Qatadah, “Suatu ketika Rasulullah saw. mendatangi kami bersama Umamah binti Abil Ash –anak Zainab, putri Rasulullah saw.—Beliau meletakkannya di atas bahunya. Beliau kemudian shalat dan ketika rukuk, Beliau meletakkannya dan saat bangkit dari sujud, Beliau mengangkat kembali.” (HR. Muslim dalam Kitab Masajid wa Mawadhi’ush Shalah, hadits nomor 840).

Peristiwa itu bukan kejadian satu-satunya yang terekam dalam sejarah. Abdullah bin Syaddad juga meriwayatkan dari ayahnya bahwa, “Ketika waktu datang shalat Isya, Rasulullah saw. datang sambil membawa Hasan dan Husain. Beliau kemudian maju (sebagai imam) dan meletakkan cucunya. Beliau kemudian takbir untuk shalat. Ketika sujud, Beliau pun memanjangkan sujudnya. Ayahku berkata, ‘Saya kemudian mengangkat kepalaku dan melihat anak kecil itu berada di atas punggung Rasulullah saw. yang sedang bersujud. Saya kemudian sujud kembali.’ Setelah selesai shalat, orang-orang pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, saat sedang sujud di antara dua sujudmu tadi, engkau melakukannya sangat lama, sehingga kami mengira telah terjadi sebuha peristiwa besar, atau telah turun wahyu kepadamu.’ Beliau kemudian berkata, ‘Semua yang engkau katakan itu tidak terjadi, tapi cucuku sedang bersenang-senang denganku, dan aku tidak suka menghentikannya sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. An-Nasai dalam Kitab At-Thathbiq, hadits nomor 1129).

Usamah bin Zaid ketika masih kecil punya kenangan manis dalam pangkuan Rasulullah saw. “Rasulullah saw. pernah mengambil dan mendudukkanku di atas pahanya, dan meletakkan Hasan di atas pahanya yang lain, kemudian memeluk kami berdua, dan berkata, ‘Ya Allah, kasihanilah keduanya, karena sesungguhnya aku mengasihi keduanya.'” (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5544).

Begitulah Rasulullah saw. bersikap kepada anak-anak. Secara halus Beliau mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan anak-anaknya. Beliau juga mencontohkan dalam praktik bagaimana bersikap kepada anak dengan penuh cinta, kasih, dan kelemahlembutan.

Karena itu, setiap sikap yang bertolak belakang dengan apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., adalah bentuk kejahatan kepada anak-anak. Setidak ada ada empat jenis kejahatan yang kerap dilakukan orang tua terhadap anaknya.

Kejahatan pertama: memaki dan menghina anak

Bagaimana orang tua dikatakan menghina anak-anaknya? Yaitu ketika seorang ayah menilai kekurangan anaknya dan memaparkan setiap kebodohannya. Lebih jahat lagi jika itu dilakukan di hadapan teman-teman si anak. Termasuk dalam kategori ini adalah memberi nama kepada si anak dengan nama yang buruk.

Seorang lelaki penah mendatangi Umar bin Khattab seraya mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar kemudian memanggil putra orang tua itu dan menghardiknya atas kedurhakaannya. Tidak lama kemudan anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sang anak memiliki hak atas orang tuanya?”
“Betul,” jawab Umar.
“Apakah hak sang anak?”
“Memilih calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya Al-Qur’an,” jawab Umar.
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang engkau sebutkan. Adapun ibuku, ia adalah wanita berkulit hitam bekas hamba sahaya orang majusi; ia menamakanku Ju’lan (kumbang), dan tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an,” kata anak itu.
Umar segera memandang orang tua itu dan berkata kepadanya, “Engkau datang untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”

Rasulullah saw. sangat menekankan agar kita memberi nama yang baik kepada anak-anak kita. Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama kalian.” (HR. Abu Dawud dalam Kitab Adab, hadits nomor 4297).

Karena itu Rasulullah saw. kerap mengganti nama seseorang yang bermakna jelek dengan nama baru yang baik. Atau, mengganti julukan-julukan yang buruk kepada seseorang dengan julukan yang baik dan bermakna positif. Misalnya, Harb (perang) menjadi Husain, Huznan (yang sedih) menjadi Sahlun (mudah), Bani Maghwiyah (yang tergelincir) menjadi Bani Rusyd (yang diberi petunjuk). Rasulullah saw. memanggil Aisyah dengan nama kecil Aisy untuk memberi kesan lembut dan sayang.

Jadi, adalah sebuah bentuk kejahatan bila kita memberi dan memanggil anak kita dengan sebutan yang buruk lagi dan bermakna menghinakan dirinya.

Kejahatan kedua: melebihkan seorang anak dari yang lain

Memberi lebih kepada anak kesayangan dan mengabaikan anak yang lain adalah bentuk kejahatan orang tua kepada anaknya. Sikap ini adalah salah satu faktor pemicu putusnya hubungan silaturrahmi anak kepada orang tuanya dan pangkal dari permusuhan antar saudara.

Nu’man bin Basyir bercerita, “Ayahku menginfakkan sebagian hartanya untukku. Ibuku –’Amrah binti Rawahah—kemudian berkata, ‘Saya tidak suka engkau melakukan hal itu sehinggi menemui Rasulullah.’ Ayahku kemudian berangkat menemui Rasulullah saw. sebagai saksi atas sedekah yang diberikan kepadaku. Rasulullah saw. berkata kepadanya, ‘Apakah engkau melakukan hal ini kepada seluruh anak-anakmu?’ Ia berkata, ‘Tidak.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.’ Ayahku kemudian kembali dan menarik lagi sedekah itu.” (HR. Muslim dalam Kitab Al-Hibaat, hadits nomor 3055).

Dan puncak kezaliman kepada anak adalah ketika orang tua tidak bisa memunculkan rasa cinta dan sayangnya kepada anak perempuan yang kurang cantik, kurang pandai, atau cacat salah satu anggota tubuhnya. Padahal, tidak cantik dan cacat bukanlah kemauan si anak. Apalagi tidak pintar pun itu bukanlah dosa dan kejahatan. Justru setiap keterbatasan anak adalah pemacu bagi orang tua untuk lebih mencintainya dan membantunya. Rasulullah saw. bersabda, “Rahimallahu waalidan a’aana waladahu ‘ala birrihi, semoga Allah mengasihi orang tua yang membantu anaknya di atas kebaikan.” (HR. Ibnu Hibban)

Kejahatan ketiga: mendoakan keburukan bagi si anak

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tsalatsatu da’awaatin mustajaabaatun: da’watu al-muzhluumi, da’watu al-musaafiri, da’watu waalidin ‘ala walidihi; Ada tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa (keburukan) orang tua atas anaknya.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1828)

Entah apa alasan yang membuat seseorang begitu membenci anaknya. Saking bencinya, seorang ibu bisa sepanjang hari lidahnya tidak kering mendoakan agar anaknya celaka, melaknat dan memaki anaknya. Sungguh, ibu itu adalah wanita yang paling bodoh. Setiap doanya yang buruk, setiap ucapan laknat yang meluncur dari lidahnya, dan setiap makian yang diucapkannya bisa terkabul lalu menjadi bentuk hukuman bagi dirinya atas semua amal lisannya yang tak terkendali.

Coba simak kisah ini. Seseorang pernah mengadukan putranya kepada Abdullah bin Mubarak. Abdullah bertanya kepada orang itu, “Apakah engkau pernah berdoa (yang buruk) atasnya.” Orang itu menjawab, “Ya.” Abdullah bin Mubarak berkata, “Engkau telah merusaknya.”

Na’udzubillah! Semoga kita tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang itu. Bayangkan, doa buruk bagi anak adalah bentuk kejahatan yang akan menambah rusak si anak yang sebelumnya sudah durhaka kepada orang tuanya.

Kejahatan keempat: tidak memberi pendidikan kepada anak

Ada syair Arab yang berbunyi, “Anak yatim itu bukanlah anak yang telah ditinggal orang tuanya dan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan hina. Sesungguhnya anak yatim itu adalah yang tidak dapat dekat dengan ibunya yang selalu menghindar darinya, atau ayah yang selalu sibuk dan tidak ada waktu bagi anaknya.”

Perhatian. Itulah kata kuncinya. Dan bentuk perhatian yang tertinggi orang tua kepada anaknya adalah memberikan pendidikan yang baik. Tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal adalah bentuk kejahatan orang tua terhadap anak. Dan segala kejahatan pasti berbuah ancaman yang buruk bagi pelakunya.

Perintah untuk mendidik anak adalah bentuk realisasi iman. Perintah ini diberikan secara umum kepada kepala rumah tangga tanpa memperhatikan latar belakang pendidikan dan kelas sosial. Setiap ayah wajib memberikan pendidikan kepada anaknya tentang agamanya dan memberi keterampilan untuk bisa mandiri dalam menjalani hidupnya kelak. Jadi, berilah pendidikan yang bisa mengantarkan si anak hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

Perintah ini diberikan Allah swt. dalam bentuk umum. “Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Adalah sebuah bentuk kejahatan terhadap anak jika ayah-ibu tenggelam dalam kesibukan, sehingga lupa mengajarkan anaknya cara shalat. Meskipun kesibukan itu adalah mencari rezeki yang digunakan untuk menafkahi anak-anaknya. Jika ayah-ibu berlaku seperti ini, keduanya telah melanggar perintah Allah di surat Thaha ayat 132. “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”

Rasulullah saw. bersabda, “Ajarilah anak-anakmu shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila tidak melaksanakan shalat) pada usaia sepuluh tahun.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Shalah, hadits nomor 372).

Ketahuilah, tidak ada pemberian yang baik dari orang tua kepada anaknya, selain memberi pendidikan yang baik. Begitu hadits dari Ayyub bin Musa yang berasal dari ayahnya dan ayahnya mendapat dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Maa nahala waalidun waladan min nahlin afdhala min adabin hasanin, tak ada yang lebih utama yang diberikan orang tua kepada anaknya melebihi adab yang baik.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1875. Tirmidzi berkata, “Ini hadits mursal.”)

Semoga kita tidak termasuk orang tua yang melakukan empat kejahatan itu kepada anak-anak kita. Amin.

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (186 votes, average: 9,37 out of 10)
Loading...Loading...
Mochamad Bugi
Mochamad Bugi lahir di Jakarta, 15 Mei 1970. Setelah lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, ia pernah mengecap pendidikan di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosah Islamiyah Al-Hikmah. Sempat belajar bahasa Arab selama musim panas di Universitas Ummul Qura', Mekkah, Arab Saudi.Bapak empat orang anak ini pernah menjadi redaktur Majalah Wanita UMMI sebelum menjadi jabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Politik dan Dakwah SAKSI. Ia juga ikut membidani penerbitan Tabloid Depok Post, Pasarmuslim Free Magazine, Buletin Nida'ul Anwar, dan Majalah Profetik. Jauh sebelumnya ketika masih duduk di bangku SMA, ia menjadi redaktur Buletin Al-Ikhwan.Bugi, yang ikut membidani lahirnya grup pecinta alam Gibraltar Outbound Adventure ini, ikut mengkonsep pendirian Majelis Pesantren dan Ma'had Dakwah Indonesia (MAPADI) dan tercatat sebagai salah seorang pengurus. Ia juga Sekretaris Yayasan Rumah Tafsir Al-Husna, yayasan yang dipimpin oleh Ustadz Amir Faishol Fath.

Lihat Juga

La-Sonya (kiri) dan ibunya Franchine Simmons (metro.co.uk)

38 Tahun Terpisah, Ternyata Ibu dan Anak Ini Bekerja dalam Satu Perusahaan

  • http://maaini.wordpress.com yanti

    Ya… itu yang sekarang banyak dilakukan oleh para orang tua…

    Saya sedih… melihatnya…
    Apalagi… orang tua punya "hak preogratif" terhadap anak… dengan doa-doanya yang diijabah Allah…

    Ya Allah ampunilah kami…
    hmmm ada satu lagi postingan ttg anak… kalau sempat baca klik ya.. d ihttp://maaini.wordpress.com/2008/03/29/surat-untuk-anak-anakku/

    Semoga Allah menjaga silahturahmi kita…. Amin

  • http://www.dakwatu.com Anita

    Ass…bagaimanapun ortu mempunyai peran yang amat sangat penting dalam melobi atau mendidik anak,tp kebanyakan ortu tak menyadari semua itu,ak mau bertanya bila ortu kta tidak mengajari kita ilmu bagaima mengenal ALLAH SWT dan menjalankan perintahnya karna ketidak tahuan mereka (awam)apakah mereka berdosa?yaallah ampuni dosa2 orang tua kami dan jadikan kami kelak menjadi orang tua yang baik untuk anak2 kami aminnn..

  • inda

    sabar ya…menurut ane kita dulu yang muda cari ilmu agama. ikut pengajian. liqo' atau ta'lim. terus gali wawasan. terus…shering deh sama ortu dengan cara yang hasan.

  • Syamsu MQ

    Jazzakallah atas tulisannya, semoga amal ibadah antum mendapat pahala dari Allah Azza wa Jalla.

  • Juli H

    Assalamu’alaikum WW.
    Syukron.. jazakallah atas artikelnya yg multi manfaat.. ana merasa ada fragmen kehidupan pribadi scr kebetulan terkupas..syukron

  • naru

    hai
    isinya bagus2 juga tapi ayat-ayat n hadist nya diperbanyak ya

  • aini

    Assalammu’alikum. wr.wb. jazakumullah atas artikel yang sudah ustadz buat.Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa orang tua hamba…amiin.Semoga Allah senantiasa menjaga jundiyah2 kami dalam ketaatan kepada-Nya dan semoga Allah senantiasa menjaga,dan membantu kami dalam mendidik putri2 kami untuk menjadi anak2 yang sholehah,hafidzoh,cerdas yang berguna bagi agama, bangsa dan menjadi penyejuk hati ummi-abi.Ya Allah jagalah diri ini dalam mendidik amanah-Mu.

    Jazakumulah khoiron katsiron kepada ustadz atas artikel yang dibuat ini,smoga membantu para orang tua dalam mendidik buah hati yang dicintainya karena Allah

  • Nabila

    Assalamualaikum saya ingin berbagi pengalaman,sejak kecil ibu saya selalu membedakan saya dengan kakak tertua saya bahkan hingga saya menikah. Sejak ayah saya meninggal saya yang membantu keuangan keluarga saya biayai sekolah adik2saya tapi saya tidak tahu mengapa ibu saya tidak pernah merasa puas akan semua yang telah saya lakukan.malah ibu saya selalu menjelekkan saya dan suami kepada tetangga dan mendoakan kehancuran rumah tangga saya,apakah berdosa jika saya kecewa thd ibu saya?

    • ita

      Sabar Ya Mbak Nabilla, Mbak Sebagai Anak Yg Berjiwa Besar, Hanya Selalu Berdoa Untuk Ibu Agar Di Bukakan Pintu Hatinya Untuk Ingat Pada Mbak Sebelum Semua Berakhir…. Ingat “ALLAH” maha pengasih dan penyayang.Akan kudoakan mbak nabilla bisa bersabar selamanya(amien)

  • imam haqiqi

    Subhanallah…semoga tulisan ini dapat dijadikan pengingat bagi para orang tua…..karena 4 hal itu betul-betul telah terjadi di negeri kita ini..

  • Abi Ihsan

    Bagus sekali. Artikel ini mengingatkan kita sebagai orang tua untuk senantiasa memperhatikan anak-anak kita sesuai dengan ketentuan islam dalam semua aspek kehidupan, dan juga telah mengingatkan kita dari kelalaian akibat kesibukan-kesibukan duniawi kita sehingga bisa terjebak ke dalam salah satu atau semua kejahatan tsb.

  • iman

    kenapa bayi yang baru lahir menangis?

  • umi azzam

    setuju,nasehat ini penting banget di sebarkan ke orang tua yang masih semena -mena terhadap anaknya.

  • arifin h

    Artikel ini sangat baik bagi yang membacanya. terima kasih Pak Mochamad Bugi

  • Lia

    Begitu indahnya Agama Islam… sehingga selalu berlaku adil terhadap siapapun

  • Ayyaz

    Org tua sy tdk pernah sdar sudah melakukan kjahatan,dr kecil sy sudah ddokrin hal2 yg jelek..drmh sy hanya dpt teori ttg kbaikan..tp prakteknya justru ortu sy yg nunjukin/ngajari ktidakbaikan. sy blajar baik dr lingkungan dluar rmh..

    • johnmar114

      ANAKKU AYYAZ, ini kesempatan engkau menjadi anak yg berbakti pada orang tua mu…berdoalah anakku agar Allah SWT membukakan pintu HidayahNYA kepada orang tuamu dan berilah contoh berkelakuan moslem kepada orang tuamu walau siksa yg akan kau terima…kesempatan ini mumpung orang tuamu masih hidup hingga ada waktu baginya bertaubat dan melaksanakan akidah serta kaidah dengan benar…Insya Allah anakku..

      • dian

        Pak Bugi,

        sungguh menjadi pelajaran bagi kita semua. Kita tidak boleh terperangkap pada tradisi atau penilaian masyarakat yang telah menjadi lumrah bahwa apapun yang dilakukan orang tua kepada anaknya, tidaklah ada yang dapat dianggap sebagai dosa orangtua kepada anak. terima kasih atas infonya

  • ummu faiz

    anak adlh investasi ortu jangka panjang

    • husni

      apa balasan bagi orang tua yang durhaka kepada anaknya?? apakah orang tua tersebut di haramkan masuk surganya Allah walau ia rajin beribadah?

  • itha

    Ya Allah,hanya karena pacar saya mau melamar saya,tadi pagi orang tua saya berkata sambil marah2 kepada saya kalau mereka menyesal menyekolahkan saya,seandaix mereka tahu kalau keadaanx seperti sekarang ini mereka membunuh saya sewaktu saya masih kecil..Ya Allah,apakah Hamba sudah terlalu berdosa kepada mereka..???padahal umur saya sudah 31 tahun…

  • Swarsita

    jadilah orang tua yang selalu banyak membaca agar tidak terlalu angkuh dan sombong!!!

  • Pingback: Tweets that mention Empat Kejahatan Orang Tua Terhadap Anak | dakwatuna.com -- Topsy.com()

  • Budi_setiawan96

    ustad ijin share ya

  • caca qu

    Assalamuallaikum, Dari Pengalamanku Sebagai menantu kata2 buruk dan menyakitkan yang aku dapatkan dr keluarga suami, bahkan hinaan terhadap orang tuaku pun sempat terucap dari bibir mertuaku, namun semua itu hanya dapat aku pasrahkan pada “allah” Atas apa yang mereka lakukan padaku. semoga “allah” cepat membukakan pintu hati mereka agar sadar akan semua perbuatannya yg sombong,angkuh dan sok kaya itu Sebelum Mereka Menutup Mata Selamanya, karna semua itu juga titipan “allah” sementara di dunia.

    • medha

      Mbak Caca ,kalo bisa kita ridho ,memaafkan segala perbuatan yang sudah mereka lakukan,walaupun hati terasa sakit dan sedih,sabar adalah kunci dari segalanya,insya Allah suatu saat semua akan menuju kebaikan ,amin..

  • Ninink_manis

    artikel yg sgt bgus,menyenyuh bgt,hal it pun sya alami bgmna orang tua sya sllu mengganggap sya buruk dimatax.apapun yg sya lakukan sllu slah,beliau pun sllu membedakan sya dgn kk sya beliau lbh syang terhadap anak laki2 dibanding perempuan,smapi sy menikah pun beliau tdk pernah berubah doa jelek utk sya serta suami sllu beliau ucapkan dgn mudahx bahakn sering menyumpahi sya,skit mmg rsax,nmun sya akn sllu mencintai beliau dn mendoakanx

  • http://www.facebook.com/people/Maswida-Mustafa/100000440127313 Maswida Mustafa

    Saya fikir artikel ini sesuai dibaca oleh seorang ibu/bapa agar ibu/bapa tersebut bisa mengambil pelajaran daripada larangan2 tersebut. Tidak sepatutnya seorang membaca artikel ini dalam kacamata seorang anak untuk menilai kebaikan/keburukan orang tuanya kerana sudah pasti setiap orang akan melakukan kesalahan dalam hidupnya. Barangkali ibu/bapa kita tidak ada yang mengingatkan, tidak mendapatkan contoh nyata, bahkan tidak tahu tentang larangan tersebut.

  • http://www.facebook.com/dwi.sari.378 Dwi Sari

    YAA ALLAH…BANTU HAMBA MJD IBU YG SHOLIHAH UTK ANAK2 HAMBA…FAIZAH, ZULFA, NIDA…

  • http://www.facebook.com/profile.php?id=1727124321 Siwi Pusposari

    Belajar jd ortu

  • mwf

    ya Allah, maafkanlah kelalaian orang tua hamba.. berilah mereka taufiq dan hidayah-Mu.. ya Allah hamba ingin memarahi kelalaian orang tua hamba, tidak jarang pula hamba berlaku kasar kepada mereka dikarenakan sifat mereka ya Allah ya Rabbi, akan tetapi hamba selalu merasa ketakutan akan murka-Mu ya Allah..

  • maryam

    Subhanallah, islam hadir dengan metode parenting yang lembut dan bersahaja..syukron infox

  • husnia

    bagaimana dengan orang tua yang suka menjelek-jelekan anaknya?

  • Ruly Gani

    Maaf utk mengcopy

  • siti nurhidayati

    terima kasih atas ilmu yg bermanfaat .. :)

  • febri arkay

    iya benar

  • Nurul Hidayati

    Smoga kita bisa mjd orang tua yg arif & penuh kasih sayang kpd anakw& cucu kita.

  • sheylla erdirian

    Berarti orang tua ua jahat dong sama ua :'(

  • Ira Wati

    mmmmm….pencerahan bagi para orang tua….yang sibuk…

  • Wuland Jauhary

    sangat bermanfa’at …..

    sbagai pelajaran buat masa depan :D

  • masbrow nunul

    hampir setiap hari sumpah serapah saya dapatkan dari ibu saya, seakan2 tidak pernah ada yang benar dari diri saya, baik perkataan, tingkah laku, perbuatan dan seluruh tindakan saya. sekarang ini, saya pesimis dengan hidup saya….. karena hampir setiap hari sumpah serapah itu melontar ke arah saya…………

  • allzo

    artikelnya bagus,kebetulan sesuai dgn apa yg saya alami.ibu bapa sy sudah bercerai dan masing2 telah menikah lagi.
    ibu saya sering berkata bahwa sy anak durhaka hanya karena saya menasehati beliau untuk tidak menjelek2an orang lain dan tidak bepergian dgn pria yg bukan suami dan cobalah pergunakan uang yg sy berikan untuk biaya makan jgn untuk membeli baju atau tas mahal.
    sy langsung di bilang anak durhaka dan tidak tau diri semoga hidupnya susah saat punya anak nanti,beliau selalu menjelek2an sy pd tmn2nya dgn mengatakn tidak pernah membantu biaya hidup yg kenyataannya sy slalu memberikan jika sy ada rejeki.dan untungnya tmn2 ibu sy lebih tau kenyataannya
    ayah saya selalu mengatur sy pdhal umur sy sudah 31.terkadang sy di maki bodoh,tidak ada gunanya,setan km, ga bisa apa2 km,cuma ngerugiin org tua saja km.padahal sy slalu menurutti apa yg beliau mau,hanya jika smua tdk berjalan lancar kami anak2nya yg kena marah,makian bahkan kadang kasar fisik.untuk mslah jodoh pun beliau mengatur..ayah saya org yg lumayan berkecukupan tp untuk memberikan uang pd anak2nya terasa berat,makanya sy cari uang sendiri dan untuk biaya keperluan sy bayar sendiri sisanya sy bantu ibu sy dan ade2 tiri saya karna kluarga baru ibu sy kurang berkecukupan
    sy hanya berdoa semoga ibu dan ayah sy di bukakan hati nya untuk menyayangi anak2nya,karna kami lahir bukan keinginan kami..tapi karna semua kehendak Allah
    semoga mereka bisa menjadi org tua yg lebih baik amin

  • puterihujan

    :)
    1. Ibu saya bilang anak jangan kebanyakan dipuji, seingat saya sejak kecil saya lebih sering mendengar hinaan/makian (atau meremehkan) drpd pujian, ibu saya bilang supaya saya tidak besar kepala. Ibu saya jika kesal, semua kata-kata kotor bisa keluar dari mulutnya.
    2. Ibu saya bersikap adil soal materi dan barang-barang, tp terlihat (dan saya rasakan) sejak kecil Ibu lebih bangga terhadap adik saya, karena adik lebih baik rupa.
    3. Setiap kali marah, tak habis-habisnya Ibu mendoakan keburukan untuk anak-anaknya (sekalipun anak kesayangannya). Waktu kecil menyumpahi kami, jika kelak memiliki anak, anak-anak kami akan 1000kali buruk kelakuannya dibanding kami. Kata Ibu, karena doa Ibu yg teraniaya itu manjur dan didengar Tuhan.
    4. Kalau soal pendidikan, Ibu saya memberi saya dan adik yang terbaik. Beliau bilang karena sudah diberi yg terbaik harus berbakti. Meski saya bingung definisi berbakti menurut Ibu, karena Ibu jarang bangga atas yang anak-anaknya raih. Ibu hidup dalam harapan tingginya dan anak-anaknya wajib memenuhi harapan dan impian2nya yang tidak tercapai.

  • erik kurnia

    sudah menjadi kebiasan sumpah serapah saya dapatkan dari ibu saya tidak perduli dia katakan kepada kastamer saya pada pegawe saya bahwa saya anak durhaka. bahkan makian umpatan cacian dan hinaan sudah sering saya dengar jika perkataany tidak saya turuti. seperti saya harus mengeluarkan salah satu pegawai saya yang sering dia sebut orang gila dan sering dia marahi dengan kasar. dan soal gaji yang menurut dia kebesaran padahal itu di bawah standart. dan dia mengatakan keburukan yang tentu ceritanya tidak sesuai dengan yang terjadi kepada kedua adik saya yang pada akhirnya memunculkan kata kata mengancam dan umpatan juga hinaan kepada saya dari kedua adik saya.
    bahkan mengancam membunuh pegawai saya. dan sms juga bbm yang tidak pernah berhenti ibu saya kirim kepada pegawe pegawe saya dengan tentunya semua perkataan yang tidak masuk akal. bahkan menyatakan kepada mereka bahwa saya anak durhaka.
    hanya karena saya mempertahan satu pegawe saya yang memang tidak bersalah dan dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. ibu saya begitu murkanya kepada saya hingga membuat sumpah serapah untuk saya di depan kastamer juga pegawe saya.

    saya tidak tahu lagi cara menghadapi beliau yang sekarang sangat menyakitkan di dalam hati saya. bahkan tidak pernah berhenti bercerita pada tetangga juga temannya apa yang telah dia korbakan untuk saya. sedangkan pengorbanan yang telah saya lakukan tidak seorangpun tahu hanya untuk menyimpan semua terlihat baik saya diam hingga saat ini.