Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Kekuatan Ruhiyah Seorang Dai

Kekuatan Ruhiyah Seorang Dai

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Pembentukan kepribadian seorang dai merupakan bekal asasi dalam mengemban tugas dakwah. Tentu kita sudah mafhum bahwa iman, ikhlas, berani, sabar, dan optimisme merupakan prinsip utama dalam membentuk kepribadian. Sifat ini tidak akan terkumpul kecuali jika para dai betul-betul merasakan manisnya iman. Iman yang membuat mereka memasrahkan diri kepada Allah swt. Sehingga mereka semakin mantap untuk melangkah menuju Allah swt. Untuk meraih kemenangan yang sesungguhnya: hidup mulia atau mati syahid.Sesungguhnya Al-Qur’an telah memberikan paparan yang amat jelas tentang proses penyiapan rohaniah bagi seorang dai dalam pembentukan keimanannya dan tarbiyah yang menghantarkan pada tujuan tersebut. Sebagaimana dalam surat Al-Anfal ayat 29: “Hai orang–orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosamu). Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” Juga dalam surat Al-Hadid ayat 28 dan surat At-Thalaq ayat 2 dan 3.

Bila kita renungkan ayat di atas, kita dapati bahwa takwa merupakan bekal utama bagi seorang mukmin, terlebih sebagai dai. Dan ketakwaan adalah kebajikan dan cahaya. Yang dengannya ia dapat memberikan sinar cahaya untuk membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Bila demikian halnya maka ia dapat mengikuti jalan petunjuk dengan mudah tanpa hambatan dan tersesat sedikit pun.

Sayyid Quthb menjelaskan makna surat Al-Anfal ayat 29 dengan menyatakan, “Inilah bekal tersebut. Inilah bekal dalam mengarungi perjalanan yang panjang. Yaitu bekal takwa yang menghidupkan hati dan membangunkannya. Bekal cahaya yang memberi petunjuk bagi hati untuk membelah sudut-sudut jalan sepanjang penglihatan manusia. Cahaya ini tidak bisa ditipu oleh syubhat-syubhat yang mata biasa tidak bisa menembusnya. Itulah bekal ampunan bagi segala dosa. Bekal yang memberikan ketenteraman, kesejukan, dan kemantapan. Bahwa takwa kepada Allah itu menjadikan nilai furqan dalam hati. Ia bisa membuka jalan-jalan yang bengkok.

Sesungguhnya al-haq itu sendiri tidak menutup-nutupi fitrah, tetapi hawa nafsulah yang menolak al-haq dan fitrah. Hawa nafsu itulah yang menyebarluaskan kezhaliman, menghalang-halangi penglihatan dan membutakan jalan-jalan kebenaran, serta merahasiakan petunjuk. Hawa nafsu itu tidak bisa hanya didorong dan didukung oleh hujjah. Akan tetapi ia hanya bisa digerakkan dan ditopang oleh takwa, rasa takut kepada Allah, dan muraqabah (pengawasan) Allah di saat sepi maupun ramai. Dengan sendirinya furqan itulah yang menyinari hati, menghilangkan kerancuan, dan membelah jalan-jalan kebenaran.

Takwa adalah hasil yang pasti. Ia adalah buah nyata dari perasaan yang mempunyai keimanan yang dalam. Keimanan ini bersambung dengan muraqabah Allah, takut kepada-Nya, dan takut akan marah dan siksaan-Nya. Dan senantiasa memohon ampunan-Nya dan pahala dari Allah. Atau takwa itu –sebagaimana dikatakan oleh ulama– adalah: “Menjauhi (takut) azab Allah dengan mengerjakan amalan yang shalih dan takut kepada-Nya di saat sepi dan ramai.”

Berpijak dari sinilah Al-Qur’an sangat memperhatikan fadhilah takwa. Hal ini bisa dijumpai dalam berbagai ayat-ayat yang jelas dan gamblang. Sehingga hampir-hampir orang yang membaca Al-Qur’an belum sampai membaca satu halaman atau baru membaca beberapa ayat melainkan di situ ia mendapati kata takwa.

Dari sinilah para sahabat dan salafus shalih sangat serius memperhatikan takwa. Mereka benar-benar telah mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Mereka bersungguh-sungguh ingin mencapai derajat takwa dan meminta sifat takwa kepada Allah swt. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Umar Al-Faruq bertanya kepada Ubay bin Ka’ab mengenai ‘Apa itu taqwa’. Ubay bin Ka’ab menjawab: ‘Bukankah Anda pernah melewati jalan yang berduri?’ Umar menjawab: ‘Ya benar’. Ubay berkata: ‘Itulah taqwa.’

Atas dasar itulah, Sayyid Qutb menjelaskan dalam tafsirnya Fii Zhilalil Qur’an’, “Itulah takwa. (yaitu) hati yang sensitif, perasaan yang jernih, ketakutan yang terus menerus (kepada Allah), kewaspadaan yang tidak henti-hentinya dan menjauhi duri-duri jalan, yaitu jalan kehidupan yang senantiasa diliputi pengharapan yang tak bermakna dan syahwat, duri-duri ketamakan dan ambisi, duri-duri ketakutan dan kecemasan, duri-duri takut terhadap sesuatu yang tidak mempunyai manfaat maupun mudarat, dan berpuluh-puluh duri-duri yang lain.”

Lantaran jalan untuk meraihnya tidaklah mudah, maka upaya untuk itu diperlukan modal utama. Yakni, pertama, al-Iman (keimanan). Seorang dai mesti meyakini Allah swt. dalam segala ruang lingkupnya. Yakin akan ajaran-Nya, yakin terhadap pembelaan-Nya, yakin dengan balasan dan sanksi yang dijanjikan-Nya. Iman yang kokoh tidak akan membuatnya goyah dalam mengarungi jalan dakwah yang penuh liku ini. Modal keimanan ini tidak boleh berkurang sama sekali. Bahkan ia harus selalu penuh dan penuh. Bila perlu senantiasa surplus sehingga dapat memudahkan diri mengemban amanah dakwah ini. Perhatikan bagaimana sikap sahabat dalam mengemban tugas dakwah yang tidak pernah kendur lantaran keimanannya yang selalu meningkat seperti yang Allah gambarkan dalam surat Al Ahzab ayat 22–23.

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka Berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur; dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).

Kedua, al-Ikhlas (keikhlasan). Maknanya adalah senantiasa berharap hanya pada Allah swt. sehingga ia tidak kendur dalam meniti jalan panjang ini. Seluruh amal yang dilakukannya diserahkan kepada Allah swt. Tidak pernah terbetik sedikit pun interes duniawi dalam hatinya. Sebab sedikit saja ia tergelincir, bisa merusak kekokohan hatinya berdakwah. Seorang pengemban dakwah ini selayaknya selalu memiliki daya tahan terhadap rayuan dunia. Dalam hatinya hanya balasan dan keridhaan Allah semata yang paling berharga. Perhatikanlah surat Al-Kahfi ayat 28.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Ketiga, asy-syaja’ah (keberanian). Seorang dai mesti berani berdiri di atas jalan yang penuh resiko ini. Keberanian membuat dirinya tidak pernah surut dalam melangkah. Berani sebagai prinsip para ksatria dakwah. Ia tahu betul bahwa yang ia bawa adalah kebenaran sehingga rasa takutnya hanya pada Allah swt. dan siksa-Nya yang amat pedih. Bila demikian ia akan terus berdiri tegar bagai batu karang di tengah lautan yang kokoh meski diterjang badai. Keberanian ini juga bersumber dari keyakinannya pada ketentuan Allah yang telah digariskan untuknya. Sebagaimana nasihat Rasulullah saw. kepada Ibnu Abbas r.a. agar yakin pada takdir yang ditetapkan Allah swt. akan mudharat dan mashalat yang berlaku pada dirinya. Lihatlah surat Al-Maidah ayat 44.

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

Keempat, ash-shabru (kesabaran). Perjalanan yang dihiasi debu-debu kesulitan ini membutuhkan kesabaran yang besar. Sabar terhadap jalan yang ditempuh dan sabar terhadap orang-orang yang didakwahinya. Kesabaran menjadi kunci sukses dalam jalan ini. Ia tidak tergesa-gesa untuk mencapai hasil. Ia juga tidak akan cepat mengeluh lantaran beratnya medan dakwah yang ia tekuni. Ia tampil dengan semangat kesabarannya yang akan membawanya memetik buah dakwah ini. Sebagaimana ungkapan Hasan Al Banna, “Barangsiapa yang tergesa-gesa ingin memetik buah sebelum masanya, maka tinggalkanlah jalan ini. Dan barangsiapa yang bersabar, marilah jalan bersamaku.” Sebab, kesabaran modal menuju kemenangan. Perhatikan surat Ali Imran ayat 200.

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Kelima, at-tafa’ul (optimisme). Seorang dai tidak boleh pesimis sedikit pun walau menghadapi berbagai kondisi yang tidak mengenakan hatinya. Ia harus mengokohkan bangunan optimisnya agar selalu penuh harapan dan tidak ada ruang kekecewaan sekecil apapun dalam jiwanya. Sekalipun saat itu ia harus berhadapan dengan rintangan maupun cemoohan manusia. Ia tidak boleh balik ke belakang karena tekanan itu. Sebagaimana Rasulullah saw. di saat menghadapi cemoohan masyarakat Thaif. Beliau masih memiliki harapan yang besar dengan menyatakan, “Aku berharap anak cucu mereka dapat menerima seruan kelak.” Dan ternyata harapan itu terwujud. Lihatlah surat Ali Imran ayat 139.

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Adapun upaya untuk meningkatkan ketakwaan diri yang menjadi bekal bagi dai untuk mengokohkan kepribadiannya, di antaranya sebagai berikut:

1. Al-mu’ahadah (berikrar)

Yang dimaksud mu’ahadah di sini adalah mengikrarkan diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya untuk merealisasikan janji sebagaimana dalam surat An-Nahl ayat 91: “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah kalian itu, sesudah meneguhkannya, sedang kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi kalian (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat”.

Adapun salah satu upaya untuk melakukan mu’ahadah dapat berupa pernyataan sikap seorang mukmin dalam kesendiriannya kepada Rabb-nya dan berkata pada jiwanya: “Wahai jiwaku, sesungguhnya aku telah menyerahkan janji kepada Allah dalam kegiatan sehari-hari di hadapan Allah swt.”; dan memanjatkan doa: “Hanya kepada-Mu lah, ya Allah, aku beribadah dan meminta pertolongan. Tunjukilah aku ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau marahi dan orang-orang yang sesat.” Wahai jiwaku. Bukankah dalam munajat yang telah engkau ucapkan di hadapan Allah adalah ikrar dari engkau bahwa engkau tidak akan beribadah kecuali kepada Allah. Engkau tidak akan meminta pertolongan melainkan hanya kepada Allah. Dan engkau akan iltizam dengan jalan Allah yang lurus.

Setelah ikrar tersebut, perlu dicamkan pernyataan berikut ini bahwa siapa yang melanggar janji sesungguhnya ia hanyalah melanggar janjinya sendiri. Siapa yang sesat, sesungguhnya ia telah menyesatkan dirinya sendiri. Dan seseorang itu tidak akan menanggung dosa orang lain dan Allah tidak akan menurunkan siksa-Nya melainkan setelah datangnya Rasul. Wahai saudara, sesungguhnya apabila Anda mengikat diri Anda setiap hari untuk iltizam dengan janji-janji ini yang Anda berikan tiap hari sebanyak tujuh belas kali atau lebih kemudian Anda menepati janji tersebut dan melaksanakannya, maka sesungguhnya Anda mulai naik menuju tangga takwa. Anda berjalan menuju rohaniah. Dan di akhir perjalanan, Anda sampai menjadi orang-orang yang bertaqwa.

2. Al-muraqabah (merasa diawasi)

Sebenarnya muraqabah adalah sabda Rasulullah saw. ketika beliau ditanya apa itu ihsan: “Yaitu engkau hendaklah beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”. (Muslim).

Arti muraqabah adalah menghadirkan kebesaran dan keagungan Allah di setiap waktu dan kondisi ketika sendirian maupun waktu beramai-ramai sehingga kita selalu merasakan kebersamaan dengan Sang Maha Melihat dan Mendengar.

Adapun upaya untuk meningkatkan muraqabah adalah: Hendaklah seorang mukmin memeriksa dirinya sebelum melakukan sesuatu pekerjaan atau di tengah-tengah proses kerja. Apakah pekerjaan ini digerakkan oleh kepentingan pribadi dan mencari sanjungan atau kemasyhuran. Ataukah ini digerakkan oleh keridhaan Allah dan mencari pahala dari–Nya. Apabila pekerjaan tersebut didorong karena Allah, hendaknya ia terus melangkah ke depan tanpa ragu-ragu. Tapi sebaliknya jika digerakkan hawa nafsu, sepatutnya ia berpaling dari padanya, meninggalkannya dan memperbaharui niat kembali dan bertekad untuk memulai mengerjakan amalan yang baru dengan tajarrud dari semua kepentingan pribadi, ikhlas dan mencari keridhaan Allah semata. Ikhlas dan tajarrud yang sebenarnya menjadi pembebasan yang menyeluruh dari tempat-tempat kemunafikan dan riya’.

Imam Hasan Basri –semoga Allah merahmatinya– berkata: “Semoga Allah merahmati seseorang hamba yang serius memperhatikan niatnya. Apabila niatnya itu karena Allah swt., maka ia terus berjalan; dan apabila bukan karena Allah, ia berhenti tidak meneruskan amalan tersebut.” Muraqabah Allah bagi seorang hamba itu bermacam-macam: muraqabah Allah dalam hal-hal yang mubah, maka muraqabah ini dengan jalan menjaga norma-norma dan mensyukuri nikmat.

Sesungguhnya jika Anda mempunyai muraqabah Allah sampai ke tingkatan ini, maka dengan tidak ragu-ragu lagi Anda telah menapaki jalan takwa. Anda melangkah ke jalan rohaniah dan di penghujung akhir Anda tiba di tempat orang-orang yang bertakwa.

3. Al-mu’aqabah (memberikan sanksi)

Maksud mu’aqabah ini adalah untuk memperkokoh kehendaknya mencapai ketakwaan dengan memberikan sanksi bila melakukan hal-hal yang dapat melemahkan cita-cita tersebut. Betapa pun manusia telah mengevaluasi dirinya, akan tetapi ia tidak akan terbebaskan dari perbuatan maksiat dan melakukan kekurangan berkaitan dengan hak Allah sehingga ia tidak pantas untuk mengabaikannya. Jika ia mengabaikannya, maka ia akan mudah tergelincir melakukan kemaksiatan. Jiwanya menjadi senang kepada maksiat dan sulit untuk memisahkannya. Hal ini merupakan sebab kehancurannya sehingga mu’aqabah menjadi sangat urgen untuk mencapai hal tersebut.

Pada dasarnya sanksi ini untuk semakin meningkatkan integritas dirinya dalam mengemban amanah dakwah ini. Seorang dai tidak boleh sungkan-sungkan untuk memberikan sanksi atas dirinya. Coba bayangkan bagaimana para sahabat terdahulu yang telah bersusah payah memberikan sanksi pada diri untuk mendapatkan ampunan-Nya. Mereka lakukan itu dalam rangka memperbaiki dirinya dari kesalahannya sehingga kesalahan tersebut tidak terulangi lagi. Keraguan untuk memberikan sanksi dapat menggampang-gampangkan semua urusan. Bila ini dihubungkan dengan dakwah, maka amat sangat fatal akibatnya.

4. Al-mujahadah (bersungguh-sungguh)

Mujahadah adalah berupaya sungguh-sungguh untuk mencapai derajat ketakwaan dan kekuatan rohaniahnya sehingga semaksimal mungkin mengerahkan berbagai potensi untuk bisa meraihnya. Setelah Anda mengetahui hal ini, marilah Anda ke tempat peristirahatan yang khusus. Apabila Anda meletakkan barang-barang bawaan Anda di tempat tersebut, maka Anda akan bernafas dengan nafas-nafas keimanan. Anda akan berbekal takwa. Diri Anda akan bersinar terang dengan cahaya rohaniah. Dan Anda akan menjadi insan yang shalih, mukmin dan bertaqwa, muslim yang berwibawa dan orang yang mukhlis. Bahkan jika Anda berjalan, maka dalam jalan Anda akan ada ketenangan. Apabila Anda berbicara, maka dalam pembicaraan Anda pengaruh yang kuat. Apabila Anda berbuat, maka perbuatan Anda adalah qudwah. Apabila Anda muncul, maka raut muka Anda ada daya tarik tersendiri. Dan apabila Anda melihat, maka dalam penglihatan Anda ada cahaya terang. Di tempat ini Anda akan menemukan proses tarbiyah dan mujahadah yang akan menjadi sumber inspirasi dan pendorong ruhiyah seorang dai.

Bahkan tempat peristirahatan tadi akan menjadi penggerak utama baginya dalam memikul tanggung jawab. Ia akan menjadi pengemudi yang m

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mochamad Bugi
Mochamad Bugi lahir di Jakarta, 15 Mei 1970. Setelah lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, ia pernah mengecap pendidikan di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosah Islamiyah Al-Hikmah. Sempat belajar bahasa Arab selama musim panas di Universitas Ummul Qura', Mekkah, Arab Saudi.Bapak empat orang anak ini pernah menjadi redaktur Majalah Wanita UMMI sebelum menjadi jabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Politik dan Dakwah SAKSI. Ia juga ikut membidani penerbitan Tabloid Depok Post, Pasarmuslim Free Magazine, Buletin Nida'ul Anwar, dan Majalah Profetik. Jauh sebelumnya ketika masih duduk di bangku SMA, ia menjadi redaktur Buletin Al-Ikhwan.Bugi, yang ikut membidani lahirnya grup pecinta alam Gibraltar Outbound Adventure ini, ikut mengkonsep pendirian Majelis Pesantren dan Ma'had Dakwah Indonesia (MAPADI) dan tercatat sebagai salah seorang pengurus. Ia juga Sekretaris Yayasan Rumah Tafsir Al-Husna, yayasan yang dipimpin oleh Ustadz Amir Faishol Fath.

Lihat Juga

Dai Sahabat Jalanan DD di Lapas Wanita Siliwangi, Semarang. (Etika/DD)

Merangkul Napi Melalui Dai Sahabat Jalanan