Home / Dasar-Dasar Islam / Aqidah / Jangan Ada Dusta Mencintai Allah

Jangan Ada Dusta Mencintai Allah

Hubbud Dunia (Cinta Dunia). Itulah sebuah judul besar penyakit yang menghinggapi banyak umat hari ini. Eksistensi dunia melebihi eksistensi Allah. Celakanya lagi, bahkan banyak manusia yang sudah merusak fitrahnya sebagai makhluk. Dengan menuhankan dunia. Na’udzubillahi mindzaliq. Semoga hal yang demikian ini terhindar dari diri kaum muslimin dan orang-orang yang beriman. Orang-orang yang masih meninggikan asma-Nya, dan memuliakan kekasihnya, Muhammadur rasulullahu salallahu ’alaihi wasallam.

Penyakit cinta dunia dan takut mati memang bukan hari ini saja terjadi. Ini adalah kisah dan perilaku yang berulang-ulang. Tentu ingat bagaimana Fir’aun (Ramses II) yang menganggap dirinya Tuhan. Berkuasa penuh atas diri manusia. Tapi, ketika maut menjemputnya (tatkala ia digulung lautan saat mengejar nabi Musa as), barulah ia bermunajat pada Allah swt. Sayang, semuanya terlambat. Hanya saja, tubuhnya hingga kini tetap dijaga oleh Allah, sebagai pelajaran bagi umat di kemudian hari.

Dasar penyakit, cinta dunia hingga kini masih saja terus berulang. Wujud dan bentuknya beragam. Namun, pada prinsipnya, cinta dunia selalu dipicu oleh materi. Sehingga, banyak manusia hari ini berlomba-lomba mencari rezki tanpa mengenal siang dan malam. Kerja keras siang malam, pergi pagi pulang malam, peras keringat banting tulang demi dunia. Sayang, mereka lupa dengan Maha Pemilik Materi, Allah ’Azza wa Jalla. Tak takutkah mereka dengan azab Allah?

Obatnya segeralah bertobat. Kembalilah mencintai Allah dengan tidak menafikan dunia. Karena sungguh besar manfaatnya untuk jiwa dan raga. Syurga balasannya bagi orang yang mau mencintai Allah. Tapi tidak pula mencintai Allah dengan jalan riya’. Cintailah Allah dengan ikhlas. Zuhud-lah kepada Allah, seperti halnya Muhammad saw yang hingga akhir hayatnya memilih menjadi anak-anak langit, bukan anak-anak dunia.

Abu Bakr ash-Shiddiq ra, (rela) memberikan seluruh harta kekayaannya kepada Nabi Muhammad saw, demi berjuang di jalan Allah swt, demi Islam sebagai totalitas hidup. Seorang pecinta tidak akan menyembunyikan apa pun dari kekasihnya, bahkan ia akan memberikan segala sesuatu padanya. Begitulah pelajaran yang dapat dipetik dari Abu Bakar, orang terpandang di zamannya.

Syarat mencintai Allah memang dengan bala cobaan. Hal itu pulalah yang dilalui oleh nabi-nabi Allah terdahulu hingga Rasulullah saw. Maka, setiap bala cobaan disertai pula dengan kesetiaan. Agar tidak dicap hanya mengaku-ngaku cinta Allah dengan kebohongan, kemunafikan, dan riya’. Jalan (menuju) al-Haqq ’Azza wa Jalla membutuhkan kejujuran (kesungguhan-shidq) dan cahaya makrifat. Di akhir cinta itulah seorang muslim akan meraih kebahagiaan hidup yang diimpikannya. Seperti halnya Muhammad saw berhasil membuat Islam jaya berabad-abad lamanya.

Jikalau kedekatan dengan-Nya sudah benar-benar shahih, maka Dia akan mengucurkan anugerah kemurahan-Nya. Dia akan membuka pintu-pintu bagian-Nya (qadha dan qadar), pintu kelembutan, pintu rahmat, dan jendela anugerah-Nya. Dia genggam dunia untuk umat yang bersyukur, lalu membentangkannya seluas-luasnya. Tentunya semua anugerah ini hanya diberikan-Nya para manusia-manusia pilihan. Karena Dia Maha Mengetahui akan ketaqwaan mereka. Mereka tidak pernah menyibukkan diri dengan sesuatu sampai terlena melupakan-Nya.

Nabi saw termasuk orang yang ditawari dunia, namun tidak sibuk mengurusinya dan lupa melayani-Nya. Beliau tidak menoleh pada bagian-bagian (rezki) dengan segala kesempurnaan zuhud dan penentangan. Beliau pernah ditawari kunci-kunci kekayaan bui, namun justru beliau mengembalikannya sembari berkata, “Tuhan, hidupkanlah aku sebagai orang miskin dan matikan aku sebagai orang miskin, serta kumpulkan aku kelak bersama orang-orang miskin”. Bagi kita kaum muslimin, tentu perjuangan Rasulullah saw ini sangat mulia di sisi-Nya. Perjuangan yang diberikannya, adalah demi umat Islam, sebagai umat terbaik di atas bumi Allah swt.

Zuhud adalah anugerah kesalehan. Seorang Mukmin bebas lepas dari beban ambisi mengumpulkan duniawi, tidak pula rakus dan terburu-buru. Berzuhud atas segala sesuatu dengan segenap hati dan berpaling darinya dengan segenap nurani. Seorang muslim hanya sibuk dengan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia tahu pasti bagiannya tidak akan lepas darinya, hingga dia pun tidak perlu mencarinya. Dia biarkan bagian-bagian (duniawi) berlari mengejar di belakangnya, merendah dan memohon-mohon padanya untuk menerimanya.

Dikisahkan kembali oleh ’Abdul Kadir al Jilani tentang Sufyan ash-Shawri, pada awal menuntut ilmu, di perutnya terikat sabuki himyan berisi uang 500 dinar untuk keperluan hidup dan belajar. Dia ketuk-ketuk sabuk itu dengan tangannya seraya berkata, ”Jika tidak ada engkau, pastilah mereka sudah membuang kita”. Setelah diperolehnya ilmu dan makrifat pengetahuan al-Haqq Azza wa Jalla, maka dia sumbangkan sisa uang yang ada padanya untuk kaum fakir dalam waktu satu hari seraya berkata, ”Jikalau langit adalah besi yang tak mencurahkan hujan, bumi berupa batu cadas yang menumbuhkan (tanaman) dan aku pun (harus) berkonsentrasi mencari rezki, maka pastilah aku menjadi kafir”.

Maka setiap orang mukmin bekerja dan berinteraksi dengan sarana sampai iman benar-benar kuat, baru setelah itu berpindah dari sarana (sabab) pada Pemberi sarana (Musabib). Para nabi juga bekerja, bermodal, dan berhubungan dengan sarana duniawi pada awal keadaan mereka, baru pada akhirnya, mereka pasrah diri (tawakal). Mereka mensinergikan kerja dan tawakal sebagai awalan dan akhiran, syariat dan hakikat. Diriwayatkan dari Nabi saw, “Bahwasanya seorang laki-laki datang menghadapnya, lalu berkata, ‘Aku mencintaimu karena Allah ‘Azza wa Jalla’. Beliau pun bersabda padanya, ’Jadikan bala cobaan sebagai jubah, jadikan kefakiran sebagai jubah’”. Sebuah pepatah Arab juga mengatakan: Jangan dekati ular dan macan, sebab mereka bisa membinasakanmu. Jika engkau seorang pawang, bolehlah engkau dekati ular itu, dan jika engkau sudah memilih kekuatan, maka dekatilah macan itu.

Nabi Sulaiman as, misalnya. Setelah Allah melengserkan tahta kerajaannya, kemudian Dia menghukumnya dengan banyak hal, di antaranya mengemis dan meminta-minta. Dulu pada masa pemerintahannya, dia bekerja dan bisa makan dari hasil keringatnya sendiri, namun kemudian al-Haqq ’Azza wa Jalla menyempitkan ruang geraknya, mengusirnya dari kerajaannya dan menyempitkan jalan rezki baginya, hingga terpaksa dia harus meminta-minta. Semua itu dikarenakan istrinya menyembah patung di rumahnya (Sulaiman) selama 40 hari, maka selama 40 hari juga ia terus mendapat siksaan hari demi hari.

Seorang laki-laki pernah bertemu Abu Yazid al-Bisthami, kemudian lama menengok ke kanan dan ke kiri. Abu Yazid pun menegurnya “Ada apa gerangan?” Ia menjawab, ”Aku ingin (mencari) tempat bersih untuk melaksanakan shalat”. Abu Yazid langsung menukas, “Bersihkan hatimu dulu dan barulah shalat sebagaimana kehendakmu”. Memang, riya’ adalah rintangan di tengah jalan kaum (Sufi) yang tidak mau harus mereka seberangi. Riya’, ujub, dan kemunafikan, termasuk anak-anak panah Setan yang dileparkan ke dalam hati.

Jangan terlena dengan hembusan-hembusan (bujuk rayu) Setan, dan jangan kalah oleh panah-panah nafsu. Sebab ia (nafsu) melempari jiwa orang mukmin dengan panah Setan, dan memang Setan tidak dapat menguasai jiwa orang mukmin kecuali dengan sarana nafsu. Setan jin tidak dapat menguasai kecuali lewat media Setan manusia, yaitu nafsu kolega-kolega yang buruk. Memohonlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla’ dan mintalah tolong pada-Nya dalam menghadapi musuh-musuh ini, niscaya Dia akan memberi pertolongan.

Orang yang tertolak (al-mahrum) adalah orang yang menolak al-Haqq ‘Azza wa Jalla dan kehilangan kedekatan bersama-Nya di dunia dan akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam beberapa kitab-Nya, “Hai anak Adam! Jika Aku melewatkanmu, maka akan lepas (dari)mu segala sesuatu”. Bagaimana al-Haqq ‘Azza wa Jalla tidak melewatkan harapan orang mukmin jika mereka berpaling dari-Nya, dan dari kaum Mukmin serta hamba-hamba-Nya yang saleh, bahkan malah menyakiti mereka secara lahir dan batin. Nabi saw bersabda, “Menyakiti orang Mukmin lima belas kali lebih besar (dosanya) di sisi Allah daripada merobohkan Ka’bah dan a-Bait al-M’mur”.

Janganlah takut pada siapa pun, baik jin, manusia, maupun malaikat. Jangan takut pula pada apa pun, baik hewan yang berbicara maupun yang diam. Jangan takut dengan penderitaan dunia, dan jangan takut pula dengan siksa akhirat, akan tetapi takutlah pada Sang Pemberi azab siksaan. Yang menurunkan penyakit adalah juga yang menurunkan obat. Tentu saja, ia pula yang lebih mengerti tentang kemaslahatan daripada selainnya. Jangan kecam Allah ‘Azza wa Jalla’dalam segala tindakan-Nya (fi’l. Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia akan merampasnya (ikhtiar dan duniawinya), jika memang ia bersabar (menghadapinya), maka Dia akan mengangkat (derajat)nya, membaguskan (taraf kehidupannya), memberinya (anugerah), dan membuatnya kaya.

Hal itu pulalah yang terjadi pada diri nabi-nabi Allah. Mohonlah pertolongan kepada Allah dalam menghadapi musuh-musuh umat. Si pemenang adalah orang yang bersabar menghadapinya, dan si pecundang adalah orang yang menyerah pada mereka. Kaum (saleh) tidak memiliki obat keceriaan bagi mendung kesedihan mereka, juga tidak meletakkan beban mereka, dan tidak pula memiliki permata kasih di mata mereka serta hiburan bagi musibah mereka, hingga mereka bertemu Tuhan mereka. Pertemuan kaum saleh dengan Tuhannya meliputi dua jenis; pertama, pertemuan di dunia, yaitu melalui hati dan nurani kaum saleh, dan ini termasuk jarang terjadi. Kedua, pertemuan di Akhirat. Kaum saleh baru bisa merasakan kebahagiaan dan keceriaan setelah bertemu dengan Tuhan mereka, meskipun sebelumnya, musibah (kesedihan) terus menerus menimpanya.

Abdul Qadir al-Jailani pernah berkata, “Cegahlah nafsu dari syahwat kesenangan dan kelezatan. Berilah dia makanan yang suci tanpa najis. Makanan yang suci adalah makanan yang halal. Adapun makanan yang najis adalah haram. Berilah dia sarapan yang halal hingga dia tidak menjadi sombong, tinggi hati, dan kurang ajar. Ya Allah, kenalkanlah kami dengan-Mu, hingga kami mengenal-Mu”. Amin.

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (42 votes, average: 8,45 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • Ass.

    "Setiap kita yang mengaku putra-putri Islam, setiap kita yg berjanji dalam kafilah dakwah, setiap kita yang mengikrarkan Allahu Ghoyatuna, maka cinta dipandang sebagai jalan jihad yang menghantarkan diri kepada cita-cita tertinggi, syahid fi sabililah".

    "Jangan Ada Dusta Mencintai Allah…"

    Salam Ukhuwah ana buat ikhwahfillah di bumi Allah…

    I mis U All cos Allah…

    Was

  • Ass,syukron atas taujih yang diberikan smoga jangan ada dusta diantara kader dakwah dalam mencintai Allah.jaga niat dan keikhlasan Allohuakbar

  • ada dua obsesi manusia yang senantiasa berlawanan.obsesi dunia dan akhirat,jika manusia memperkuat tujuan pencarian dunia maka akan memperlemah tujuan akhirat,begitu juga dengan cinta.cinta Alloh dan Rosulnya tidak bisa beriringan dengan cinta harta dunia.tergantung cinta mana yg akan kita perkuat,

  • SAYA SNGAT BERSUKUR DENGAN ADANYA ARTIKEL INI SEGALA SESUATU YANG KITA TIDAK TAU SEDIKIT BANYAKNYA KITA TAU TRIMS WASSALLAM

  • Supriadi

    hanya ada kata yang bisa ana sampaikan " subhanallah " ketika membaca tulisan ini

  • arum

    Ya Allah, kami tahu bahwa mencintaiMu tidaklah mudah, bahwa mencintaiMu butuh pengorbanan yang besar baik harta dan jiwa kami, berikan kepada kami Ya Rabb kekuatan untuk selalu dapat mencintaiMu, karena tidaklah kami mampu untuk mencintaiMu jika bukan karena cintaMu pada kami

  • Indry,jadi inget ternyata kalo difikir-fikir ternyata aku tuh belum berkorban apa-apa yah untuk bisa dengan sepenuh hati mencintai allah swt

  • hamba yg terbuang

    YAALLAH……..
    BETapa masih jauhnya hati ini y Rabbb……..
    dekatkan hati ini bersama cahaya vinta Mu yang Agung Dan Suci…
    aminnn…….
    aku hamba yang terbuang

  • ayuni

    asalamualaikumm
    semoga allah selalu memelihara kita dalam cinta Nya
    ya Rabb
    jika masih ada rasa dihati ku
    ijinkanlah aku mencintaiMu
    dalam setiap desah nafasku
    Ya Rabb
    jika masih ada waktu untukku
    ijinkan lah esok aku tetap mencintaiMU

  • etak

    ass…

    saya gak bisa mulik2 just TQ atas artikel ini.

    wass

  • o gt

  • Askum. Orang yang tdk Love kpd Allah, krn dia tdk knal dg Allah, tapi org2 yg knal dg Allah pasti cinta kpd Allah, kcuali org2 syesyat yg lagaknya aja cinta kpd Allah, pd hal dia benci kpd Allah. Smoga kita bukan pendusta cinta. Wsslm Min Mas Gun.

  • apa yang harus kami sampaikan kepada allah bila cintaQ kpdmu telah terhalang oleh cintaQ terhadap dunia….???

  • asih

    subhanalloh. what an amazing it is!aku jadi semangat betul untuk ngejer surgaNya Alloh…semoga tetep ikhlas dalam beramal ya..jazakumulloh khoiron katsiron u artikel luar biasanya…mg Alloh makin mencintai kita..amiin

  • Assalamualaikum
    Saya minta ijin mengopi tulisan ini ke blog saya…untuk selalu mengingatkan diri saya..

  • gusnawansyah al fakiri

    SubhanAllah

  • mia

    sangat bagus bagi ilmu pengetahuan islami,dan seharusnya banyak lagi di beritahukan karna ini bisa sebagai ilmu pengetahuan utk remaja-remaja pada zaman sekarang,di karenakan banyaknya pengaruh globalisasi yang mengarahkan k barat-baratan,thanks.

  • e_nel

    assalammualakum warahmatullahi wabarakatuh…..

    dalam sejahtera untuk semua pembaca, ijinkan Q menuliskan sedikit aja…

    ya Allah, apakah cintaQ yang Qucapkan selama ini pada_Mu tidak berarti apa-apa jika Q masih melakukan kelalaian hidup di dunia fana ini….
    ya Allah tuntunlah hatiku untuk kembali menapaki hidup dijalanMu…
    amiiiiiiiiiinnnnnnnn………..

  • Saya juga ada caranya barang kali bisa bantu silakan kunjungi blog saya…

  • Assalamualaikum……………?

    Alhamdulillah………………Salam Ikhlas semuanya………………………………………

  • Alhamdulilah……….

  • agustin

    saya gadis yang baru berumur 21 th.saya mau bertanya temen-temen muslim,bagaimanakah caranya kita ikhlas n caranya mencintai Allah yang sesungguhnya.krn setiap saya mencoba semua itu seperti ada unsur keterpaksaan dalam diri saya.saya ingin mengenal islam lebih mendalam,krna saya merasa ilmu saya sangatlah kurang terutama dalam islam,
    terimakasih.

    • boy

      Ass. ada 2 jalan yg ditetapkan oleh Allah yaitu jalan fasik dan jalan taqwa, kita disuruh untuk memilih jln mana yg akan kita pilih, jika jaln yg kita pilih adalah jln taqwa tidak ada unsur dibalik semua itu Alah akan membimbing kita menuju jalan taqwa, tapi kl kita memilih jl fasik Allah juga akan membayar semua kebaikan yg telah kita lakukan tetapi setelah itu hatimu akan ditutup untuk memperoleh jln taqwa….. mudah2an Allah selalu merahmati dan memberkahi kita, membimbing kita ke jalan yg lurus dan mengampuni dosa2 kita. wss

    • Denicakra

      paksakan dirimu terus menerus akhirnya jg km pasti pasrah dg sendirinya, seperti ALLAH tak  henti2nya mencintai km walau km tidak sepenuhnya mencintai ALLAH, pada akhirnya km menjadi rela dan ridho karenanya. 

  • Inurzaidah

    aslm…
    maksh artikel……

  • tulisan yang menakjubkan subhanallah … ijin kopi ….

  • saya takjub dengan tulisan ini, subhanallah… ijin kopi.

  • mencintai Allah itu bukannya dg kata2 indah atau kata2 mutiara atau pujian2 seperti yg sering diucapkan oleh kedua pasangan manusia akan tetapi mencintai Allah itu adl dg berkeprimanusiaan, adil, jujur dan berbudi pekerti yg luhur atau berakhlakul karimah didlm kehidupan kita sehari2

Lihat Juga

Ilustrasi - Peta Turki. (Foto: Google)

Sikap Dunia Internasional Terhadap Upaya Kudeta di Turki