17:16 - Jumat, 24 Oktober 2014
Syarifuddin Mustafa, MA

Iman dan Ukhuwah

Rubrik: Aqidah | Oleh: Syarifuddin Mustafa, MA - 23/05/07 | 21:21 | 08 Jumada al-Ula 1428 H

Ada dua kaidah asasi (pokok) yang menjadi tonggak atas kehidupan seorang muslim dan pemahamannya dalam kehidupan ini, dimana keduanya harus dimiliki agar dapat mampu mengemban amanah yang mulia seperti yang diperintahkan Allah SWT, yaitu: Iman dan Ukhuwah.

Iman kepada Allah, bertaqwa kepada-Nya, adanya perasaan dipantau oleh-Nya pada setiap detik kehidupan, dan ukhuwah karena Allah, adalah yang membuat suatu jamaah muslimah memiliki pondasi kehidupan yang kuat dan kokoh. Mampu menunaikan perannya yang besar dalam mensejahterakan kehidupan umat manusia, dan berperan dalam menganjurkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, serta menegakkan kehidupan atas dasar kebaikan dan membersihkannya dari segala kemungkaran.

Iman dan ukhuwah, dua pondasi utama yang menjadi kemestian hidup suatu jamaah muslimah sehingga mampu menunaikan perannya yang agung dan mulia. Jika salah satunya sirna maka tidak akan ada jamaah muslimah dan tidak akan mampu melaksanakan perannya di muka bumi ini.

Yang utama adalah keimanan dan taqwa… Taqwa yang mampu mencapai pada kesempurnaan penunaian hak-hak Allah yang Maha Agung. Taqwa yang terus berkesinambungan dan selalu awas, yang tidak pernah lalai dan futur dalam setiap waktu dari masa hidupnya hingga datang ajal menjemputnya.

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa”. (QS. 3: 102).

Bertaqwalah kepada Allah; demikianlah perintahnya tanpa ada batasan, menuntut hati untuk bersungguh-sungguh mencapainya seperti yang digambarkan dalam diri dengan segala kemampuannya, setiap kali hati mengalami keteledoran maka akan terungkap aspek-aspek kelemahannya lalu setelah itu akan bertambah rasa rindu kepada Rabb-nya. Setiap kali merasakan kedekatan dan taqwa kepada Allah, bangkit rasa kerinduannya ke jenjang yang paling tinggi dan menuju peringkat yang dapat mencapai pada maqom (kedudukan) yang mampu membangkitkan hatinya yang tidak akan pernah istirahat (tidur).

Allah berfirman: “Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri”, sesungguhnya kematian merupakan kepastian, namun mati juga merupakan hal gaib yang tidak diketahui manusia kapan datangnya. Maka barangsiapa yang tidak ingin mati kecuali dalam keadaan Islam maka dia harus berada dalam setiap waktunya berada dalam keadaan berserah diri (Islam). Dan disebutkan nya kata “Islam” setelah “taqwa” berarti memiliki makna yang sangat luas, yaitu berserah diri, atau berserah diri kepada Allah, taat kepada-Nya, dan mengikuti manhajnya serta berhukum kepada kitabnya…

Setiap perkumpulan yang jauh dari iman, maka perkumpulan itu merupakan perkumpulan jahili…

Adapun yang kedua adalah ukhuwah; ukhuwah karena Allah, di atas manhaj Allah dan dalam merealisasikan manhaj Rabbani yang agung. “Dan berpegang teguhlah kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah saat itu kalian saling bermusuhan maka disatukan antara hati kalian maka jadilah dengan Nikmat Allah saling bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. 3 : 103)

Gambaran di atas yang dilukiskan Al-Quran terhadap mereka yang bertemu dalam tali (agama) Allah dan menjadikannya sebagai manhaj, perjanjian dan agamanya, merupakan pertemuan yang bukan sekadar pertemuan untuk mencapai keuntungan yang nisbi atau mencapai tujuan tentunya, namun pertemuan yang berdasarkan pada ukhuwah islamiyah.

Persaudaraan yang terjaga dengan tali Allah merupakan kenikmatan yang diberikan Allah atas jamaah muslimah; yaitu nikmat yang diberikan bagi mereka yang dicintai dan dikehendaki Allah dari hamba-hamba-Nya. Hal ini mengingatkan kepada kita akan nikmat yang begitu besar, dan mengingatkan kita bagaimana kita sebelumnya dalam keadaan jahili saling bermusuh-musuhan.

Tidak ada seorang pun yang tidak memiliki permusuhan antara kaum Aus dan Khazraj di kota Madinah sebelum Islam. Namun setelah masuk Islam, Allah menyatukan hati di antara mereka. Tidak ada solusi sedikit pun kecuali Islam yang dapat menyatukan hati yang beragam bentuknya, tidak ada yang terjadi kecuali karena tali Allah yang dapat menyatukan mereka menjadi saudara, dan tidak mungkin hati-hati itu akan bersatu kecuali karena ukhuwah fillah.

Karena itulah marilah sama-sama kita satukan hati karena Allah, karena keimanan tanpa ukhuwah akan hampa sedangkan ukhuwah tanpa iman akan sirna. []

Syarifuddin Mustafa, MA

Tentang Syarifuddin Mustafa, MA

Bapak dari 2 orang putra-putri ini lahir di Jakarta. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai dosen. Memiliki latar belakang pendidikan dari S1 Universitas Al-Azhar Kuliah Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ulumul Qur'an. Lalu… [Profil Selengkapnya]

Redaktur:

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (15 orang menilai, rata-rata: 8,87 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 11.164 Hits
  • Email 21 email
  • http://- isna

    Ukhuwah begitu penting dalam dakwah, namun entah kenapa banyak pihak yang kurang memaknai arti pentingnya. indahnya ukhuwah berpengaruh terhadap keberlanjutan dakwah.semoga ukhuwah para aktivis dakwah yang ada di Indonesia tidak aus termakan globalisasi.aamin

  • Umi Sabrina

    Dulu saya pernah membaca tentang "ukhuwah bibir", yang enak sekali diungkapkan dalam majelis2 tapi keluar dari majelis tersebut siape lu siape gue aje….pernah ada yang datang ke kantor suatu DPD tapi begitu gersang terasa suasana yang didapatkan, tidak ada senyuman apalagi kehangatan tegur sapa, duh..mahal nya sedekah yang paling murah itu !!! sangat dihimbau kepada semua kader mulai dari yang "senior" sampai "junior", jangan pilih2 dalam berukhuwah apa sih yang disombongkan ?? Semua sama di hadapanNya hanya Taqwa yang membedakan dan wallahualam hanya Allah yang tahu.

  • http://rangerbiru.blogs.friendster.com MaliQue

    Assalamu'alaikum.Wr.Wb.

    Yaa ayyuhal Ikhwahfillah …

    Bukan saatnya lagi kita hanya bernostalgia bahwa UKHUWAH kita dulu bisa menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Tapi, segera BENAHI dan BUKTIKAN dari diri kita sendiri tanpa harus menunggu dan menuntut yang lain untuk melakukan dan membuktikan UKHUWAH. Tapi mari kita benahi dan mari kita mulai SEKARANG, SAAT INI DAN TIDAK MENUNGGU LAGI!!!

    KITA MAU – KITA MAMPU – KITA MAJU :)

    Karena hakikat UKHUWAH adalah MEMBERI dan TERUS MEMBERI, LAGI dan LAGI. Karena begitulah hakikatnya. Seeprti Mentari yang selalu menyinari Bumi, setiap hari sepanjang hari. Belajarlah MEMBERI untuk berempati.

    Salam hangat,

    birulangit

    kunjungi situs kumpulan kisah ukhuwah http://www.rangerbiru.blogs.friendster.com

  • http://www.iu.edu.sa azhari jailani

    berusahalah ya ikhwaty untuk mewujudkan cita-cita islam, bagaimana cita-cita islam bisa terwujud kalo didalam tubuh dakwah itu sendiri saja dalam mewujudkan hal yang terkecil saja masih berat, bukan saatnya lagi bagi kita untuk mendahulukan kedudukan dan pangkat, kedudukan dan pangkat itu boleh ada tapi ingat, dia punya tempat tersendiri untuk ditonjolkan, sangatlah lucu kalo ada orang yang berbangga dengan pangkat dan kedudukannya..

    kembalilah ya saudaraku ke jalan yang penuh ridha Allah swt, ke jalan yang telah dicontohi oleh Rasulullah saw bukanlah jalan jalan yang ditunjuki oleh syaithan. kembalilah ya ikhwaty… kembalilah…

  • Sugi R.

    kami memiliki komunitas ukhuwah di Magelang khususnya di Borobudur, minat kontak dengan kami, pasti deh kutunggu.

Iklan negatif? Laporkan!
112 queries in 1,572 seconds.