09:33 - Senin, 21 April 2014
DR. Amir Faishol Fath

Ramadhan di Amerika (Bag. 3)

Rubrik: Hidayah | Oleh: DR. Amir Faishol Fath - 09/10/07 | 11:42 | 28 Ramadhan 1428 H

Kota Seatel Yang Tenang

Pagi itu udara di Seatel masih dingin. Inilah kota yang baru pertama kali aku singgahi di Amerika. Perasaan berdebar, seperti bermimpi, benarkah aku telah sampai di Amerika. Sepanjang perjalanan dari Air Port menuju penginapan, aku melihat pohonan yang berjejer rapi. Memandang suasana alam perasaan masih seperti dalam perjalanan dari Jakarta menuju Puncak. Tetapi dalam diriku berkata: ini Amerika. Benar aku kini di Amerika. Aku saksikan lalu lintas kendaraan berjalan rapi. Antara satu dengan lainnya tidak main serobot. Mereka saling menghormati. Bila ada orang mau nyeberang, mereka segera berhenti. Para pejalan kaki benar-benar dihormati. Mereka ibarat raja, di mana setiap pengendara harus siap berhenti kapan mereka mau nyeberang.

Aku terpukau memandang kenyataan ini. “ Ini kan ajaran Islam. Mengapa mereka yang mengamalkan, sementara kita sebagai seorang muslim tidak mengamalkannya?” Kataku dalam hati. “Ini baru sebagian pak Ustadz” kata Mas Irfan yang menjemputku pada saat itu. “Banyak contoh yang lebih menarik dari pada pemandangan ini” lanjutnya. “Coba dong ceritakan” kataku.

“ Pernah suatu saat seorang Direktur Utama Perusahaan Boeing di Seatel ini bermain mesum dengan sekretarisnya. Begitui ketahuan, langsung ia dipecat”. “Lho, kok dipecat? Bukankah pergaulan bebas di sini biasa? Tanyaku kaget. “Benar pergaulan bebas di sini biasa, tetapi konteksnya di sini bukan dari sisi perzinaannya, melainkan dari sisi kejujuran. Bahwa dengan tindak selingkuh tersebut ia telah mengkhianati keluarganya. Bila seseorang berani mengkhianati keluarganya, maka tidak mustahil suatu saat kelak akan mengkhianati perusahaannya”. “Benar-benar menarik sekali kenyataan ini”. Kataku. “Sebab orang selevel Direktur Utama di mana-mana bisa dikatakan anti kesalahan”. “Oh, di sini tidak begitu Pak Ustadz.

Di Amerika ini seseorang semakin tinggi jabatannya, semakin banyak pekerjaan”. “O, ya?” “Benar”. Kalau di restoran misalnya, banyak para menejer yang tidak segan membersihkan ruang makan, dapur bahkan kamar mandi. Pun juga seringkali mereka meluangkan waktu khusus untuk datang ke rumah salah seorang staffnya yang paling rendah sekalipun untuk membersihkan rumah mereka termasuk dapur dan kamar mandi mereka”.

“Subhanallaah. Mengapa ya, orang Islam tidak bisa seperti ini? Padahal semua hal tersebut adalah ajaran Islam”. Gumamku. Dari sini aku perlu merevisi makna taqwa yang selama ini aku pahami.

Tadinya seringkali pemahamanku tentang taqwa hanya terfokus pada ibadah ritual saja. Tetapi setelah melihat kenyataan ini, aku akan mengatakan bahwa taqwa itu adalah bersungguh-sungguh menjalankan ajaran Allah, baik dari sisi ritual maupun praktikal. Selama ini orang Islam lebih banyak mengambil ritualnya saja. Sementara praktikalnya diabaikan. Akibatnya banyak kenyataan sehari-hari yang mereka lakukan tanpa terasa telah keluar dari ajaran Islam. Sebaliknya orang-orang di Amerika mengambil praktikalnya saja, sementara ritualnya tidak mereka ambil. Akibatnya mereka maju secera keduniaan, tetapi secara ruhani mereka menderita. Rasulullah saw.

Sebenarnya sejak dini telah mengajarkan ritual Islam dan praktikal Islam sekaligus. Dalam banyak hadits Rasulullah saw selalu menyebutkan bahwa berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus, itu karena akhlaknya buruk kepada orang lain.

Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. pernah berdialog dengan para sahabat mengenai orang yang bangkrut. Pada waktu itu para sahabat menjawab bahwa orang yang bangkrut adalah mereka yang tidak punya harta dan uang. Tetapi Rasulullah saw segera merevisi pemahaman itu dengan menjelaskan bahwa orang yang bangkrut adalah dia yang datang pada hari Kiamat dengan pahala shalat, zakat, puasa dan hajinya, tetapi karena selama di dunia ia suka menyakiti hati, mendzalimi dan mengambil hak orang lain, akibatnya semua pahala ibadah ritual yang ia lakukan diberikan kepada orang-orang yang sakit itu. Dan bila ternyata semua pahala itu tidak mencukupi, maka Allah mengambil keburukan orang-orang tersebut lalu ditimpakan kepadanya.

Perhatikan, betapa sebenarnya Islam adalah agama ritual dan praktikal sekaligus. Maka mengambil ritualnya saja tanpa praktikal, tidak akan mencapai taqwa. Sebaliknya mengambil praktikal saja tanpa ritual juga tidak akan mencapai taqwa. Hanya dengan membangun keduantya: ritual dan praktikal seseorang akan benar-benar mencapai taqwa sejati. Wallahu A’lam bish Shawab.

DR. Amir Faishol Fath

Tentang DR. Amir Faishol Fath

Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Qur’an. Pernah beberapa tahun menjadi… [Profil Selengkapnya]

Redaktur:

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (12 orang menilai, rata-rata: 8,25 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 2756 hits
  • Email 1 email
  • Ariana Awaluddin

    Assalammualikum Pa' Faisal,

    Perjalan pertama atau pengalaman pertama adalah pernagalaman yang sangat indah kalau kita bisamemperhatikan dan memanfaatkan ker besaan Illahi ,apalagi hamba Allahi seperti bapak yang sudah mempunyai ilmu dan pengetahuan yang sudah tinggi .

    Memang kita disini begitu mendambakan siraman rohani yang mana 50% dari umat Indonesia mendapatkan hidayah dari Allah disini, Insha Allah , Allah memberikan hidayahnya kepada saya dan keluarga disini.

    Saya jemah dari Masjid Al hikmah NY yang sudah mengikuti lecture bapak. Alhamdullilah dimana Allah masih memberikan saya kesempatan untuk menambah ilmu dan pengetahuan tentang NYA melalui bapk. Insha Allah segala amal jariah bapa di berkalhi Allah SWT, amien.

    Setelah beberapa hari mendengar timbul keinginan saya untuk belajar atau mendalami tafsir lebih lanjut. Apakah Bapak mempunyai informasi tentang ONLINE SCHOOL untuk tafsir?

    Terima kasih,

    Salam, – Ar

  • http://dakwatuna.com maisal

    Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh….

    Ustad yang di rahmati Allah, tiada kata yang pantas terucap selain ucapan Subhanallah. Sungguh perjalanan dan pengalaman yang telah ustad lakukan merupan sebuah perjalanan yang subhanallah, penuh banyak Ibrah yang patut menjadi pelajaran bagi kita bangsa indonesia, sungguh ironis bahwa kita sebagai negara yang masyarakatnya mayoritas Islam tidak banyak mengamalkan ajaran islam, sementara di Amerika yang minoritas islam mereka mengamalkan sebahagian dari ajaran islam.

    Semoga pengalaman ustad bisa di baca oleh semua orang.

    Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  • http://Bus.Busairi@yahoo.com Busairi

    Al-hamdulilah materinya bagus moga setiap yang membacanya menyebarkan kepada sesama kaum muslimin agar umat Islam jadi kuat&hebat sehingga disegani musuh-musuh Allah dan bisa membawa rahmat bagi sekalian Alam.

  • achmad s

    menarik materinya sebarkan via fesbuk biar jadi nilai ibadah syiar

Iklan negatif? Laporkan!
83 queries in 1,022 seconds.