Home / Narasi Islam / Wanita / Tabarruj Dan Ikhtilath

Tabarruj Dan Ikhtilath

dakwatuna.com – Islam adalah agama yang mengatur hidup dan kehidupan manusia. Ajaran-ajarannya menjadi acuan bagi siapa saja, pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa untuk meniti kehidupan yang lebih baik dan harmonis dalam ridha sang pencipta. Rambu-rambunya diletakkan untuk dijadikan pedoman perjalanan hidup untuk selamat sampai tujuan. Jika ada rambu yang dilanggar, maka akibat buruk akan menimpa pelanggar itu dan bahkan sering menimpa orang lain juga. Lihatlah, sebuah kecelakaan di jalan raya, korbannya tidak hanya pelaku pelanggaran, namun menimpa pengguna jalan yang lain.

Di antara persoalan besar yang dihadapi oleh manusia adalah yang berkaitan dengan wanita. Persoalan ini adalah persoalan Bani Israel dan persoalan umat ini. Rasulullah telah mengisyaratkan masalah ini,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki selain (fitnah) wanita.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Harta paling berharga yang dimiliki wanita adalah rasa malu dan harga diri. Jika wanita melepaskan pakaian malunya dan tidak lagi menjaga harga diri serta kewanitaannya, dampaknya akan menimpa keluarga dan masyarakat. Maka selayaknya keluarga dan masyarakat juga turut dalam menjaga nilai-nilai ini pada diri wanita-wanitanya. Jika wanita tidak lagi mengenakan hijab sebagaimana yang telah ditentukan Islam, ditambah dengan pelanggaran batas hubungan antar laki-laki dan wanita, maka kerusakan akan terjadi. Hal ini karena syahwat manusia adalah sesuatu yang berbahaya jika tidak dikendalikan.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

“Wanita itu dari depan nampak seperti bentuk setan dan dari belakang nampak seperti bentuk setan. Kalau salah seorang di antara kalian melihat wanita hendaklah mendatangi istrinya. Karena hal itu akan meredakan apa yang di dalam dirinya.”

Pengertian Tabarruj dan Ikhtilath

Menurut bahasa, tabarruj adalah wanita yang memamerkan keindahan dan perhiasannya kepada laki-laki (Ibnu Manzhur di Lisanul Arab). Tabarrajatil mar’ah artinya wanita yang menampakkan kecantikannya, lehernya, dan wajahnya. Ada yang mengatakan, maksudnya adalah wanita yang menampakkan perhiasannya, wajahnya, kecantikannya kepada laki-laki dengan maksud untuk membangkitkan nafsu syahwatnya.

Menurut syariah, tabarruj adalah setiap perhiasan atau kecantikan yang ditujukan wanita kepada mata-mata orang yang bukan muhrim. Termasuk orang yang mengenakan cadar, di mana seorang wanita membungkus wajahnya, apabila warna-warnanya mencolok dan ditujukan agar dinikmati orang lain, ini termasuk tabarruj jahiliyah terdahulu. Seperti yang disinyalir ayat,

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab: 33)

Allah melarang para wanita untuk tabarruj setelah memerintahkan mereka menetap di rumah. Tetapi apabila ada keperluan yang mengharuskan mereka keluar rumah, hendaknya tidak keluar sembari mempertontonkan keindahan dan kecantikannya kepada laki-laki asing yang bukan muhrimnya. Allah juga melarang mereka melakukan tabrruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyah terdahulu. Apa maksud tabarruj jahiliyah terdahulu itu?

Mujahid berkata, “Wanita dahulu keluar dan berada di antara para laki-laki. Inilah maksud dari tabarruj jahiliyah terdahulu.”

Qatadah berkata, “Wanita dahulu kalau berjalan berlenggak-lenggok genit. Allah melarang hal ini.”

Muqatil bin Hayyan berkata, “Maksud tabarruj adalah wanita yang menanggalkan kerudungnya lalu nampaklah kalung dan lehernya. Inilah tabarruj terdahulu di mana Allah melarang wanita-wanita beriman untuk melakukannya.”

رَوَى اِبْنُ أَبِي نَجِيْحٍ عَن مُجَاهِد وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُوْلَى قَالَ كَانَتِ الْمَرْأَةُ تَتَمَشَّى بَيْنَ أَيْدِي الْقَوْمِ فَذَلِكَ تَبَرُّجُ الْجَاهِلِيَّةِ

Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid, “Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” Dia (Mujahid) berkata, “Wanita dahulu berjalan-jalan di hadapan kaum (laki-laki). Itulah tabarruj Jahiliyah.”

Ada yang mengatakan, yang dimaksud jahiliyah pertama adalah jahiliyah sebelum Islam, sedangkan jahiliyah kedua adalah umat Islam yang melakukan perbuatan jahiliyah pertama.

Sedangkan pengertian ikhtilath secara bahasa adalah bercampurnya dua hal atau lebih. Ikhtilath dalam pengertian syar’i maksudnya bercampur-baurnya perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim di sebuah momen dan forum yang tidak dibenarkan oleh Islam.

Imam Abu Daud meriwayatkan,

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ أَبِي أُسَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ فَكَانَتْ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ

Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari bahwa ia mendengar Rasulullah saw keluar rumah dari masjid. Tiba-tiba orang laki-laki dan wanita berkumpul di jalanan. Rasulullah saw berkata kepada para wanita itu, “Agar wanita di belakang saja, kalian tidak boleh berada di tengah-tengah jalan (ketika ada laki-laki) dan hendaknya kalian di pinggiran jalan.” Serta merta ada wanita yang merapat ke dinding (rumah) sampai-sampai pakaiannya tersangkut ke dinding itu karena terlalu nempel.” (Abu Daud).

Al-Qur’an memberikan arahan kepada wanita bagaimana seharusnya mereka bersikap, bersuara dan bergaul dengan lawan jenisnya. Allah berfirman,

“Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

Sekarang ini pemandangan wanita tabarruj menjadi biasa, termasuk di negeri-negeri muslim. Dunia entertainmen memiliki peran besar dalam mensosialisasikan budaya tabarruj. Ikhtilath juga tidak bisa dipisahkan dari budaya mereka. Seorang pemuda akan dipandang aneh jika tidak memiliki teman-teman wanita. Lebih jauh, pergaulan bebas semakin membudaya.

Tabarruj dan Ikhtilah adalah konspirasi musuh-musuh Islam

Tabarruj dan ikhtilath merupakan tradisi Yahudi, ini nampak dalam Protokoler mereka, wajib bagi mereka untuk menundukkan semua bangsa dengan cara memerangi akhlak dan memporak-porandakan nilai-nilai keluarga dengan berbagai sarana yang ada. Lalu mereka menemukan bahwa sarana yang paling efektif untuk menyerang basis keluarga adalah dengan cara merangsang mereka melakukan kejahatan dan merangsang nafsu syahwat. Racun ini lalu mereka sebarkan melalui berbagai media, film, koran, majalah, cerita, dan lain-lain.

Kita sekarang hidup di zaman banyak dan beragam fitnah dan godaan, karena interaksi kita dengan dunia luar, misal melalui media masa audio maupun visual. Wanita dibiarkan berkeliaran ke mana saja tanpa batas dan bergaul dengan siapa saja serta dengan dandanan model zamannya, membuka aurat, dengan kosmetik dan parfum yang menarik perhatian. Acap kali kita menyaksikan, bahkan seorang gadis belia keluar dari rumahnya tanpa didampingi oleh muhrimnya, bertemu dengan siapa saja tanpa pantauan kedua orang tuanya. Wanita berbicara melalui telepon hingga berjam-jam tanpa diketahui oleh walinya. Di waktu siang maupun malam tidak jarang dijumpai wanita berada di luar rumah, bukan untuk suatu kepentingan belanja atau urusan keluarganya, semata-mata untuk mencari sensasi. Kemudian ia bergabung dalam kerumunan laki-laki dan perempuan. Hampir bisa dipastikan bahwa tujuan keluar rumah adalah sengaja menyebarkan fitnah dan menggoda mata laki-laki. Sementara orang tuanya, kakak dan adiknya tenang berada di rumah.

Bahaya Tabarruj dan Ikhtilath

Berikut ini beberapa hal yang berkaitan dengan bahaya tabarruj dan ikhtilah bagi, diri, keluarga, dan masyarakat.

1. Tabarruj dan ikhtilath adalah maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya

Dan barangsiapa bermaksiat kepada Allah akan merasakan akibatnya. Sama sekali tidak akan membahayakan Allah. Rasulullah saw. bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى، فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau.” Mereka (sahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang tidak mau?” Beliau bersabda, “Barangsiapa taat kepadaku akan masuk surga dan barangsiapa bermaksiat kepadaku ia orang yang tidak mau.” (H.R. Bukhari)

2. Tabarruj dan ikhtilath termasuk dosa besar

Karena kedua hal ini merupakan sarana paling kuat terhadap perbuatan zina. Di riwayat yang shahih dari Ahmad diceritakan bahwa Umaimah binti Raqiqah datang kepada Rasulullah saw. Untuk berbaiat kepada beliau dalam membela Islam. Beliau bersabda,

أُبَايِعُكَ عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكِي بِاللهِ شَيْئًا، وَلاَ تُسْرِقِي، وَلاَ تَزْنِي، وَلاَ تَقْتُلِي وَلَدَكِ وَلاَ تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِيْنَهُ بَيْنَ يَدَيْكَ وَرِجْلَيْكِ وَلاَ تَنُوْحِي وَلاَ تَتَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُوْلَى

“Aku membaiatmu agar kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak melakukan kebohongan dari hadapanmu (karena perbuatan lisan dan kemaluan), tidak meratapi (orang mati), dan tidak tabarruj dengan tabarruj jahiliyah pertama.” (H.R. Bukhari)

Lihatlah bagaimana Rasulullah saw. mengaitkan antara tabarruj dan dosa-dosa besar seperti syirik, mencuri, dan berzina.

3. Tabarruj dan Ikhtilath mendatangkan laknat

Di Mustadrak Al-Hakim dan di Musnad Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar Rasulullah saw bersabda,

يَقُولُ سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي رِجَالٌ يَرْكَبُونَ عَلَى السُّرُوجِ كَأَشْبَاهِ الرِّجَالِ يَنْزِلُونَ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ نِسَاؤُهُمْ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ عَلَى رُءُوسِهِمْ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْعِجَافِ الْعَنُوهُنَّ فَإِنَّهُنَّ مَلْعُونَاتٌ لَوْ كَانَتْ وَرَاءَكُمْ أُمَّةٌ مِنْ الْأُمَمِ لَخَدَمْنَ نِسَاؤُكُمْ نِسَاءَهُمْ كَمَا يَخْدِمْنَكُمْ نِسَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ

“Akan datang di akhir umatku nanti laki-laki yang naik pelana (mewah) layaknya laki-laki yang turun ke pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka mengenakan pakaian namun telanjang, di kepala mereka seperti punuk unta kurus. Kutuklah wanita-wanita itu karena sesungguhnya mereka itu terkutuk. Jika setelah kalian ada kaum, tentu wanita-wanita kalian akan melayani wanita-wanita mereka sebagaimana wanita-wanita kaum terdahulu melayani kalian.”

4. Tabarruj temasuk sifat penghuni neraka

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat sekarang ini. Satu kaum yang bersama mereka cambuk-cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk memukul orang. Wanita-wanita mereka berpakaian namun telanjang, bergaya pundak mereka dan berpaling dari kebenaran. Kepala mereka seperti punuk unta kurus, mereka tidak masuk surga dan tidak mencium baunya. Padahal baunya tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (H.R. Muslim)

5. Tabarruj adalah Kemunafikan yang akan Mendatangkan Kegelapan di hari Kiamat

Al-Baihaqi meriwayatkan sabda Rasulullah saw. dengan sanad shahih,

خَيْرُ نِسَائِكُمْ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْمُوَاتِيَةُ الْمُوَاسِيَةُ إِذَا اتَّقَيْنَ اللهَ وَشَرُّ نِسَائِكُمْ اَلْمُتَبَرِّجَاتُ الْمُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ الْمُنَافِقَاتُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّة َمِنْهُنَّ إِلاَّ مِثْلَ الْغُرَابِ الأَعْصَمِ

“Sebaik-baik wanita kalian adalah yang penyayang, yang banyak melahirkan, yang cocok (dengan suaminya) jika mereka bertakwa kepada Allah. Dan seburuk-buruk wanita adalah yang tabarruj dan sombong. Mereka itulah orang-orang munafik. Tidak akan masuk surga salah seorang di antara mereka kecuali seperti gagak putih.” (Baihaqi).

6. Tabarruj dan ikhtilath menodai kehormatan keluarga dan masyarakat

Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تَسْأَلْ عَنْهُمْ رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَى إِمَامَهُ وَمَاتَ عَاصِيًا وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ أَبَقَ فَمَاتَ وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا قَدْ كَفَاهَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْهُمْ

“Ada tiga orang yang, kamu jangan bertanya kepada mereka: seseorang yang keluar dari jamaah dan durhaka kepada imamnya lalu mati dalam keadaan bermaksiat, seorang budak perempuan dan laki-laki yang berlari (dari tuannya) kemudian ia mati, dan seorang wanita ditinggal keluar oleh suaminya dan telah dicukupi kebutuhan dunianya lalu ia bertabarruj setelah itu. Maka jangan bertanya kepada mereka.” (H.R. Ahmad)

7. Tabarruj adalah sunnah Iblis

Jika menutup aurat dan berhijab serta menjaga diri dan kehormatan adalah sunnah Nabi saw. Maka tabarruj dan ikhtilath adalah sunnah Iblis, di mana sasaran godaan pertama terhadap manusia adalah agar auratnya terbuka. Allah mewanti-wanti hal ini kepada kita agar kita tidak terfitnah oleh tipu daya Iblis. Allah berfirman,

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan syetan-syetan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’raf: 27).

8. Tabarruj dan Ikhtilath adalah Permulaan Zina

Setiap kali penyimpangan terjadi akan melahirkan penyimpangan lain yang lebih besar. Ketika wanita tidak menutup auratnya dan tidak menjaga kehormatannya dengan bercampur bersama laki-laki yang bukan muhrimnya, terlebih dengan dandanan yang menyebar fitnah, rasa malu sudah sirna dan ghirah laki-laki mulai tiada, maka hal-hal haram menjadi mudah dilakukan bahkan dosa-dosa besar menjadi hal yang biasa dan wajar. Termasuk di antaranya zina. Di tengah masyarakat kita sekarang terjadi perbedaan persepsi tentang zina. Bahkan tidak ada undang-undang yang menjadikan zina sebagai kejahatan kecuali ia terkait dengan hak-hak asasi manusia.

9. Tabarruj dan Ikhtilath mengundang Siksaan Allah

Di hadits riwayat Ibnu Majah Rasulullah saw bersabda,

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah nampak kebejatan di antara kaum Luth sampai mereka terang-terangan (melakukannya) kecuali setelah itu tersebarlah penyakit kolera dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada pendahulu mereka.” (Ibnu Majah).

Secara umum, kemaksiatan kerap kali menjadi penyebab terjadinya berbagai musibah. Seperti yang Allah sinyalir dalam Al-Qur’an,

“Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16)

Tentu saja yang akan terkena dampaknya tidak hanya pelaku kemaksiatan, kaum mutabarrijat dan mereka tidak ada hijab dalam hubungan antar lawan jenis. Semua orang yang ada di sebuah komunitas akan terkena dampaknya. Maka kewajiban bagi semuanya adalah mencegah terjadinya berbagai kemaksiatan dan kemungkaran sebisa mungkin. Para ulama dan pemimpin menjadi penanggung jawab utama sebelum yang lain dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Abu Bakar As-Shidiq meriwayatkan bahwa ia mendengar sabda Rasulullah saw,

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوْهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ

“Jika manusia melihat kemungkaran lalu tidak merubahnya, hampir Allah meratakan siksanya kepada mereka semua.” (Diriwayatkan Empat Imam dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (68 votes, average: 9,01 out of 10)
Loading...Loading...
Asfuri Bahri, Lc
Lahir di Lamongan dan telah dikaruniai Allah 6 orang anak. Lulusan MTS di Gresik, MA di Gresik, dan LIPIA Jakarta. Sehari-hari sebagai Pengajar. Aktif di beberapa organisasi, antara lain LSM FOCUS, dan IKADI DKI Jakarta. Beberapa karya ilmiah telah dihasilkannya, antara lain "Rambu-Rambu Tarbiyah" (terjemahan, CIP Solo), "Anekdot Orang-Orang Tobat" (Darul Falah), "Galaksi Dosa" (Darul Falah), dan "Kereta Dakwah" (terjemahan, Robbani Press). Moto hidupnya adalah "Pada debur ombak, daun jatuh, hembus angin, ada tarbiyah".

Lihat Juga

Hijab Syar'i (Ilustras)i. (twitter.com/FaziaHijab)

Let the Socks Save You

  • Onong

    Berpakaian tetapi telanjang!

    Keadaan seperti itulah yang terlihat setiap pergi ke tempat keramaian bahkan seolah-olah berlomba untuk memakai pakaian seminimal mungkin tidak peduli bagian tubuh terlihat atau tercetak! Marilah dimulai dari keluarga untuk menjaga pakaian ini dengan ilmu. Memang agak susah memberitau bila belum tercapai ilmunya. Semoga Allah melihat usaha yang dilakukan dan bertawakal pada hasilnya.

  • Qodry

    Semua hal di atas sudah terjadi di Indonesia, kita tinggal menunggu Negara ini hancur sehancur-hancurnya, seperti dalam Al-Isra’: 16. nah sekarang tinggal kita mau amar ma'ruf nahi munkar atau masa bodoh terhadap kondisi ummat. pilih saja

  • basya

    AlSalamualaikum,

    Menurut saya, kondisi di indonesia khususnya, mulai banyak kesadaran dari para wanitanya untuk mengenakan hijab sekaligus juga menjaga diri. Namun, diakui bahwa banyak sekali yang tidak demikian. Saya pikir, butuh waktu untuk mencoba memberi kesadaran kepada kaum wanita. Dan mungkin alangkah baiknya juga janganlah wanita menjadi sasaran kesalahan terus. Wanita perlu diberi pengertian secara dasar/logika berdasarkan pengetahuan islam itu sendiri. Mungkin karena mereka belum tahu ajaran agama islam sendiri mengatur ttg itu, yg notabene agama yg dianut si wanita itu sendiri. Jadi kuncinya adalah pengajaran dan bimbingan untuk memiliki knowledge tentang agamanya. Salam.

  • atikah

    Masya Allah….
    Jika yang sudah bercadar aja masih tidak lepas dari godaan Tabarruj dan Ikhtilath bagaimana dengan yang berjilbab gaul atau yang tidak berjilbab sama sekali….

    Salam ukhuwah buat semua saudaraku yang berusaha menutup auratnya secara sempurna!!

  • http://deleted Abdullah Hadits Born

    Tulisan di atas sgt urgen untuk dibahas. Kepada saudaraku Basya juga benar. Artinya mereka harus dibimbing secara serius dan penuh kelembutan dan kasih sayang sesuai fithrah mereka sebagai wanita. Pada dasarnya wanita itu mudah dibimbing, diarahkan ke jalan yang benar karena perasaan mereka tajam dan mendominasi, dibanding akal fikirannya. Maka membimbing wanita tidak boleh melukai perasaannya, akan tetapi menyentuh perasaannya. Sejauh mana kita mampu menyentuh perasaan wanita, menjadi ukuran sejauh mana tingkat keberhasilan merubah perilakunya. Tentunya semua tergantung hidayah Allah swt.

    Wallahu a'lam.

  • ummu fatma

    alhamdulillah, banyak masukan dan pelajaran untuk kami para wanita, semoga Alloh sentiasa membimbing kami tuk jadi wanita sholehah.

  • meta_syahadah

    Subhanallah…

    Untuk para bunda dan calon bunda harus inga-inga bersikaplah penuh kelembutan dan penyayang pada anak-anak dan keluarga kalian(seperti hadis shohih di atas)so jgan kasar dan suka marah-marah he..he…coz muslimah itu harus jadi sumber attachment bagi keluarga nya iya kan???

    Insya ALLAH

  • http://yahoo.com Amir Islamudin

    Astaghfirulloh, banyak terjadi pergaulan bebas akibat media elektronik yang selalu menyuguhkan fenomena tabarruj dan ikhtilat, jadi orang tua harus extra hati-hati terhadap pergaulan putra putrinya, maka harus terkontrol lewat tarbiyyah,tarbiyyah, dan tarbiyyah,OK

  • ukhtifillah

    assalamualaikum…

    ana hanye nk tanye pndpt kalian…kalau di malaysia…ramai penceramah2 wanita yang berceramah di televisyen suka ber 'make-up '….bagaimana keadaan tersebut??adakah ia juga dikategori sbg tabarruj?? ana pernah bertanya pd sahabat2 ana yg lain….mereka menjawab " mungkin nk nmpk rancgn televisyen tersebut menarik.."…jd..apa pendapat kalian??

    ttg ikhtilat pulak…bagaimana kalau kita berhubung dgn lawan jantina kita melalui " chatting " ??

    dgn niat kita nk memberi nasihat…..??

    minta di jwb soalan2 ana….dan kalau boleh send jwpn tersebut melalui emel…

  • malhotra

    Alhamdulillah,,masih banyak orang yg peduli tentang masalah Tabarruj dan Ikhtilath ini. Memang saat ini kondisi ini sangat marak sekali di Indonesia akibat pengaruh kemajuan teknologi. Oleh karena itu,diperlukan peran serta dari semua untuk mengatasi masalah ini…..Sekedar usul saja kepada para Ikwan ato setidaknya seorang laki-laki yang "agak" Hanif yang biasanya sering berinteraksi dg "Wanita" yang masih Amah yg mempunyai kecenderungan untuk berbuat Tabarruj dan Ikhtilath untuk tidak segan2 melakukan dakwah fardiyah kepada mereka,karena omongan seorang sahabat biasanya lebih didengar…..

  • http://indahmasruroh.multiply.com indah masruroh

    Alhamdulillah ,mendapatkan ilmu lagi.
    semoga bisa membuat saya khususnya belajar.
    terimakasih pak,mhn ijin copy

  • yusuf kurniawan

    salut kepada para akhwat yang tetap istiqomah, mudah2 an saya mendapat istri yang seperti itu aminnn

  • Nisa

    assalmlkm wr.wb.

    salam taaruf untuk semua saudaraku yang seiman yang Allah cintai.

    tak hanya diri pribadi akhwat itu sendiri yang harus menyadari untuk menutup aurat tapi peran orang tua, lingkungan, desainer juga ikut terlibat dalam masalah ini.banyak perusahaan yang melarang karyawatinya untuk berjilbab. adapula perusahaan yang membolehkan hanya sayang dengan jilbab yang menantang.kebebasan para ukhtifillah "agak" terkekang. wallahua'lambishshawab

  • heriani

    ass……

    salam Ukhuwah selalu untuk orang-orang yang berjalan dijalan-Nya,saya sangat prihatin dengan kondisi umat islam sekarang ini terutama kaum akhwat,semoga allah SWT selalu memberi hidayah dan mengampuni dosa kita,Amin….

  • kaori

    boleh tanya lagi….

  • http://www.dakwatu.com Anita

    ASS..artikelnya bagus, mudah2an ini smua bermampaat khususnya untuk wanita,mudah2 yg sudah menutup aurat selalu istiqomah dan belajar untuk lebih baik lagi,dan untuk yg masih belum menutup aurat mudah2an allah membukakan hati nuraninya untuk memakai pakaian yang akan membawanya ketempat yang mulia (jannah),

  • arum

    asw. terima kash bwd tulisannya.na pelajar sedangkan kalau sekolah saya harus naex bus tentu saja ikhtilath terjadi,dgn kondisi yang seperti ini saya harus bagaimana?apakah saya berdosa. Jazakumullah ats jwbnnya..

  • noenix

    assalamualaikum wr wb…

    syukran atas rubrik ygs angat bermanfaat ini.
    ana ada pertanyaan.ana bkerja di satu ruanganyg didlamnya terdapat pria dan wanita.apakah itu termasuk ikhtitat???

    syukarn

    wassalamualaikum wr wb

  • indrawati

    Ass,terima kasih untuk artikel nya. saya boleh mnta email Bapak Asfuri Bahri,soal nya saya mau berbagi crta dngan bapak.

    syukran

    Wassalamu’alaikum wr wb

  • ika

    ass…..
    salam ukhuwah…. terimakasih atas artikelnya ….insyaAllah bermanfaat untuk saya dan mohon izin untk m’cofynya untuk saya sebarkan pada teman2 saya untuk mnjadi tadzkirah bersama….
    syukran katsiran…. wass

  • utsukushi ayu

    subhannaallah q dapat banyak banget ilmu dari sini semoga bermanfaat badi q da semuaya yang sudah meliahat situs ini amien……………………… terimakasih sebelunya!!!

    • esa

      Aamin…….

  • leni

    Subhanallah,, Alhamdulillah setelah membaca artikel dari Bapak Asfuri bahri, Lc Semoga bermamfaat bagi kita kaum perempuan agar selalu terjaga Tabarruj dan Ikhtilath dari yang bukan mahramnya, semoga terhindar dari siksa Allah SWT amin…
    Sukron Jazakillah atas artikelnya.

  • leni

    afwan ana kopi ya pak Artikel istimewanya..
    terima kasih.

  • iqbal

    tabaruj aja yang dibahas ustadz…ikhtilatnya kok tidak dibahas?

  • Mamay

    Iya Ustad, ikhtilatnya belum dikupas. Biar kita tahu batasan ikhtilat pa bukan. Coz kalau naik bus, palagi yang dah penuh banget, resiko senggungan dengan lawan jenis, agak sulit dihindari

    • ichi supriyono

      saya coba jwb tp msh menurut pengalaman:
      pertama,,kalo BISA kita mengusahakn du2k d posi2 yg aman…seperti kalo bus/patas kita masih mudah memilih tempat du2k krna sudah ada tmpat du2k yg d tata,tinggal kita memilih tmpat du2k yg di samping sudah ada ibu2 atau perempuan lain (kalo bangku 2) dst,,,tp apabila d angkot/angkutan umum usahakn naik yg tidak t’lalu penuh jadi kita bisa memilih tmpat/posisi du2k yg aman.
      tp jgn salah..naik ojek juga t’kadang mjadi ikhtilat lho….

  • ichi supriyono

    subhanallah…skrg bertambah lg ilmuY,,dlm menerima tamu pun di usahakn d bedakn tempatY tuk laki2 atau temen2 suami dan perempeuan ata temen2 istri..hal ini lebih baik tuk menjaga,,

  • wanita

    artikel yg menohok bagi wanita yg membacanya .. hidup ditengah masyrakat yg aqidah agamanya tak begitu kental merupakan cobaan tersendiri … smg Allah membimbing wanita2 yg mencoba menyucikan diri

  • Azmi Hj Abdul Samad

    Al-hayak minal IMAN…….

  • sains

    referensi hadist klo nulis yang lengkap… hadis apa dari kitab apa, nomer berapa ato halaman… biar orang awam seperti saya bisa mengecek dengan mudah…

  • دسي

    YA UKHTI…, JAUHILAH TABARRUJ…!

    Alhamdulillah,.. sangat bermanfaat inshallah akan selalu di implementasikan.

  • دسي

    ALhamdulillah sangat bermanfaat