Home / Dasar-Dasar Islam / Al-Quran / Tafsir Ayat / Enam Perusak Ukhuwah

Enam Perusak Ukhuwah

Pada masyarakat Islam, persatuan dan kesatuan atau lebih sering disebut dengan ukhuwah Islamiyah merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar, apalagi hal ini merupakan salah satu ukuran keimanan yang sejati. Karena itu, ketika Nabi Saw berhijrah ke Madinah, yang pertama dilakukannya adalah Al-Muakhah, yakni mempersaudarakan sahabat dari Makkah atau muhajirin dengan sahabat yang berada di Madinah atau kaum Anshar. Ini berarti, ketika seseorang atau suatu masyarakat beriman, maka seharusnya ukhuwah Islamiyah yang didasari oleh iman menjelma dalam kehidupan sehari-hari, Allah swt. berfirman, Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [QS Al-Hujurat (49):10]

Satu hal yang harus diingat bahwa, ketika ukhuwah islamiyah hendak diperkokoh atau malah sudah kokoh, ada saja upaya orang-orang yang tidak suka terhadap persaudaraan kaum muslimin, mereka berusaha untuk merusak hubungan di antara sesama kaum muslimin dengan menyebarkan fitnah dan berbagai berita bohong. Dalam kehidupan umat Islam, kita akui bahwa ukhuwah Islamiyah belum berwujud secara ideal, namun musuh-musuh umat ini tidak suka bila ukhuwah itu berwujud, mereka terus berusaha menghambatnya. Karena itu, setiap kali ada berita buruk, kita tidak boleh langsung mempercayainya, tapi lakukan tabayyun atau cek dan ricek terlebih dahulu kebenaran berita itu. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu.” [QS Al-Hujurat (49): 6]

Asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) tersebut di atas adalah, suatu ketika Al-Harits datang menghadap Nabi Muhammad saw., beliau mengajaknya masuk Islam, bahkan sesudah masuk Islam ia menyatakan kemauan dan kesanggupannya untuk membayar zakat. Kepada Rasulullah, Al-Harits menyatakan, “Saya akan pulang ke kampung saya untuk mengajak orang untuk masuk Islam dan membayar zakat dan bila sudah sampai waktunya, kirimkanlah utusan untuk mengambilnya.” Namun ketika zakat sudah banyak dikumpulkan dan sudah tiba waktu yang disepakati oleh Rasul, ternyata utusan beliau belum juga datang. Maka Al-Harits beserta rombongan berangkat untuk menyerahkan zakat itu kepada Nabi.

Sementara itu, Rasulullah saw. mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat, namun di tengah perjalanan hati Al-Walid merasa gentar dan menyampaikan laporan yang tidak benar, yakni Al-Harits tidak mau menyerahkan dana zakat, bahkan ia akan dibunuhnya. Rasulullah tidak langsung begitu saja percaya, beliau pun mengutus lagi beberapa sahabat yang lain untuk menemui Al-Harits. Ketika utusan itu bertemu dengan Al-Harits, ia berkata, “Kami diutus kepadamu.” Al-Harits bertanya, “Mengapa?” Para sahabat menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Al-Walid bin Uqbah, ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan mau membunuhnya.”

Al-Harits menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya dan tidak ada yang datang kepadaku.” Maka ketika mereka sampai kepada Nabi saw., beliau pun bertanya, “Apakah benar engkau menahan zakat dan hendak membunuh utusanku?” “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat itu.

Surat Al Hujurat ayat 6 di atas menggunakan kata naba’ bukan khabar. M. Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi halaman 262 membedakan makna dua kata itu. “Kata naba’ menunjukkan berita penting, sedangkan khabar menunjukkan berita secara umum. Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa berita yang perlu diperhatikan dan diselidiki adalah berita yang sifatnya penting. Adapun isu-isu ringan, omong kosong, dan berita yang tidak bermanfaat tidak perlu diselidiki, bahkan tidak perlu didengarkan karena hanya akan menyita waktu dan energi.”

Enam Perusak Ukhuwah

Mengingat kedudukan ukhuwah islamiyah yang sedemikian penting, maka memeliharanya menjadi sesuatu yang amat ditekankan. Disamping harus mengecek kebenaran suatu berita buruk yang menyangkut saudara kita yang muslim, ada beberapa hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah bisa tetap terpelihara. Allah swt berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita wanita-wanita mengolok-olokan wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS Al-Hujurat (49): 11-12]

Dari ayat di atas, ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terpelihara: Pertama, memperolok-olokan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita. Kedua, mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar. Manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya.

Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu. Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang sifatnya justru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya. Karenanya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.

Keempat, berburuk sangka, ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad). Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenimatan atau keberhasilan. Sikap seperti harus dicegah karena akan menimbulkan sikap-sikap buruk lainnya yang bisa merusak ukhuwah islamiyah. Kelima, mencari-cari kesalahan orang lain, hal ini karena memang tidak ada perlunya bagi kita, mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan agar kita bisa memperbaiki diri sendiri. Keenam, bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi seseorang. Manakala kita mengetahui rahasia orang lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika ukhuwah islamiyah kita dambakan perwujudannya, maka segala yang bisa merusaknya harus kita hindari. Bila ukhuwah sudah terwujud, yang bisa merasakan manfaatnya bukan hanya sesama kaum muslimin, tapi juga umat manusia dan alam semesta, karena Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Karenanya mewujudkan ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan ini.

About these ads

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (43 votes, average: 9,37 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Ahmad Yani
Drs. H. Ahmad Yani adalah Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah, Ketua Majelis Dai Paguyuban Ikhlas, Ketua Redaksiwww.nuansaislam.com dan pengurus Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta. Selain itu juga sebagai anggota Majelis Syura Ikatan Dai Indonesia (IKADI). Aktif berdakwah dengan memberikan ceramah, pelatihan dai dan manajemen masjid di seluruh wilayah Indonesia, pernah juga berdakwah di Eropa dan Jepang serta televisi dan radio. Dakwah tulisan selain melalui website juga menulis di media Islam dan menerbitkan buku yang hingga kini sudah mencapai 27 judul. Semua ini dilakukan atas hasil didikan Almarhum Aba H. Nafsih dan Ibu Hj. Syarifah. Semoga pahalanya mengalir untuk beliau.
  • RUNI

    bisa disimpulakn bahwa setiap orang yang ingin dengan mudah berteman dengan orang lain harus memiliki hati yang bersih karena orang lain pasti akan segera merasakan ketulusan orang yang melakukan segala sesuatu dengan hati yang bersih tanpa berprasangka. karena itu mari kita manfaatkan semua amal ibadah sebagai saat untuk mensucikan jiwa.

  • ahmad ihsan tanjung

    hal yang paling ditakutkan adalah berukhuwah sesama muslim tapi dapat menyebabkan amal2 baik kita susut sedikit demi sedikit tanpa disadari. hama berlindung dari hal semacam itu ya Allah.

  • Bagaimana beukhuwah sebenarnya cermin dari kedewasaan kita (iman), kita masih ingat hadits arba'in tentang cinta, Tidak sempurna iman seseorang jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai diri kita sendiri (apa-apa yang kita cintai), perlu kedewsaan kan, bagaiman kita ingin difahami begitu juga seharusnya kita memahami orang lain, itulah rukun ukhuwah ; ta'aruf, tafahum. ta'awun, takaful, ta'liful qulub (saling lho, saling mengenal, memahami, saling tolong menolong, saling sepenanggungan, timbil deh pertautan hati)

  • Fuzi

    Ukhuwah adalah bingkai dari kerinduan, berukirkan kasih sayang dan kepedulian. Ruh dari kebersamaan dengan liqo'at sbg jasadnya.

  • solihati

    Tak kan pernah bisa kita merasakan indahnya ukhuwah islamiyah jikalau diri kita tidak mau bersungguh2 untuk mewujudkan dan menjaganya….. Keep Ukhuwah for Islam & for Allah SWT :-)

  • Dengan indahnya ukhuwah, qt bs merasakan indahnya berbagi sesama qt.khan, Allah menciptakan qt jg untuk berbagi dan saling membantu ketika da masalah."Always keep on Allah"s track and keep our ukhuwah……."

  • trio segara

    Saudaraku?…..waspadalah terhadap penyakit hati yang dapat merusak ukhuwah

  • ahmad noris

    sebuah kenikmatan selalu ada saja yang dapat membunuh kenikmatan tersebut, begitu halnya dengan ukhuwah

  • Sari

    Ukhuwah merupakan jalan satu2nya kita manusia untuk dapat mendapatkan kebahagiaan lahir bathin. Hidup kita merasa tenang dan tentram. Disaat kita ada cobaan kesusahan, para saudara kita ikut membantu dan di kala kita sedang bahagia, merekapun ikut bahagia untuk kita. Mudah-mudahan dapat diterapkan di kehidupan kita sehari-hari.

  • diri kita ada kelebihan dan kekurangan dalam segala hal maka jangan sampai terjadi merendahkan orang lain

  • anggun

    Semoga Allah selalu merahmati kita semua di bumi pertiwi tercinta ini.Aminnnn.

  • Berukhuwah memang indah, jalan kemuliaan tuk menggapai izzah islam walmuslimin, namun sekedar teori tidak cukup….apalagi jika duni dan nafsu menyelimuti qalbu ….semoga Allah menyatukan hati-hati kaum muslimin

  • Wawan Setiawan

    Dengan ukhuwah Islamiyah,Semoga bersatu umat islam di dunia dalam satu komando dan tegak khilafah Islam dengan syari'at Islam

  • Pingback: Mimbar Jum’at » Memahami Gerakan-gerakan di Luar Islam()

  • roba'i ahmad

    DENGAN UKHUWAH CIPTAKAN ISLAM YANG KUAT

  • yani

    “get happiness with ukhuwah islamiyah” ,syukron.. materinya bagus smoga ukhuwah bisa terpelihara teruuus… hingga yaumul akhir

  • Busairi

    Alhamdulillah materinya bagus semoga yang yang membacanya menyebarkannya kepada saudara yang lain agar kaum muslimin seluruh dunia bersatu padu,tolong menolong, bahu membahu satu dengan lainnya sehingga kita menjadi ummat yang kuat, hebat, dan disegani musuh-musuh Allah dan bisa menebarkan rahmat kepada seluruh Alam

  • Tiut

    Nothing can define Ukhuwah but heart! Heart can touch it. Something goes wrong with Ukhuwah, then yes, something goes wrong with the heart as well. Our comprehension of this ‘act’ seems hard, indeed. Somehow, it related in dealing with our brother and sisters. May Allah leads us trough. Warm regards!

  • tulisan yg cukup bagus. mohon izin utk men-sharenya ke teman2 ana… syukron :)

  • dien emilahud

    Seperti dikutup dalam Al Quran Al Anfal (8:63): “Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beiman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan ) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, Sesungguhnya Dia maha gagah lagi maha Bijaksana “.jadi kesimpulannya Allah SWT , memberikan jaminan akan mempersatukan ukhuwa diantara manusia tapi dengan syarat beiman dngn sebenar-benarnya iman kepada-NYA.mudah-mudahan kita tergolong orang yang yg beiman kepada-NYA,

  • dayat

    Mohon ridhox, untuk sy posting ke gruop facebook…..

  • sopie

    assalamualaikum……..i so grateful for your article, it so useful for me, i am looking for this for discuss today. i hope you allow me to copy it

  • Pingback: Tweets that mention Enam Perusak Ukhuwah | dakwatuna.com -- Topsy.com()

  • ummu nashrullah

    Mohon ijin share, terimakasih

  • Umami fakhri

    Mohon izin share….

Lihat Juga

Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah (gattours.com)

Menghidupkan Makna Hijrah

Organization