Home / Narasi Islam / Sejarah / Jangan Halangi Aku Membela Rasulullah

Jangan Halangi Aku Membela Rasulullah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.comHari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”

Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

Inna lillah….” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.

“Kau berduka, ya Ummu Amar?”

Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.”

Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, nak?”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu….”

Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?”

Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”

Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?”

“Beliau tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih luka parah, Nasibah….”

“Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (174 votes, average: 9,58 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mochamad Bugi
Mochamad Bugi lahir di Jakarta, 15 Mei 1970. Setelah lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, ia pernah mengecap pendidikan di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosah Islamiyah Al-Hikmah. Sempat belajar bahasa Arab selama musim panas di Universitas Ummul Qura', Mekkah, Arab Saudi.Bapak empat orang anak ini pernah menjadi redaktur Majalah Wanita UMMI sebelum menjadi jabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Politik dan Dakwah SAKSI. Ia juga ikut membidani penerbitan Tabloid Depok Post, Pasarmuslim Free Magazine, Buletin Nida'ul Anwar, dan Majalah Profetik. Jauh sebelumnya ketika masih duduk di bangku SMA, ia menjadi redaktur Buletin Al-Ikhwan.Bugi, yang ikut membidani lahirnya grup pecinta alam Gibraltar Outbound Adventure ini, ikut mengkonsep pendirian Majelis Pesantren dan Ma'had Dakwah Indonesia (MAPADI) dan tercatat sebagai salah seorang pengurus. Ia juga Sekretaris Yayasan Rumah Tafsir Al-Husna, yayasan yang dipimpin oleh Ustadz Amir Faishol Fath.
  • Arief Rahman Yusuf

    Subhanallah, belum seberapanya kita dibandingkan keluarga Said. Bahkan Nasibah, di saat hilang satu tangan masih sibuk bertanya “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?” . Ternyata Nasibah termasuk dalam Ring 1 pasukan pengaman Rosulullah, hasil tarbiyah yang tidak tanggung-tanggung. Adakah Nasibah lain saat ini ?

  • syahidatul wafa

    ustadz…jazakumullah. taushiyahnya bagaikan air segar bagi ana. ana menitikkan air mata membacanya. benarlah ini sosok muslimah yang dirindu syurga .. seorang wanita yang sempurna : muslimah sholihah, istri yang tha'at, ibu yang mendidik generasi pejuang, dan menutup hidupnya dengan kesyahidan..

    saudariku, kita harus meneladani beliau..moga Allah pertemuakn kita dengan beliau di syurgaNya kelak,,

  • Asw…jujur. nangis ngebacanya…saya bingung…masih banyak kekurangan diri ini…

    Para sahabat&sahabiyah memang tiada dua keimanan, ketaqwaan, pengorbanan, & perjuangannya.

    Ingin rasanya diri ini menjadi muslim yg yterdekat dengan nabi..Semoga kita muslim yg ada saat ini lebih baik lagi dalam memperjuangkan syariat2 Allah & Sunnah2 Nabi.

    Fastaqiim

  • Amanda

    Allohu akbar yaa.. muqollibalm quluub, tsabbit qolbiy 'alaa diinik

  • Hasan Badri

    Subhanallah… beginilah hasil tarbiyah Rasulullah SAW, mudah-mudahan air mata yang keluar ini menjadi saksi bahwa kita merindukan keimanan sebagai mana keimanan para sahabat Rasulullah.

  • Allahu akbar………maha suci Allah yang telah menciptakan orang-orang yang mulia, Rasulullah dan sahabat2nya.

  • sulthoni

    Nasibah dan keluarganya merupakan hamba-hamba pilihan, hingga Allah sangat mencintainya dan maungkin tak sabar untuk bertemu dengannya. ternyata pengorbanan kita amatlah jauh dibandingkan keluarga Nasibah, apakah pengorbanan kita yang sedikit ini bisa ditukarkan dengan syurga Allah..?? "wa amitha 'ala syahadati fisabilik..wa amitha 'ala syahadati fisabilik…

  • intan

    Bismillah
    Subhanallah, walhamdulillah ALLAHU AKBAR …..
    Syukron jidan tausyiahnya, tak terasa menitikkan air mata, apakah qta bisa mencapai ruh mujahidah seperti Nusaibah??? layakkah qta bertemu dg Rasulullah dan para sahabatnya di JannahNya??? semoga air mata ini menjadi saksi bahwa qta merindukan pertemuan dengan Rasulullah dan para sahabatnya
    ALLAHU AKBAR … ALLAHU AKBAR … ALLAHU AKBAR !!!

  • Allahu Akbar

  • Nurul

    Subhanallah…..
    Ya Allah….pantaskah aku mengharap surga-Mu……. Diri ini tidak ada artinya di banding Nasibah dan keluarganya….
    Semoga akan muncul nasibah2x baru di bumi ini….agar Islam memperoleh kemenangann……ALLAHU AKBAR.

  • siti sofiah

    subhanallah mampukah hamba yang hina ini menjadi seperti Nasibah?segunung pegorbanan dipertaruhkan hany keran acinta padamu,ya kekasih Allah.Bagaimana mungkin dakumampu mencoret cinta sepertinya

  • Ya Allah…

    Ijinkan hamba-Mu nan amat lemah ini

    Menjadi sebutir debu di kaki Said-Mu yang syahid

    Dan istriku sebagai pewaris jiwa Nasibah-Mu

    Serta anak-anakku sepenyejuk mata Amar dan Sa'ad

    Aamien…

  • melati

    terlalu banyak cerita cerita mulia tapi kapankah masanya tiba kalau ruh syahid disamakan dengan pengganas dan banyak dari kita bersifat munafiq dalam memperjuangkan Islam . teramat ingin menjadi Nasibah masa kini .

  • ummu umar

    subhanallah perjuangan shahabiyah selalu memberikan inspirasi dan motivasi.ustadz mohon ijin utk di copas utk disampaikan pada yg lain.
    jazakumullah khairaan katsiraan.

  • Semoga Alloh menempatkan Nasibah dan Keluarga pada maqam yang tinggi di sisi Alloh dan mendapat PAHALA SYAHID yang terbaik.
    Rasulullah bersabda" Barang siapa yang mencintaiku pasti akan bersamaku di Syurga "
    Inilah kecintaan NASIBAH & Keluarga kepada Baginda Rasulullah, Insya ALLOH Beliau akan bersama Rasulullah nanti di Surga.

  • rahman

    syukran ustadz… ane terharu bacanya sampe ga sadar netesin air mata

    Ya Allah…
    Ijinkan hamba-Mu nan amat lemah ini
    Menjadi sebutir debu di kaki Said-Mu yang syahid
    Dan istriku sebagai pewaris jiwa Nasibah-Mu
    Serta anak-anakku sepenyejuk mata Amar dan Sa’ad
    Aamien…

  • cucurkanlah selalu air mata kami ya Allah, saat mengingatmu dan Rosulullah,berikan kami kekuatan untuk ikut berjuang membela agamamu dari pengaruh bid'ah,kurofat,taqlid. Terimakasih saudaraku atas tulisanmu, semoga tuisanmu mendorong kamiuntuk semakin mencintai Allah SWt dan Rosulullah.

  • mujahidah_wanna_be

    subhanallah..Allahu akbar..

    syukron atas artikelnya ustadz..

    di saat diri ini merasa jenuh dengan aktivitas, ana 'disentil' oleh kuatnya perjuangan Nasibah..

    padahal yang ana lakukan tidak berarti apa2 bila dibandingkan Nasibah..

    Ya Allah, semoga hambaMu ini bisa mewarisi jiwa syahidah Nasibah..

    Subhanallah..

  • Pingback: Jangan Halangi Aku Membela Rasulullah « Naura Raudhotul Jannah()

  • pipi

    Subhanalloh..
    merinding pgn nangis ja ya..
    betapa kita ga da artinya di banding dg pejuang bersama Rosul dulu..
    Allohu Akbar…

  • han

    subhanaLlah..smg aku dapat menjadi sepertinya..matikan ku dengan mati syahid Ya Allah

  • aniek

    Assalamualaikum warahmatullah…
    Sy telah mengcopy paste artikel diatas “Jangan Halangi Aku Membela Rasullullah” dan kemudian sy sebarkan ke FB krn sngat bermanfaat dan akan menimbulkan semangat jihad khususnya bagi muslimah. Tetapi sy lupa mncantumkan nama penulis dan sumbernya dengan tidak sengaja..
    Afwan, sy mohon maaf sebesar-besarnya atas kekhilafan sy.. InsyaAlloh untuk berikutnya sy lebih berhati-hati. Terima kasih, jazakumullah khoiron katsiron..
    Wasalamualaikum warahmatullah…

  • yulia

    subhanallah benar-benar hamba yang tulus

  • lwonggo

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Subhanallah…..keteladanan Ummu Amar sebagai pengikut sejati Rasulullah dengan semangat juang yang ikhlas membela agama Allah patut disebarkan luaskan.
    Mohon izin Penulis untuk menyebarkan kisah ini.
    Terima kasih, Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh

  • faiq

    Assalamualaikum wr wb

    Subhanallah ,, Allohu Akbar …. Allohu Akbar …. Allohu Akbar*

    Hamba-NYA penuh ibrah kepada ketakwaan mungguh yang sesungguhnya.

  • klo ceritanya ada sedikit perbedaan ya?. di http://www.jannah.org/sisters/mwarrior.html. Nasibah tidak syahid saat perang uhud,bahakn beliau masih hidup di zaman kekhalifaan abubakar as sidiq, dan bertemu dengan Anak beliau Amar (beliau sempat mengobati anak beliau yang terluka). Mohon penjelasannya…syukron

  • alimc

    mohon idzin share ya ustadz…Syukron..

  • ummu syauqi

    membacanya membuat saya menangis… semoga saya bs meniru semangat beliau dalam berjihad fii sabilillah AMiin

  • edi

    Allahu akbar…Allahu Akbar….Allahuakbar…..moga lebih banyak lagi yag mengikuti jejak dan perjuangan nasibah untuk kejayaan islam dimuka bumi ini

  • sulaiman

    Assalaamu’alaikum
    Penindasan terhadap warga Palestina terus dilakukan oleh Israel karena Palestina dalam posisi lemah di bidang persenjataaan. Sedangkan simpatisan hanya menghabiskan energi dengan menyumpah dan mengutuk saja. Jelas hal ini tidak akan melemahkan Israel. Seharusnya kita memberikan masukan yang cukup kepada Palestina, misalkan mengirimkan senjata. Alternatif lain adalah dengan memberikan masukan/informasi kepada Palestina tentang pembuatan atau modifikasi senjata yang…

  • amatullah

    cerita yg sangat menarik, membuat kita trenyuh.. mhn penjelasan nama lengkap dan referensi cerita di atas, samakah nasibah ini apakah sama dg nasibah binti Ka’ab, ummu Ammarah al anshoriyah yg membela mati2an Rasulullah saat perang Uhud, tetapi di banyak artikel yg saya baca, beliau wafat pada masa kholifah Umar bin Khotob.. atau mungkin nasibah yg lain ya? mhn penjelasannya. syukran

  • elly

    sangat mengharukan….semoga kami bisa meneruskan semangat juang para sahabat Rasul dijaman yang sudah serba banyak kedzaliman ini ….insya Allah…

  • www.ibunaizzam.blogspot.com

    begitu terharu membaca kisah ini berkali-kali ana harus menyeka air mata yang menetes, begitu susahnya menahan nafas yang bergemuruh ingin meraung sekencang-kencang nya….sungguh ini adalah harapan dari setiap Laki-laki (ayah),wanita (ibu) dan anak-anak muslim yang soleh…untuk bisa membela agamanya dan Rosul nya dan sungguh tidak ada keraguaan didalam nya bahwa membela agama dan rosul adalah suatu harga mati dan tidak dapat ditawar lagi. Semoga ana dapat melakukan apa yang ada dalam kisah ini

  • Abu Yasin

    Subhanallah..semoga kita semua dapat meneladaninya…amin.

  • afiza ahmad

    Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! inilah jiwa seorang pejuang islam sejati, tidak gentar, tidak takut dengan seruan JIHAD….JIHAD…JIHAD berjuang secara terus terang, tidak menutupkan mukanya, berani tanpa berfikir dua kali… Ya Allah… berilah aku kekuatan dalaman yang kental sperti Nasibah yang perkasa…. semoga Nasibah bahagia bersama keluarganya di dalam syurga…. Amiin….

  • ipul

    ambil referensi dari mana bos?

  • Budi hartono

    Subhanalloh andaikan kita smua bs sperti keluarga ibu mulia nasibah yg bgtu dg kykinan tggi bahwa mmbela yg benar adalah hal terindah dlm hdup ini sampai2 nyawa yg di jdkan taruhan tntu akan damai sekali dunia ini tp syng yg terjd saat ini dan ntah ampe kpn yg ada mlh yg slh yg di bela2 in ya Alloh kmbli kanlah kami kmbli kejl linta san orbit yg tlh Kau tentukan agar bumi ini bgtu indah dinikmati utk smua manusia baik miskin atau pun kaya amiin.

  • Irvan Suryaningrat

    Subhanallah. Tiada kata yang dapat terucap, hanyalah serangkaian doa yang dapat dipanjatkan. Semoga kelak Allah berkenan mempertemukan kita pada almarhumah saat kita kelak dibangkitkan dihadapanNya. Seorang wanita pejuang yang tangguh, dan sebuah pembelajaran yang sangat berharga. Sungguh ada rasa iri jika kita bisa hidup di jaman Rasulullah, berbaris bersamanya, berjuang menegakkan dan menyebarkan akan kebenaran firman-firmanNya.
    Allahu Akbar

  • ami

    Allahu Akbar… izin share ya

  • Ken_hendrik

    membacanya membuat aq merinding n hati bergetar…….sungguh para syuhada sejati!!!
    Allahuakbar……………..

  • Muhamad Rizal

    Ya Allah seandainya ruh-ruh mereka telah mendapatkan jaminan darimu,

    Ruh mereka sangat dinanti oleh para malaikaMu,,Sementara aku tak tahu bagaimana ruhku nanti bila terlepas dari raga ini,,,Aku sungguh malu dengan diri ini yang terus menerus terjerumus dalam lembah kehinaan,,Ya Allah tunjukanlah padaku jalan yang lurus dan bimbinglah hamba tuk senantiasa berada di jalan yang Engkau ridhai,

    ASTAGHFIRULLAH AL ‘AZHIM

  • ya Rasulullah salaamun alaih ya Rahmatan lil’aalamiin Allahumma shalli’alaa syaidina Muhammmad wa’alaa alihi syaidina Muhammad

  • Nandacell8000

    Yaa Nabi… Terima kasihku yang tulus… Akhlak-Mu sangatlah mulia. Insya Allah aku senantiasa bersolawat kepada-Mu. Aku mencintai-Mu ya Rasulullah. semoga aku bisa seperti yang kau inginkan,amiin….

Lihat Juga

Ilustrasi - Perempuan berkerudung. (flickr.com / Zarfique Blindgraphique)

Perempuan di Kereta

Organization