Home / Narasi Islam / Dakwah / Meraih Kekuasaan Atas Nama Dakwah

Meraih Kekuasaan Atas Nama Dakwah

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya (Dzul Qarnain) di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu”. (Al-Kahfi : 84).

Ayat di atas dan ayat anugerah kekuasaan kepada para Nabi pilihan Allah swt lainnya cukup menjadi bukti dan argumentasi yang kuat untuk menjawab mispersepsi atau miskonsepsi yang masih hadir di tengah-tengah umat bahwa kekuasaan sangat bertentangan dengan dakwah. Kekuasaan adalah simbol kediktatoran dan cermin kezaliman, sedangkan dakwah adalah cermin keteladanan dan simbol kasih sayang.

Persepsi negatif ini wajar muncul karena beberapa orang –bisa jadi mayoritas orang- yang diberi kesempatan untuk berkuasa ternyata tidak mampu memanfaatkan kekuasaan itu untuk kemaslahatan dan kesejahteraan bangsa. Malah sebaliknya, kekuasan itu dimanfaatkan untuk mempekaya diri dan justifikasi tindakan kesewenangannya.

Di sisi lain, ada sekelompok orang yang memiliki cita-cita luhur menyebarkan kemasalahatan dan kesejahteraan kepada semua pihak, namun tidak dapat merealisasikannya karena tidak memiliki alat kekuasaan (power).

Dua realitas yang menggejala di tengah umat ini tentunya tidak bisa dijadikan alasan menyalahkan kekuasaan atau memaksakan kekuasaan. Kehadiran kekuasaan dalam konteks dakwah, merupakan sunnatullah yang pernah berlaku kepada umat terdahulu, bahkan melalui manusia unggulan pilihan Allah swt, yaitu para Nabi dan hamba-hamba-Nya yang shalih.

Tentu, anugerah kekuasaan yang Allah swt berikan kepada salah seorang dari hamba-Nya yang sholeh tidak bisa dilepaskan dari misi dakwah menyebarkan ajaran Islam dan menegakkannya di tengah-tengah umat manusia.

Dzul Qarnain yang diabadikan namanya pada ayat di atas merupakan figur penguasa yang sekaligus aktifis dakwah. Ia mampu merealisasikan dakwah dan kekuasaan secara bersamaan. Bahkan dengan kekuasaan yang dimilikinya, ia mampu menghadirkan kemajuan dan kemaslahatan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Al-Qur’an menyuguhkan kisah prestasi positif Dzul Qarnain dalam bidang dakwah dengan kekuasaan yang diraihnya dalam surah Al-Kahfi : 83-98.

Pengabadian kisah dakwah dan kekuasaan Dzul Qarnain oleh Al-Qur’an jelas merupakan petunjuk sekaligus jawaban bahwa sebuah dakwah akan lebih memberikan hasil yang maksimal manakala didukung oleh sarana kekuasaan. Simaklah ketegasan Dzul Qarnain dalam ayat berikut ini,

“Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” (Al-Kahfi: 87-88).

Pernyataan yang demikian tegas ini tentunya tidak akan terlontar kecuali dari seorang penguasa. Dalam hadits Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, Rasulullah saw malah mengawali perubahan kemunkaran itu dengan “biyadihi” yaitu kekuasaan dan kekuatan, barulah langkah di bawah berikutnya dengan lisan dan dengan doa, meskipun termasuk tanda iman yang lemah.

Pada realitasnya, dengan kekuatan dan kekuasaan yang Allah swt anugerahkan, justru memudahkan Dzul Qarnain untuk melakukan ekspansi dakwah ke seluruh penjuru bumi dari belahan timur hingga ke belahan barat, sekaligus mendapatkan ketaatan umat manusia, yang selanjutkan ia manfaatkan untuk melancarkan program pemberdayaan, pembangunan dan penyejahteraan. Bahkan dengan kekuasaannya yang besar, memudahkannya untuk merealisasikan apapun nantinya yang dapat memajukan dan mensejahterakan kehidupan bersama.

Bukti lain dari Dzul Qarnain yang disebutkan kisahnya dalam surah Al-Kahfi, bahwa ia bukan sekedar penguasa biasa. Ia sekaligus seorang hamba Allah yang sholeh yang tak kenal lelah melakukan safari dakwah untuk mensosialisasikan ajaran Allah.

Allah swt menggambarkan jaulah dakwahnya yang cukup padat ke berbagai penjuru dunia yang tidak bisa dicapai oleh orang lain, “Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. (Al-Kahfi: 89-91).

Dalam konteks kekuasaan sebagai bagian dari sarana dakwah Islam, nabi Yusuf as sangat layak untuk dijadikan contoh nyata bahwa kekuasaan yang dimiliki seorang da’i akan memuluskan kerja dan tujuan dakwah. Al-Qur’an menyebutkan permintaan Nabi Yusuf as kepada raja Mesir, “Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf : 55).

Permintaan ini disampaikan manakala raja menawarkan jabatan kepadanya, “Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.” (Yusuf : 54).

Peluang dan kesempatan yang terbuka di depannya tidak disia-siakan lagi oleh Nabi Yusuf as demi kepentingan dakwah.

Ayat meminta jabatan oleh nabi Yusuf as di sini harus difahami dari sudut pandang yang positif bahwa sesungguhnya Nabi Yusuf as tidak meminta jabatan melainkan yang diyakininya dapat mengatasi krisis di masa depan. Jabatan yang diyakini akan mampu melindungi rakyatnya dari kelaparan dan kematian serta melindungi Negara dari kehancuran. Jabatan yang akan diembannya justru memiliki konsekuensi dan tanggung jawab yang berat di masa paling sulit ketika krisis terjadi. Nabi Yusuf as harus bertanggung jawab atas kecukupun stok makanan bagi seluruh bangsa Mesir dan bangsa-bangsa sekitarnya selama tujuh tahun ke depan, dimana selama itu tidak ada kegiatan pertanian dan peternakan.

Memang suatu jabatan yang tidak menguntungkan bagi Yusuf as. namun justru dengan kekuasaan tersebut, nabi Yusuf as dapat lebih leluasa bergerak dan berdakwah merealisasikan tujuan dan misi Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin,

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. (Yusuf : 56).

Sayid Qutb mengomentari kekuasaan yang telah diraih oleh nabi Yusuf di Mesir dalam kaca mata dakwah bahwa sesungguhnya penghalang terbesar bagi peralihan sebuah masyarakat dari jahiliyah menuju Islam adalah keberadaan para thagut (penguasa) yang enggan berhukum kepada undang-undang Allah swt. Ditambah dengan keberadaan bangsa yang masih taat dan tunduk kepada thagut. Di sini, nabi Yusuf as melihat kondisi yang memungkinkannya untuk menjadi seorang pemimpin yang ditaati dan bukan tunduk kepada norma jahiliyah. Sehingga dengan kekuasaanya itulah, ia bebas berdakwah dan menyerbarkannya di tengah masyarakat Mesir pada masa pemerintahannya.

Demikianlah tabiat dakwah Islam. Berawal dari individu, kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Lantas kempulan ini begerak melawan jahiliyah dengan segala resiko sehingga Allah swt memutuskan dengan hukum-Nya antara orang-orang yang tunduk kepada-Nya dengan mereka yang ingkar dan durhaka. Lalu Allah swt menganugerahkan kepada mereka kekuatan dan kekuasaan di muka bumi, sehingga orang-orang berbondong-bondong memeluk agama Allah swt.

Nabi lain yang dianugerahkan oleh Allah swt kekuasaan adalah nabi Sulaiman as. Bahkan kekuasaan beliau adalah kekuasaan yang luar biasa tidak

terbatas dan tidak akan berulang untuk kedua kalinya. Kekuasaan yang diterima Sulaiman as adalah berawal dari permintaannya kepada Allah swt,

”Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Shaad : 35).

Pemahaman yang paling dekat dengan ayat ini adalah bahwa Nabi Sulaiman as memohon kepada Allah kekuasaan yang istimewa yang tidak akan ada lagi setelahnya. Karena hanya dengan kekuasaan seperti itulah, kerajaan-kerajaan di sekitarnya akan tunduk dan menerima seruan dan dakwah nabi Sulaiman as.

Dengan kekuasaan yang meliputi seluruh makhluk Allah swt ayang tidak terbatas itulah, nabi Sulaiman melakukan dakwahnya, sampai akhirnya bergetarlah salah seorang penguasa yang menyembah matahari melihat kekuasaan Sulaiman as yang tidak terhingga. Lantas ia dan seluruh rakyatnya menyatakan keIslamannya.

“Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (An-Naml : 44).

Jika seorang Nabi yang dijadikan teladan oleh Allah swt dibenarkan untuk berdoa memohon agar diberi kekuasaan dan kekuatan, maka tentunya permohonan itu adalah permohonan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam yang konprehensif. Karena Allah swt tidak mengajarkan sesuatu melainkan untuk kebaikan hamba-hamba-Nya.

Kekuasaan yang telah memberikan kontribusi yang besar kepada dakwah pernah dibangun juga oleh sahabat Umar bin Khattab dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Kesejahteraan dan ketenangan bukan hanya dirasakan oleh umat Islam, tetapi oleh seluruh umat manusia, bahkan hewan pun mendapatkan berkah dari kekuasaan keduanya.

Begitulah, ketika kekuasaan ditangan orang-orang yang sholeh, maka tujuan dakwah dapat direalisasikan dengan sempurna. Dan manakala tujuan dakwah terealisir, maka pada masa yang sama sesungguhnya kemaslahatan dan kepentingan manusia juga terjamin, karena dakwah Islam diarahkan untuk membangun kebaikan kepada sesama. Maha benar Allah dengan firmanNya,

”Sesungguhnya bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang sholeh”. (Al Anbiya’: 105).

Disinilah urgensi kekuasaan dalam dakwah Islam. Dengan kekuasaan, pintu dan peluang dakwah dan amal sholeh akan lebih terbuka luas. Efektifitas kekuasaan dalam menegakkan dakwah telah terbukti dalam sejarah dakwah para manusia pilihan Allah; Nabi Sulaiman, nabi Yusuf, Dzul Qarnain, bahkan Rasulullah saw sendiri ketika berhasil menguasai dan menaklukkan Mekah, sehingga berbondong-bondong penduduk Mekah memeluk Islam.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”. (An-Nashr: 1-3).

Saatnya kita menjadikan dan memanfaatkan kekuasaan dalam bentuk dan skala apapun sebagai sarana untuk menyempurnakan dakwah Islam sehingga integralitas Islam mampu kita jabarkan dalam realitas kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya Islam adalah Din sekaligus Negara (Din Wa Daulah), bukan dipersempit dengan batasan ruang rutinitas ibadah mahdloh –ritual- sehari-hari semata. Allahu A’lam.

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 8,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Attabiq Luthfi, MA
Pria kelahiran Cirebon ini berlatar belakang pendidikan dari Pondok Modern Gontor, Jawa Timur. Setelah itu melanjutkan pendidikan ke S1 di Islamic University, Madinah KSA, S2 di Universitas Kebangsaan Malaysia, dan S3 di universitas yang sama. Saat ini bekerja sebagai dosen di Pasca Sarjana STAIN Cirebon, UIJ, SEBI, dan Ma'had Nuaimy.Aktif di Sie Rohani Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) UKM Malaysia. Amanah yang diemban saat ini adalah sebagai Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia (FORKOMMI) di Malaysia, dan sebagai ketua Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) DKI Jakarta. Produktif dalam menghasilkan beberapa karya, di antaranya Al Qur'an Edisi Do'a, buku Studi Tafsir Al-Munir Karya Imam Nawawi Banten, dan buku Puncak Keberkatan Rizki Tersekat (Edisi Malaysia). Selain itu juga aktif sebagai kontributor tetap pada Kolom Tafsir di Majalah Al-Iman (bil Ghoib), dan sebagai kontributor tetap pada rubrik Tarbiyah di Majalah Tatsqif. Moto hidupnya adalah "Terus belajar, bekerja, dan berjuang untuk ummat".
  • “Meraih Kekuasaan Atas Nama Dakwah” Mari kita buktikan dengan Musyarokah

  • Sungguh berat mengembalikan pemahaman seperti itu, padahal Rasulullah telah memberikan teladan, tapi kebanyakan kita mengartikan kekuasaan adalah kotor yang harus dijauhi. Katanya meneladani Rasul tapi pilih yang mereka suka dan menguntungakan saja. Ayo bangkit! Dakwah menegakkan kekuasaan yang benar, berkuasa untuk menyebarkan dakwah.

  • Mizu

    Di sini, nabi Yusuf as melihat kondisi yang memungkinkannya untuk menjadi seorang pemimpin yang ditaati dan bukan tunduk kepada norma jahiliyah. Sehingga dengan kekuasaanya itulah, ia bebas berdakwah dan menyerbarkannya di tengah masyarakat Mesir pada masa pemerintahannya.”

    Saya melihat koq dakwah Partai tidak seperti nabi Yusuf, ketika para kader sudah menjadi bagian dari pemerintahan, dia tunduk dengan aturan-aturan atau hukum manusia…sehingga dia tidak leluasa untuk menyebarkan dakwahnya..
    Mihon tanggapannya…Jazakumullahu khairan

  • Nur

    Assalamualaikum.Wr.Wb.
    Alhamdulillah, sesungguhnya da’wah memiliki banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk menegakkan agama termasuk dalam hal politik. Ini adalah ruang da’wah yang tidak boleh disia-siakan sebagaimana Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa nabi Yusuf telah memanfaatkannya untuk meminimalisir kezhaliman dan melebarkan jalan dakwah beliau. Para ulama kita seperti Syaikh bin Baaz, Syaikh al Utsaimin, Syaikh al Qaradhawi, Syaikh az Zindany dan banyak lainnya juga telah memfatwakan bolehnya masuk ke parlemen dan pemerintahan untuk beramar ma’ruf nahi munkar.
    Jadi…tinggal kitalah yang harus berusaha dengan segala kemampuan…insya Allah akan ada perbaikan walau sedikit demi sedikit. Nabi saja berjuang selama 23 tahun…Tidak mungkin kita mengubah semua kerusakan hanya dalam 4-5 tahun…Terus berjuang… iringi dengan doa dan kesabaran….Takbiiir!

  • Khoirul anam

    Kepemimpinan memang salah satu sarana dakwah yang paling efektif. Tp niat baik untuk memperbaiki umat saja tidak cukup, Seorang calon pemimpin harus memiliki kemampuan yang memadai. Jangan sampai ketika dakwah telah berhasil meng-gol-kan kadernya menjadi pemimpin, ternyata sang kader tidak memiliki kemampuan yang mumpuni dan terkesan mengecewakan. Lebih baik bersabar beberapa saat untuk mendidik kader, dan bila telah siap, baru maju menuju kekuasaan

  • yani

    Ya Allah berilah kami pemahaman ini. bukakanlah pintu hati kami…persatukanlah hati hati kami. Untuk mencapai cahayaMu

  • Saya ingin berbagi wawasan tentang dakwah dan politik di sini :
    http://herianto.wordpress.com/2007/04/12/politik-

  • fillah

    assalamu'alaikum.wr.wb.

    islam kan agama yang syumul,dan da'wahpun seharusnya ada di semua bidang termasuk kekuasaan.sudah saatnya kekuasaan dipegang oleh orang2 yang insya ALLAH amanah.bukankah ALLAH melarang kita untuk memilih pemimpin yang kafir?saya sangat prihatin pada orang yang hanya melihat kegagalan para pemimpin islam dalam memegang amanah,seharusnya kita saling menolong dan bukan saling membenci.Harap lihat pentingnya menegakkan da'wah di seluruh bidang agar indonesia jadi negara yang kondusif untuk hijrah ke islam kaffah.jazakumullah khairan.

  • Subhanallah, ketika dakwah tidak menyentuh kekuasaan maka bisa dibayangkan akan lahir pemimpin-pemimpin yang tidak beriman dan kemurnian Islam melalui dakwah tidak akan terjaga sehingga kekuasaan harus diperjuangkan untuk kemaslahatan ummat menuju Islam Kaffah. Mari terus berdakwah melalui saluran-saluran profesi/pekerjaan kita masing-masing demi tegaknya nilai-nilai Islam di muka bumi ini. Jazakummullah Khairan

  • Ibnu achmad

    Subhanallah, terlihat semangat dari teman2 untuk menegakkan islam secara menyeluruh(syumul) dalam setiap aspek kehidupan.

    Tapi saya harap kita semua tidak lupa bahwa semangat tidaklah cukup untuk menegakkan Islam. Dibutuhkan Ilmu yang mendalam dan pemahaman yang lurus agar Islam dapat menyentuh segala aspek kehidupan secara benar. Jangan sampai niat hati menegakkan Islam tapi malah merobohkan dan mencemarinya. Untuk yang satu ini tentu kita paham bahwa Rosulullah SAW merupakan tauladan yang terbaik dalam berdakwah. Bagaimana rosulullah mulai berdakwah dan bekal apa yang diberikannya kepada para sahabat hingga masyarakat yang madani dapat tercapai. Bagaimana bisa tercapai masyarakat yang madani jika masyarakatnya itu sendiri tidak memiliki bekal keislaman yang kuat. Tidak paham pokok2 akidah yang merupakan pondasi umat Islam dan Pokok2 muamalah yang sesuai syari'at. Khawatir seperti masyarakat Afghanistan. Betul tidak..? Wallohu musta'an.

  • Dicky

    Kekuasaan, atau apapun namanya adalah wilayah yang harus disentuh bahkan direbut oleh da'wah.

    Spiritnya hanya satu : Syari'at Allah tegak di muka bumi. Sarana dan proses akan penuh dengan dinamika.

    Semua itu adalah bagian dari upaya….. jangan pernah menyerah. Bahkan semua upaya itu tetap harus

    dihargai. Yang penting Upaya, bukankah Allah swt lebih menilai Seberapa besar upaya yang kita lakukan ?

    Maju terus para junud Allah di ma'rokah siyasi !!! Allah beserta kita.

  • sukma

    kekuasaan memang telah menjadi bagian dari da'wah ini. klo baca tulisan ust. ternyata memang da'wah menjadi begitu efektif ketika diiringi dengan kekuasaan. ada pepatah bahwa, "rakyat akan mengikuti agama rajanya".
    tapi ada satu hal yang agak mengganjal, seringkali melihat para kader da'wah ketika memegang kekuasaan sering kali gak jelas follow-up nya. what's next? seringkali belum mampu di jawab secara lugas oleh para aktivis. emang sih dengan lantang mereka mengatakan "ini untuk da'wah!!" ya gak salah sih tapi program dan step2nya gak jelas, trus arah perubahannya juga gak tau kemana.
    sepertinya ada "lubang besar" yang masih menjadi masalah ketika para da'i memasuki ranah publik, bahwa mereka seringkali kesulitan menerjemahkan Islam dalam bahasa sosial, dalam bahasa ekonomi, dalam bahasa budaya dll. sehingga kekuasaan yang dipegang tidak terlalu memberikan efek yang signifikan. yang dikhawatirkan kekuasaan dijadikan tujuan akhir sekedar asal dipegang tapi nilai da'wahnya tidak ada

  • marwan ds

    Idealnya begitu. Dakwah dan Kekuasaan saling membutuhkan. Tetapi semuanya tergantung kepada niat. Saya paling takut mendiskusikan masalah ini, sebab hanya Allah yang paling tahu niat seseorang berdakwah. Seperti pernah diceritakan bagaimana niat seorang mujahid, dermawan, dan ulama. kesemuanya masuk neraka.

    Hanya kepada Allah kita berserah diri.

  • veni clara victoria.S.Sos

    ya Allah luruskan jagalah hati hamba dalam dakwah ini, ingatkan lah hamba bila hamba lupa, tegurlah ahmba apabila hamba lalai dan hukum lah hamba jikalau hamba berdosa….dan Ampunilah dosa-dosa hamba ya Allah….

  • muslim

    Alhamdulillah, barakallahulakum ya ustadzuna asatidz da’wah.. sekedar tambahan, jika kekuasaan itu baik dan ditanggan ahlul khoir, maka kekuasaan itu harus direbut, dari pada direbut oleh ahli maksiat..

Lihat Juga

Ilustrasi. (fatman.fi)

Dakwah Kampus, Gambaran Besar dan Arahnya ke Depan