Dakwah Suatu Keniscayaan

14/2/2007 | 25 Muharram 1428 H | Hits: 5.409

Kirim Print

Allah bangga dengan hamba-Nya yang senantiasa berdakwah di jalan-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat:33) Perhatikan betapa Allah telah menegaskan bahwa perkataan yang paling baik adalah perkataan para dai. Sebab mereka tidak berkata kecuali ajarannya. Setiap kalimat yang mereka ucapkan semata untuk menyebarkan kebaikan, dan kedamaian bagi manusia.

Saudaraku, sungguh kita hidup di zaman di mana tangan-tangan kebatilan bekerja keras untuk merusak tatanan. Mereka gerogoti aqidah muslim dengan menyebarkan khurafat melalui film-film yang mengagungkan para dukun. Mereka rusak ekonomi dengan sistem ribawi. Mereka cemari budaya budaya dengan tebar budaya pornografi agar tidak ada perbedaan antara manusia dengan binatang. Mereka raih media dengan menawarkan hiburan yang menggerogoti akhlaq dan moral generasi muda. Orang diajak tertawa dalam rentetan hiburan yang tidak bermakna. Padahal ulama mengatakan bahwa tertawa mematikan hati.

Saudaraku, ketahuilah bahwa Allah menegakkan alam ini dengan sistem yang sangat rapi. Para ahli astronomi menemukan fakta-fakta ilmiah bahwa seandainya matahari bergeser dari posisinya menjadi lebih dekat ke bumi, barang satu centimeter, niscaya bumi akan terbakar. Atau sebaliknya jika ia bergeser lebih jauh dari bumi barang satu centimeter, bumi akan beku. Perputaran siang dan malam yang dengannya Allah bersumpah dalam Al-Qur’an, “Wallaili idzaa yaghsya wan nahaari idzaa tajalla (Al-Lail:1-2), adalah bukti kerapian sistem alam ini. Tidak hanya untuk alam, untuk manusia Allah juga meletakkan sistem dan aturan. Nabi dan rasul dipilih untuk mengajak manusia mengikuti sistem dan aturan ilahi. Bila manusia melakukan penyimpangan, ia pasti akan mendapatkan akibatnya, cepat atau lambat. Al-Qur’an menyebutkan penyimpangan tersebut dengan istilah thagha (melampaui batas). Lihatlah kesudahan kaum Aad, Tsamud dan Firaun beserta tentaranya.

Jalan dakwah adalah keniscayaan. Setiap diri yang mengaku muslim hendaknya berdakwah. Berdakwah bukan hanya berceramah seperti yang banyak orang pahami. Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib r.a, “Mengajak satu orang kepada hidayah Allah itu lebih baik bagimu dari harta yang sangat kau banggakan. Rasulullah saw. menegaskan bahwa mengajak satu orang kepada kebaikan adalah dakwah. Maka dengan ini kegiatan dakwah tidak hanya terbatas pada kegiatan berceramah. Melainkan ia lebih berupa kegiatan menggunakan segala kemampuan, fasilitas dan kemungkinan lainnya untuk mempengaruhi orang lain agar taat kepada Allah. Orang bisa berdakwah dengan segala kemampuannya, menulis buku, berkomunikasi dengan orang lain dan lain sebagainya.

Ingat, dakwah adalah keniscayaan. Tanpa dakwah agama akan hilang. Tanpa dakwah kemanusiaan akan hancur. Selamat di dunia maupun di akhirat tidak ada pilihan kecuali dengan berdakwah di jalan Allah.


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (6 orang menilai, rata-rata: 7,83 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Ada 9 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »