Home / Narasi Islam / Sejarah / Aku Tak Perlu Berunding Dengan Mereka

Aku Tak Perlu Berunding Dengan Mereka

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

ADA yang selalu membuat Ali bin Abi Thalib keheranan. Ali yang masih remaja sering bingung mengapa kaum Quraisy menyembah batu-batu. Dulu ia sering dibawa ayahnya tawaf mengelilingi Ka’bah sambil mengangkat berhala yang mereka puja. Namun sepanjang melakukan upacara, Ali tak kunjung mengerti apa gerangan manfaatnya mengagung-agungkan patung yang dibuat oleh manusia sendiri.

Setelah tinggal bersama Muhammad, ia tidak pernah mengalaminya lagi. Sebab, saudara sepupunya itu beserta seluruh keluarganya tidak pernah mengerjakannya.

Pada suatu malam, tanpa sengaja Ali memasuki ruang dalam rumah. Alangkah heran dan terkejutnya ketika dilihatnya Muhammad dan istrinya sedang melakukan perbuatan ganjil. Mereka rukuk dan sujud bersama menghadapi tempat kosong tanpa ada patung di mukanya.

Sesudah selelsai, Ali memberanikan diri bertanya, “Apa yang tengah kalian lakukan, wahai kemenakan ayahku? Kepada siapa engkau bersujud? Aku tidak menemukan berhala di ruangan ini….”

Sembari tersenyum, Muhammad menjawab, “Kemarilah Ali. Kami menyembah Tuhan yang telah menciptakan alam ini, dan memberi tugas kepadaku agar mengajak segenap umat manusia untuk bersujud kepada-Nya, karena aku telah dibangkitkan menjadi nabi dan utusan-Nya.”

Rasulullah kemudian menjelaskan tentang Islam sekadarnya. Dengan sabar dibacakan pula beberapa surah pendek dari Alquran, dan diterangkan makna serta tafsirnya. Barulah setelah itu Rasulullah berkata, “Nah Ali, aku mengajakmu untuk menganut agama Islam.”

Ali terdiam. Ia dilanda kembimbangan. Ia masih belum tahu apa-apa tentang itu. Bertahun-tahun Ali dijejali dengan ajaran tentang Lata, Uzza dan Manat. Sekarang hanya dalam sekejap, ia diajak untuk meyakini sesuatu yang baru. Ali sejenak menimbang-nimbang. Lata, Uzza dan Manat hanya berupa patung-patung batu atau kayu. Rasanya mustahil sekali mereka bisa mendatangkan bahaya apalagi manfaat. Ali tahu sekali bahwa patung-patung itu dibikin oleh manusia biasa, yang lemah dan tidak berdaya. Bahkan yang menatahnya adalah kuli-kuli atau hamba sahaya.

Bagi Ali, mungkin inilah saatnya untuk meyakini sesuatu yang lebih sejati. Apalagi ia tahu Muhammad itu seorang yang tidak pernah berbohong, sangat amanah dan berahlak amat baik. Namun, berpindah keyakinan merupakan pilihan yang berat dan keputusan itu menyangkut seluruh kehidupannya kelak. Maka dari itu rasanya ia perlu meminta izin untuk merenungkan dan kemudian merundingkannya lebih dulu dengan ayahnya, Abu Thalib.

Rasulullah mengangguk. “Ya, sebaiknya begitu. Namun, tidak juga tidak apa-apa…”

Maka, sepanjang malam itu Ali berguling-gelisah di tempat tidurnya. Ia tak dapat memicingkan mata sekejap pun. Di dadanya bagaikan terdapat sebuah pisau yang mengiris-ngiris tajam merampas semua pedalaman jiwanya. Ia ragu, apakah ayah dan keluarganya akan menyetujui pilihannya? Apakah mereka takkan mengalangi-halanginya? Kalau mereka keberatan, bagaimana ia mesti bertindak? Tetap pada pendiriannya, berarti melawan mereka; atau terpaksa menyerah, berarti mengorbankan hati nurani sendiri dan menggadaikan ketenteraman batinnya. Ajaran baru dari Muhammad itu memang benar-benar bisa membuatnya tenang dan yakin.

Akhirnya, pagi-pagi sekali, ia menjumpai Rasulullah. Kepada saudara sepupunya itu ia berkata, “Aku urungkan niatku semula…”

Rasulullah agak terkejut mendengar perkataan Ali. Namun ia diam saja, “Apa yang kauurungkan?” tanyanya kemudian.

“Meminta izin kepada ayahku agar aku masuk Islam.” Jawab Ali tegas.

“Maksudmu?” tanya Rasulullah, seakan tengah berusaha menjajaki isi hati anak muda itu.

“Rasululllah, Allah telah menciptakan aku tanpa harus berunding dahulu dengan kedua orang tuaku. Mengapa untuk beriman dan mengabdi kepadaNya aku harus berunding dulu dengan mereka?”

Rasulullah memandangi Ali. Ia tahu, di wajah anak itu ada sebuah kesungguhan yang amat dalam yang kelak akan membuat Islam semakin tegak dan kokoh. “Ali, kau ingat, mengapa aku mengatakan kau boleh berunding atau pun tidak dengan orang tuamu?”

Ali terdiam. Tanpa menunggu jawaban Ali, Rasulullah menyambung perkataannya, “Sebab kadang-kadang, untuk keselamatan iman di satu pihak dan keselamatan hubungan kekeluargaan di pihak lain, memeluk Islam bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tanpa perlu ada yang tahu. Bukankah menjadi muslim adalah hubungan antara hamba dan Tuhannya saja dari segi keimanan? Adapun yang bersangkutan dengan sesama manusia adalah segi muamalah—walaupun dengan kedua orang tuamu. Artinya dalam masalah keimanan, hanya Allah yang tahu. Sedangkan dalam perilaku keseharian, umat Islam harus menampilkan sikap hidup yang lebih santun dan penuh kasih sayang.”

About these ads

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mochamad Bugi
Mochamad Bugi lahir di Jakarta, 15 Mei 1970. Setelah lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, ia pernah mengecap pendidikan di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosah Islamiyah Al-Hikmah. Sempat belajar bahasa Arab selama musim panas di Universitas Ummul Qura', Mekkah, Arab Saudi.Bapak empat orang anak ini pernah menjadi redaktur Majalah Wanita UMMI sebelum menjadi jabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Politik dan Dakwah SAKSI. Ia juga ikut membidani penerbitan Tabloid Depok Post, Pasarmuslim Free Magazine, Buletin Nida'ul Anwar, dan Majalah Profetik. Jauh sebelumnya ketika masih duduk di bangku SMA, ia menjadi redaktur Buletin Al-Ikhwan.Bugi, yang ikut membidani lahirnya grup pecinta alam Gibraltar Outbound Adventure ini, ikut mengkonsep pendirian Majelis Pesantren dan Ma'had Dakwah Indonesia (MAPADI) dan tercatat sebagai salah seorang pengurus. Ia juga Sekretaris Yayasan Rumah Tafsir Al-Husna, yayasan yang dipimpin oleh Ustadz Amir Faishol Fath.
  • alhamdulillah..sangat2 menyentuh hati..moga dengan ini, pengajaran kepada kita..agar terus menjaga hubungan baik sesama manusia

  • Abu Fadl

    Alhamdulillah, sangat jarang sekali kisah seperti ini disampaikan secara mendetail. Kebanyakan dari buku-buku di masyarakat hanya menceritakan garis besarnya saja. Alangkah baiknya bila dilampirkan juga sumber buku dari kisah tersebut, sehingga menjadi bacaan alternatif yang jauh lebih baik.

  • khplid

    saya sangat tertarik dengan pemaparan kisah ali, sebagai sosok remaja yang nantinya sebagai mujahid yang siap membela islam, saya mengharap di tuangkan juga kisah – kisah yang lain dari sahabat – sahabat rosul

  • jilbabputih

    subhanallah.. di paparkan dengan bahasa sangat baik..
    semoga menjadi pelajaran bagii kita semua.

Lihat Juga

Seperti Ketersadaran Ali