Home / Narasi Islam / Hidayah / Gemuruh Roda Kapitalisme

Gemuruh Roda Kapitalisme

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Aku menyaksikan bagaimana manusia dalam ruh kapitalisme kehilangan dirinya. Manusia tidak mengerti siapakah dirinya. Apakah ia bagian dari barang dagangan? Apakah ia binatang tanpa akal? Apakah ia bagian dari mesin industri yang harus bekerja siang dan malam tanpa istirahat sama sekali? Apakah ia hanya makhluk fisik tanpa ruhani? Mereka bingung tidak tahu kemana harus melangkah.

Diskusi keseharian mereka hanyalah seputar uang ke uang. Tidak ada waktu lagi bagi mereka untuk sejenak bersujud kepada Sang Pencipta. Mereka bisa berbuat apa saja yang mereka sukai, yang penting bagaimana menghasilkan uang. Tidak perduli entah dengan merampok, mencuri atau menjual harga dirinya bahkan menjual dirinya secara keseluruhan. Bagi mereka semuanya boleh. Segala cara halal (tidak ada yang haram) yang penting tujuan tercapai.

Kapitalisme benar-benar telah menyeret kemanusiaan ke dalam rimba yang gelap. Manusia di dalamnya menjadi buta. Buta masa depannya, karena bagi mereka masa depan hanyalah bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyknya. Buta terhadap dirinya, karena bagi mereka manusia hanyalah makhluk fisik tanpa ruhani. Buta terhadap kemanusiaan, karena bagi mereka hukum kapital yang berlalu. Tak perduli berapapun manusia yang harus menjadi korban, yang penting aku semakin kaya. Buta terhadap dunia, karena mereka tidak tahu bahwa ada alam akhirat setelah dunia berakhir. Mereka mengira bahwa dunia segala-galanya.

Kapitalisme telah membuat manusia menjadi barang dagangan. Perhatikan bagaimana mereka tidak merasa malu menjual harga dirinya. Menjual auratnya dalam iklan-iklan yang mengumbar nafsu. Menjual apa saja yang ia punya demi uang. Dan menjadi budak apa saja demi popularitas dan kekayaan. Berbagai tayangan mereka lakukan dengan segala cara tanpa ada rasa malu sedikitpun. Akal yang Allah bekalkan kepada mereka tidak dipergunakan lagi secara proporsional. Agama hanyalah sampingan, bahkan di mata mereka harus disingkirkan jau-jauh dari kehidupan. Mereka tidak perlu lagi bimbingan wahyu, sebab wahyu tidak mendatangkan uang. Mereka hanya butuh apa saja yang mendatangkan uang.

Kapitalisme telah membuat manusia menjadi binatang yang ganas dan kejam. Lebih kejam dari singa dalam hutan rimba. Bila singa hanya menangkap mangsanya pada saat ia lapar, tetapi manusia dalam kapitalisme bisa memusnahkan sejumlah manusia tanpa batas. Tak perduli anak-anak kecil yang tidak berdosa, tak perduli orang-orang tua yang tidak berdaya, semua harus menjadi korban kerakusan. Tidak sedikit dari orang tua yang merintih karena kehilangan anaknya dalam peperangan. Tidak sedikit dari nyawa manusia yang melayang karena perebutan kekuasaan. Tidak sedikit dari rakyat kecil meronta-ronta karena korupsi para penguasa. Tidak sedikit dari para pedagang kecil yang tercekik karena sistem riba yang dipaksakan. Tidak sedikit orang-orang yang bunuh diri karena terjepit beban credit card. Semua ini tergerakkan oleh mesin kepitalisme.

Kepitalisme telah membuat manusia menjadi seperti mesin. Siang dan melam mereka bekerja. Di Amerika aku menyaksikan orang-orang melakukan teleconference tengah malam sampai pagi. Orang-orang melakuakan seminar tentang bisnis jam tiga malam. Di New York ada sebuah tempat dikenal dengan Time Square. Orang-orang menyebutnya dengan City Never Sleep. Aku melihat bahwa kota itu benar-benar dua puluh empat jam menyala. Orang-orang selalu ramai di sana. Aku tidak tahu apa yang mereka cari di sana. Yang jelas di sana orang-orang berseleweran bagai laron silih berganti. Berita tentang uang dan peredarannya ditayangkan siang dan malam. Pagi harinya mereka bekerja lagi sampai malam. Aku menyaksikan orang-orang bekerja dua puluh empat jam berturut-turut. Dalam hati aku bertanya: Kapan mereka beribadah secara ruhani. Di setiap belahan kota yang aku lewati, tidak pernah aku mendengar adzan seperti yang aku dengar di negeriku Indonesia.

”Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal shaleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” Muhamamd : 12

Jelasnya, bahwa manusia modern kini –dimanapun mereka berada- telah tenggelam dalam gemuruh roda kapitalisme. Banyak orang-orang Islam, menjadi lemah iman karena terperangkap kapitalisme. Mereka sudah tidak sempat lagi menjawab adzan. Telinga mereka menjadi terusik ketika mendengar orang-orang membaca Al Qur’an. Lidah mereka terasa berat untuk bertasbih dan berisitighfar, apalagi membaca Al Qur’an. Tetapi kalau berbicara tentang bisnis mereka fasih dan meyakinkan. Obrolan sehari-hari tidak lebih dari masalah bisnis dan perniagaan. Bila diajak hadir di pengajian, banyak alasan untuk menghindar. Entah ada rapat atau keluar kota dan lain sebagainya. Tetapi bila diajak untuk meeting tentang uang, tidak ada capeknya. Kapan pun mata mereka selalu segar.

Masjid di depan matanya tidak tampak lagi. Setiap waktu shalat tiba, tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk singgah sejenak di masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Padahal itu kewajiban utama. Namun kepitalisme telah begitu jauh mencekam ruhaninya sampai ke tulang sumsumnya. Itulah akibatnya. Ia menjadi seperti mereka yang tidak beriman kepada Allah swt.

”Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” Al Baqarah : 96. Wallahu a’lam bishshawab.

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
DR. Amir Faishol Fath
Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Quran. Pernah beberapa tahun menjadi dosen tafsir di IIUI. Juga pernah menjadi dosen pasca sarjana bidang tafsir Al Quran di Fatimah Jinah Women University Rawalpindi Pakistan. Akhir-akhir ini sekembalinya ke Indonesia, menjadi dosen sastra Arab di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta. Lalu menjadi dosen Tafsir sampai sekarang di Sekolah Tinggi Al Hikmah Jakarta. Selebihnya beberapa kali di undang untuk mengisi Seminar, konfrensi dan ceramah di tengah komunitas muslim di beberapa kota besar Amerika Utara (Washington, New York, Houston, Los Angles, Chicago, Denver). Beberapa kajian tafisir rutin yang diasuh di perkantoran Jakarta antara laian di: Indosat, Conoco Philips, Elnusa, Indonesian Power, PLN Gambir. Agenda Kajian Tafsir Dzuhur:Senin (setiap pekan ) : Masjid Baitul Hikmah Elnusa Selasa 1 : Masjid Bank Syariah Manidiri Pusat Selasa 2&4: Masjid Indosat Pusat Selasa 3 : Masjid Hotel Sultan Rabu 1 : Masjid Indonesian Power Pusat Rabu 3 : Masjid PLN Gambir Kamis (setiap pekan) : Masjid Miftahul Jannah Ratu Prabu 2 (Conoco Philiphs)Agenda Pengajian Tafsir Dan Hadits lainnya:Sabtu 1&2 (Sesudah Subuh) : Masjid Az Zahra Gudang Peluru Ahad 2 (Sesudah Subuh) : Masjid An Nur (Perdatam) Senin ( Jam 14:30-20.00) :Sekolah Tinggi Al Hikmah Jakarta Selasa (Jam 14:00-15:30 : Majlis Talim Amanah Dault (Kedian Menpora Adiaksa Dault, Belakang STEKPI, Kalibata). Rabu: 1&2 (Setelah Maghrib) : Masjid Az Zahra Gudang Peluru Kamis (Setiap Pekan, setelah Maghrib) : Masjid Bailtul Hakim, Diskum Kebon Nanas.
  • indra

    barakallahu fiik ustadz, ana senang ada artikel yang membahas tentang ini, karena hal tersebut adalah problematika ummat yang paling aktual dihadapi. mungkin bisa dibahas juga tentang globalisasi ekonomi dan neo-liberalisme, bagaimana efeknya terhadap ummat dan bahwa mereka juga digerakkan oleh aktor2 yang sama yang selama ini memusuhi ummat islam (Yahudi, Amerika dan lembaga internasional yg mnjadi antek2nya).
    Tabik

  • Tuti

    Alhamdulillah Ustadz telah mengingatkan kami untuk lebih ingat akan daya tarik akhirat daripada dunia.Ceramah2 seperti ini sangat berguna bagi manusia kini dan generasi berikut, untuk lebih aktual mungkin bisa diilustrasikan seorang pegawai masa kini yang pergi petang pulang malam harus mencari nafkah, mohon diberi nasihat aktifitas apa saja yg sebaiknya dilakukan untuk selalu mengingat ALLAH SWT dalam kesempitan waktunya. Sering2lah mengupas bagaimana menjadi manusia modern yang taqwa. Terima kasih Ustadz akan nasihat2nya.

  • Semoga ustadz menjadi yang terdepan dalam setiap ceramahnya bahwa dunia sekarang dicengkeram oleh Sitem Kapitalisme yang telah terbukti mensengsarakan manusia.
    Hanya kepada Islam rahmat allah kan datang.Hanya dengan syariat Islam dunia jadi tenteram.

  • wilman

    saya menentikan artikel tentang kebangkitan ekonomi yang dicontohkan oleh para sahabat dan salafussholeh. jazakumullah.

Lihat Juga

Ilustrasi. (republika.co.id)

Optimalisasi Potensi Wakaf Uang Dalam Pembangunan Sumber Daya dan Kesejahteraan Rakyat Kecil