23:44 - Rabu, 23 April 2014

Tafsir Surat Al-Jin Ayat 1-4

Rubrik: Tafsir Ayat | Oleh: dakwatun - 18/12/06 | 15:16 | 27 Dhul-Qadah 1427 H

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآناً عَجَباً يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَداً وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَداً وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطاً

dakwatuna.com – Katakanlah (hai Muhammad), “Telah diwahyukan kepadamu bahwasa: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorang pun dengan Tuhan kami, Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah

Mufradat (Kosa Kata)

أوحي

wahyu adalah sesuatu yang diturunkan kepada para Nabi/Rasul dari sisi Allah. Wahyu juga mengandung arti alkhafa (samar) dan as-sur’ah (cepat). Sedangkan kata “al-ihaa” adalah menyampaikan sesuatu kepada orang lain sesuai dengan yang diinginkan dengan jalan isyarat, surat, kitabah dan ilham

نفر

Nafarun berarti bilangan kecil dari 3 sampai 10 orang

استمع

Istama’a berarti mendengar dengan baik dan sungguh-sungguh

شططا

Syathatha adalah ucapan yang melampaui batas kebenaran dan keadilan.

Gambaran Singkat Tentang Kisah Jin Dan Al-Quran

Dalam riwayat shahih dijelaskan bahwa golongan jin telah mendengarkan Nabi SAW di saat beliau sedang shalat dengan para sahabatnya dan membaca Al-Quran dengan lantunan suara yang mendorong jin bergerak menuju ke haribaan-Nya. Setelah mereka mendengarkannya dengan sungguh-sungguh dan memahami hakekat Kalamullah maka, mereka bertolak dan bergerak menuju masyarakatnya untuk memberi kabar gembira dan mengajarkan apa-apa yang telah mereka pahami.

Allah SWT mewahyukan hal ini kepada Nabi SAW agar hatinya merasa tentram dan jiwanya tetap menggelora dalam dakwahnya meskipun orang-orang musyrik berpaling darinya.

Ayat jin ini diturunkan dalam surat Al-Ahqaf secara global pada dua ayat 29 dan 30 dan secara terperinci seperti yang digambarkan dalam surat jin ini untuk memberikan teguran pada Kuffar Quraisy dan Arab yang terlambat merespon keimanan sementara jin yang bukan dari golongan manusia lebih cepat merespon dakwah dari pada mereka. Mereka Kuffar Quraisy tidak beriman dan bahkan mendustakannya dikarenakan sifat hasud yang menyelimuti diri mereka dan benci apabila Allah menurunkan anugerahnya kepada orang yang dikehendaki-Nya.

Makna Ijmali

Katakanlah kepada mereka Ya Muhammad; “sungguh Allah telah mewahyukan kepadaku bahwasanya sekelompok dari golongan jin telah mendengarkan Al-Quran dengan khusyuk. Lalu mereka berkata kepada kaumnya di saat kembali kepada mereka; “sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang agung nan indah yang sangat mengherankan karena beda dengan “kalamul basyar” (perkataan manusia), bahkan dengan kitab-kitab dahulu dalam susunan, metode, tujuan dan artinya. Al-Quran adalah kitab yang mengandung petunjuk, kebenaran, nilai-nilai kebaikan dan jalan yang lurus. Dari sini kami (golongan jin) beriman kepadanya dan Dzat yang menurunkannya. Tidak hanya berhenti di sini saja, akan tetapi kami juga tidak akan menyekutukan Allah SWT dengan satu pun makhluknya. Sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian sufaha (jin-jin bodoh) dari golongan kami. Dan sesungguhnya Allah SWT tidak memerlukan teman dan anak sebagaimana yang dituduhkan oleh musyrikun dan sebagian golongan jin. Maka ketika mendengar ayat Al-Quran tentang hal ini, mereka mengingatkan kesalahan keyakinan jin-jin kafir yang menyatakan bahwa Allah memerlukan seorang teman, pendamping dan anak. Bagaimana hal ini terjadi, sedangkan Allah Maha Kaya dari segala sesuatu?

Dan jin-jin itu beriman dan membenarkan apa yang dikatakan Al-Quran. Mereka tidak mau taqlid buta apalagi berkaitan dengan kesalahan yang sudah jelas salahnya dan kebatilan yang nyata, meskipun yang melakukan tokoh-tokohnya. Mereka berkata, ”Kami beriman kepada Allah dan mengakui kesalahan kami dalam menisbatkan Allah kepada yang tidak laik bagi-Nya. Karena kami semua yakin bahwa mustahil ada satu dari manusia dan jin yang berkata dusta atas nama Allah.”

Durus wa ’Ibar

  1. Wahyu datangnya hanya dari Allah dan hanya diberikan kepada para Rasul.
  2. Risalah Islam tidak terbatas hanya pada golongan manusia, akan tetapi untuk semua makhluk termasuk golongan jin.
  3. Sekelompok Jin telah mendengar langsung Al-Quran dari Rasulullah SAW baik saat shalat maupun langsung berhadapan dengannya.
  4. Jin meyakini bahwa Al-Qur’an adalah Kitab yang mengandung petunjuk.
  5. Ayat mengisyaratkan kepada kita bahwa jin setelah mendengar Al-Quran langsung menyampaikan kepada kaumnya.
  6. Jin terbagi dua, ada yang bertauhid dan ada yang musyrik.

Redaktur: Hendra

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (70 orang menilai, rata-rata: 8,91 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 25672 hits
  • Email 11 email
  • dedy salman

    asw. alhamdulillah sangat bagus untuk para pembaca situs itu bapak, semoga kedepan bisa di tingkatkan lagi dalam medianya. pak saya mau nanya, kok di komputer g' terbaca ya…download hadits dan lain-lainnya. itu kenapa ya…?

  • lucas alinsky

    tolong carikan dasar manusia dilarang bersentuhan kalo bukan mukhrim

  • darwin

    sebaik na selain bhasa arab diadakan jg bhasa indonesia na biar org awam sprt sy bs membaca na dan menghapal na..
    he he

  • aefwahyudin

    alhamduliilah cukup baik

  • herdy

    sangat berguna bagi orang2 yang belum mengkaji lebih dalam tentang apa dan siapa itu jin.

  • BINAR

    sangat..sangat…sangat… bagus

  • nanang sobarna

    mohon penjelasannya, bagaimana hukumnya jika seseorang yang meminta pertolongan kepada seorang ustaz (ngakunya sich ustadz), akan tetapi si ustadz ini sering memamerkan ilmunya, seperti mengeluarkan batu dari tangan(hal-hal yang irasional, yang lebih kepada hal-hal ghaib). Apakah ilmu yang yang ia punya disebut ilmu apa, apakah ilmu yang berasal dari jin atau bagaimana?bagaimana hukumnya? mohon penjelasannya, sangat ditunggu dan bila ada nomir HP yang dapat saya hubungi mohon dicntumkan.jzkmullh

  • afif baihaqi

    sebaik Nya kamu SHOLATLAH sebelum kamu DISHOLATI

  • Mustafaadnani

    Ass. Siapakah yg dimaksud dengan NAFARUN MINAL JINN di sini?. Apakah jin sebagaimana yg kita yakini.sambil tidak mengetahui seperti apa sosoknya, sehingga yg banyak dibicarakan orang ttg jin ini berdasarkan kepada KATANYA-KATANYA. Empatbelas kali Al Quran menggabung sebutan jinn wal insi (jin dan manusia). Bila kita mengambil (contoh) salah satu ayat dlm QS55:33 (diturunkan di Madinah): “Wahai masyarakat jin dan manusia, bila saja kalian mampu menembus lintasan (equator/aqthaar) ruang angkasa raya (bukan As Samma-i/langit) silakan kalian tembus. Namun kalian tidak akan bisa menembus ruang angkasa itu, kecuali dengan kekuatan”. Para mufassir, kini mengartikan penembusan angkasa raya ini dg pesawat terbang. Bila seperti itu penafsirannya, ternyata pesawat terbang (dg berbagai kemajuan teknologi atau sulthaan) merupakan hasil karya Jin dan Manusia. Bisa-bisanya jin bikin kapal terbang ya?! Oleh karena itu sesuai dengan zaman pada waktu itu (zaman Rasulullah) sebaiknya pengertian jin adalah dikaitkan dengan tokoh perdukunan/takhayul/mistik di Makah ataupun Madinah bahkan di seluruh tempat dimana mistik, takhayul atau perdukunan tengah meraja-lela. Jinn dinisbatkan kepada tokoh perdukunan (dukun), sedangkan insun (ins) adalah para pengikutnya. Kembali kpd kajian etimology, akar kata kerja: ja-na-na (Janna), ya-jin-nu/ya-jun-nu. Berarti menutup, menggelapkan, tersembunyi, tidak nampak. Orang yang tidak menampakkan kebaikan disebut jinn, orang yang tidak berakal sehat disebut majnun, manusia yg masih dalam perut disebut janin, tempat yang melindungi atau tersembunyi disebut jannah etc.Jadi pengertian jin dlm Al Quran meruapakan ungkapan metaforis atau samaran. Apa lagi menurut ummum Mu’minin siti ‘Aisyah,bahwa Rasulullah tidak pernah bertemu apa lagi berda’wah kepada jin, sebagai mana istilah jin yg kita maksud (syetan, iblis). Empat ayat dari sejumlah 28 ayat dlm surah jinn, (yg dlm Mush-haf diletakkan pada urutan ke 72, sedangkan menurut urutan turunnya wahyu adalah yg ke 40, setelah surah Al “Araf (QS7), sebelum surah Yaasin(QS36.) belum cukup meng-cover permaslahan jinn yg dimaksud. Surah ini diturunkan ketika Rasulullah pulang dari Thaif dalam rangka menyampaikan risalah Tuhan. Namun orang Thaif menolak mentah-mentah da’wahnya, bahkan dipermalukan dengan cara akan diarak. Dalam perjalan pulang ke Makkah inilah Allah menghibur hambaNya yg tengah duka-lara.Dengan wahyu/bisikan berikut: Hai Muhammad, katakanlah (kepada orang-orang Makkah):” Telah diwahyukan (Allah) kepadaku bahwa sekelompok dukun (yakni para jinn) telah berusaha mendengarkan (ajakanku), para jin itu (sebenarnya) mangatakan: Sungguh kami telah mendengar bacaan Muhammad (Quran) itu sesutu yg menakjubkan………” Perlu penjelasan lebih lanjut, please contact Blog AKI ADNANI. Wassalam.

  • sulthonul hadi seta

    Assalamu’alaikum. Maafkan saya lancang dan minta petunjuk atau pengertian. Apakah jin itu mahluk Alloh dari bangsa halus / gaib? kalau iya mohon saya yang bodoh ini diberi dasar Al qur’an dan hadits tentang itu biar kalau ke teman, keluarga atau anak saya bisa ngomong. Tidak adakah kemungkinan jin itu dari bangsa seperti manusia? lalu asal kata jin menurut bahasa arab itu dari kata apa ya? mohon bimbingan para guru. salam

Iklan negatif? Laporkan!
62 queries in 1,043 seconds.