Home / Dasar-Dasar Islam / Aqidah / Keagungan Hamdalah

Keagungan Hamdalah

Hamdalah merupakan penggalan kata yang selalu kita ucapkan setiap kali kita selesai melakukan sesuatu yang secara lengkap kita membacanya dengan ucapan “Al-hamdulillah” (segala puji hanya milik Allah) atau “Al-hamdulillah rabbil ‘alamin” (segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam). Kata alhamd itu sendiri terdiri dari kata “al” dan “hamd”, yang seringkali diterjemahkan dengan pujian. Yaitu pujian yang ditujukan kepada Allah. Sebuah ungkapan pujian yang hanya diserahkan dan disampaikan kepada Allah SWT.

“Alhamd” (puji) baik secara aktual maupun verbal adalah bentuk dari manifestasi keparipurnaan dan suksesnya suatu tujuan, dari segala yang ada. Sebab Hamdalah itu merupakan bentuk dari pujian pembuka, sekaligus merupakan pujian indah bagi yang berhak mendapatkannya.

Seluruh makhluk di muka bumi ini secara keseluruhan juga memuji Allah SWT bertasbih dan bertahmid. Seluruh keparipumaan muncul dari potensi-potensi menjadi aktual, dan semuanya senantiasa menyucikan dan memuji-Nya. Sebagaimana dalam firman Allah swt:

Tak satu pun dari segala yang ada kecuali selalu bertasbih dan memuji-Nya”.

Jagad raya senantiasa memiliki kesadaran darimana awal mulanya, bagaimana penjagaan atas kelestariannya dan pengaturannya, sebagai cermin konotatif dari arti hakiki Rububiyah bagi semesta alam. Yakni bagi segala sesuatu yang terkandung dalam Ilmu Allah. Seperti sebuah tanda bagi yang ditandai. Juga mengandung makna globalitas keselamatan yang penuh karena mengandung arti Ilmu dan sekaligus mengandung makna mengalahkan. Yang terkandung itu juga berarti kebajikan-kebajikan yang umum maupun khusus. Yaitu nikmat lahiriyah maupun nikmat batiniyah. Nikmat lahiriyah seperti kesehatan dan rizki, sedangkan nikmat batiniyah seperti pengetahuan dan ma’rifat.

Maka pujian dengan segala substansinya itu mutlak hanya bagi Allah Ta’ ala, secara azali maupun abadi menurut proporsi hak hamba melalui Dzat-Nya.

Kata al-hamdulillah memiliki dua sisi makna. Pertama, berupa pujian kepada Tuhan dalam bentuk ucapan. Kedua, pujian dalam bentuk perbuatan yang biasa kita sebut dengan syukur. Kedua sisi ini tergabung dalam ucapan al-hamdulillah.

Pujian kepada Allah dalam bentuk ucapan merupakan anjuran agama setiap kali merasakan anugerah. Itu sebabnya Rasulullah saw. Selalu mengucapkan al-hamdulillah pada setiap kondisi dan situasi. Ketika berpakaian, sesudah makan, ketika akan tidur dan setiap bangun tidur, dan seterusnya dari perbuatan Rasulullah saw yang mengajarkan kita untuk selalu mengucapkan al-hamdulillah dalam setiap kondisi dan situasi.

Apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdulillah, maka dari saat ke saat ia akan selalu merasa dalam curahan rahmat dan kasih sayang Allah. Dia akan merasa bahwa Allah tidak membiarkannya sendiri. Jika kesadaran ini telah berbekas dalam jiwanya, maka seandainya mendapatkan cobaan atau merasakan kepahitan dan ujian bahkan musibah sekalipun, maka dia pun akan mengucapkan al-hamdulillah atau segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata. Begitu pun sekiranya ketetapan Allah yang mungkin oleh kacamata manusia dinilai kurang baik maka harus disadari bahwa penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam menetapkan tolok ukur penilaiannya. Pasti ada sesuatu yang luput dari jangkauan pandangan manusia sehingga penilaiannya menjadi demikian. Walhasil “segala puji bagi Allah”. Kata segala ini diterjemahkan dari kata al pada al-hamdu yang oleh ahli bahasa dinamai al-lil istighraq (artikel yang memberi arti mencakup keseluruhan).

Kalimat semacam ini terlontar, karena ketika itu dia sadar bahwa seandainya apa yang dirasakan itu benar-benar merupakan malapetaka, namun limpahan karunia-Nya sudah demikian banyak, sehingga cobaan malapetaka itu tidak lagi berarti dibandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini.

Kalau kita ingin menelusuri ayat-ayat Allah, maka akan kita temukan ungkapan kata al-hamdulillah di dalam banyak ayat-ayat-Nya, sementara secara khusus, ada beberapa surat yang kata al-hamdu diletakkan di muka ayat; lima surat dalam Al-Quran yang dimulai dengan kata al-hamdu, seperti Al-Fatihah (jika kita sependapat dengan pendapat ulama yang bahwa basmalah bukan bagian dari surat al-fatihah) maka akan ditemukan makna Hamdalah yang begitu dalam menggambarkan akan anugerah Allah yang begitu luas yang dapat dinikmati oleh makhluk, khususnya manusia. Ungkapan ayatnya adalah Alhamdulillah lillah rabbil ‘alamin; pernyataan pujian yang hanya diserahkan kepada Allah yang Maha Esa dan Kuasa, karena telah begitu banyak memberikan anugerah kepada seluruh alam. Adapun pada ayat-ayat lain dapat ditemukan kata-kata alhamdu yang menjadi permulaan ayat pada empat surat lain; masing-masing menggambarkan kelompok nikmat Allah dan merupakan perincian dari kalimat al-hamdulillah pada surat al-fatihah.

Keempat surat yang dimaksud adalah :

1. Surat Al-An’am yang dimulai dengan pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan oleh-Nya akan potensi yang terpendam di langit dan di bumi. Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang…”

2. Surat Al-Kahfi yang dimulai dengan pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan berupa petunjuk bagi manusia, sebagai nikmat terbesar yaitu kehadiran Al-Quran yang tidak memiliki kebengkokan dan kesalahan; Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Quran kepada hamba-Nya dan tidak membuat kebengkokan (kekurangan) di dalamnya”.

3. Surat Saba yang dimulai dengan kata Al-hamdu; pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan yaitu berupa alam dunia dan alam akhirat sehingga manusia dapat menjadikannya sebagai keseimbangan; memperbanyak bekal di alam dunia dan memetiknya nanti di alam akhirat; Allah berfirman: “Segala puij bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bagi-Nya pula pujian di akhirat. Dialah yang Maha bijaksana lagi Maha Mengetahui”.

4. Surat Fathir yang dimulai dengan kata Al-hamdu; pujian kepada Allah atas segala nikmatnya yang telah dianugerahkan berupa keabadian sejati nanti di alam akhirat; Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah, pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang mengurus berbagai macam urusan (di dunia dan di akhirat) yang mempunyai sayap -sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat..”

Perbedaan kata hamd (pujian) dengan kata syukur, walaupun keduanya saling memperkaya makna namun pada hakikatnya mempunyai makna yang berbeda. Hamd disampaikan secara lisan kepada yang bersangkutan walaupun ia tidak memberi apapun baik kepada si pemuja maupun kepada yang lain dan biasanya yang dipuji memiliki syarat yang patut dipuji; indah (baik) diperbuat secara sadar dan tidak karena paksaan. Dengan demikian, maka segala perbuatan Allah terpuji dan segala yang terpuji merupakan perbuatan Allah juga, sehingga segala puji tertuju kepada Allah. Bahkan jika kita memuji seseorang karena kebaikan atau kecantikannya, maka pujian tersebut pada akhirnya harus dikembalikan kepada Allah SWT, sebab kecantikan dan itu bersumber dari Allah. Sedang syukur pada dasarnya digunakan untuk mengakui dengan tulus dan penuh penghormatan akan nikmat yang dianugerahkan oleh yang disyukuri itu, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.

Pada akhirnya kata alhamdu (pujian) merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah dianugerahkan dan selayaknya kata ini diucapkan ketika seseorang ingin melakukan sesuatu, karena sejatinya tidak ada perbuatan yang dilakukan, ucapan yang disuarakan, nafas yang dihembuskan, gerakan dan segala apapun yang diperbuat oleh bagian anggota tubuh manusia karena rahmat dan anugerah dari Allah. Dan kita pun dianjurkan untuk selalu mengucapkan syukur dan tahmid saat melihat orang lain mendapatkan rezki dan anugerah dari SWT. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw dalam do’anya :

“Ya Allah, tidak ada di pagi ini dari kenikmatan yang engkau anugerahkan kepada kami dan kepada siapa pun dari hamba-hambamu hanya dari Engkau belaka, tiada sekutu bagi-Mu dan segala puji dan syukur hanya milik-Mu” []

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (31 votes, average: 8,90 out of 10)
Loading...Loading...
Syarifuddin Mustafa, MA
Bapak dari 2 orang putra-putri ini lahir di Jakarta. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai dosen. Memiliki latar belakang pendidikan dari S1 Universitas Al-Azhar Kuliah Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ulumul Qur'an. Lalu melanjutkan pendidikan ke S2 Universitas Islam OM DURMAN di Sudan, dengan tesis berjudul "Ma'alim Mujtama Islam fii Suratil Ahzab". Aktif di berbagai organisasi, di antaranya adalah pernah diamanahkan sebagai Bendahara di PPMI Mesir Cabang Tanta, sebagai Wakil Ketua PPMI Mesir Cabang Tanta, dan sebagai Sekretaris ICMI Orsat Sudan. Hobinya adalah olahraga bola. Dan moto hidupnya adalah "Hidup yang Berguna Bagi Agama, Nusa, dan Bangsa".

Lihat Juga

@laudyacynthiabella

Berhijab, Keputusan Terbesar dalam Hidup Laudya Cynthia Bella

  • http://plasa.com ikhwan ahada

    wah, ustadz ane sampaikan jazakalloh atas tadzkirohnya, sebab ini yang sering lalai dari kita.semoga Alloh senantiasa memberikan rahmatNYA kepada kita untuk berhimpun padu di jalan dakwah ini. amin

  • dicky wahyu p

    Subhanallahh…
    luarrr biasa

  • Bambang Supriyadi

    Alhamdulillah

  • http://cacamagenta.web.id camagenta

    Alhamdulillah, artikel di atas menambah pengetahuan saya tentang bagaimana menysukuri apa yang telah Allah berikan kepada saya. Semoga apa yang telah diusahakan oleh rekan-rekan dan Ust2 di sini mendapat berkah dari Allah SWT. Allahuma Amin.

  • munifah ilham

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.

    Alhamdulillah, terima kasih diingatkan, semoga kita semua selalu dalam lindungan dan kasih sayang Allah SWT,

    Solawat dan Salam kepada Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat dan para pengikut beliau dan ummat-Nya yang setia hingga di akhir zaman, Amin……..

    Billahittaufiq Wal Hidayah Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

  • saefuddin

    alhamdulillah…….

    syukran kasiir wa syukran jazilan ya ustadz

  • bela

    tolong beritahukan pada saya tentang dzikir mohon rzeki yang banyak dan barokah

  • http://albangkawy.multiply.com albangkawy

    Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallaah Allaahu Akbar.

    Terima kasih wa jazaakumullaahu khaiir insha Allaah.

  • dian

    alhamdulillah… sebuah ungkapan sederhana, namun sarat makna tetapi seringkali dilupakan…

    semoga manusia tak terjebak atas banyaknya nikmat yang telah dia punya, hingga ia lupauntuk bersyukur dengan sebuah kalimat hamdalah… segala puji bagi Allah, Robb semesta alam ini…

  • http://iprianto.multiply.com/ Iwan

    Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    sungguh merupakan kalimat yang mengandung pujian bagi Allah SWT,

    sesungguhnya kita tidak bisa memberikan apa-apa kepada Allah SWT, kecuali jiwa dan raga ini nantinya

    Biasakanlah kita selalu mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT dimanapun kita berada, ingatlah selalu

    kepada Allah SWT.

    Wassalamu' alaikum warohmatullahi wabarokatuh

  • Faiz

    Jazakumullahu Khairon Katsiron
    Ya Allah… Astaghfirullah…
    Kami baru sadar, Ternyata kekayaan tertinggi dan terbesar dalam hidup ini adalah ketika kita mau bersyukur kepad-Mu.
    Maafkan saya, Ya Allah…
    Saya selalu lalai dan lupa kepada nikmat-Mu.

  • ega

    Assalamu’alaikum wr wb
    Izinkn sy meng-copy tulisan Bpk.
    Syukron

  • Bin39z18

    Sesungguhnya Allah lah pemilik segala pujian, Jika kita selalu bersyukur (di yakini dg hati dan dan dilakukan dg ucapan) insyaallah, allah akan memberikan karunia yg lebih, rahmat yg berlimpah, dan allah akan selalu ingat kpd kita.
    sesuai dengan janji allah :”maka ingatlah kpd-Ku maka aku akan ingat kpd mu. Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku”. (Qs. al-Baqarah (2) ayat 152)