09:57 - Selasa, 21 April 2015
DR. Amir Faishol Fath

Mengapa Kita Harus Bersatu

Rubrik: Tafsir Ayat | Oleh: DR. Amir Faishol Fath - 24/01/07 | 18:35 | 05 Muharram 1428 H

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (Ali Imran: 103)

Bersatu Mentaati Allah dan Rasul-Nya

Setelah memerintahkan untuk bertaqwa pada ayat sebelumnya Allah memerintahkan umat Islam untuk bersatu dalam mentaati ajaran-Nya. Allah berfirman wa’tashimuu bihablillahi jamii’an artinya berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah. Maksud tali Allah di sini adalah ajaran-Nya berupa Al-Qur’an dan Sunnah (baca: Islam). Di sini nampak bahwa bersatu mentaati ajaran Allah adalah refleksi ketakwaan, dengan kata lain takwa tidak akan tercapai bila seseorang tidak bersungguh-sungguh bersatu seirama menjalankan kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Perhatikan redaksi perintah pada kata wa’tashimuu, (bukan redaksi berita) mengapa? Ini menunjukkan pentingnya ajaran tersebut, bahwa umat Islam tidak akan pernah mencapai kejayaannya jika tidak satu barisan menegakkan ajaran Allah.

Kata hablullah artinya ajaran Allah dan Rasul-Nya. Maka hanya dengan mengikuti Allah dan Rasul-Nya persatuan umat Islam akan tercapai. Apapun organisasinya, jika seseorang benar-benar memahami maksud risalah dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah ia tidak akan membangun permusuhan, apalagi antar sesama umat Islam. Sebab persatuan adalah unsur utama bagi tegaknya alam semesta dan kehidupan di muka bumi. Perhatikan Allah menggambarkan kerapian ciptaannya di langit dan di bumi, “(Dialah Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah” (Al-Mulk: 3-4). Ini menunjukkan bahwa tidak ada sedikit pun dari ciptaan Allah yang tidak bersinergi. Semuanya bersatu dalam satu sistem dan bergerak secara kompak sehingga darinya berlangsung kehidupan di muka bumi. Sungguh seandainya masing-masing wujud di alam ini tidak bersinergi, bisa dipastikan bahwa ia sudah musnah sejak ratusan yang silam.

Benar, persatuan adalah inti keberlangsungan hidup di muka bumi. Karenanya Allah memerintahkan agar manusia bersatu. Tetapi tidak ada persatuan yang kokoh kecuali dengan berpegang teguh kepada tali ajaran-Nya. Selain tali Allah pasti tali setan dan hawa nafsu. Maka segala bentuk perkumpulan yang tidak berpegang pada tali Allah adalah perkumpulan jahiliyah yang penuh permusuhan. Dari saking pentingnya hakikat persatuan di atas tali Allah, Allah swt. pada ayat berikutnya mempertegas kembali dengan berfirman, “Walaa tafarraquu” (dan jangan kau berpecah belah). Sebab hancurnya sebuah persatuan yang pernah ditegakkan, adalah karena perpecahan. Di sini Allah mengingatkan, agar umat Islam jangan hanya sibuk menggalang persatuan, tetapi di saat yang sama juga berusaha menjauhi perpecahan. Mengapa? Sebab ternyata dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak organisasi-organisasi umat Islam yang hanya sibuk mengajak persatuan dalam organisasinya sendiri, tetapi di saat yang sama menggalang perpecahan dengan organisasi yang lain. Ini suatu kenyataan yang naif. Sampai kapan kita akan terus sibuk berperang antar kita sendiri? Sementara orang-orang yang memusuhi Islam bersatu untuk menghancurkan umat Islam. Sebuah fakta membuktikan bahwa orang-orang Yahudi yang di luar Israel semuanya bekerja sama untuk membantu saudara-saudara mereka di Israel. Allah berfirman: “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar” (Al-Anfal: 73)

Bersatu Dalam Ikatan Ukhuwah

Lalu Allah berfirman, “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara”. Ini menunjukkan bahwa semangat bersatu mentaati Allah harus tercermin dalam ikatan ukhuwah yang indah. Sebab persatuan tanpa ukhuwah pasti akan terus digerogoti permusuhan-permusuhan internal yang tidak pernah selesai. Perhatikan dalam ayat ini Allah mengingatkan akan nikmat yang mereka rasakan setelah bersatu dalam ketaatan kepada-Nya, di mana mereka dulu saling membunuh dan bermusuhan hanya karena membela kelompoknya masing-masing. Sejarah merekam bahwa antara suku Aus dan Khazraj –sebelum datangnya Islam- terjadi peperangan berkepanjangan. Dalam diri mereka menyala kebencian. Orang-orang Yahudi yang ada di sana memanfaatkan ruh permusuhan ini untuk kepentingan yang mereka inginkan. Tetapi setelah mereka bersatu dalam ikatan iman dan Islam yang kokoh, mereka benar-benar bersaudara, bahkan persaudaraan itu lebih indah dari persaudaraan dalam ikatan darah. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. setelah mempersaudarakan antara Abdur Rahman (dari kalangan Muhajirin) dan Saad bin Rabi’ (dari kalangan Anshar), Saad serta merta menawarkan kepada Abdur Rahman agar mengambil separuh dari kekayaannya, bahkan lebih dari itu, Saad menawarkan agar menikahi salah seorang dari kedua istrinya dan ia siap menceraikannya (lihat Shahih Bukhari Bab ikhaa’ Nabi 1/553).

Dari sini nampak bahwa ciri utama seseorang setelah beriman dan ber-Islam adalah bersaudara (baca: ukhuwah). Dalam surat Al-Hujurat ayat 10 Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. Perhatikan kalimat “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” (innamal mu’minuuna ikhwatun), kata innamaa menunjukkan makna definitif, artinya setiap orang yang beriman pasti bersaudara, jika tidak maka imannya dipertanyakan. Dengan demikian iman berdasarkan ayat tersebut identik dengan persaudaraan. Karenanya dalam ayat di atas Allah berfirman, “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan”. Di sini jelas bahwa pada saat mereka tidak punya iman, permusuhan adalah ciri utama kehidupan mereka. Sebaliknya setelah iman masuk ke dalam diri mereka, mereka bersatu dalam persaudaraan.

Lalu Allah berfirman, “Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya”. Ini menunjukkan bahwa ketika mereka saling bermusuhan, mereka sebenarnya sedang berjalan menuju neraka. Mengapa, sebab ketika seorang mukmin memusuhi orang mukmin yang lain, berarti ia telah menghancurkan nilai persaudaraan yang sebenarnya harus ia capai dengan kualitas keimanannya. Setelah persaudaraannya hancur otomatis keimanannya pun hancur. Dan ketika imannya hancur berarti ia telah menyiapkan dirinya jadi bahan bakar neraka. Di sinilah logika ayat mengapa Allah setelah menggambarkan kondisi mereka dulu di zaman jahiliah di mana mereka dalam permusuhan, mereka sebenarnya sedang berada di tepi jurang neraka dan hampir jatuh ke dalamnya. Untungnya setelah itu mereka beriman, maka dengan iman tersebut mereka lalu bersatu. Dan karenanya mereka selamat, tidak terjatuh ke dalam neraka.

Perhatikan betapa yang harus kita capai setelah beriman adalah bagaimana kita harus bersatu dan bersinergi. Apapun bendera organisasi kita, sepanjang perbedaan yang ada masih di wilayah fiqih, atau mutaghayyiraat, itu adalah perbedaan yang tidak akan pernah bisa dihindari. Sebab para sahabat pun berbeda pendapat dalam hal-hal tertentu yang berkenaan dengan masalah fiqh dan ijtihad, tetapi mereka tetap bersatu. Jadi ayat di atas bukan dalil atas haramnya perbedaan pendapat dalam wilayah fiqih, melainkan ia merupakan dalil atas haramnya perpecahan dan permusuhan antar umat Islam hanya karena dorongan hawa nafsu dan fanatisme golongan semata. Dengan kata lain ketika sekelompok umat Islam memusuhi sekelompok yang lain hanya karena fanatisme golongan, dan perbedaan fiqih, tidak mustahil dari permusuhan ini akan menghantarkan pelakunya kepada jurang neraka, seperti yang Allah gambarkan dalam ayat di atas.

Bersatu Di bawah Naungan Hidayah

Lalu Allah berfirman, “Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. Artinya bahwa ketika suatu kaum benar-benar bersatu menegakkan ajaran Allah, dan mereka benar-benar bersaudara di antara mereka, maka mereka telah berada dalam petunjuk Allah (la’allakum tahtaduun). Jika tidak berarti mereka kembali ke masa jahiliyah yang penuh permusuhan dan perpecahan. Karenanya maksud mengikuti hidayah (petunjuk) dalam Islam, itu bukan hanya semata seseorang menjalani ibadah ritual secara harfiyah, melainkan lebih dari itu ia harus bersaudara dan membangun persatuan.

Sayangnya, yang sering kali terjadi di kalangan umat Islam, persatuan selalu dikorbankan hanya demi perbedaan fiqih dalam ibadah ritual. Ada sekelompok umat Islam memusuhi sekelompok umat Islam yang lain hanya karena satunya shalat tarawih sebelas rakaat dan satunya lagi dua puluh tiga rakaat. Sebagian lagi memusuhi saudaranya hanya karena satunya berhari raya berdasarkan hisab, dan satunya berhari raya berdasarkan ru’yah. Padahal masing-masing sama-sama mempunyai dalil yang kuat. Artinya seandainya masing-masing segera menyadari bahwa itu adalah wilayah fiqih, lalu mereka bersepakat untuk menentukan sikap yang membangun persatuan, itu sungguh lebih baik dan lebih tepat secara syariah. Sebab mempertahankan persatuan adalah wajib, sementara shalat tarawih atau pun shalat hari raya hanyalah sunnah. Artinya seandainya mereka tidak shalat tarawih atau tidak shalat hari raya pun tidak apa-apa, ketimbang mereka malah saling bermusuhan hanya karena masalah yang sunnah tersebut. Inilah rahasia mengapa Allah menutup ayatnya dengan kalimat “la’allakum tahtaduun”, sebab hanya dengan mempertahankan persatuan di atas ajaran Allah, dan menegakkan persaudaraan sesama iman, seseorang akan merasakan lezatnya hidayah Allah. Wallahu a’lam

Tentang DR. Amir Faishol Fath

Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Qur’an. Pernah beberapa tahun menjadi… [Profil Selengkapnya]

Redaktur:

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (9 orang menilai, rata-rata: 8,56 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • didit

    Buat saya pertanyaannya tinggal satu: Kapan?

  • http://ramdhanzone.multiply.com Ramdhan

    Tul betul kita musti bersatu, betul sekali. 100% setuju ^_^

  • andi

    memang konsep seperti inilah yg kita harap menjadi pedoman untuk umat bukan terpecah karena fanatisme golongan, mazhab, suku dan yg lain2 yg pada akhirnya mengembalikan kita pada masa dan sifat jahiliyah… tapi bagaimana ini semua bisa dipahami oleh org islam di dunia khususnya di indonesia. saya harap ada sistem yg bisa mewujudkan ini semua, amien….

  • Sigit Parluk

    Banyak dari orang Islam sendiri dalam berdakwah terkesan exclusive, memaksakan pendapat/mazhab yg dianutnya benar dg melupakan persatuan & kesatuan, sungguh memprihatinkan. Dalam bermasyarakatpun sering kita jumpai orang yg individualis, tidak mau bermasyarakat, tidak peduli dg lingkungan, tdk mau kerjabakti, dll. Hal ini menujukan bahwa dia tdk mau bersatu membangun wilayah/negaranya.

  • http://yadisyahid.web.id yadisyahid

    ane rasa, semua ummat islam itu ingin bersatu, tapi kenapa susah dalam implementasinya? Ketika ada musuh bersama semuanya bisa bersatu, tapi setelah rebutan kekuasaan akhirnya persatuan itu hancur kembali.

    sudah banyak contoh tentang persatuan ummat islam yang luntur hanya gara2 kekuasaan, dimulai sejak zaman kekhalifahan usman sampai ali, persatuan yang diharapkan malah menjadi sengketa kekuasaan.

    ada khalifah aja masih bisa berpecah apalagi yang tidak ada kekhalifahan zaman sekarang ini?

    tapi kita harus tetap optimis bahwa ummat islam suatu saat akan bersatu dalam menghancurkan musuh bersamanya.

  • http://deleted Abdullah Hadits Born

    Untuk bersatu memang sulit, akan tetapi hal ini bisa diusahakan keterwujudannya dengan berbagai upaya:

    1.Menanamkan aqidah yang benar sejak dini, dalam waktu yang lama dan terus-menerus

    2.Menyamakan persepsi berislam.Artinya Islam difahami dari segala lini, bukan secuil-secuil, sepotong-sepotong, sebongkah-sebongkah, yang menyebabkan setiap orang merasa bahwa Islam yang benar adalah seperti bongkahan yang ia bawa. Padahal bongkahan tersebut bisa jadi hanya potongan dari pojoknya Islam yang tengah retak saja.

    3. Menanamkan fikrah kepada umat Islam, bahwa agama kita adalah agama tauhid, agama penerang dari segala kegelapan, penenang dari segala kegundahan dan pemenang dari segala peperangan. Agama yang dapat menyatukan hati kaum muslimin seluruh dunia sekalipun.

    Permasalahannya sekarang adalah "karena orang Islam sendiri belum siap menang" dan "puas dengan kekalahan".

  • DJoko Yuniarto

    Ketika semua muslim kita anggap saudara, insyaallah bersatu. cuma banyak kaum muslim yang lalai dan tidak merasa bersaudara

  • ade orie

    Bersatu adalah sebuah keniscayaan.ketika saudara2 kita d bantai d timur tengah tanpa ada persatuan yang real,kita hanya bisa mengutuk kepada zionis israel n antek2nya.
    pertanyaan besar bagi kita semua: adakah persatuan yang real utk menghancurkan zionis israel n antek2nya?
    tiada kata selain berjuang semaksimal mungkin dengan segenap kekuatan.

  • http://dakwatuna.com Sudaroji

    Bagaimana ya caranya kita bersatu, kita kan ga kenal. (Sebuah intropeksi)

  • Puting Marga

    Assalamu'alaikumwarahmatullahi wabarakatuh, Hendaknya persatuan tidak dimaknai dengan sempit, bahwa semuanya harus sama. Karena itu bertentangan dengan sunnatullah yang memang mengakui ada perbedaan. Mengapa ibadah di luar puasa Ramadhan dan shalat 'Id tidak begitu kita masalahkan, sementara kita membesar-besarkan perbedaan metode penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal? Keberterimaan hisab itu bukan hanya sekarang saja, tetapi sudah dimulai di masa tabi'in, dan validitas hisab itu dapat diuji, bahkan eksakli. Justru sekarang cara ru'yah itu yang pada masa sekarang ini sudah banyak kita tinggalkan. Jadi, yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah para penulis, pembicara atau lembaga apa saja yang membesar-besarkan perbedaan ini dengan menunjukkan implikasi perpecahan (tidak bersatu)nya ummat, sebenarnya memiliki maksud yang tidak baik, karena di balik pernyataan itu memaksakan satu metode. Inilah menurut saya sebab munculnya perpecahan ummat. Mudahkan dan dipersulit, lapangkan jangan dipersempit. Allah lebih tahu dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Wassalamu'alikumwarahmatullahi wabarakatuh.

  • http://matiinulkhuluq.blogspot.com/ Noorahmat

    Selama masing-masing merasa paling benar sendiri dan menutup pintu taushiyah, mka persatuan akan sulit direalisir.

    Semoga kita semua merupakan bagian dari komponen yang mempercepat proses terjadinya persatuan ummat tersebut.

  • Teuku Zulkhairi

    BUAT AKH DIDIT, SEKARANG AJA YUK!!!!!!!????

  • Bondan

    walaupun kita beda bangsa namun ISLAM memang harus nyatu. Semangatlah wahai mujahid muda, kalian adalah penerus DAKWAH

  • http://www.sururudin.wordpress.com sururudin

    kapan ya umat islam ini mau bersatu seperti zaman Rosul

  • ummi faiz

    Assalamualaikum..umat sekarang sudah cukup cerdas.Perbedaan fiqh sudah langka kita dengar.Yg menjadi permasalahan utama adalah perbedaan masalah aqidah dan manhaj sbgmana yg telah disampaikan para ulama.Umat terbiasa untuk memandang suatu kesyirikan yg dipoles dgn tampilan islami.Dukun yg bergelar ustadz dgn bacaan2 yg tidak disyariatkan Islam.Umat bermudah mudah2 dlm mengambil pendapat dari kufar dgn dan beranggapan hadist2 dan riwayat shahih tidak mampu mengakomodir kemajuan jaman.

Iklan negatif? Laporkan!
82 queries in 1,373 seconds.