ARTIKEL POPULER PEKAN INI: Menjual Semua Hartanya untuk Sedekah, Malah Kaya Raya…

Rubrik Kaifa Ihtada

Rubrik ini berisi kejadian, essai, atau artikel yang mengkisahkan bagaimana seseorang mendapatkan petunjuk, mencari pelajaran, memperjuangkan kebenaran, dan menemukan hikmah. "Al-hikmatu dhaallatul mu'min, annaa wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa" (Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya).

Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Kaifa Ihtada. Kirimkan artikel Anda melalui FORM yang kami sediakan.

Kirim Artikel Anda
DR. Amir Faishol Fath

Ramadhan di Amerika (Bag. 4)

10/10/2007 | 29 Ramadhan 1428 H Please wait
Oleh: DR. Amir Faishol Fath
Kirim Print
email

Sang Ustadz

Ada dua Ustadz yang sempat aku temui dalam perjalanan Ramadhan ke Amerika kali ini. Pertama Ustadz Joban di Seatel, kedua Ustadz Syamsi Ali di New York. Keduanya adalah anak bangsa Indonesia yang telah memberikan bimbingan terbaik terhadap umat Islam di Amerika. Keduanya sangat popular. Hampir di setiap kota yang aku kunjungi, kedua ustadz tersebut selalu disebut-sebut. Nama keduanya sangat harum, tidak saja karena telah memberikan ilmu dan tuntunan ruhaninya secara maksimal, tetapi lebih dari itu keduanya telah menjadi juru bicara Umat Islam di Amerika.

Sungguh mengesankan ketika aku bertemu dengan Ustadz Joban di Bellevue tidak jauh dari kota Seatel. Ia sangat sederhana, tetapi sangat berwibawa. Pesan-pesannya menyentuh hati para pendengarnya. Apa yang disampaikan pada saat itu tidak jauh sekitar tazkiyatunnafs (permbersihan jiwa).

Seperti keharusan meresa malu di depan Allah swt jika kita berbuat dosa. Dan memang benar apa yang ia sampaikan. Sebab umat Islam Amerika hidup dalam lingkungan di mana masyarakat seputarnya hampir-hampir tidak mempunyai rasa malu. Pergaulan bebas tanpa batas adalah pemandangan sehari-hari. Padahal diantara hal yang membedakan antara manusia dan binatang adalah karena manusia Allah swt bekali rasa malu. Bahkan Rasulullah saw. pernah menegaskan: “Al hayaa’u minal iimaan (bahwa rasa malu itu bagian dari iman)”. Dari hadits ini terlihat betapa rasa malu adalah benteng utama untuk mempertahankan iman. Bila rasa malu itu habis, maka dengan mudah syetan menggerogoti iman seseorang. Karena itu perjuangan syetan sebelum menyerang ke titik iman, ia serang terlebih dahulu rasa malunya. Bila rasa malu itu sudah habis, baru setelah itu ia serang imannya.

Umat Islam di mana-mana –tidak hanya di Amerika- sangat membutuhkan bekal bagaimana menumbuhkan rasa malu. Kemaksiatan meraja lela di mana-mana adalah karena hilangnya rasa malu. Banyak pejabat yang tidak segan melakukan korupsi adalah karena tidak mempunyai rasa malu. Coba seandainya ia mempunyai rasa malu kepada Allah swt, pasti ia tidak akan melakukan tindakan tersebut. Pun juga tidak sedikit dari orang-orang yang mengaku muslim, sementara perzinaan baginya adalah kebanggaan sehari-hari, wal iyadzubillah. Coba seandainya mereka mempunyai rasa malu, pasti tidak mungkin mengerjakan kemaksiatan sejauh itu.

Ustadz Joban, selain sering mengisi pengajian di kalangan umat Islam Amerika di berbagi kota, ia juga guru ruhani bagi nara pidana di sebagian tempat di Amerika. Banyak dari mereka yang tersentuh lalu masuk Islam. Tidak jauh dengan Ustadz Joban, Ustadz Syamsi Ali juga sering meng-Islamkan banyak orang. Menurut ceritanya hampir setiap hari di New York satu atau dua orang masuk Islam melalui dakwah yang ia sampaikan. Dan memang aku lihat Ustadz Syamsi sangat sibuk. Pengajian yang ia isi, tidak hanya kalangan umat Islam Indonesia di New York, tetapi lebih dari itu kalangan umat Islam lainnya secara umum. Di New York telah berdiri satu-satunya Islamic Center yang dikelola umat Islam Indonesia (Indonesian Muslim Community), yang terpusat di masjid Al Hikmah. Ustadz Syamsi adalah salah seorang Pembimbing Islamic Center tersebut.

Sudah cukup lama aku mengenal Ustadz Syamsi, ia memang diberi kemampuan oleh Allah swt dengan suaranya yang menyentuh hati ketika membacakan Al Qur’an. Kini setelah aku menemuinya di New York, ia bukan hanya Syamsi yang dulu pernah menjadi pelatih silat, tetapi ia adalah seorang syaikh, tempat rujukan umat Islam di Amerika. Bahasa Inggrisnya sangat fasih. Malam itu ia menyampaikan ceramahnya di Islamic Cultural Center New York. Aku sempat hadir acara tersebut, sebab ia minta aku menyampaikan ceramah setelah ia berbicara. Ustadz Syamsi pada saat itu menyampaikan rahasia Al Qur’an dan kaitannya dengan lailatul qadar. Sementara aku menyampaikan tema tentang “langkah-langkah menuju kebahagiaan sebagaimana dalam pembukaan surat Al Mu’minun. Sampai tengah malam acara itu berlangsung penuh haru. Para hadirin tetap bertahan duduk sambil menunggu hadirnya lailatul qadar. Memang malam itu pas malam tanggal dua puluh tujuh Ramadhan. Mereka hadir memang untuk tidak tidur semalam suntuk. Dan menariknya bahwa masjid yang sangat megah itu, ternyata benar-benar penuh. Menyaksikan suasana tersebut, mengingatkanku pada suasana malam-malam sepuluh terakhir di masjidil Haram. Penuh kelezatan ruhani. Tiada terhingga.

Aku berpasan, ayo kita pertahankan suasana seperti ini sepajang hidup kita, jangan hanya di bulan Ramadhan saja. Tidak ada ayat atau hadits yang menerangkan bahwa Ramadhan hanya untuk Ramadhan. Karenanya –pesanku lebih lanjut- para ulama berkata: ”Kun abdan rabbaniyan walaa takun ramadhaniyan (jadilah hamba Allah yang rabbani dimana saja dan kapan saja, jangan hanya menjadi hamba Allah di bulan Ramdhan saja)”. Wallahu a’lam bishshawab. New York.


Topik: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (5 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Naskah Terkait Sebelumnya:


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
  • Ninik Tjiptarto

    Assalamu'alikum wb wr

    Terima kasih atas kunjungan bapak ke Masjid Al Hikmah,kami termasuk sangat beruntung atas kedatang bapak di Bln Suci ini apalagi dimalam sepuluh terakhir. Kami yang disini memang benar-benar haus dengan siraman rohani seperti yang bapak berikan.Semoga amal ibadah Bapak diterima Allah SWT amiin.

    Maaf pak kemarin itu saya lupa menyakan , kalau kita sebagai perumpuan punya hutang pusa padahal setelah ramadan disunahkan puasa Syawal, apakah kita harus pemabayar hutang itu dulu baru pusa syawal, atau bisa pusa syawal dan membayar hutangnya bisa ditangguhkan apa bulan yang lainnya.

    Maaf pak satu lagi, kapan saat terbaik minta maaf dengan keluarga di hari Raya Ied Fitri apakah setelah sholat ied atau bisa lakukan sebelum sholat ied .

    Terimakasih sekali atas perhatiian Bapak .Insya Allah kita bisa bercumpa lagi dialain kesempatan, tak lupa salam untuk keluarga di tanah airdan maaf kalau ada keselahan-kesalahan.

    Wassalam,

    Ninik Tjiptarto /Benny dari New Jersy USA.

  • ely

    Assalamu'alaikum wr wb

    Alhamdulillah,

    Saya sendiri, dan juga teman2 saya juga merasakan 'indahnya islam' saat kami berada di sini(Qatar).

    Kami jg sering berandai2, andai saja di Ind. mau menerapkan islam scr utuh, insya Allah dimana2 akan

    aman & tentram.

    Disini tdk ada pencurian mobil., shg mobil mewah pun bebas parkir dimana saja tanpa takut dicuri. pandangan suami juga insya Allah terjaga, aholat di masjid jg terasa lebih khusuk dimasjid2 krn imam2 masjid disini adlh al-hafidz.

    Alhamdulillah, yg dulunya di Ind tdk memakai jilbab, disini semakin rapt menutup auratnya.

    Ustadz dr Ind jg bnyk yg mnjd muadzin, shg kami pny program pengajian rutin yg diisi o/ mereka.

    Bnyk hukum islam yg kami pelajari smakin detail, dan tentunya bersih dr kemusyrikan, klenik/ ahlu sunnah.

    Shg kadang kami (terutama ibu2) merasa ragu u/ balik kampung.

    Tantunya kalau ingat orangtua dan family, mau tdk mau ya…harus Cinta Indonesia juga, he2..

    Wassalamu'alaikum

  • dede

    semoga qta menjadi hamba yg selalu bs menjaga rasa malu..amin

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »
BERITA POPULER PEKAN INI: Harian Inggris: Ada “Mekah” di Kota London