Home / Dasar-Dasar Islam / Sirah Nabawiyah / Urgensi Mengkaji Sirah Nabawiyah

Urgensi Mengkaji Sirah Nabawiyah

dakwatuna.comSirah Nabawiyah merupakan seri perjalanan hidup seorang manusia pilihan yang menjadi parameter hakiki dalam membangun potensi umat. Sehingga, mempelajarinya bukan sekadar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa itu. Melainkan, mengkajinya untuk menarik pelajaran dan menemukan rumusan kesuksesan generasi masa lalu untuk diulang di kehidupan kiwari.

Melalui pemahaman sirah nabawiyah yang tepat, setiap muslim akan mendapatkan gambaran yang utuh dan paripurna tentang hakikat Islam dan terbangun semangatnya untuk merealisasikan nilai-nilai yang didapat dalam kehidupannya saat ini. Apalagi sasaran utama dari kajian sirah adalah mengembalikan semangat juang untuk merebut kembali kejayaan yang pernah dimiliki umat Islam. Secara umum kepentingan kita mengkaji sirah nabawiyah, adalah:

Memahami pribadi Rasulullah saw. sebagai utusan Allah (fahmu syakhshiyah ar-rasul)

Dengan mengkaji sirah kita dapat memahami celah kehidupan Rasulullah saw. sebagai individu maupun sebagai utusan Allah swt. Sehingga, kita tidak keliru mengenal pribadinya sebagaimana kaum orientalis memandang pribadi Nabi Muhammad saw. sebagai pribadi manusia biasa.

“Hai nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” (Al-Ahzab: 45-47).

Mengetahui contoh teladan terbaik dalam menjalani kehidupan ini (ma’rifatush shurati lil mutsulil a’la)

Contoh teladan merupakan sesuatu yang penting dalam hidup ini sebagai patokan atau model ideal. Model hidup tersebut akan mudah kita dapati dalam kajian sirah nabawiyah yang menguraikan kepribadian Rasulullah saw. yang penuh pesona dalam semua sisi.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21).

Dapat memahami turunnya ayat-ayat Allah swt. (al-fahmu ‘an-nuzuli aayatillah)

Mengkaji sirah dapat membantu kita untuk memahami kronologis ayat-ayat yang diturunkan Allah swt. Karena, banyak ayat baru dapat kita mengerti maksudnya setelah mengetahui peristiwa-peristiwa yang pernah dialami Rasulullah saw. atau sikap Rasulullah atas sebuah kejadian. Melalui kajian sirah nabawiyah itu kita dapat menyelami maksud dan suasana saat diturunkan suatu ayat.

Memahami metodologi dakwah dan tarbiyah (fahmu uslubid da’wah wat-tarbiyah)

Kajian sirah juga dapat memperkaya pemahaman dan pengetahuan tentang metodologi pembinaan dan dakwah yang sangat berguna bagi para dai. Rasulullah saw. dalam hidupnya telah berhasil mengarahkan manusia memperoleh kejayaan dengan metode yang beragam yang dapat dipakai dalam rumusan dakwah dan tarbiyah.

Mengetahui peradaban umat Islam masa lalu (ma’rifatul hadharatil islamiyatil madliyah)

Sirah nabawiyah juga dapat menambah khazanah tsaqafah Islamiyah tentang peradaban masa lalu kaum muslimin dalam berbagai aspek. Sebagai gambaran konkret dari sejumlah prinsip dasar Islam yang pernah dialami generasi masa lalu.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran: 110).

Menambah keimanan dan komitmen pada ajaran Islam (tazwidul iman wal intima’i lil islam)

Sebagai salah satu ilmu Islam, diharapkan kajian sirah ini dapat menambah kualitas iman. Dengan mempelajari secara intens perjalanan hidup Rasulullah, diharapkan keyakinan dan komitmen akan nilai-nilai islam orang-orang yang mempelajarinya semakin kuat. Bahkan, mereka mau mengikuti jejak dakwah Rasulullah saw.

Yang paling penting dalam memahami sirah nabawiyah adalah upaya untuk merebut kembali model kepemimpinan umat yang hilang. Kepemimpinan yang dapat memberdayakan umat dan untuk kemajuan mereka. Nabi Musa a.s. membangkitkan kaumnya atas kelesuan berbuat bagi kemajuan bangsa dan negerinya. Sehingga beliau mengingatkan kaumnya atas anugerah nikmat yang diberikan Allah swt. pada mereka tentang tiga model kepemimpinan umat yang pernah ada pada sejarah mereka.

Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.” (Al-Maa-idah: 20).

Jadi, nilai utama yang hendak dibangun kembali dengan kajian sirah nabawiyah adalah semangat berbuat untuk kemajuan bangsa dan umat meraih harga dirinya di hadapan umat-umat yang lain. Lebih dari itu, juga untuk mengembalikan hak kepemimpinan kepada umat Islam, umat nabi pilihan.

Tiga Model Kepemimpinan

Model kepemimpinan umat sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa. Karenanya Islam mengajak umatnya untuk memilikinya kembali agar anugerah nikmat dari Allah swt. dapat berfungsi lagi dan bertambah. Anugerah nikmat tersebut adalah model kepemimpinan umat. Kepemimpinan yang mesti dimiliki umat agar mereka mendapatkan hidup yang lebih baik, adil, sejahtera, dan sentosa. Model kepemimpinan itu ialah:

Kepemimpinan spiritual (zi’amah diiniyah)

Kepemimpinan moral spiritual yang akan memberikan contoh pada umat tentang apa yang perlu diperbuat dan dilakukan pada kehidupan bermasyarakat. Sehingga masyarakat tidak terjerumus pada jurang kehancuran moral yang akan membawa kesengsaraan kehidupan bangsa. Kepemimpinan ini menjadi patokan dalam masyarakat yang dicontohkan langsung oleh pimpinan masyarakat untuk menjadi panutan dalam akhlak, ibadah, kesantunan, kedermawanan, perilaku keluhuran, dan lainnya. Kemudian menyerukan pada masyarakat dengan penuh kesabaran agar dapat mengikuti jejak dan langkah perbuatannya. Serta memberikan kesadaran akan pentingnya moral bagi kehidupan berbangsa. Dengan begitu masyarakat tidak lagi mencontoh perilaku kepribadiannya kepada figur-figur yang keliru.

Kepemimpinan politik (zi’amah siyasiyah)

Kepemimpinan politik yang mengatur birokrasi dan administrasi masyarakat dengan mengedepankan pelayanan dan pengabdian. Bukan sebagai pemeras rakyat dan penyengsara umat. Hal ini akan terjadi bila kepemimpinan struktural dipimpin oleh orang-orang shalih yang punya kredibilitas. Kredibilitas mereka diakui untuk memimpin umat lantaran kemampuannya menjalankan fungsi kepemimpinan dengan benar.

Kepemimpinan intelektual (zi’amah ilmiyah)

Kepemimpinan intelektual dapat mencerdaskan kehidupan umat. Kepemimpinan ini dapat diraih bila semangat intelektual kembali menggeliat. Sehingga, menciptakan kecerdasan umat secara massal. Seluruh elemen masyarakat dapat memahami perkembangan zaman serta dapat mengerti alur kehidupan. Dengan itu tidak ada lagi unsur masyarakat yang menjadi obyek penderita dan terus dibodohi atas kebijakan dan sikap orang lain. Dari sana umat ini akan menjadi sokoguru dunia dalam ilmu pengetahuan. Setiap hari selalu muncul hal-hal baru. Setiap waktu ada penemuan baru

“Bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282).

Oleh karena itu, kajian sirah harus menghantarkan orang-orang yang mempelajarinya kepada bangkitnya semangat juang untuk merebut kembali model kepemimpinan umat. Sehingga, umat dapat merasakan kenikmatan dalam hidup yang penuh anugerah. Kehidupan mereka tidak terzhalimi sedikit pun. Bahkan mereka dapat dengan jelas melihat harapan dan obsesinya ke depan. Wallahu ‘alam bishshawaab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (28 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. DH Al Yusni
  • Munifah Ilham

    Subhanallah………. setelah membaca dan memahami apa yang tertulis di "Sirah Nabawiyah" yang secara jelas meng-kisahkan bagaimana kehidupan dan perjalanan seorang Muhammad menjadi Nabi dan kemudian diangkat oleh Allah SWT sebagai Rasullullah, dan juga Kepemimpinan yang beliau / Rasululluah SAW didalam bernegara, bermasyarakat dan keluarga dan sehingga kita menikmati sebenar-benar nikmat yaitu Nikmat Iman dalam Islam dan Islam sebagai agama yang Rahmatan lil'alamin , rasanya qolbu ini menjadi rindu ingin bertemu dengan Kekasih Allah ……. Adakah pemimpin di zaman sekarang ini yang tidak hanya men-tauladani sosok pribadi dan kepemimpinan Rasullullah SAW tapi juga meng-implemetasikannya……… Kami rindu Ya Allahu Robbi………

  • Allah huakbar…! walillahilham.

    Sungguh Nikmat yang tiada tara, tatkalah pemimpin di negeri ini memiliki kreteria-kreteria diatas.
    ikhwan wa akhwat fillah.
    Jihad dan dakwah kita saat ini dimedan siyasih, adalah salah satu perwujudan kembalinya ciri-ciri kepemimpinan dijaman rosulullah dan sholafussholih.
    Mari sama-sama kepada saudara-saudara ku, wabil khusus antum yang berada diwilayah DKI Jakarta ini , kita sambut panggilan jihad yang telah berkumandang. Jangan ada rasa bimbang dan ragu akan hakikat sebuah kemenangan. Yakinlah allah bersama orang – orang yang berjihad di jalannya.

    Allah huakbar…. Allah huakbar….. Allah huakbar.

  • wa_one

    wa-one

    Sungguh saya juga ingin tahu banyak mengenai tarekh Nabi SAW, makanya diperumahan yang saya diami semala

    kurang lebih 6 bln ini kami sudah bisa membentuk forum muhasabah dan baru memulai beberapa mgg ini mengulas Sirah Nabawiyah

  • Oki

    Jazakallah Ustadz atas paparannya. Ternyata memang masih banyak umat Islam yang belum paham tentang sosok Nabi saw. dan jalan perjuangan beliau yang terangkum di sirah nabawiyah. Ada 2 kutub ekstrem tentang Nabi saw. Pertama,meyakini bahwa Nabi saw. sosok yang untouchable. Sehingga tidak mungkin bisa ditiru oleh orang biasa seperti kita ini. Kedua, menyakni Nabi saw. sebagai sosok manusia biasa yang bisa salah seperti kita ini.Sehingga tidak harus diikuti. Mari kita sebarluaskan artikel ini agar umat mendapat pemahaman yang benar tenang nabinya.Amin.

  • luar biasa, eh aku juga pingin jadi pemimpin

  • Alwin Khafidhoh

    Subhanallah…jazakallah atas bahasan yang sangat padat ini. Menghadapi tantangan dakwah yang kian hari kian berat, rasanya tepat jika kita kuatkan kembali pemahaman kita tentang dakwah Rasulullah SAW sehingga kita bisa beradaptasi dengan baik terhadap setiap dinamikan dakwah ini. bahwa hanya dengan melaksanakan dakwah seperti Manhaj Rasulullah lah Islam ini akan kembali tegak di muka bumi. Mudah-mudahan website ini menjadi halaqah virtual yang bisa dinikmati ikhwan maupun akhwat(selama ini sangat terbatas ustadz)

  • Abu Fatih

    Assalamu`alaikum Wr.Wb

    Asy`uruniy an aftahu as shfhah `ilmiyyah fi ad da`watunaa

    Saya sangat membutuhkan artikel artikel semacam ini guna mendukung keilmuan saya di bidang ushuluddin.

    Wass.

  • ipoetzz

    sirah nabawiyah mendekatkan kita pada sosok yang mengagumkan dari Rasul Allah yang tiada duanya. banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari dalamnya. satu kata yang mungkin belum cukup untuk mewakilinya "Amazing"

  • Assalamu’alaiku Wr.Wb
    Zajakallah khairan katsiran ustadz, saya sangat membutuhkan tulisan2 seperti ini untuk materi pembelajaran (tarbiyah)alhamdulillah

  • abdul rahman

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Subahanallah, saya kagum dengan sosok Rasulullah SAW… mudah2an kita yang mengkaji sirah nabawiyah
    dapat meniru perilakunya yang sangat mulia…!!! bisa memberikan contoh yang baik.! guna memperkenalkan betapa indahnya “ISLAM” kepada seluruh umat.

Lihat Juga

Sekolah Sejarah dan Peradaban Islam (SSPI), di Auditorium Gedung X FIB UI, Sabtu, (2/4/2016). (Sekar Ayu Wulandari)

Meluruskan Cara Pandang terhadap Sejarah Islam bersama Omah Peradaban

Organization