Home / Dasar-Dasar Islam / Hadits / Syarah Hadits / Merusak Rumah Tangga Orang Lain

Merusak Rumah Tangga Orang Lain

Dari Abî Hurairah –radhiyallâhu ‘anhu- ia berkata: “Rasulullâh – shallallâhu ‘alaihi wa sallam – bersabda: ‘Siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba sahaya dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami, dan siapa yang merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah dari kami'”. [Hadîts shahîh diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzâr, Ibn Hibbân, Al-Nasâ-î dalam al-Kubrâ dan Al-Baihaqî].

Teks Hadîts

Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam – bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (( مَنْ خَبَّبَ عَبْدًا عَلَى أَهْلِهِ فَلَيْسَ مِنَّا، وَمَنْ أَفْسَدَ اِمْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا )) [حديث صحيح رواه أحمد والبزار وابن حبان والنسائي في الكبرى والبيهقي]

Takhrîj Hadîts

Hadîts ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad [juz 2, hal. 397], Al-Bazzâr [lihat Mawârid al-Zham’ân juz 1, hal. 320], Ibn Hibbân dalam shahîh [juz 12, hal. 370], Al-Nasâ-î dalam Al-Sunan al-Kubrâ [juz 5, hal. 385], dan Al-Baihaqî dalam Al-Sunan al-Kubrâ [juz 8, hal. 13], juga dalam Syu’abu al-Îmân [juz 4, hal. 366, juz 7, hal. 496].

Syekh Nâshir al-Dîn al-Albânî menilai hadîts ini sebagai hadîts shahîh [Silsilah al-Ahâdîts al-Shahîhah hadîts no. 325].

Kandungan Hadîts

Secara garis besar hadîts ini berisi kecaman keras terhadap dua perbuatan, yaitu:

1. Mengganggu seorang pelayan, atau pembantu atau budak yang telah bekerja pada seorang tuan, sehingga hubungan di antara pelayan dan tuannya menjadi rusak, lalu sang pelayan pergi meninggalkan tuannya, atau tuannya memecat dan mengusir sang pelayannya.

2. Mengganggu seorang wanita yang berstatus istri bagi seorang lelaki, sehingga hubungan di antara suami istri itu menjadi rusak, lalu sang istri itu meminta cerai dari suaminya, atau sang suami menceraikan istrinya.

Bentuk-Bentuk Gangguan dan Tindakan Merusak

Ada beragam bentuk dan cara seseorang merusak hubungan diantara suami istri, di antaranya adalah:

1. Berdoa dan memohon kepada Allâh –subhânahu wa ta’âlâ- agar hubungan seorang wanita dengan suaminya menjadi rusak dan terjadi perceraian di antara keduanya.

2. Bersikap baik, bertutur kata manis dan melakukan berbagai macam tindakan yang secara lahiriah baik, akan tetapi, menyimpan maksud merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya (atau sebaliknya). Perlu kita ketahui terkadang sihir itu berupa tutur kata yang memiliki kemampuan “menghipnotis” lawan bicaranya. Rasulullâh –shallallâhu ‘alahi wa sallam- bersabda: “Sesungguhnya sebagian dari sebuah penjelasan atau tutur kata itu adalah benar-benar sihir”. (H.R. Bukhârî dalam al-Adab al-Mufrad, Abû Dâwud dan Ibn Mâjah. Syekh Albânî menilai hadîts ini sebagai hadîts hasan [silsilah al-ahâdîts al-shahîhah, hadîts no. 1731]).

3. Memasukkan bisikan, kosa kata yang bersifat menipu dan memicu, serta memprovokasi seorang wanita agar berpisah dari suaminya (atau sebaliknya), dengan iming-iming akan dinikahi olehnya atau oleh orang lain, atau dengan iming-iming lainnya. Perbuatan seperti ini adalah perbuatan tukang sihir dan perbuatan syetan (Q.S. Al-Baqarah: 102). Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Sesungguhnya Iblis menempatkan singgasananya di atas air, lalu menyebar anak buahnya ke berbagai penjuru, yang paling dekat dengan sang Iblis adalah yang kemampuan fitnahnya paling hebat di antara mereka, salah seorang dari anak buah itu datang kepadanya dan melapor bahwa dirinya telah berbuat begini dan begitu, maka sang Iblis berkata: ‘kamu belum berbuat sesuatu’, lalu seorang anak buah lainnya datang dan melapor bahwa dia telah berbuat begini dan begitu sehingga mampu memisahkan antara seorang suami dari istrinya, maka sang Iblis menjadikan sang anak buah ini sebagai orang yang dekat dengannya, dan Iblis berkata: ‘tindakanmu sangat bagus sekali’, lalu mendekapnya”. (H.R. Muslim [5032]).

4. Meminta, atau menekan secara terus terang agar seseorang wanita meminta cerai dari suaminya atau agar seorang suami menceraikan istrinya dengan tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at. Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tidak halal bagi seorang wanita meminta (kepada suaminya) agar sang suami mencerai wanita lain (yang menjadi istrinya) dengan maksud agar sang wanita ini memonopli ‘piringnya’, sesungguhnya hak dia adalah apa yang telah ditetapkan untuknya”. (Hadîts muttafaq ‘alaih).

Bentuk-bentuk seperti ini sangat tercela, dan termasuk dosa besar jika dilakukan oleh seseorang kepada seorang wanita yang menjadi istri orang lain, atau kepada seorang lelaki yang menjadi suami orang lain.

Dan hal ini semakin tercela lagi jika dilakukan oleh seseorang yang mendapatkan amanah atau kepercayaan untuk mengurus seorang wanita yang suaminya sedang pergi atau sakit dan semacamnya. Sama halnya jika dilakukan oleh seorang wanita yang mendapatkan amanah atau kepercayaan untuk mengurus keluarga seorang lelaki yang istrinya sedang pergi atau sakit dan semacamnya.

Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Keharaman wanita (istri yang ditinggal pergi oleh) orang-orang yang berjihad bagi orang-orang yang tidak pergi berjihad (yang mengurus keluarga mujahid) adalah seperti keharaman ibu-ibu mereka, dan tidak ada seorang lelaki pun dari orang-orang yang tidak pergi berjihad yang mengurus keluarga orang-orang yang pergi berjihad, lalu berkhianat kepada orang-orang yang pergi berjihad, kecuali sang pengkhianat ini akan dihentikan (dan tidak diizinkan menuju surga) pada hari kiamat, sehingga yang dikhianati mengambil kebaikan yang berkhianat sesuka dan semaunya”. (H.R. Muslim [3515]).

Salah satu bentuk pengkhianatan yang dimaksud dalam hadîts Muslim ini adalah merusak hubungan keluarga sang mujahid, sehingga bercerai dari suaminya.

Bentuk pengkhianatan yang lebih besar lagi adalah –na’ûdzu billâh min dzâlik- berzina dengan keluarga sang mujahid.

Termasuk dalam pengertian mujahid ini adalah seseorang yang mendapatkan tugas dakwah, atau menunaikan ibadah haji atau umrah, atau bepergian yang mubah, lalu menitipkan urusan keluarganya (istri dan anak-anaknya) kepada orang lain. Dalam hal ini, jika yang mendapatkan amanah berkhianat, maka, ia termasuk dalam ancaman hadîts Muslim ini.

Mirip-mirip dengan hal ini adalah jika ada seseorang yang karena kapasitasnya, mungkin karena ia adalah seorang tokoh, atau pimpinan sebuah organisasi atau kiai, atau ustadz, atau semacamnya yang diamanahi untuk mendamaikan hubungan suami istri orang lain yang sedang rusak atau terancam rusak, akan tetapi, ia malah mengkhianati amanah ini.

Hukum Merusak Rumah Tangga Orang Lain

a. Hukum Ukhrawî

Para ulama’ bersepakat bahwa hukum mengganggu dan merusak hubungan sebagaimana dimaksud dalam hadîts nabi di atas adalah haram (lihat al-mausû’ah al-fiqhiyyah, pada bâb takhbîb), maka siapa saja yang melakukannya, maka ia mendapatkan dosa dan diancam siksa di neraka.

Bahkan Imam Al-Haitsamî mengkategorikan perbuatan dosa ini sebagai dosa besar.

Dalam kitabnya Al-Zawâjir ‘an Iqtirâf al-Kabâir beliau menyebutkan bahwa dosa besar yang ke 257 dan 258 yaitu merusak seorang wanita agar terpisah dari suaminya dan merusak seorang suami agar terpisah dari istrinya.

Alasannya, hadîts nabi –shallallâhu ‘alaihi wa sallam – di atas menafikan pelaku perbuatan merusak ini dari bagian umat beliau, dan ini terhitung sebagai ancaman berat. Juga para ulama’ sebelumnya, secara sharîh (jelas) mengkategorikannya sebagai dosa besar. (lihat Al-Zawâjir juz 2, hal. 577).

b. Hukum Duniawî

Ada dua hukum duniawi terkait dengan hadits ini, yaitu:

1. Jika ada seorang lelaki yang merusak hubungan seorang wanita dari suaminya, lalu sang wanita itu meminta cerai dari suaminya, dan sang suami mengabulkannya, atau jika ada seorang lelaki merusak hubungan seorang wanita dari suaminya, lalu sang suami marah dan menceraikan istrinya, lalu sang lelaki yang merusak ini menikahi wanita tersebut, apakah pernikahannya sah?

Jumhur ulama’ berpendapat bahwa pernikahan sang lelaki perusak dengan wanita korban tindakan perusakannya adalah sah. Alasannya adalah karena wanita tersebut tidak secara eksplisit terhitung sebagai muharramât (wanita-wanita yang diharamkan baginya).

Namun, ulama’ Mâlikiyyah memiliki pendapat yang berbeda dengan Jumhur. Mereka berpendapat bahwa pernikahan yang terjadi antara seorang lelaki perusak dengan wanita yang pernah menjadi korban tindakan perusakannya harus dibatalkan, baik sebelum terjadi akan nikah di antara keduanya atau sudah terjadi. Alasan Mâlikiyyah dalam hal ini adalah:

i. Demi menerapkan hadîts yang menjadi kajian kita kali ini.

ii. Agar tidak menjadi preseden buruk bagi munculnya kasus-kasus lain yang serupa, demi menjaga keutuhan rumah tangga kaum muslimin.

iii. Hal ini terhitung dalam kategori kaidah fiqih: man ta’ajjala syai-an qabla awânihi ‘ûqiba bihirmânihi (siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum saatnya, maka ia dihukum dengan tidak diperkenankan mendapatkan sesuatu itu). Kaidah ini pada asalnya berlaku bagi seseorang yang melamar dengan kata-kata sharîh seorang wanita yang masih dalam masa iddah (tunggu) pasca kematian suaminya. (Q.S. Al-Baqarah: 235). Logikanya, jika melamar dengan kata-kata sharîh terhadap seorang wanita yang masih dalam masa iddah karena kematian suaminya saja tidak dibenarkan, padahal dalam hal ini tidak ada aspek perusakan yang berakibat terciptanya perceraian wanita itu dari suaminya (karena memang suaminya telah meninggal), maka, jika ada seseorang yang merusak seorang wanita yang masih bersuami, sehingga tercipta perceraian wanita itu dari suaminya, hukumnya tentunya lebih berat daripada yang dimaksud dalam kaidah fiqih ini. Untuk itulah, jika akan terjadi pernikahan antara sang lelaki perusak hubungan dengan wanita “korban” tindakan perusakannya, maka, hal ini harus dicegah, dan jika sudah kadung terjadi pernikahan di antara keduanya, maka, pernikahan itu harus dibatalkan.

Yang lebih menarik lagi dari pendapat Mâlikiyyah ini adalah: ada sebagian dari ulama’ Mâlikiyyah yang berpendapat bahwa wanita “korban” tindakan perusakan seorang lelaki, menjadi haram selamanya bagi sang lelaki perusak tersebut.

Perbedaan pendapat ini kami sebutkan di sini sebagai peringatan keras bagi siapa saja agar tidak melakukan perbuatan seperti ini, walaupun, secara hukum fiqih, pendapat Jumhur lebih kuat, akan tetapi, pendapat Mâlikiyyah, perlu kita jadikan sebagai cambuk peringatan.

2. Jika ada seseorang yang melakukan perbuatan terlarang ini, adakah ia perlu mendapatkan hukuman di dunia?

Para ulama’ berpendapat bahwa perbuatan terlarang seperti ini, jika ada yang melakukan, maka hakim berwewenang menjatuhkan ta’zîr (hukuman yang ketentuannya ditetapkan oleh hakim atau penguasa) dengan syarat tidak melebihi bobot 40 cambukan.

Di antara mereka ada yang berpendapat, hukumannya adalah kurungan penjara sampai ia menyatakan tobat atau meninggal dunia (sebagian penganut Mazhab Hanafî)

Di antara mereka ada yang berpendapat, cukup diberi cambukan keras saja, dipublikasikan perbuatannya, agar orang waspada darinya dan agar orang lain mengambil ibrah (sebagian penganut madzhab Hanbalî).

Catatan Lain

Ada satu hal yang menarik untuk dicatat di sini, yaitu tentang sikap para ulama’ saat menyebutkan hadîts ini.

Sebagian mereka mencantumkan hadîts yang sedang kita kaji ini dalam bab “orang yang merusak hubungan suami istri”, tanpa embel-embel ancaman dalam kalimat babnya. Seperti yang dilakukan oleh Imam Al-Nasâ-î dan Al-Bazzâr.

Akan tetapi, ada sebagian dari mereka yang mencantumkan hadîts yang sedang kita kaji ini dalam bab yang mengandung kalimat ancaman, seperti: al-zajr (penjelasan untuk membuat jera), al-tasydîd (peringatan keras), sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Ibn Hibbân dan Imam Al-Baihaqî.

Yang menarik adalah ada sebagian ulama’ yang mengkategorikan hadîts ini ke dalam bab makar dan tipu daya, sebagaimana yang dilakukan oleh kitab kanz al-‘Ummâl.

Semoga kita semua terhindar dari perbuatan yang sangat tercela ini, amin.

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (62 votes, average: 8,71 out of 10)
Loading...Loading...
Musyafa Ahmad Rahim, Lc
Bapak dari 6 orang anak ini adalah kelahiran dari Demak. Memiliki hobi yang sangat menarik, yaitu seputar Islamic dan Arabic Program. Saat ini bekerja sebagai dosen. Memiliki pengalaman di beberapa organisasi, antara lain di Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU).

Lihat Juga

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud.  (www.nezavisne.com)

Raja Salman Berusaha Perbaiki Hubungan dengan Irak Setelah 25 Tahun Tidak Miliki Kedutaan di Baghdad

  • Sista

    Bagaimana dengan Siti Nurhaliza dan Mayangsari Pak Ustadz ? Kedua duanya mengambil suami orang, Malah Siti Nurhaliza membuat Datuk K lebih memilih menceraikan istrinya yang telah mempunyai 4 orang anak darinya begitu juga Mayangsari, Halimah tinggal menunggu nasib dicerai dari Bambang . Yang saya sedihkan Siti Nurhaliza, ia membuat contoh kepada wanita2 lain seakan akan bila seorang wanita sudah memiliki harta, kemasyuran dan wajah yang cantik ia bisa memiliki apa saja yang ia inginkan termasuk suami orang.Nauzubillahi minzalik.

  • Ummu Nisaa

    Artikel bagus ustadz. Tapi ada pertanyaan terkait dgn hal tsb:

    Saya pernah mendengar ada sepasang manusia yang sedang menuju proses pernikahan. Namun ada orang lain yang berusaha merusak proses pernikahan tsb. Apakah ini termasuk kategori merusak rumah tangga orang lain (walau dua orang yg mau menikah itu belum resmi menikah, tapi sudah pasti)? Kalau dari kisahnya sih saya merasa tindakan orang yang ingin merusak proses pernikahan ini sangat tercela, zalim, dan tidak manusiawi. Kalau menurut ustadz gimana?

  • Izi

    Pak ustad bagaimana klo suami niat kawin lagi dan sang istri tidak setuju lalu memilih untuk cerai, karena sulit berlapang dada menerima ada orang lain , dan takut poligami ini akan membawa akibat tidak baik karena akan sulit melayani suami seperti dulu.

  • http://yahoo.com Maulana

    Pak uztad,,,,bagaiamana kalu si wanita menceritakan keluhan22nya pada seorang lelaki lain ttg perilaku suaminya yang suka ringan tangan, tertekan selama berumahtangga dan tampaknya pernikahannyapun karena kecelakaan/terpaksa saja….sehingga yg bersangkutan menyesal dan tak happy… kemudian ingin segera cerai dari suaminya saja, karena tertekan dan perbedaan dasar agama terus jadi mualaf lisan, tetapi tidak bisa tidak menjalankan ajaran2 agama si isteri(islam),. Karena lelaki mereasa kasihan dan melihat hasuil pukulan2 suami ke badan serta wajah kepala, maka lelaki tsb membantu/sarankan tahapan utk proses penceraian si wanita \di sarankan sesuai ajran2 islam….misalnya bertanya ke orang wanita/keluarga wanita tsb, pada uztad terus ke penghulu dsb…….akhirnya mereka bercerai tetapi lelki dianggap merusak hubungan rumah tangga orang lain???? gimana hukumnya……

  • askar

    Menarik sekali bahasan ttg hadits yg sebenarnya secara matan cukup vulgar, maksudnya tanpa syarah sekalipun seharusnya seorang mukmin sudah faham. Dan apalagi –alhamdulillah– ustdz Musyaffa telah menjabarkan kandungan hadits tersebut dengan sangat jelas dan gamblang. Ana tertarik dgn kalimat terakhir tulisan ustadz yi: “Yang menarik adalah ada sebagian ulama’ yang mengkategorikan hadîts ini ke dalam bab makar dan tipu daya, sebagaimana yang dilakukan oleh kitab kanz al-’Ummâl’. Nah klu bab makar dan tipu daya ini kita luaskan masalahnya–tidak pada masalah tuan dgn budaknya ato hub. pasutri–tapi pada masalah yg lebih luas lagi seperti kasus2 terkini yg menyangkut hubungan satu harakah dg harakah yg lain. Kayaknya hadits ini harus jadi perhatian berat bwt kita. Bayangkan misalnya seseorang aktivis dakwah ‘diprospek’ (ana gak tega utk menyebut menghasut) agar pindah ke harakah yg diikuti oleh si prospektus ini. Dan pola ini hanya dilakukan oleh harakah yg itu2 saja. wallahu a’lam

  • sri

    Assalamu'alaikum

    wah jadi ingat kasus yang pernah terjadi pada teman ana.

    dua insan yang berbeda jenis, yang telah berkecimpung dalam dakwah…tapi sepertinya tidak memahami arti dakwah itu sendiri.

    miris hati ini melihat persoalan tersebut, walaupun sudah berakhir…tapi akhirnya sungguh benar2 memalukan dan membuat orang yang melihat menjadi bertanya..

    kenapa..?

    kok bisa ya…?

    bagaimana awalnya…?

    padahal dia kan orang yang….?

    dan banyak lagi pertanyaan yang tidak terjawab.

    ana sebagai orang terdekat tak mampu meredam apa yang terjadi,…hal ini menjadi pembelajaran bahwa orang yang tahu banyak tentang agama belum tentu tidak pernah melakukan kesalahan.apalagi kesalahan tersebut hanya dianggap angin lalu. sedikit saja celah terbuka, maka setan akan masuk.

    terima kasih kepada ustdz.Musyaffa atas artikelnya…semoga bisa dijadikan pegangan dalam melangkah ke depan.

    wassalamualaikum

  • dan

    assalamualaikum,Pak Ustad

    kalau istri minta cerai karna desakan dari orangtua bgmn?alasanya karna suami belum punya pekerjaan tetap & dari kluarga pas2an.mgkn krna gengsi sehingga hrs bercerai.sang istri msh syg & cinta dgn suami tp sang istri lbh pilih cerai.karena takut dengan orang tua,takut dicap anak durhaka.

  • nymph

    asslammualaikum pak…

    bagaimana hukumnya apabila wanita ketiga tersebut tidak mengetahui jika dia berhubungan dengan suami orang, dia baru mengetahui ketika suami tersebut telah memiliki niatan untuk bercerai dengan sang istri dan telah melakukan talak satu bagi istrinya,
    apakah hukum islam bila wanita ketiga tersebut tetap berhubungan dengan pria beristri itu dalam status dia masih belum syah bercerai dimata hukum?
    apakah talak satu telah dapat dijadikan jalan bagi wanita ketiga tersebut untuk dapat tetap menjalin hubungan dengan lelaki itu?

    mohon jawabannya segera,
    terimakasih
    wasssalamualaikum…

  • meidiana

    wanita yang baik di bimbing Allah.semua yang terjadi ujian dari Allah,supaya tambah bijak dan tambah dewasa untuk sabar dan ikhlas, jgn lupa selalu dhikir,itu kuncinya.

  • titian

    bagaimana tanggung jawabnya laki-laki siperusak rumah tangga orang ini terhadap anak-anak sikorban yang jadi terlantar setelah terjadi perceraian?,

  • ayu

    bagaimana dengan jika ada seorang wanita yang tidak bisa menjaga sikapnya terhadap temannya lelakinya yang saat ini sudah berstatus suami orang, masih tetap ber sms ria dsbnya sampai si istri merasa cemburu?? mohon tanggapannya.

  • Mashur

    assalamualaikum,Pak Ustad
    kalau istri minta cerai karna desakan dari orangtua bgmn?alasanya karna suami belum punya pekerjaan tetap & dari kluarga pas2an.mgkn krna gengsi sehingga hrs bercerai.sang istri msh syg & cinta dgn suami tp sang istri lbh pilih cerai.karena takut dengan orang tua,takut dicap anak durhaka…musti gmana sikap saya…!!!

  • ajat

    assalamualaikum,Pak Ustad
    kalau istri minta cerai karna desakan dari orangtua bgmn?alasanya karna suami belum punya pekerjaan tetap & dari kluarga pas2an.mgkn krna gengsi sehingga hrs bercerai.sang istri msh syg & cinta dgn suami tp sang istri lbh pilih cerai.karena takut dengan orang tua,takut dicap anak durhaka.

  • Hasfin Arian

    Indonesia juga bisa, asal pemerintah mendukung, dan guru-guru konsisten,

  • zura

    assalamualaikum……Pa Ustad
    bagaimana dengan seorang wanita yang berhubungan dengan seorang lelaki yang sudah beristri? tetapi pada hakikatnya kedua-duanya saling mencintai? bagaimana dengan hubungan ini pa ustad,,,, teruskan atau sebaliknya,, hentikan,,? mohon solusinya…..?

    • METHA ALVIONITA SURYA

      saya juga pernah merasakan itu,,pada akhirnya ketahuan juga,,n itu jadi pelajaran buat saya,bahwa ingat KISAS DIDUNIA PASTI ADA.

  • Naiya

    Assalamualaikum…Pa Ustad

    Beberapa tahun yang lalu suami saya berselingkuh dan sampai melakukan hubungan intim dan akhirnya perselingkuhan itu selesai dan saya memberikan kesempatan kedua pada dia untuk berubah,namun 6 bulan belakangan ini suami saya kembali memiliki Wil tapi karena jarak yang jauh tidak ada hub intim diantara mereka hanya mengumbar kata kata manis lewat telepon dan rutin tiap hari dilakukannya.Saya sudah bosan dengan prilaku genitnya, bolehkah saya meminta cerai darinya.

  • http://www.facebook.com/dewi.putri.908347 Dewi Putri

    mau tanya ustad, bagaimana hukumnya apabila seorang suami muslim berdo’a agar dapat dijodohkan kepada seorang wanita yang telah bersuami (si wanita dan suaminya adalah non muslim)?

  • http://www.facebook.com/henysoleh Heny Soleh

    ​​​‎​‎​‎​​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    Pak ustad, ‎​sƔ mau bertanya:
    Bagaimana sebaiknya seorang istri bersikap jika ϑάlάм rumahtangganya mertua (perempuan) & adik ipar selalu ikut campur bahkan ϑëπƍάπ terang2an meminta agar istri tsb minta cerai ϑâri suaminya..
    Rumahtangga itu baru saja berumur 2thn tapi tǻķ jarang terjadi percekcokan akibat dominasi dr fihak keluarga suami.
    Sbg informasi, si suami itu menikah µ/ kedua kalinya karena rumahtangganya terdahulupun hancur akibat dr masalah Ɣg sama shg istri pertamanya mengajukan gugat cerai krn sudah tiϑǻķ kuat menghadapi sikap & tindakan org tua suaminya

  • http://www.facebook.com/dewi.putri.908347 Dewi Putri

    pak ustad….
    ada sahabat seorang suami muslim (dari keluarga muslim juga), berselingkuh dengan seorang wanita yang bersuami (wanita tersebut dan suaminya adalah non muslim) mereka berselingkuh berdasarkan oleh rasa cinta, dan sahabat saya tersebut sangat ingin menikahi sang wanita.
    alasannya adalah pernikahan sang wanita dengan suaminya adalah tidak sah dimata ALLAH SWT. karena pernikahan tersebut tidak berdasarkan syariat islam. sehingga anggapan sahabat saya adalah dia berhak menikahi sang wanita.
    bagaimanakah pendapat ustad tentang permasalahan sahabat saya itu?
    NB: sahabat saya menginginkan pernikahan dengan sang wanita dengan cara muslim

  • http://www.facebook.com/hersjaliteung.prakasa Her’s Jaliteung Prakasa

    assalamu’alaikum …..sungguh yg aku rasakan …..keluarga mertua dan seluruh saudara dari istri mendukung perceraian bahkan sudah terlalu jauh ikut campur dalam urusan rumah tangga …bahkan istri sudah mengeluarkan kata kata kotor terhadap suami diantaranya najis dan jijik serta sampe mendo’akan suami mati membusuk….subhanalloh…semoga alloh SWT memberikan hidayah…..

  • hery

    apa hukum nya bagi org yg ngrusak rumah tgg org n dia tau agama pula pa’ustad

  • hery

    Assalamu’alaikum

    saya mau tanya pa’ustad…
    apa hukum nya bagi org yg mrsk rumah tangga saya n org itu mengerti akan agama…
    trimakasih