04:58 - Jumat, 22 Agustus 2014
Tate Qomaruddin, Lc

Wajib Mengawal Perubahan

Rubrik: Fiqih Dakwah | Oleh: Tate Qomaruddin, Lc - 03/06/07 | 21:18 | 18 Jumada al-Ula 1428 H

Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap Nabi mempunyai sahabat dan hawari yang selalu berpegang teguh dengan petunjuknya dan mengikuti sunnahnya. Lalu muncullah generasi pengganti (yang buruk) yang (hanya) mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Maka siapa yang berjuang (untuk meluruskan) mereka dengan tangannya maka dia adalah mukmin. Dan barang siapa yang berjuang dengan lidahnya maka ia adalah mukmin. Dan barangsiapa berjuang dengan hatinya maka ia adalah mukmin. Dan tidak ada di belakang itu keimanan sedikit pun.” (Muslim)

Hadits Rasulullah saw. di atas menegaskan beberapa hal. Pertama, akan selalu terjadi perubahan pada kaum muslimin. Kedua, perubahan itu bisa menuju ke arah yang buruk. Ketiga, seorang mukmin harus berjuang untuk mengawal perubahan ke arah kebaikan dan perbaikan.

Dakwah adalah proyek mewujudkan perubahan. Pimpinan proyeknya adalah Rasulullah saw. Ordernya dari Allah swt. Makanya ketika Rasulullah saw. dimi’rajkan ke Sidratul-Muntaha, beliau tidak minta tetap tinggal di sana. Padahal beliau bisa menikmati ibadah, bertemu dengan para nabi yang diutus sebelum beliau, dan bahkan menjadi imam mereka. Beliau tetap turun lagi dan menjadi penghuni bumi yang sarat dengan berbagai tantangan dan persoalan. Ini karena beliau memang mendapat tugas untuk melakukan perubahan. Dan Rasulullah saw telah melakukannya dengan sukses. Hal ini dijelaskan dalam ayat-Nya: “Sungguh Allah telah benar-benar memberi karunia kepada orang-orang mukmin karena Dia telah mengutus pada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (Sunnah), meskipun mereka sebelum itu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran: 164)

Ayat itu menjelaskan bahwa Rasulullah saw. telah menjalankan proyek perubahan dan telah sukses dalam perjuangan melakukan perubahan itu. Proyek ini dimulai dengan pembangunan pondasi berupa individu-individu Muslim. Di atas pondasi itu dibangun keluarga-keluarga Islam. Dari keluarga-keluarga Islami terbentuklah masyarakat Islami. Dan itu semua merupakan bekal untuk dakwah melakukan perbaikan terhadap pemerintahan agar menjadi pemerintahan yang Islami. Tidak hanya sampai di situ saja. Dakwah juga terus bergerak untuk mengembalikan khilafah Islamiyyah. Dan dengan begitulah umat Islam akan menjadi guru peradaban bagi seluruh umat manusia atau yang sering diistilahkan dengan ustadziyyatul-‘alam.

Atas dasar itu, maka tidak boleh umat Islam tinggal diam dengan tidak memberikan pengaruh pada perubahan yang terjadi. Perubahan adalah sunnatullah. Perubahan akan terus bergulir. Jika tidak menuju yang baik pasti menuju keburukan. Jika bukan orang baik-baik yang mempengaruhi maka pasti orang-orang buruk yang melakukannya. Dan tanpa kesertaan orang-orang yang baik maka akan muluslah perusakan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk berkontribusi dan mengawal perubahan agar mengarah kepada perbaikan dalam segala sektor, di antaranya:

Pertama, mempersembahkan waktu, tenaga, harta untuk kemaslahatan Islam, umat Islam, dan umat manusia pada umumnya. Allah swt. Berfirman: “Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (At-Taubah: 120)

Ayat di atas memberikan informasi bahwa Allah tidak suka kepada orang yang berdiam diri dan tidak terlibat dalam perjuangan. Allah menyebutnya bahwa perbuatan itu tidak layak. Dan sebaliknya, kepada orang yang terlibat dalam perjuangan di jalan Allah untuk menyebarkan kebaikan dan hidayah Allah swt. dengan apa pun yang dimilikinya, Allah menjanjikan segala yang dilakukannya akan bernilai amal saleh. Tidak ada yang sia-sia dari orang yang berjuang di jalan Allah, sekecil apa pun perjuangannya.

Kedua, menghadirkan emosi dan semangat yang kuat untuk kejayaan Islam dan umatnya dan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat seluas-luasnya. Berbahagia saat Islam mendapatkan kemenangan-kemenangan dan merasa sedih bila Islam mendapatkan tekanan dan umat Islam mendapat ujian. Ia tidak rela bila Islam dihinakan dan bila kaum muslimin diinjak-injak. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, ia tidak termasuk golongan mereka.”

Perubahan hanyalah terjadi atas perkenan Allah swt. Dan manusia hanya bisa merencanakan dan memperjuangkan. Namun sebelum itu semua manusia harus memiliki semangat dan optimisme bahwa perubahan bisa terjadi. Jika dari awal kita sudah pesimis dan mengatakan bahwa keadaan tidak mungkin berubah, berarti kita sudah kalah sebelum bertarung. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, “Aku (Allah) tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku.”

Ketiga, tidak cukup hanya emosi dan semangat itu. Banyak orang yang punya semangat menggebu-gebu untuk melakukan perubahan, namun yang keluar dari dirinya hanyalah umpatan, cacian, dan makian terhadap keadaan. Emosi dan semangat yang produktif adalah yang membawa seseorang untuk berpikir keras dan bekerja cerdas dalam rangka mencari jalan keluar dari segala problem yang merundung umat dan bangsa. Ia rela menjadikan dirinya sebagai bagian dari solusi dan bukannya menjadi masalah. Bahkan bila hal itu membuatnya menjadi “korban”.

Keempat, memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; menyeru manusia kepada jalan Islam dan jalan dakwah dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Itulah sifat yang melekat pada orang beriman dan tidak mungkin terpisahkan. “Dan orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagiian lain, mereka memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (At-Taubah: 71)

Dalam kondisi apa pun amar ma’ruf dan nahi munkar tidak boleh diabaikan. Tidaklah sebuah kaum meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar melainkan pasti mereka menjadi kaum yang hina. Firman Allah, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Al-Maidah: 78-79)

Kelima, mengatakan yang benar di depan penguasa yang zhalim agar mereka tidak secara semena-mena menjalankan kekuasaan hanya menurut hawa nafsunya. Agar penguasa memimpin dengan penuh keadilan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Rasulullah bersabda, “Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zhalim.” (Al-Bukhari). Dalam hadits lain beliau bersabda, “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdil-Muthalib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa yang zhalim seraya memerintahnya (kepada yang ma’ruf) dan mencegahnya (dari yang munkar) lalu ia (penguasa zhalim itu) membunuhnya.” (Majma’uz-Zawaid 9: 271)

Jadi, jika kita melihat ada peluang untuk melakukan perubahan, jangan biarkan berlalu begitu saja. Apalagi membiarkannya dikendalikan oleh orang-orang yang menghendaki keburukan dan penyimpangan. Allahu a’lam.

Redaktur:

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (6 orang menilai, rata-rata: 9,67 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • jamaludin mohyiddin

    Satu makalah yang baik dan mencerahkan.
    Hidup di dunia senantiasa tertakluk kepada taqdir ul Llah. Termasuk perubahan itu sendiri. Perubahan adalah kenyataan hidup. Oleh kerana itu sikap terbaik kita ialah bersedia berhadapan dengan gelombang perubahan, berani mengolah perubahan itu sendiri dan dapat menilik jauh akibat dari gelombang perubahan serta melibatkan diri beserta dengan yang lain pemperkukuhkan atau mengonsang arus perubahan tersebut.
    Setiap insan ada kepentingan dalam bersikap dan menangani arus perubahan. Kita wajib proaktif dalam proses perubahan itu sendiri. Kepentingan terbaik dan abadi ialah memperkukuhkan kebenaran dan keadilan. Kepentingan terbaik dan abadi ialah menegak segala bentuk, taraf dan nilai kema'rufan dan disertai dengan menafikan segala bentuk, taraf dan nilai kemungkaran. Penjagaan dan pengawalan Kepentingan ini dapat berkesan baik dan berkepanjangan apabila di salurkan dalam bentuk amal jama'ii. Dalam kata lain, kita mesti pandai berorganisasi

  • http://dakwatuna idoep syaifuddin

    Subhanallah …!

    Ikhwan wa akhwat fillah !

    kalau kita cermati dan aplikasikan dalam keja dakwah dan jihad makna yang terkandung dalam tauzihat diatas, subhanallah! kami yakin PILKADA DKI JAKARTA akan dimenanangkan oleh para Junud-junud al-haq.

  • Herlina

    Assalamu'alaikum :::Salam Jihad dan Cinta karena Allah

    Sesungguhnya Allah ada bersama orang orang yang senantiasa mengingatnya

    yakinlah wahai mujahid Allah bahwa kemenangan Akan Ada

    bahwa Al-Haq pasti akan menang!!!AllahuAkbar!!

  • http://telkomnet sumarno.ahd.jamil

    Dakwatuna. nahnu Du'at qabla kullu syai'

  • http://nisahafidz.wordpress.com Anita Rahmawati

    Assalaamu'alaikum

    MAri menjadi mujahid yang berjuang demi terwujudnya peradaban islamiyah !!!
    Allaahu Akbae !!!

  • karimah

    Salam jihad selalu to ikhwah wa akhwati fiLLAH.

    Umat menunggu kita….Mari kita ajak mereka menuju masa depan yang cerah dan kepastian janji Robbul 'Alamiin.

  • budi petukangan utar

    Allahu Akbar….. jangan jadi kader yang keder ya.

    Da'wah …….da'wah …… da'wah…….

    semoga kata da'wah menjadi aliran darah kita yang tak akan pernak kering

  • http://ariefmu.multiply.com Arief Munandar

    Alhamdulillah, jazakallah Ustadz Tate atas artikelnya. Semoga menjadi bekal buat kami di jalan dakwah ini. Amin.

Iklan negatif? Laporkan!
94 queries in 1,888 seconds.