Mochamad Bugi

Mendidik Anak Meraih Sukses Keluarga

14/9/2007 | 02 Ramadhan 1428 H | Hits: 9.537
Oleh: Mochamad Bugi
Kirim Print

Posisi anak dalam keluarga ada dua. Pertama, sebagai penyambung generasi –lihat QS. Al-Anbiya (21): 89. Sebagai penyambung generasi, anak menjadi pewaris karya yang dihasilkan orang tuanya –lihat QS. 19: 6.—dan penyejuk jiwa orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74. Yang kedua, sebagai pelanjut tugas dan cita-cita orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74.

Perlakuan orang tua terhadap anaknya sangat dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, faktor harapan dan cita-cita berkeluarga kedua orang tuanya. Cita-cita adalah harapan tertinggi yang sangat ingin diraih yang diupayakan dengan rencana dan segala kemampuan yang paling maksimal. Sebab, membentuk keluarga bukanlah tujuan, tapi sarana untuk mencapai sebuah tujuan. Karena itu, pastikan Anda tidak salah dalam menetapkan cita-cita berkeluarga.

Faktor yang kedua adalah kesadaran untuk melaksanakan tugas terpenting dalam berkeluarga. Apakah tugas terpenting dalam berkeluarga itu? Allah swt. menyebebutkan dalam QS. At-Tahrim (66): 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, mereka tidak mendurhakai Allah dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.”

Jadi, keluarga sukses adalah keluarga yang di dunia berhasil menjalankan misi sebagai pemimpin orang yang bertakwa dan di akhirat, berhasil mencapai visinya terbebas dari neraka. Inilah makna dari doa yang kita pinta: rabbana aatinaa fiid dunya hasanah wa fiil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar. Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di duniah dan kebahagiaan di akhirat; dan jauhkan kami dari api neraka. Allah swt. berfirman, “Maka barangsiapa yang telah dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah sukses.” [QS. Ali Imran (3): 185]

Untuk meraih kesuksesan dalam berkeluarga, posisi anak menjadi penting. Jadikan anak sebagai aset penting untuk meraih sukses keluarga. Perlakukan dan persiapkan mereka agar mampu menjadi pemimpin umat dan bangsa; perlakukan dan bekali mereka agar mampu menjadi penyelamat orang tua dan keluarganya dari neraka.

Ada dua ciri yang menandakan bahwa Anda telah merasakan anak Anda adalah aset penting keluarga, yaitu:

1. Jika ada rasa khawatir jika anak yang dititipan Allah kepada Anda tidak menjadi seperti yang diamanahkan.

2. Jika ada rasa cemas jika anak yang sebagai modal berharga untuk meraih sukses keluarga menjadi sia-sia tidak berguna.

Allah swt. pun menyuruh kita, orang tua, punya rasa khawatir terhadap anak-anak kita. “Dan hendaklah takut (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap keadaan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” [QS. An-Nisa (4): 9]

Di ayat itu juga Allah swt. memberi resep kepada kita agar tidak meninggalkan anak-anak yang lemah. Resepnya adalah tingkatkan kapasitas moral kita dengan bertakwa kepada Allah, menambah kapasitas konsepsional kita sehingga kita mampu berkata yang benar (qaulan sadiidan), dan perbaiki kualitas amal kita (tushlihu’ ‘amal). [Lihat QS. Al-Ahzab (33): 70-71]

Resep itu harus dilakukan secara bersama-sama dalam keluarga, bukan sendiri-sendiri. Ini terlihat dari ayat itu ditulis Allah swt. dengan bentuk jamak. Jadi klop dengan prinsip ta’awun alal birri wat taqwa (tolong menolong dalam ketakwaan) dan al-mu’minuna wal mu’minaat ba’duhum auliyaa’u ba’d (lelaki yang beriman dan wanita yang beriman mereka satu sama lain saling bantu-membantu).

Step to step-nya seperti ini. Mulailah kedua orang tua, yaitu kita, memperbaiki diri. Lalu, hadirkan untuk anak Anda lingkungan terbaik dan hindarkan mereka dari lingkungan yang merusak. Beri mereka makanan yang terjamin gizi dan kehalalannya. Berikan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan visi dan misi keluarga. Tentu saja siapkan anggaran yang cukup. Setelah itu, bertawakalah kepada Allah swt. Doakan selalu anak Anda.

Dalam memberikan pendidikan kepada anak, yang harus menjadi titik tekan adalah:

1. Mengikatnya dengan (suasana) Al-Qur’an

2. Menjadikannya terus menerus merasa dalam pengawasan Allah swt.

3. Menumbuhkan cinta kepada Nabi saw., keluarga dan para sahabatnya. Menjadikan mereka sebagai sumber panutan dan rujukan hidup

4. Membiasakannya mencintai segala hal yang diridhai Allah; dan menjadikanya benci terhadap yang dimurkai Allah.

5. Membekalinya dengan keterampilan memimpin dan berjuang.

6. Membekalinya dengan keterampilan hidup.

7. Membekalinya dengan keterampilan belajar.

8. Menjadikannya mampu menggunakan berbagai sarana kehidupan (sain dan teknologi).


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (32 orang menilai, rata-rata: 7,91 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Naskah Terkait Sebelumnya:


Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Ada 19 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

  • Dany Agung mengatakan:

    alhamdullilah terima kasih ustads mudah-mudah an para ibu2 muda yang telah mengunjungi situs ini akan lebih mengetahui bagaimana cara menyemangati atau mendidik anak-anak kita dijalan yang tetap allah ridhoi,dan anak-anak kita adalah amanah dan asset keluarga yang harus kita pertanggungjawabkan kelak dihari akhir nanti.wasalam

  • Titi mengatakan:

    Alhamdulillah, artikel bapak sangat membantu kami dalam membimbing si kecil yang memamg masih dalam tahap meniru kami sebagai modelnya, semoga artikel singkat ini dapat membri andil masa depan bangsa ini, Insya Allah

  • M Indra Noor Alam mengatakan:

    Anak adalah amanah terindah yang dititipkan Allah kepada ayah dan ibu. Maka pilihlah seorang wanita shalihah sebagaiai dari anak-anak kita. Dan pilihlah seorang pria yang shalih sebagai ayah bagi anak-anak kita.
    Berbahagialah wahai orang tua (mertua) yang mendapatkan menantu yang shalih dan shalihah. Karena dari mereka-merekalah akan lahir generasi mulia yang akan menyuburkan bumi ini dengah darah syuhada. Allahu Akbar.

  • eryk mengatakan:

    subhanallah bang dengan materi ini sy jd tertarik untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak untuk menyambut kelahiran anak kami yang pertama. mohon doanya bang semoga kami bisa meraih sukses dalam mendidik anak kelak sebagaimana dalam materi tsb. amin.

  • Taqy mengatakan:

    Jazakallahu ustadz, ditunggu artikel EKONOMI KELUARGA, banyak yang butuh landasan dan tips mengatur keuangan keluarga.

  • indah masruroh mengatakan:

    subhanallah,bisa buat belajar bagi kami calon2 orangtua nanti.
    terimakasih pak.mhn ijin share

  • athifah mengatakan:

    Katharine Kersey menulis ” Anak-anak diberikan kepada kita-sebagai pinjaman-untuk jangka waktu yang sangat singkat. Mereka datang kepada kita laksana bungkusan benih-benih bunga, dengan tanpa gambar pada bungkusannya dan juga tanpa garansi. Kita tidak akan tahu seperti apa mereka, bertindak seperti apa, atau memiliki kemampuan menjadi apa. Seperti tukang kebun, tugas kita adalah mencukupi kebutuhan mereka sebaik mungkin:untuk memberikan gizi yang sesuai, kasih sayang, perhatian, dan kepedulian untuk berharap yang terbaik”
    Menjadi orangtua merupakan salah satu anugerah indah yang Allah berikan. Menjadi “tukang kebun” yang baik juga suatu keindahan tersendiri Segala kepenatan pun hilang saat benih itu tumbuh semakin besar pada jalanNya. Semoga Allah meridhoi

  • Uus Suhatna mengatakan:

    Tidak ada pendidikan khusus untuk menjadi ayah atau ibu, oleh karena itu tulisan seperti di atas sangat bagus sebagai bahan bacaan para orang tua agar dalam mendidik anak-anak mereka ada rujukan. terima kasih

  • Umi Wilfa & Nazih mengatakan:

    Sungguh indah tausiyah from ustadz. Artikel tsb mengingatkan saya dg anak pertama saya yg telah berpulang ke Rahmatullah. Terasa betul betapa berartinya anak dan amanah Alloh kpd orang tuanya. Anak adalah aset terbesar dlm keluarga. Bersyukurlah wahai ibu yg dikaruniai amanah anak tuk qt didik, qt ukir, qt hantarkan sbg penerus risalah. Setiap anak berbeda watak, karakter dg segala kelebihan dan kekurangan.
    Sebagai masukan saja tadz, dikesempatan lain bisa dibahas lebih lanjut n detail ttg 8 point titik tekan pendidikan anak.

  • Harjans Suharjan mengatakan:

    Mendidik anak adalah mendidik generasi penerus bangsa, dengan mendidik secara baik berarti telah mempersiapkan genari yang baik. Apabila generasi dalam suatu bangsa memiliki sikap mental yang baik,positif,memiliki keterampilan hidup, maka PASTI BANGSA ITU AKAN MAJU. Begitu juga dengan banga Indonesia,bisa menjadi bangsa yang maju,mandiri,dan kuat apabila penataan dibidang pendidikan dilakukan secara konsisten,berkelanjuan dan terintegrasi. Matur nuwun.

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »