Home / Narasi Islam / Sejarah / Becermin Kepada Khalid bin Walid

Becermin Kepada Khalid bin Walid

Melakoni jalan hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak di pegunungan. Kadang menurun, suatu saat menanjak melampaui pucuk pohon tertinggi. Saat itulah, semua terlihat kecil. Bahkan, puncak gunung pun ada di telapak kaki. Berhati-hatilah, karena di balik gunung ada jurang.

Kurir Khalifah Umar Al-Khaththab agak heran dengan reaksi Khalid bin Walid. Selepas membaca surat khusus Khalifah, panglima perang Islam yang kesohor itu bicara pelan kepada sang kurir. “Jangan sampaikan pada siapa pun isi surat ini.” Dan kurir itu pun setuju.

Itulah pesan Khalid bin Walid sesaat setelah membaca surat penghentian jabatan panglima perang dirinya. Sama sekali, hal itu bukan lantaran ia menolak titah khalifah yang baru dilantik. Bukan pula karena khawatir kalau popularitasnya akan merosot. Ia cuma ingin menjaga agar semangat pasukan tetap prima. Dan kemenangan Perang Yarmuk yang sedang bergolak pun bisa diraih.

Popularitas Khalid dalam kemiliteran Islam saat itu, memang nyaris tak tertandingi. Ia memang sempurna di bidangnya: ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan kharismatik di tengah prajuritnya. Benar-benar idola yang pas buat mujahid Islam saat itu.

Keputusan Umar mengganti Khalid justru di saat puncak ketenaran bukan sebagai jegalan. Justru, Umar ingin menyelamatkan Khalid dari fanatisme yang berlebihan. Beliau pun khawatir kalau pasukan Islam mengalami pergeseran motivasi.

Menariknya, semua itu diterima Khalid dengan lapang dada. Dalam hitungan detik, ia bisa memahami maksud surat Umar itu. Ia tuntaskan perang dengan begitu sempurna. Setelah sukses, kepemimpinan pun ia serahkan ke penggantinya: Abu Ubaidah.

Itulah penggalan kisah seorang Khalid bin Walid. Pelajaran berharga buat mereka yang mengalami fitnah popularitas. Sekecil apa pun ketenaran, kalau tidak dibangun dengan pondasi yang kokoh, akan menjadi bencana besar. Setidaknya, buat kebaikan diri sang tokoh.

Kalau merujuk pada sosok Khalid bin Walid, ada beberapa bekal yang bisa diambil pelajaran. Pertama, ketokohan Khalid asli datang dari dalam. Bukan sekadar rekayasa media, bukan juga klaim sepihak. Itulah kelebihan khusus Khalid. Rasulullah saw. dan Khalifah Abu Bakar mengembangkan kelebihan itu pada saluran yang pas.

Kelebihan yang alami itulah yang menjadikan ketokohan Khalid tak terbantahkan. Bahkan, oleh musuh sekali pun. Seorang panglima Romawi, Georgius, pernah mengatakan, “Saya ingin sekali jawaban jujur dari Anda, Wahai Panglima. Apakah Tuhan menurunkan pedang dari langit kepada Nabi Anda dan pedang itu diserahkan khusus buat Anda?” Tentu saja, pertanyaan itu membuat Khalid bin Walid tersenyum.

Kedua, Khalid tidak terobsesi dengan ketokohannya. Ia tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan. Itu dianggapnya sebagai bagian dari buah perjuangan. Hal itulah yang pernah diungkapkan Khalid mengomentari pergantiannya, “Saya berjuang untuk kejayaan Islam. Bukan karena Umar!” Jadi, di mana pun posisinya, selama masih bisa ikut berperang, stamina Khalid tetap prima. Itulah nilah ikhlas yang ingin dipegang seorang sahabat Rasul seperti Khalid bin Walid.

Rasulullah saw. mengatakan, “Siapa memurkakan Allah untuk meraih keridhaan manusia maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhainya menjadi murka kepadanya. Namun, siapa meridhai Allah meskipun dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meridhainya dan meridhakan kepadanya orang yang pernah memurkainya. Allah memperindahnya, memperindah ucapan dan perbuatannya.” (HR. Aththabrani)

Ketika popularitas ada di tangan, sebenarnya seseorang sedang berada di puncak godaan. Persis seperti kuli bangunan yang berada di gedung tinggi. Kian tinggi posisinya, semakin besar tiupan angin. Dan kalau jatuh pun akan jauh lebih sakit.

Di antara godaan itu mengatakan, “Anda ini orang besar. Anda tahu apa yang Anda lakukan. Anda tak mungkin salah.” Pada saat yang bersamaan, kalau itu masuk dalam hati dan merembes menjadi sikap diri; orang menjadi ‘ujub. Ia merasa kalau dirinya memang besar. Tak ada yang layak mengatur dirinya. Termasuk, mungkin, oleh Allah swt. sendiri.

Itulah yang pernah diucapkan Iblis. “Saya lebih baik dari Adam. Aku dari api, dan dia dari tanah! Bagaimana mungkin mesti sujud padanya!” Itulah puncak kesalahan dari orang besar. Orang yang terjebak dalam kepopulerannya. Na’udzubillah!

Khalid bin Walid pun akhirnya dipanggil Allah swt. Umar bin Khaththab menangis. Bukan karena menyesal telah mengganti Khalid. Tapi, ia sedih karena tidak sempat mengembalikan jabatan Khalid sebelum akhirnya ‘Si Pedang Allah’ menempati posisi khusus di sisi Allah swt.

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (50 votes, average: 9,28 out of 10)
Loading...Loading...

Tentang

Pria yang kerap dipanggil "Nuh" ini berlatar pendidikan dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Gunadarma. Lahir di Jakarta dan saat ini produktif sebagai seorang penulis Dirosah, Nasihat, dan Ruang Keluarga di Majalah SAKSI. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia, Mati Syahid".

Lihat Juga

Grand Opening Sekolah Pemimpin di Pesantren Hidayatullah Jalan Kalimulya, Depok, Sabtu (07/03). (IST)

Sekolah Pemimpin untuk Hufadz Dhuafa

  • http://adjimsntelkom.net adji

    Subhanallah………….
    Seandainya para pemimpin bangsa ini mempunyai orang orang seperti mereka tentu negeri ini akan aman dan sejahtera

  • Ahmad Mukharom

    Assalamu'alaikum

    Niat yang ikhlas hanya karena Allah, tujuan perjuangan yang benar dan hati yang bersih adalah modal para pejuang dan para pendahulu kita. Sehingga lahirlah orang-orang yang luar biasa. Namanya mengharumkan jaman, semangatnya membangkitkan kekaguman, dan sikapnya patut jadi teladan.

    Semoga di Indonesia dan di kalangan umat Islam akan lahir Khalid-Khalid baru dan Umar-Umar baru. Amin.

  • abu_isham

    Khalid bin Walid mmg pejuang sejati…. gmn dengan para pejuang di partai? pasti mereka semua seudah mengetahui kisah ini.. tinggal sekarang.. mau meneladani atau mengikuti hawa nafsu..?

  • lukman

    sunggug mulia si Pedang Alloh meninggal dalam khusnul khotmah

  • http://ww.dakwatuna.com Syaiful R.

    Berharaplah semoga para pemimpin yang ada disekitar kita sekarang khusus orang islam agar

    belajar dari kebesaran para khalifah_khalifah seperti Khalid Bin Walid contoh pemimpin islam

    yang patut ditauladani.

  • anna farida

    Sekedar tambahan, ana pernah baca bahwa Khalid bin Walid ditanya oleh prajuritnya "Apakah anda takut dengan Umar (yang saat itu mejabat sebagai khalifah) ? Lantas beliau menjawab "Aku berperang bukan karena takut terhadap Umar dan bukan pula karena Umar tapi aku berperang takut dan karena Tuhannya Umar".Subhanallah !!! Siapa pemimpin Indonesia yang mau meneladani ????

  • yorga

    Setelah surat penghentiannya itu pernah pula Khalid digoda untuk memberontak terhadap kekhalifahan Umar. Namanya ng dengan namanya yg sudah populer di kalangan masyarakat saat itu membuat ia memiliki kesempatan besar untuk memberontak.

    Namun apa jawabannya?

    "Tidak. Tidak akan terjadi pemberontakan selama Umar masih hidup."

    Subhanalloh.

  • suargo

    Maju terus da'watuna…agar para aktifis da'wah harus memahami kondisi da'wahnya serta bagaimana memperlakukannya…. kebijakan jamaah harus tetap menjadi acuan kita dalam bergerak

  • ARIER

    subhanalloh. kalo menrut nt masih ada ga' ya seorang manusia sperti khalid.
    klo ada cerita yang menrik tolong kirim ke email ana ya "[email protected]" ato temen'' yang ngeliat almt email ane blh jg qo' klo mo ngirim. makasiiiiiiih

  • ishar

    asslam salam ukhuwah bagi para pencinta syahid.sudah lama saya kami bangsa indonesia mencari para khalid2 baru yang mampu menjaga hati terhadap kekuasaan walaupun beliau orang yang hebat.tolong di kirimkan jg cerita ato sirah sahabat.

  • ninetriple1

    Assalamualaykum

    khalid bin walid radiallahu'anhu adalah salah satu dari golongan ahlussunah dan salafusholih, maka dari itu marilah kita kembali kepada jalan ahlusunnah dan jejak salafusholih

  • Madi Muhammad

    Seorang pemimpin (Khalifah) mempunyai kader yang handal islamnya bukan hanya dalam ibadahsaja. Perjuangan mengangkat pemimpin seperti inilah yg wajib bagi kita agar mempunyai bawahan yg tidak ambisius dan koruptor.Dan agar Syariah ditegakkan secara kafah dalam segala bidang tidak sebagian-sebagian karena tak ada satu negarapun yg menerapkan islam secara kafah.Jzkmllh

  • abu altan

    BAGAIMANA BISA KITA MENEMUKAN KHALID BIN WALID DIZAMAN SEKARANG.KALAU KHILAFAH PELINDUNG UMAT ISALM TIDAK ADA., MARILAH KITA BERSAMA 2 MENEGAKKAN KHILAFAH. SEHIN GGA NANTI AKAN LAHIR KHOLID 2 YANG BARU

  • zainal arifin

    Terkadang sebuah rasa lebih dari yang lain yang tak terkontrol itulah yang dapat menjadikan seseorang menjadikan terjerumus akan yang namanya ketakaburan sehingga membuat dia menjadi pongah dan merasa di atas yang lainnya….. Semoga kita semua bisa terjaga dan selalu waspada akan semua itu dan mendapatkan lindungan Allah SWT.Amin…

  • http://www.facebook.com/people/Teguh-Parlindungan-Lubis/100000885937128 Teguh Parlindungan Lubis

    subhanallah

  • http://www.facebook.com/people/Teguh-Parlindungan-Lubis/100000885937128 Teguh Parlindungan Lubis

    subhanalloh