Mochamad Bugi

Empat Kunci Rumah Tangga Harmonis

29/1/2007 | 10 Muharram 1428 H | Hits: 32.304
Oleh: Mochamad Bugi
Kirim Print

dakwatuna.com – Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.

Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.

Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan.

Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.

Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka.

Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga.keempatnya adalah:

1. Jangan melihat ke belakang

Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.

Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.

Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.

2. Berpikir objektif

Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga tidak secara utuh.

Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.

Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian.

Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus melatih kemandirian anak-anak.

3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya

Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan sudut pandangnya.

Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.

Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.

4. Sertakan sakralitas berumah tangga

Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.

Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.

Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan. Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (121 orang menilai, rata-rata: 8,61 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Naskah Terkait Sebelumnya:


Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Ada 32 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

  • Abdullah Hadits Borneo mengatakan:

    Mudah-mudahan Allah curahkan keberkahan kepada Tim Dakwatuna.
    Tema tentang keluarga adalah tema yang vital dan amat urgen untuk dikaji. Lihatlah fenomena yg tjd sekarang. Perzinaan di kalangan muda, perselingkuhan di kalangan tua,barter suami istri, perceraian, kebobrokan moral remaja, kedurhakaan anak pada orang tua, pelarian yang salah,pemerkosaan di bawah umur, nikah sirri dan lain-lain bermula dari kebobrokan sebuah keluarga.Sikap istri yang dingin dan cuek, tak pernah berdandan/genit, merayu suami/bercanda/ bersikap lembut/mesra pada suami,adalah awal dari bencana keluarga.Karena suami akan mencari perhatian wanita lain yang lebih perhatian.Demikian jg suami yang tidak bisa memegang janji, memuaskan lahir batin, menjadi pelindung istri,pengertian,perhatian, ksh sayang dan jujur, istri bisa jadi luntur kesetiaannya pada suami.
    Maka harus ada kerjasama yang baik dalam kebajikan dan taqwa.

  • Ahmad Fauzantoro mengatakan:

    SubhanaLLah…oleh krn itulah keluarga sakinah dlm Islam merupakan salah satu fundamen vital yg dapat membentuk generasi Rabbani. Apabila rusak keluarga, maka rusak pula generasi yang ada dlm sistem keluarga itu…Na’udzubiLLah…

  • Imam Muchrozi mengatakan:

    Ya, perlu ditambahkan satu lagi. Yaitu cintai pasangan hidupmu apa adanya dan jangan fantasinya.
    Mencintai apa adanya merupakan ekspresi syukur ata pemberian dari ALLAH. Kalau kemudian yang ada adalah kekurangan maka jadikanlah kekurangannya sebagai tantangan untuk mewujudkan peran dantanggung jawab tarbiyahnya. Kalau yang ada adalah kelebihan syukur berarti adalah kemampuan kita dalam memeliharanya.

    Sedangkan jangan mencintai fantasi maksudnya adalah dipastikan setiap orang memiliki impian (fantasi) tentang sosok pasangan yang diinginkan mendampingi hidupnya. Namun dalam kenyataannya pasangan hidup tersebut jauh dari apa yang kita impikan. Simpanlah idealisme dan impian itu.

    Kata-kata ini patut juga untuk direnungkan, “Kalau engkau ingin pasangan yang ideal, sampai kapanpun akan tidak kita ketemukan. Namun yang lebih baik adalah jadikanlah pasanganmu menjadi ideal buatmu”.

    Wallahu a’lam bisshowwab.

  • iwan mengatakan:

    syukur alhadulillah, kata itu yang pantas kita ucapkan dg munculnya LKD, mudah2an Allah selalu membersami lembaga ini, karena mempertahankan untuk lebih baik memang sangat sulit. persoalan keluarga memang sudah seharusnya menjadi perhatian kita bersama terutama bagi keluarga da’i. Care terhadap persoalan RT harus menjadi arus besar bagi mereka yg telah mengarungi samudra kehidupan bersama anak, istri ataupun suami. problem rumah tangga akan selalu membersamai kita dan ketika kita tidak segera menyadarinya bahwa memang ada masalah, maka bisa jadi situasi RT akan tidak berjalan sebagaimana mestinya. ada beberapa kunci penting dalam mencari solusi RT

    1. ciptakan rumah tangga dai, rumah tangga yg romantis,
    2. niat kita adalah untuk menyelesaikan masalah
    3. mencari sumber rujukan apakah masalah yg terjadi pernah dialami oleh orang2 sholeh seperti 4. nabi, sahabat, tabiin dst
    4. ada komunikasi yg proaktif
    5. tawakkal kepada Allah dan yakin bahwa setiap masalah ada solusi.

    1. lukman mengatakan:

      Jadikan rumah tangga sebagai ajang menambah amal shalih, Jangan mengganti status istri kita setelah berumah tangga menjadi “PEMBANTU”. Jadikan Istri sebagai rekan seiring dalam da’wah untuk menggapai ridho Allah SWT dan Jannah Firdaus. U/ Mas Imam F komentarnya dalam banget. Sukron!

    2. santi mengatakan:

      subhanallah, artikelnya bagus sekali…

    3. slamet mengatakan:

      teruskan dan tambah lagi artikel keluarga. oke banget!!!!

    4. Ulil Santoso mengatakan:

      Semoga Kita semua diberi hidayah dan senantiasa diberi kejernihan hati oleh Allah SWT, dalam mengarungi ladang-ladang surgaNYA di bumi ini. Amien. Terima kasih n selamat buat DAKWATUNA.

    5. Orang-orang besar tidak muncul dari kampus, tetapi dari “rengkuhan seorang ibu yang bijak”. Suatu Imam Syafi’i diberi bekal sekedarnya oleh ibunya. “Ini ada bekal sedikit untukmu buat menuntut ilmu. Ingat, rumah ini tidak akan terbuka bagimu sebelum kamu pulang dengan membawa ilmu yang cukup”. Maka Syafi’i kecil berangkat mengembara menuntut ilmu bertahun-tahun. Dikisahkan, beliau baru bertemu ibunya setelah menjadi guru dan imam besar di masjidil haram. Beliau selalu dikerumuni oleh para ulama pendatang dari negeri-negeri lain untuk menggali samudera keilmuannya. Itulah contoh hasil didikan seorang ibu bijak.

    6. Diana mengatakan:

      Artikel dan komentarnya bagus-bagus. Jujur saja saya mempunyai kekhawatiran terhadap keluarga seperti apa yang ingin saya jalani nantinya.
      Kalau bisa, saya ingin ada pembahasan mengenai bagaimana caranya membimbing (calon) suami. Karena calon suami saya berniat menjadi muallaf. Cara seperti apa yang bisa diterapkan sebelum dan sesudah menikah nantinya.
      Terima kasih

    Kirim komentar Anda

    XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

    Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

       sisa karakter

    « Naskah Sebelumnya
    Naskah Sesudahnya »