Rubrik Kaifa Ihtada

Rubrik ini berisi kejadian, essai, atau artikel yang mengkisahkan bagaimana seseorang mendapatkan petunjuk, mencari pelajaran, memperjuangkan kebenaran, dan menemukan hikmah. "Al-hikmatu dhaallatul mu'min, annaa wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa" (Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya).

Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Kaifa Ihtada. Kirimkan artikel Anda melalui FORM yang kami sediakan.

Kirim Artikel Anda
Aidil Heryana, S.Sosi

Singgasana Sang “Bintang”

22/11/2007 | 11 Zulqaedah 1428 H | Hits: 3.181
Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi
Kirim Print

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun.” Said bin Amir Al Jumahi mengucapkan lafazh ini saat menerima bantuan 1000 dinar, karena namanya tercantum dalam daftar para fuqara saat musibah kelaparan melanda daerah Hims, Syiria.

Pada abad ke 18 H, bencana kelaparan hebat melanda wilayah Arab Utara. Khalifah Umar Radhiyallahu ‘anhu melewati hari-harinya tanpa istirahat dan tidak bisa tidur memikirkan cara menanggulangi bencana tersebut. Ia bersumpah tidak akan menyentuh susu dan mentega sampai kelaparan berakhir. Bencana itu disusul dengan wabah sampar mematikan yang menyebar ke Syria.

Musibah dan bencana itu hanya menyisakan kesedihan dan kepedihan. Betapa tidak, sekian orang yang dicinta telah tiada. Harta benda terjual habis untuk mengatasi rawan pangan itu. Bahkan segenap pikiran tercurah untuk meratapi diri. Kondisi yang menyayat ini sangat mengagetkan Khalifah Umar ra. daerah Hims Syiria secara merata dilanda bencana kelaparan yang luar biasa. Segera, berita ini mendorong khalifah mengirimkan para petugas untuk melihat keadaan di sana sekaligus melakukan pendataan korban yang layak memerlukan bantuan.

Namun alangkah terkejutnya Khalifah saat mengetahui di antara ribuan orang yang termasuk dalam daftar orang-orang miskin dan kelaparan, terdapat nama Sa’id ibn Amir Al Jumahi. Beliau sendiri adalah Gubernur Hims, daerah yang dilanda bencana kelaparan tersebut.

Kemudian khalifah memanggil utusannya untuk klarifikasi prihal validitas data dalam daftar tersebut. Apakah daftar itu dibuat-buat atau memang sahih, ternyata hasil temuan itu adalah fakta di lapangan. Utusan itu mengukuhkan temuannya bahwa faktanya selama berhari-hari mereka tidak melihat dapur Sang Gubernur mengepul walau sekali. Atas dasar itulah Al Jumahi dimasukkan dalam daftar orang-orang yang memerlukan bantuan.

Lalu, khalifah menanyakan bagaimana roda pemerintahan di sana dijalankan. Subhanallah. Meski, gubernurnya miskin dan kelaparan, provinsi Hims tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kenyataan tersebut tidak dapat menutupi rasa haru yang mendalam di dada Khalifah. Dengan meneteskan tangis kesedihan, khalifah menyatakan dirinyalah yang bersalah membiarkan rakyatnya kelaparan. Bahkan gubernurnya sendiri termasuk dalam musibah itu.

Segera khalifah mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Hims. Dititipkanlah sekantung khusus untuk Sang Gubernur dari Khalifah Umar ra., berisi uang sebesar 1000 dinar (kira-kira setara dengan 6 juta rupiah). Semua bantuan telah disampaikan dan diterima, baik oleh masyarakat demikian pula titipan khusus untuk Sang Gubernur.

Menerima titipan khusus sebesar 1000 dinar, bukannya merasa gembira, Sa’id ibn Amir malah merasa menerima musibah. Dipanggil segera istrinya menghadapnya, untuk menyampaikan musibah tersebut. Inna lillahi Wa Inna illaihi Raji’un. Kenapa gerangan? Bagi Sa’id bin Amir, menerima uang sebanyak itu, di tengah krisis yang mendera rakyatnya adalah musibah yang berat. Oleh karena itu, setelah disisihkan seperlunya, ia sumbangkan kembali sisanya kepada rakyatnya.

Begitulah tinta emas sejarah dituliskan bukan dengan kata-kata apalagi jargon-jargon kosong tanpa makna. Al Jumahi ra melakoni semuanya karena karakter pemimpin di dalam dirinya sudah demikian meresap. Tidak dalam rekayasa tebar pesona maupun membangun citra positif di hadapan rakyatnya. Keteladanannya mengemuka lebih dikarenakan faktor ketakwaannya kepada Allah swt.

Lihatlah tatkala inspeksi dilakukan Umar ra ke di Hims­, banyak komplain, keluhan dan ketidakpuasan penduduknya, baik dari kalangan jelata maupun birokrasinya terhadap kinerja Gubernur Sa’id bin Amir. Aduan para penduduk mengindikasikan 4 hal yang menjadi keluhan mereka atas diri Gubernur Sa’id bin Amir.

Satu adegan langka yang mungkin hanya terjadi di zaman Umar. Klarifikasi dilakukan Umar dengan mempertemukan gubernur dan warganya dalam satu majelis terbuka. Sebuah pemandangan yang tidak mungkin terjadi di zaman sekarang ini. Kalaupun terjadi tentunya terikat kebiasaan protokoler, dan cenderung seremonial, mungkin kunjungan-kunjungan para elite pejabat ke daerah, justru akan lebih membebani anggaran.

Mungkin dana untuk membiayai perjalanan dan kunjungan, ikut membengkak. Nilainya tak mustahil berlipat ganda. Lebih dari cukup untuk membeli beras dan bahan makanan bergizi dan bernutrisi baik yang dibutuhkan para penderita rawan pangan. Tanpa membesar-besarkan “buruk sangka”, sejak dulu di negeri ini beredar pemeo “pejabat datang melayat, rakyat makin melarat”. Ya, karena dana untuk mengatasi kemiskinan khalayak, tersita oleh kegiatan protokoler dan seremoni di tempat yang dikunjungi.

Namun tidak demikian dengan Khalifah yang bijak ini. Tatap muka tetap berjalan dalam suasana bersahaja, egaliter dan saling menghormati. Sehingga temu rakyat dan pemimpinnya ini berjalan lancar tanpa basa basi.

Tatkala semuanya telah berkumpul, Umar bertanya, “Apa yang kalian keluhkan terhadap pemimpin kalian?”

“Ia tidak pernah menemui kami kecuali telah siang hari.” Keluh warga.

“Apakah benar yang mereka kata­kan, ya Said?” tanya Umar kepada Sa’id.

“Demi Allah, se­benarnya aku tak ingin mengatakannya. Tetapi karena itu harus dikatakan, baiklah. Keluargaku tidak mempunyai seorang pem­bantu, sehingga setiap pagi aku harus membuat adonan roti untuk mereka, menungguinya hingga matang dan membagikannya kepada mereka, kemudian aku berwudhu dan baru aku keluar menemui rakyatku.” Ja’wab Sa’id.

“Ia tidak pernah mau ditemui pada malam hari?” keluh warga lagi.
“Apakah benar yang mereka kata­kan, ya Said?” tanya Umar
“Demi Allah, sebenarnya aku juga tak ingin me­ngatakannya. Aku telah memberikan waktu siangku untuk mereka dan waktu malamku untuk Allah.”

“Apa lagi yang kalian keluhkan atasnya?” tanya Umar kepada warga Hims.
“Setiap bulan, ia tidak menemui kami satu hari?” Jawab warga
“Apa lagi ini, ya Said?” tanya Umar heran.
“Aku tidak mempunyai pembantu, ya Amirul Mu’minin. Dan aku tidak mempunyai sehelai kain pun kecuali yang aku kenakan ini, sehingga aku harus mencucinya setiap bulan dan aku menungguinya hingga kering untuk dipakai kembali. Dan setelah itu, aku keluar menemui mereka di sore hari.”

“Apa lagi yang kalian keluhkan atasnya?” Umar melanjutkan pertanyaannya.

“Wajahnya selalu murung dan sedih, sehingga membuat orang-orang keluar dari majelisnya.” Keluh warga selanjutnya.
“Apa yang terjadi pada dirimu, ya Said?” Umar kembali heran.
“Dahulu, aku melihat kematian Khubaib bin Adi dan waktu itu aku masih musyrik. Dan aku melihat kaum Quraisy memotong-motong tubuhnya dan mereka berkata kepadanya, ‘Relakah engkau jika Muhammad menempati posisimu ini?’ Khubaib menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak akan rela jika aku selamat untuk keluarga dan anak-anakku sedang Muhammad ditusuk duri.’ Demi Allah, aku selalu terbayang akan hari itu, bagaimana aku tidak menolongnya, aku amat khawatir Allah tidak akan mengampuniku. Itulah yang sedang menimpaku sampai saat ini.”

“Mahasuci Allah yang tidak membuatku su’uzhan kepadanya.” Kagum Umar atas semua jawaban Sa’id. Kemudian Umar memberikannya seribu dinar untuk meme­nuhi kebutuhannya. Ketika istri Said melihat hal itu, ia berkata, “Mahasuci Allah yang telah mencukupi kami dengan melayani­mu. Belikanlah kami kebutuhan rumah tangga dan carikanlah kami pembantu.”

“Bukankah kita memiliki yang lebih baik daripada itu?” Sergah Sa’id kepada istrinya. “Sesuatu yang dapat membantu kita memperoleh­nya sehingga kita dapat menikmatinya yaitu kita meminjamkannya kepada Allah dengan pinjam­an yang baik.” Nasihat Sa’id kepada isterinya.

“Ya, semoga Allah membalas dengan yang lebih baik.” Jawab sang istri mantap.

Said pun tidak meninggalkan majelisnya, sehingga ia meletak­kan dinar-dinar tadi ke dalam beberapa pundi dan berkata kepada salah seorang keluarganya, “Pergi dan bawalah ini kepada janda si fulan, anak yatim si fulan, orang miskin dari keluarga si fulan, dan orang fakir dari keluarga si fulan.”

Satu lagi hal penting perlu kita teladani dari pribadi mulia ini adalah qana’ah dan kesederhanaan. Di sebuah negara yang sudah mapan, justru orang yang bersahaja lebih disegani, berwibawa dan dihormati daripada orang yang bergelimangan kemewahan, hidupnya hedonis. Apalagi hidup dengan kekayaan yang tidak jelas asal-usulnya.

Dalam situasi paceklik seperti sekarang ini, musibah di mana-mana, harga-harga melambung tinggi, pengangguran terus meningkat, kelangkaan BBM. Kalau ada keteladanan terutama dari para pemimpin tentang kesederhanaan, niscaya masyarakat akan sadar bahwa dirinya bisa seperti yang lain, sehingga akan malu untuk pamer kemewahan dan hidup bermewah-mewah, hedonis.

Namun faktanya gaya hidup hedonistik ini tampak semakin banyak saja pengikutnya. Hedonisme yang mengajarkan ‘nikmatilah segala sesuatu dalam hidup selagi memungkinkan dan ada kesempatan’ seperti diajarkan oleh Epicurus pada 2000 tahun yang lampau kayaknya membuka peluang terciptanya pasar untuk kemewahan.

Apalagi setting opini diarahkan agar kemewahan terasa menjadi semakin wajar dan manusiawi, meskipun tentu saja banyak pihak yang tidak sependapat dengan paham tersebut.

Pola dan gaya hidup yang menginginkan tampak serba mewah, boros dan tidak produktif ini telah sejak lama dibahas oleh Von Veblen (1929) menjelang resesi dunia pada tahun 1930 dalam teorinya ‘The Leisure Class’. Perubahan gaya hidup yang diakibatkan oleh perubahan budaya sebagai dampak negatif perkembangan teknologi yang mampu menghasilkan sikap dan perilaku yang tidak bermanfaat atau sia-sia.

Pola konsumsi yang disebut ‘conspicious consumption’ ini tampaknya menjawab fenomena mengapa banyak orang tidak memliki sense of crisis saat ini. Semakin banyak saja mobil mewah berlalu-lalang di jalan-jalan raya, lalu lintas serba macet di hari-hari libur panjang dan tentunya semakin maraknya pembangunan mal dan wisata belanja di kota-kota. Dalam pola dan gaya hidup seperti itu maka tujuan dan maksud adalah bersantai (leisure) dan untuk pamer agar supaya dikagumi orang lain (demonstration effect).

Di sini manfaat barang dan jasa yang dikonsumsi adalah diukur oleh sejauhmana ‘kenikmatan’ dan ‘manfaat’ yang didapat dari tingkat kekaguman pihak lain yang melihatnya. Manfaat dan semangat pamer ini akan semakin besar dan efektif dalam lingkungan masyarakat yang miskin.

Dengan demikian maka semangat pamer ini menjadi meningkat dan mendorong masyarakat menengah ke bawah tertarik untuk mengikutinya. Menurut Veblen, secara alamiah melalui proses historis dan antropologis, kecenderugan seperti ini akan terjadi.

Perilaku ini melembaga secara seremonial dan memiliki karakteristik cinta berlebihan terhadap uang. Oleh karenanya bagi mereka akan lebih menghargai pekerjaan yang mampu ‘making money’ dibandingkan dengan ‘making goods’.

Penghargaan atau nilai tinggi diberikan bila sesuatu dapat dinilai secara materi (tangible) dan dapat diukur dengan nilai uang (p-cuniary emulation) dibandingkan memaksimalkan manfaat (utility maximization). Pada gilirannya maka semangat dan sikap hidup sederhana dan etos kerja keras dianggap dan dinilai sebagai ‘ketidak-berhasilan’, sedangkan sikap santai ‘biar tekor asal kesohor’ dan kemewahan akan dinilai atau dianggap sebagai indikasi ‘keberhasilan’ hidup.

Masyarakat golongan menengah sebenarnya banyak yang memiliki kemampuan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan layak. Namun tidak habis-habisnya mereka menjadi target pasar berbagai produk ‘kemewahan’ yang sebenarnya bukan yang mereka butuhkan.

Sementara itu para pengusaha semakin jeli menciptakan pasar dan membaca nafsu terpendam (desire) dalam diri para calon konsumen ini yang siap dan rela menggadaikan ‘masa depan’ mereka demi kesempatan menikmati kemewahan dalam bentuk produk dan layanan yang berselera dan berkualitas tinggi, meskipun hanya sesaat.

Pola hidup sederhana tak lain merupakan buah keindahan dari kekuatan mengendalikan diri dari hawa nafsu dan keserakahan. Meski untuk menjadi kaya-raya tidak dilarang agama. Termasuk siapa pun, tidak dilarang punya mobil mewah, rumah mewah, kapal pesiar mewah dan perhiasan mahal, namun asal kekayaannya itu diperoleh secara halal. Apalagi kaya tidaknya seseorang bukan dinilai dari seberapa banyak harta yang dipamerkan akan tetapi kekayaan itu dinilai dari seberapa banyak harta yang diinfakkan di jalan Allah, seperti yang diperlihatkan oleh Abu Bakar ra.

Para pemimpin seharusnya bisa memberi contoh terhadap rakyat yang sebagian besar miskin, untuk tidak hidup mewah. Seringkali, justru petinggi negara itu terlena, mabuk kepayang dan lupa daratan, hingga tanpa mereka sadari, hidup bergelimang kemewahan. Mentang-mentang menjabat, dibiayai negara, mereka menggunakan aji mumpung. Potret hidup kita seakan dalam suasana yang paradoks. Kita diimbau hidup sederhana, memiliki sense of crisis namun kenyataannya kaum elite mempertontonkan kemewahan. Padahal, kesederhanaan dan keprihatinan perlu keteladanan.

Allah telah ridha kepada Said bin Amir al-Jumahi. Dia berusaha keras menundukkan ambisi pribadinya, mengendalikan kepentingan diri dan keluarganya, demi mengutamakan kepentingan rakyat yang lebih membutuhkan. Singgasana yang galibnya penuh gemerlap, bagi seorang Al Jumahi hanyalah seonggok limbah yang patut dibersihkan. Puncak kariernya adalah puncak pengabdiannya kepada Allah swt. Dia bertahta tanpa istana. Kesederhaannya laksana silau bintang yang dinikmati para penghuni langit. Al Jumahi menjadi satu di antara para ’bintang’ pemimpin shaleh yang rasa takutnya kepada Allah amatlah besar dibanding sesuatu yang lainnya. Wallahu a’lam.


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 7,67 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Ada 18 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

  • Reni mengatakan:

    kira-kira, boss presiden pernah baca ini belum ya?? Meskipun tidak selayaknya kita berandai-andai, tapi andai saja Mr, President yang baik bisa seperti Presiden Umar bin Khotob… Rindunya Aku

  • asnawi mengatakan:

    alangkah indahnya kalau dizaman sekarang kita memiliki pemimpin seperti Umar, tak usahlah kita
    berandai-andai…so..mulai aja dr diri kita……

  • azhari jailani mengatakan:

    assalamualaikum ya ikhwaty…
    alhamdulillah atas hadirnya artikel ini, semoga bermamfaat bagi semua, ana rasa artikel ini tidak hanya ditujukan untuk orang umum saja akan tetapi juga untuk para juru dakwah, dimana sebagian diantara mereka ada yang aktif dalam berbagai bidang baik umum maupun khusus, semoga artikel yang telah dituliskan oleh ustadz Aidil diatas paling tidak menjadi teguran buat kita semuanya juga.. semoga Ridha Allah swt selalu menyertai langkah kita dalam memperjuangkan dan mewujudkan islam ini dalam segala bidang, aminnn.. selamat berjuang kawan…

  • alFaqir mengatakan:

    Subhanallah…! Sungguh, tidak arif jika kita hanya menyudutkan pihak-pihak “birokrat” saja… bisa jadi hal ini dapat menjadi kenyataan dan terwujud dalam masyarakat, jika kita mulai dari diri kita maisng-masing, apalagi dilakukan oleh para da’i. Sungguh… Ini merupakan teguran, pengingat dan penyemangat kita dalam mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Qum!! Salam Ukhuwah..

  • Lala mengatakan:

    Nasehat ini tak hanya untuk pemimpin Negara tapi untuk semua para pemimpin…
    Bukankah setiap diri kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya??/

  • SISWANTO mengatakan:

    Nasehat ini Buat kita semua,dan mudah – muadahan kita bisa mengimplementasikan di negeriini

  • 468 mengatakan:

    How come itu ya bisa terdidik menjadi orang seperti itu? orangtua yg kayak gimana yg bikin dia kayak gt?guru yg seperti apa?pendidikan seperti apa yg bisa membentuk org dengan pribadi spt itu?dengan cara apa islam disampaikan shg bisa membuahkan pribadi yg seperti itu???

  • abdul afif mengatakan:

    Subhanallah islam memang solusi ,
    permasalahannya umat bosan dengan kenyataan yang ada ini karna :
    – umat sendiri tidak pernah memberi dukungan kepada orang-orang yang ikhlas , ingatlah orang-orang yang ikhlas hanya akan bisa kita lihat oleh orang-orang yang iklas

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »