Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Ahkam / Hukum Menikahi Orang Musyrik dan Ahlul Kitab

Hukum Menikahi Orang Musyrik dan Ahlul Kitab

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah:221)

وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُواْ الْمُشِرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُواْ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلَـئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللّهُ يَدْعُوَ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Kata musyrikah atau musyrik dalam ayat di atas artinya seorang yang menyekutukan Allah. Imam Al Ashfahani membagi makna al syirk dua macam:

(a) Al Syirkul adziim (syirik besar) yaitu menetapkan sekutu bagi Allah. Termasuk kategori ini makna firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (An-Nisa:48). Dalam ayat lain: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya”. (An-Nisa:116)

(b) Al Syirkush Shaghiir (syirik kecil) yaitu mendahulukan selain Allah dalam tindakan tertentu, seperti riya’ (ingin dipuji orang), termasuk dalam kategori ini pengertian ayat: “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (Yusuf:106), maksudnya mengutamakan kepentingan-kepentingan dunia di atas tujuan-tujuan akhirat (lihat Al Ashfahani, Mufradat alfaadzil Qur’an, h.452).

Para ahli tafsir, dalam menjelaskan kata musyrik selalu mencontohkan dengan agama majusi (penyembah api) dan watsani (penyembah berhala). Ada juga sebagai mufassir yang mendefinisikan musyrik dengan “semua orang kafir yang tidak bergama Islam. Dengan pengertian ini maka umat Yahudi dan Nasrani tergolong musyrik. Dan ayat di atas dengan tegas melarang pernikahan seorang mukmin dengan wanita musyrikah begitu juga sebaliknya seorang mu’minah dengan lelaki musyrik. Mengapa? Karena batasan yang sangat fundamental yaitu perbedaan aqidah. Dari perbedaan aqidah ini akan lahir perbedaan tujuan dan pandangan hidup. Maka tidak mungkin seorang mukmin atau mu’minah yang benar-benar jujur dengan keimanannya rela mengorbankan aqidahnya demi kepentingan dunia. Imam Al Qurthubi menyetir ketetapan ijma’ul ummah bahwa seorang musyrik tidak boleh menikahi seorang mu’minah apapun alasan nya. Imam Asyaukani menyebutkan sebuah riwayat bahwa seorang sahabat bernama Murtsid bin Abi Murtsid pernah didatangi bekas orang yang pernah dicintainya dulu waktu di zaman jahiliyah. Wanita itu lalu minta untuk dizinahi. Murtsid segera menjawab: Wah, itu tidak mungkin, sebab saya sudah masuk Islam, dan Islam telah menjadi penghalang di antara kita. Lalu wanita itu minta agar dinikahi saja. Murtsid berkata: kalau begitu saya akan menemui Rasulullah dulu. Lalu turunlah ayat di atas. (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadiir: vol.1, h.244). Dari sini jelas bahwa tidak mungkin seorang yang beriman menikah dengan seorang yang masih kafir. Maka jika ada seorang yang mengaku mu’min atau mu’minah, kemudian ia ternyata rela dan berani melakukan pernikahan dengan seorang yang musyrik atau musyrikah, itu berarti dalam keimanannya ada masalah. Sebab dengan terang-terangan ia telah berani melanggar ketentuan Allah seperti dalam ayat di atas.

Menikahi Wanita Ahlul Kitab (Kitabiyah)

Dalam ayat di atas, hanya disebutkan istilah musyrikah atau musyrik, tetapi belum disebutkan istilah ahlul kitab, sementara di tempat lain Al Qur’an menggunakan istilah ahlul kitab untuk umat Yahudi dan Nasrani. Allah berfirman: “(Kami turunkan Al-Quran itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa Kitab itu Hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami (yakni orang-orang Yahudi dan Nasrani)” (Al-An’am:156). Pertanyaannya sekarang apakah ahlul kitab termasuk golongan musyrikiin? Menurut definisi di atas maka ahlul kitab termasuk kaum musyrikiin. Jika demikian bolehkah seorang mu’min menikahi wanita ahlul kitab?

Mayoritas ulama (jumhur) membolehkan seorang mu’min menikah dengan wanita ahlul kitab (dari umat Yahudi atau Nasrani). Dan ini pendapat yang kuat (rajih). Bahkan ada sebagian yang mengatakan –seperti Imam Al Jashshash – tidak ada khilaf di dalamnya, kecuali Abdullah bin Umar yang memandangnya makruh (lihat Al Jashshash, Ahkamul Qur’an, vol. 2, h.324). Namun kendati demikian menikah dengan wanita muslimah tetap harus diutamakan. Sebab pada hakekatnya, di antara hikmah dibolehkannya adalah dalam rangka untuk mengislamkannya. Dan seorang suami mu’min sebagai kepala rumah tangga tentu sangat berperan dan menentukan dalam proses tersebut. Berbeda halnya jika sang istri muslimah dan suami non-muslim. Sang istri tentu sangat berat untuk mempengaruhi sang suami, bahkan bisa dipastikan sang istri akan kewalahan. Sebab tabiat seorang istri biasanya selalu ikut apa kata suami. Atas dasar ini mengapa seorang muslimah tidak boleh bersuamikan seorang ahlul kitab.

Beberapa alasan yang menguatkan bolehnya seorang muslim beristrikan wanita ahlul kitab sebagai berikut:

(a) Bahwa kata musyrikaat pada ayat di atas tidak termasuk ahlul kitab, dalilnya: Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu” (Al-Baqarah:105) Di sini nampak dibedakan antara orang-orang musyrik dengan ahlul kitab. Begitu juga dalam surat Al Bayyinah Allah berfirman: “Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”. (Al-Bayyinah:1). Dikatakan bahwa wawu athf menunjukkan perbedaan (almughayarah). Dengan ini jelas bahwa ahlul kitab bukan orang-orang musyrik. Toh kalaupun dikatakan bahwa mereka tergolong musyrik, maka dengan ayat tersebut nampak adanya pengkhususan, seakan dikatakan: “Tidak boleh menikah dengan wanita musyrikah kecuali wanita ahlul kitab.

(b) Allah berfirman: “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mengawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi” (Al-Maidah:5). Ini menunjukkan bahwa menikah dengan wanita ahlul kitab hukumnya boleh.

(c) Diriwayatkan bahwa Utsman bin Affan ra. menikah dengan Nailah Al Kalbiyah, wanita Yahudi, begitu juga Thalhah bin Ubaidillah ra. menikah dengan wanita Yahudi dari penduduk Syam. Itu pun tidak ada satupun riwayat yang mengatakan bahwa salah seorang sahabat menentang pernikahan tersebut. Dari sini nampak bahwa mereka bersepakat atas bolehnya menikah dengan wanita ahlul kitab.

Walhasil, bahwa sekalipun pernikahan dengan wanita ahlul kitab hukumnya boleh, namun lebih utama seorang muslim tidak melakukannya. Salah seorang alim besar dalam Madzhab Hanafi, Kamal bin Hammam berkata: Memang boleh menikah dengan wanita ahlul kitab, tetapi lebih baiknya seorang muslim tidak melakukannya, kecuali dalam kondisi darurat” (lihat Al kamal bin Hammam, Fathul Qadiir, Syarhul Hidayah fii fqhil hanafiyah, vol.2, h.372). Pesan Kamal bin Hammam ini ternyata ada dasarnya: diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah menyuruh sahabatnya Hudzaifah untuk menceraikan istrinya yang tergolong kaum Yahudi. Hudzaifah bertanya: Apakah kamu melihat bahwa pernikahan seperti ini hukumnya haram? Umar menjawab: Tidak, tetapi saya takut hal ini kelak menjadi contoh yang diikuti banyak orang. Umar benar dalam sikapnya ini, sebab jika kemudian pernikahan seperti tersebut, benar-benar menjadi fenomena umum, bagaimana nantinya nasib wanita-wanita muslimah? Dan perlu diingat bahwa diantara hikmah dibolehkannya menikah dengan kitabiyah adalah supaya wanita kitabiyah itu masuk ke pangkuan Islam melalui pernikahan. Jika diperkirakan itu tidak mungkin terjadi, para ulama memakruhkan. Oleh sebab itu ada kondisi di mana seorang muslim dimakruhkan menikah dengan kitabiyah: Pertama, wanita tersebut harbiyah (mempunyai jiwa menyerang, tidak mungkin dipengaruhi dan bahkan mungkin akan menyebabkan hancurnya moral anak-anak yang dilahirkan, serta tidak mustahil ia akan mempengaruhi sang suami) (lihat, Ibid, vol.2. h. 372). Kedua, adanya wanita muslimah yang bisa dinikahi. Imam Ibn Taymiah mengatakan: “Makruh hukumnya menikah dengan wanita kitabiyah sementara di saat yang sama masih ada wanita-wanita muslimah”(lihat, alikhtiyaraat alfiqhiyah min fatawa syaikhil Islam Ibn Taymiah, h. 217).

Menikah Dengan Laki-laki Ahlul Kitab

Ayat di atas menegaskan: dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Dalam konteks ini tidak ditemukan ayat lain yang mengkhususkannya, seperti ayat mengenai menikah dengan wanita kitabiyah. Artinya tidak ada keterangan lain mengenai hukum boleh-tidaknya menikah dengan laki-laki ahlul kitab, kecuali ayat di atas. Bila disebutkan bahwa ahlul kitab tergolong orang-orang musyrik, maka berdasarkan ayat di atas tidak boleh seorang muslimah menikah dengan laki-laki musyrik. Berbeda jika wanitanya ahlul kitab dan calon suamimya muslim, itu dibolehkan karena adanya ayat lain yang menegaskan bolehnya sebagaimana telah diterangkan tadi.

Jelasnya, bahwa seorang wanita muslimah tidak boleh dalam kondisi apapun menikah dengan seorang yang musyrik, termasuk laki-laki Yahudi dan Nasrani, karena al Qur’an telah menyebutkan bahwa mereka tergolong kafir. Allah berfirman: “Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”. (QS. 98:1). Lebih dari itu mereka juga akan selalu mempengaruhi istrinya agar menjadi kafir, yang dengannya ia bisa masuk neraka, Allah berfirman pada ayat di atas: mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya”.

Kerena itulah Allah menekankan dengan sangat tegas bahwa menikah dengan seorang mukmin tetap lebih utama, sekalipun ia seorang budak: walaamatun mu’minatun khairun min musyrikatin walau a’jabatkum (Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu). Lalu dipertegas lagi pada ayat berikutnya: wala ‘abdun mu’minun khairun min musyrikin walau a’jabakum (Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu). Perhatikan, penegasan ini tidak mengandung penfsiran lain keculai bahwa yang harus diutamakan dalam pernikahan adalah kesamaan akidah. Sebab dari kesamaan akidah akan mudah menentukan kesamaan tujuan sekaligus kesamaan cara hidup. Dan hanya dengan ini kelak upaya untuk saling membantu dalam mentaati Allah (at ta’aawun bil birri wat taqwa) akan lebih tercipta, di mana dari sini kebahagiaan hakiki akan dicapai, tidak saja di dunia melainkan juga di akhirat. Wallhu a’lam bish shawab.

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (33 votes, average: 9,15 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
DR. Amir Faishol Fath
Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Quran. Pernah beberapa tahun menjadi dosen tafsir di IIUI. Juga pernah menjadi dosen pasca sarjana bidang tafsir Al Quran di Fatimah Jinah Women University Rawalpindi Pakistan. Akhir-akhir ini sekembalinya ke Indonesia, menjadi dosen sastra Arab di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta. Lalu menjadi dosen Tafsir sampai sekarang di Sekolah Tinggi Al Hikmah Jakarta. Selebihnya beberapa kali di undang untuk mengisi Seminar, konfrensi dan ceramah di tengah komunitas muslim di beberapa kota besar Amerika Utara (Washington, New York, Houston, Los Angles, Chicago, Denver). Beberapa kajian tafisir rutin yang diasuh di perkantoran Jakarta antara laian di: Indosat, Conoco Philips, Elnusa, Indonesian Power, PLN Gambir. Agenda Kajian Tafsir Dzuhur:Senin (setiap pekan ) : Masjid Baitul Hikmah Elnusa Selasa 1 : Masjid Bank Syariah Manidiri Pusat Selasa 2&4: Masjid Indosat Pusat Selasa 3 : Masjid Hotel Sultan Rabu 1 : Masjid Indonesian Power Pusat Rabu 3 : Masjid PLN Gambir Kamis (setiap pekan) : Masjid Miftahul Jannah Ratu Prabu 2 (Conoco Philiphs)Agenda Pengajian Tafsir Dan Hadits lainnya:Sabtu 1&2 (Sesudah Subuh) : Masjid Az Zahra Gudang Peluru Ahad 2 (Sesudah Subuh) : Masjid An Nur (Perdatam) Senin ( Jam 14:30-20.00) :Sekolah Tinggi Al Hikmah Jakarta Selasa (Jam 14:00-15:30 : Majlis Talim Amanah Dault (Kedian Menpora Adiaksa Dault, Belakang STEKPI, Kalibata). Rabu: 1&2 (Setelah Maghrib) : Masjid Az Zahra Gudang Peluru Kamis (Setiap Pekan, setelah Maghrib) : Masjid Bailtul Hakim, Diskum Kebon Nanas.
  • sugeng eko

    Apakah masih ada ahlulkitab pada masa sekarang ini dan apakah yang membedakan ahlulkitab dengan kaum yahudi dan nasrani

  • Ahlulkitab dulu dengan ahlulkitab sekarang sama saja. Alquran diturunkan untuk meluruskan ajaran dan kitab suci mereka yang telah mereka ubah-ubah dengan tangan2 kotor mereka. Berarti pada zaman nabi, penyimpangan itu sudah terjadi. Alquran menyatakan telah kafir orang yang menyatakan tuhan itu satu diantara tiga (untuk Nasrani/kristen), atau uzair itu putra Allah (untuk Yahudi). dan sampai sekarang mereka itu tetap berlaku demikian dan tetap dinyatakan kafir dan akan masuk neraka. Kalaupun mereka memang memegang kitab yang asli otomatis sejak Rasulullah Muhammad diutus, mereka wajib tunduk kepada Al-quran dan bersahadat dan otomatis mereka disebut muslim bukan lagi disebut ahlulkitab. Ahlulkitab itu khusus untuk Yahudi dan Nasrani. Khusus mengenai kehalalan sembelihan mereka dan wanita ahlulkitab boleh dinikahi, itu adalah rahasia Allah, kenapa itu dibolehkan. Kita hanya menerima aturan itu dan mudah2an suatu saat nanti kita dapat mengetahui rahasia dibalik itu. Waallahu a'lam.

  • anas maskur

    Allah swt memerintahkan kita untuk selalu menjaga keluarga kita ( anak istri ) dari api neraka ( ku anfusakum wa ahlikum naara)

    terlepas boleh tidaknya kita menikahi musyrikaati, tegakah kita seandainya anak istri kita masuk neraka di karenakan istri kita non muslim.

  • aswmwb ana mau tanya ug dmlsd dg ,pd hr ini dhllkn bg km yg baik2.dan mkn orng2 yg dbri alkitab itu hll bgmu,dan seblknya.pertanyaannya jadi diblhkn orang islam membeli makanan yg dijual oleh orang2 non islam yahudi nasrani toko2 cina dll yg non muslim?,sedangkn mereka menyembelihnya saja tdk mengcpkn basmallah tolong siapa yg bisa menjawb prtnnyaan ana diatas hatyr nuhun wswmwb

  • wa'alaikum salam wrwb juragan pipin klo menurut kalimat yg anta/anti';
    pd hr ini dhllkn bg km yg baik2.dan mkn orng2 yg dbri alkitab itu hll bgmu,dan seblknya.pertanyaannya jadi diblhkn orang islam membeli makanan yg dijual oleh orang2 non islam yahudi nasrani toko2 cina dll yg non muslim?,sedangkn mereka menyembelihnya saja tdk mengcpkn basmallah tentulah kita takut iya kan klo kita makan bangkai sedangkan kita ini tau bgmn hukumnya makan bangkai ? jd ya klo kita merasakan takut jangan makan lah bgitu aja kok repot,kecuali kita dah terdesak/darurat ok keep smile wassalam

  • darmadi

    Tugas da'wah kita masih sangat banyak, jangan lagi kita dibebani hanya dengan mencari istri yang tidak seakidah

    yang akan menyita waktu kita untuk melakukan pembinaan kepadanya. So ikhwati fillah cari sajalah istri yang seakidah yang bisa membantu tugas da'wah kita.oke

  • enril

    Assalamu'alaikum wt.wb….Allah akbar smoga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orangyg menghalalkan pernikahan beda keimanan yg menghalal kan demi CINTA smata yg lgi ngetren saat ini ..MASYA ALLAH….Saran saya kepad para ulama,astad/jah harus berani mengatakan yg mana haram dan yg mana halal berdasar kan ALQURAN dan HADIS jg memberi penjelasan samar-samar sehingga membingukan umat islam karena islam pada dekade ini banyak di obok-obok oleh orang dari islam sendiri.waslam dari SAYA……….

  • ANIESSSSS

    Assalamualaikum, saya setuju dengan pendapat sahabat "enril" bahwa mohon bagi para ulama, ustadz/ah kalo memberikan keterangan tolong dasarkan pada Al-quran dan hadist yang benar-banar shoheh, coz kalo terlalu mengutamakan pendapat…bagi orang awam seperti saya hanya bikin bimbang……(afwan)mungkin kalo halal y halal klo haram y haram. syukran

  • assalamualaikum,saya cuma mau bilang semoga temen2 yg baca ini jadi terbuka hatinya agar tidak menikahi orang mushrik..supaya selamat dunia akhirat,,kecuali mereka beriman terlabih dahulu..aminnn..

  • Yanto

    Bagi seorang muslim laki-laki atau perempuan tidak perlu menikahi orang musrik karena tak akan ada manfaatnya.Madharatnya pasti-dunia akherat,Oke

  • ustadz, kalau sekarang orang non muslim di sekitar kita bisa di katakan ah lul kitab atau bukan, sebab kitab mereka yang ada sekarang bukanlah kitab injil yang asli, atau tidak ada yang menjamin keasliannya. syukron ya ustadz.

  • baim

    bagaimana hukum menikahi wanita yang sudah hamil karena zina??
    dan mohon jelaskan secara rinci!

  • cinta

    saya mau tanya,kalau dalam pernikahan suami sudah mengatakan talak 1 maksud nya apa?mohon penjelasan secara rinci karena saya kurang faham

  • pinco

    saya sangat berterima kasih, walo mungkin tanpa sengaja saya membaca ini, karena pernah ada keinginan untuk menikah dg orang di luar agama islam, tp dalam hati kecil ini ada niat lain (meng islam kan) walaupun niat itu tidak kesampaian, mungkin saya bukanlah orang yg mampu berjuang dalam islam dengan cara yg itu, padahal saya ingin (walaupun hanya sekali dalam hidup saya) berjuang untuk menyebarkan islam. saat ini saya berada di korea (sebagai TKI), yg saya tau agama tidak terlau mendapat perhatian disini, karena keterbatasan bahasa dan ilmu ke-ISLAMAN saya, saya hanya bisa menyebarkan dg batasan yg sangat tidak memuaskan bahkan untuk diri saya sendiri sekalipun. saya sangat kecewa dg keterbatasan bahasa yg saya miliki, dan saya berfikir, apakah memang saya tidak diijinkan berjuang dg jalan itu? wallohu a’lam bisawab… mungkinkah ada yg bs memberi solusi pd saya

  • oment sujarwo

    saya senang sekali ketika membaca tulisan ini yang jelas aku lebih mendapatkan informasi lebih jauh tentang pernikahan,,,doakan saja tahun ini saya bisa menikah …terima kasih

  • thahira

    Assalamu alaikum.
    Ust, di atas dikatakan “wanita-wanita yang menjaga kehormatan” apakah berarti yang tidak menjaga kehormatan tidak halal termasuk wanita mu’min ?
    jadi maksud menjaga kehormatan itu apa ust ..?
    mohon bisa dijelaskan lagi ust.
    Syukron

  • Haikal Aneuk Aceh

    setuju saya

Lihat Juga

Seminar sehari tentang Persiapan Pranikah di Dewan kuliah FOM Multimedia University Cyberjaya Malaysia, hari Ahad (27/3/2016), yang diselenggarakan oleh FOKMA Daerah Selangor Malaysia. (Wahyuni Suryaningrum)

(Foto) Seminar Pra Nikah FOKMA Selangor, Malaysia